
Seperti biasa keluargaku kembali harmonis, ayah ibu sudah pulang kampung lagi. Mama mertua setiap harinya menjaga Arkan begitupun papa mertua, ia sudah pensiun dari dunia perbisnisan nya dan kini bisnisnya telah di kelola oleh Abi. Aku sendiri sibuk menjadi CEO di perusahaan yang Abi geluti dulu, kembali aktif ke dunia bisnis cukup melelahkan. Dimana aku harus membagi waktu antara pekerjaan dan anak, tapi aku mensyukuri itu semua.
Aku membuka handphone ku lalu mengetikansatu pesan kepada Abi.
'Jangan lupa kita ada acara nanti malam'
Ku tutup kembali handphone dan mulai fokus kembali pada pekerjaan.
****
"Sayang, mama sama papa pulang." Aku menghampiri Arkan yang sedang di timbang oleh kakeknya.
"Mama sama papa pulang, hore." Ucap papa mertua lalu memberikan Arkan kepada Abi, lalu di gendongnya Arkan oleh Abi.
"Aduh anak papa ganteng."
Aku dan Abi juga Arkan masuk ke kamar, aku menyuruh Abi untuk cepat mandi dan setelahnya aku yang mandi. Kali ini melaksanakan mandi harus bergilir karena ada anak yang harus di jaga, indah nya menjadi orang tua.
20 tahun kemudian....
"Kamu tuh udah dewasa nak, jadi tolong rubah ya sikap kamu yang kayak berandalan ini!" Pintaku pada Arkan, aku selalu jengkel di buatnya. Dari caranya berpakaian juga bahasa sangat aku tak suka, memang pergaulan anak sekarang terbilang luas dan canggih.
"Denger pah, masa Arkan tiap hari dapat Omelan dari mama." Ucapnya meminta pembelaan dari sang ayah.
"Arkan apa yang mama kamu katakan itu benar, kamu seorang laki-laki yang akan menanggung beban perusahaan nantinya jadi papa minta berubah nak." Pemikiran ku dan Abi memang selalu sama.
"Mama sama papa terlalu kolot sih jadi gak tahu fashion." Arkan keluar dari rumah dan tak menghabiskan sarapan nya, ku lihat dia melajukan motornya dengan kecepatan tinggi.
"Anakmu itu makin hari makin menjadi, gimana nanti kedepannya?" Abi menggaruk kepala yang tak gatal, jengkel dengan kelakuan putera semata wayangnya.
"Dia juga anakmu." Bentakku. "Dulu aku gak urakan kayak gitu, di usia seperti Arkan malahan aku sudah bekerja di tempat kamu."
"Iyalah, bedanya kalau Arkan kan kuliah." Ledek Abi padaku karena aku tak menginjak kan kaki ku di sekolah tinggi alias kuliah.
"Aku kan orang susah jadi di usia Arkan harus mandiri lah, bedanya sama Arkan itu kalau aku lahir di keluarga serba kekurangan kalau Arkan lahirnya di keluarga serba ada. Wajar saja beda, apa jangan-jangan dulu kelakuan kamu kayak Arkan ya?"
"Apa sih? Orang aku tuh dari dulu kalem nya minta ampun." Ujar Abi seraya membenarkan dasinya.
"Iya deh percaya."
****
Semua orang sudah pergi dengan aktivitas nya, Abi pergi ngantor Arkan pergi ngampus dan aku mulai merebahkan badanku pada sofa yang ada di ruang santai. Sambil menikmati angin yang berhembus menusuk tubuh membuatku sedikit kedinginan, tiba-tiba ponsel ku berdering.
__ADS_1
"Siapa yang telepon?" Aku mengambil ponsel ku di atas meja yang ada di samping sofa.
'hallo dengan siapa ya?'
'apa benar ini dengan ibu Alena?' ucap ya di sebrang sana.
'iya ini dengan saya sendiri, ini siapa ya?'
'begini Bu, kami dari pihak rumah sakit kasih bunda ingin memberitahukan kalau anak ibu yang bernama Arkan mengalami kecelakaan'
Bagai di sambar petir di siang bolong, aku mendapat kabar buruk mengenai puteraku.
'baik saya segera kesena'
Aku mengendarai mobil dengan cepat, tanpa berpikir panjang aku menancap gas. Tak lupa aku memberitahu Abi mengenai kecelakaan yang terjadi pada anak semata wayang kami.
****
Aku berlari menuju ruang IGD, terlihat ada Abi yang sudah sampai duluan disana segera aku menghampiri.
"Sayang." Aku memeluk tubuh Abi, air mataku menetes begitu cepat. "Gimana keadaan anak kita?"
"Dia masih di periksa oleh dokter, kamu tenang sayang." Abi menenangkan aku.
"Kenapa dokternya lama sih?" Aku panik sendiri kala menunggu dokter keluar.
"Sabar sayang, sebentar lagi juga dokter bakalan keluar."
Selang beberapa menit akhirnya dokter yang memeriksa Arkan keluar, aku dan Abi segera menghampiri sang dokter.
"Bagaimana dok keadaan anak saya?" Tanya Abi.
"Syukurlah dia baik-baik saja, hanya saja tulang pada kakinya mengalami patah." Balas sang dokter.
"Tapi masih bisa sembuh kan dok kaki anak saya?" Tanyaku.
"Tentu, jadi saya sarankan agar anak ibu dan bapak jangan dulu gerak ataupun beraktivitas. Di sarankan anak ibu dan bapak harus istirahat total." Ujar sang dokter.
"Baik dok, tapi apa boleh kalau kami masuk ke dalam?"
"Silahkan Bu."
Aku menghampiri Arkan yang tertidur di atas brankar rumah sakit, kepalanya di perban pun kakinya. Rasanya sakit sekali melihat anak sendiri terluka separah ini.
__ADS_1
"Kenapa kamu bisa kecelakaan sih nak? Mamakan sudah bilang kalau bawa motor jangan kencang, ini akibatnya kalau gak nurut omongan mama." Gerutu ku di depan Arkan yang masih menutup matanya.
"Sudahlah namanya juga musibah." Ucap Abi.
Jari Arkan terlihat bergerak, matanya mulai terbuka.
"Mama." Panggilnya saat pertama kali siuman.
"Iya ini mama nak, mama ada disini." Aku mengusap wajahnya yang penuh dengan lebam.
"Ma maafin Arkan ya, Arkan jarang nurut sama mama." Ucap Arkan tiba-tiba.
"Nak, mama maafin kamu kok." Aku menciumi keningnya berkali-kali. "Kamu jangan lagi-lagi bawa motor ngebut ya?"
"Arkan janji gak akan bikin Mama sama papa khawatir, Arkan janji ma pa."
"Iya nak." Balasku dan Abi bersamaan.
Kami bertiga saling berpelukan, Arkan yang janji akan menjadi anak yang penurut dan gak akan nakal lagi membuatku sangat bersyukur. Untuk saat ini melihat Arkan pulih pun aku cukup bahagia, apalagi mendengar Arkan akan berubah semakin membuatku bahagia.
***
Satu bulan kemudian...
"Kamu yakin mau pergi ke London?" Tanyaku pada Arkan, dia tiba-tiba minta di pindahkan ke London.
"Aku yakin ma, selama satu tahun saja bolehkan ma, pa?" Arkan merajuk minta di izinkan bersekolah di London selama satu tahun.
"Kenapa harus ke London sih?" Aku sebenarnya senang karena Arkan ada keinginan namun di balik itu demua aku sedih karena harus melepas anak semata wayang pergi jauh dari kami.
"Cari pengalaman lah ma." Balas Arkan.
"Boleh, papa ijinin kamu pergi." Sahut Abi.
"Loh loh kok di ijinin sih?" Protes ku.
"Sudah jangan bersedih, biarkan Arkan mencari pengalaman." Ucap abi.
Akupun tak bisa menolak lagi, kami akhirnya melepas anak bujang kami pergi ke London.
THE END.....
__ADS_1