My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 24


__ADS_3

"Tapi apa ini, kenapa ada kasur busa di bawah ranjang? Apa kalian tidur berpisah?" Ujarnya seraya menunjuk kasur busa yang ada di bawah ranjang.


Mama mertua menatap lekat padaku dan presdir, jangan jangan dia bakalan marah pada kami berdua.


"Kalian gak tidur berpisah kan?" Tanya mama mertua.


"Mana mungkin ma, lihat Abi masih tiduran di ranjang." Netral presdir yang turun dari ranjang. "Mama gak lihat penampilan alena."


Aku melihat setiap inci penampilanku, aku gak sadar kancing piyamaku yang paling atas terbuka sehingga dadaku sedikit terekspos.


"Kalian habis itu ya?" Sambung lulu.


"Ngapain kamu nanya kayak begitu? Kami kan sudah sah jadi mau ngapain juga ya terserah kami." Cetusku.


"Aduh sayang maaf ya pagi pagi sudah gangguin kalian berdua, eh lulu ayo keluar jangan ganggu pengantin baru." Ucap mama mertua seraya menyeret lulu keluar kamar, begitu pun papa mertua.


Akhirnya kegaduhan di pagi hari sudah berakhir, aku duduk di ranjang sambil mengikat rambutku. Presdir kembali ke dalam kamar setelah menutup kembali piPernikahan


"Saya ingin cepat cepat mengakhiri pernikahan ini." Ujarku, presdir yang tadinya akan memasuki kamar mandi sontak menghampiri ku.


"Jangan aneh aneh kamu, perjanjian kita satu tahun bukan satu minggu." Tekannya yang kembali memasuki kamar mandi.


SKIP


5 bulan kemudian..


Pernikahanku dan presdir sudah memasuki bulan ke 5, tapi tak ada yang berubah sama sekali. Biasanya orang orang bilang cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu apalagi jika sering bersama, ini gak ada sama sekali cinta dalam hubungan kami. Tapi aku sering merasakan deg degan tiap kali bertemu presdir, sedangkan aku tak tahu apa yang di rasakan presdir padaku.


Dalam waktu 5 bulan, aku juga semakin dekat dengan sekretaris Ken. Karyaku sekarang sudah banyak peminatnya, Jia pun sebentar lagi akan melangsungkan pernikahannya. Si benalu dan istrinya aku juga tidak tahu, bodo amatlah dengan mereka. Kalau ingin tahu tentang si lulu, dia makin meresahkan.


"Hei alena." Panggil seseorang di sebrang jalan.


"Mas." Panggilku kembali seraya melambaikan tangan padanya.


"Maaf telat ya, kamu hari ini mau aku anter kemana?" Tanyanya terburu buru.


"Santai aja kali mas, aku mau ke mall beli kado buat Jia." Sahutku.


"Oke aku anter kamu."


Iya, hari ini aku meminta sekretaris Ken menemani aku belanja keperluanku sehari hari dan sekalian membeli kado untuk jia. Presdir setiap hari selalu sibuk, setelah selesai dengan pekerjaan sibuknya dia menemui lulu karena lulu selalu bikin onar jadi yang mengurus keonarannya adalah suamiku yaitu presdir. Awalnya aku risih kenapa lulu selalu meminta presdir yang mengurus keonarannya, tapi presdir bilang kalau lulu sendirian orang tuanya masih di luar negeri jadi dia harus membantunya. Oke aku terima penjelasannya, akupun tak keberatan.


"Maaf ya mas aku ngerepotin kamu terus." Ucapku padanya.


"Gak papa santai aja." Balasnya.


"Mas makan dulu deh, kita ke cafe yang itu ya." Ucapku seraya menunjuk cafe.


"Gak nanti di cafe mall aja?"


"Nggak deh, aku sudah lapar banget."


"Ya udah kita ke cafe."

__ADS_1


Kami berdua memasuki cafe yang aku rekomendasikan, saat di depan pintu masuk cafe mataku tertuju pada dua orang yang sedang makan bersama.


"Mas kita duduk sama mereka yuk." Ucapku seraya menarik tangan sekretaris Ken, dia mengikutiku.


"Hallo suami." Sapaku pada presdir yang tengah asyik makan bersama dengan lulu.


"Alena, Ken?" Panggilnya seraya menatapku.


"Suami boleh kami join makan disini?" Enak saja kalian berduaan di belakangku.


"Boleh dong, sini duduk dekatku." Ucapnya menyuruku duduk di sampingnya, akupun duduk di sebelahnya.


"Kamu mau makan apa?" Tanya presdir padaku.


"Aku makan makanan kamu saja ya."


"Ini kan sedikit, mau pesan lagi yang kayak gini?" Dia menawariku makanan baru tapi dengan menu yang sama, maaf selera makanku hilang ketika melihat kalian berduaan di cafe ini.


"Nggak aku mau makan yang kamu makan." Keukeuh aku, lulu yang memperhatikan kelakuanku ikut bicara.


"Apa kamu suka makan makanan bekas orang?" Ejek lulu kepadaku.


"Bukan, hanya saja aku lebih suka makanan yang suamiku makan. Apa salah kalau aku mau makanan kamu suami?" Tanyaku dengan nada manja.


"Kenapa alena seperti ini?" Batin abi.


"Sepertinya alena cemburu sama lulu." Batin ken.


"Ayo makan." Presdir menyuapiku.


"Aku sama sekretaris ken ada keperluan." Balasku.


"Keperluan macam apa sampai berduaan?" Cecarnya lagi.


"Hanya membantu saja, aku kan pegawainya." Kali ini sekretaris ken angkat bicara.


"Sudahlah jangan berpikir macam macam." Sambung Presdir.


****


Pov abi...


Setelah selesai makan siang bersama, aku tadinya hendak mengantar lulu lalu mengurungkan niat karena alena datang.


"Kamu mau kemana setelah ini?" Tanyaku pada alena.


"Ke mall." Balasnya singkat.


"Kak kalau gitu lulu pulang sendiri." Ucap lulu seraya pergi.


"Jadi kamu mau nganterin lulu ya?" Tanya alena padaku.


"Nggak jadi kan ada kamu."

__ADS_1


"Oh begitu, mas aku ke mall nya bareng presdir. Kamu bisa balik lagi ke kantor." Ucap alena pada ken.


Tunggu! Alena manggil ken dengan sebutan mas sedangkan padaku kalau di kantor manggil presdir di rumah kalau lagi berduaan manggil bapak, dan di depan orang rumah manggilnya suami. Harga diriku jatuh ketika istriku memanggil sahabatku dengan sebutan mas, sedangkan padaku yang jelas jelas suaminya manggilnya bapak. Umurku dan ken gak beda jauh, alena.


"Iya, kalau begitu aku balik ke kantor lagi." Balas ken.


Aku? Ken dan alena sedekat itu sampai akrab dan bicarapun aku kamu. Alena kok bisa sama ken bicara sesantai itu, sedangkan denganku masih saya dan anda. Nggak bisa di biarin, bisa bisa ken merebut wanitaku.


"Ayo kita ke mall." Ajakku pada alena yang masih bicara dengan ken.


"Ayo, dah mas hati hati."


Bugh, rasanya dadaku di tinju sekuat kuatnya. Bisa biasanya alena seperti itu pada ken, padahal dia gak pernah begitu padaku.


****


"Kamu mau beli apa?" Tanyaku pada alena yang sibuk memainkan ponselnya sambil berjalan.


"Beli kado buat jia." Balasnya yang masih setia dengan ponselnya.


Alena dari tadi fokus pada ponselnya, dia tak menghiraukan aku yang ada di sampingnya. Aku kesal lalu merebut ponselnya dengan paksa, dia kaget saat ponselnya aku rampas.


"Ada apa sih?" Kesalnya.


"Kamu gak fokus, jalan ya jalan jangan main hp." Tekanku.


"Iya iya." Balasnya ketus.


Alena begitu antusias memilah dan memilih barang yang di sukanya.


"Ayo kita bayar." Ajaknya.


Akupun mengikuti dia untuk membayar beberapa barang yang di belinya.


****


Rumah


"Alena saya mau bicara sama kamu." Kataku serius.


"Di kamar saja ya." Sahutnya.


Kami pun ke kamar.


"Mau bicara apa?" Tanyanya seraya menjatuhkan bokongnya ke atas ranjang.


"Apa hubungan kamu sama ken?" Tiba tiba pertanyaan itu keluar dari mulutku.


Alena terbahak setelah mendengar pertanyaanku. "Hubungan apa maksud bapak?"


"Iya hubungan, kenapa kalian begitu dekat sampai bicara sesantai itu. Padahal sama saya kamu gak sesantai itu." Ujarku.


"Gak tahu." Sahutnya seraya memasuki kamar mandi. "Sudahlah saya mau mandi."

__ADS_1


"Tapi alena tunggu." Aku menarik tangan kanan alena sebelum memasuki kamar mandi.


"Ada apa?"


__ADS_2