My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 73


__ADS_3

Aku melihat Lulu dengan tatapan iba, sungguh tak di sangka kalau orang yang tega melakukan percobaan pembunuhan adalah ibu kandung Lulu sendiri. Apa yang di rasakan Lulu dapat aku rasakan juga, seketika rasa iba ini seakan menyelimuti tubuhku rasanya aku ingin memaafkan Tante Becky dan tak memenjarakan nya. Tapi di sisi lain suamiku sendiri masih belum sadarkan diri, akibat ulah Tante Becky suamiku hidup diantara ambang kematian.


"Len." Jia merangkul bahuku.


Aku menatap Jia seraya mengangguk perlahan. "Aku gak papa."


"Bukan mami pelakunya, mami mohon percaya sama mami, sayang." Ucap Tante Becky mencoba membela diri.


"Mih." Lulu melepaskan tangan Tante Becky perlahan, di bawanya Tante Becky oleh polisi.


Dari kejauhan terlihat mobil mas Ken datang ke arah kami.


"Itu mobil suami kamu kan?" Tanyaku pada Jia.


"Iya,ada apa ya?" Ucap Jia.


Mobil mendekat lalu si pemilik mobil turun menghampiri aku dan Jia.


"Mas ada apa?" Tanya Jia pada mas Ken.


Raut wajahnya tak dapat di gambarkan, apa yang membuatnya datang kemari? Biasanya jika ingin memberikan informasi mengenai perkembangan kesehatan Abi, mas Ken selalu menelpon atau tidak melakukan video call.


"Maafkan aku Len." Tiba-tiba mas Ken meminta maaf padaku, itu semakin membuatku berfikir yang tidak-tidak.


"Maksud kamu apa mas?" Jia mewakili ku berbicara, karena aku tak sanggup lagi mengeluarkan suara.


Mas Ken membuang mukanya, entah apa yang ingin ia katakan. Hatiku berkecamuk memikirkan Abi, tidak tidak mungkin Abi secepat itu meninggalkan kami. Bahkan anakku saja belum di beri nama, apa anakku tidak akan pernah melihat sosok ayah nya? Ah tidak, kenapa aku berpikiran seperti itu.


"Coba jelaskan mas, apa yang ingin kamu katakan padaku?" Aku bertanya pada mas Ken dengan santai.


"Len maafkan aku karena aku gak bisa jaga suami kamu." Ujar mas Ken, tidak mungkin bukan.


"Maksud kamu gimana ya mas, jujur aku kurang mengerti." Aku mencoba tidak antusias dengan ucapan mas Ken.


"Suami kamu, sebenarnya suami kamu. Sebaiknya kamu ikut aku." Ujar mas Ken.


"Iya lebih baik kita ikut ya Len." Ucap Jia.


Aku pun mengikuti saran mas Ken dan Jia, untuk ikut mereka. Tapi saat di perjalanan, aku merasa ada yang aneh bukannya arah ke rumah sakit nggak melewati jalan ini. Ah tidak, aku semakin tak karuan.


"Minum dulu Len." Mas Ken menawarkan sebotol air mineral padaku, aku mengambilnya lalu dengan cepat aku meminumnya.


"Yang tenang ya Len." Pekik Jia.


AkuĀ  merasa tenang dan rasa kantuk tiba-tiba menyerang ku, tak lama kemudian aku tak ingat apa-apa.

__ADS_1


***


Saat tersadar aku sudah berada di tepi danau, banyak tanaman bunga yang sangat cantik disana.aku berpikir kenapa mas Ken dan Jia membawa ku kesini, bukannya kita harus ke rumah sakit.


Tiba-tiba aku teringat Abi, apa yang terjadi pada Abi. Dengan cepat aku berlari menuju tepi jalan raya mencari mobil mas Ken dan Jia, namun nihil mobilnya tidak ada. Aku menangis di pinggir jalan seraya jongkok, tega sekali mereka meninggalkan aku di tempat sepi seperti ini. Padahal aku ingin menemui suamiku, aku takut terjadi sesuatu padanya.


Seseorang berdiri di hadapanku, aku tak menghiraukan kedatangannya. Namu anehnya dia ikut berjongkok menyeimbangkan tinggi denganku, lalu dia membelai rambut ku.


"Kamu ngapain nangis di pinggir jalan?" Suaranya sangat familiar di telinga ku, aku menatap pemilik suara itu.


"Nggak mungkin." Lirihku aku menabok mukaku sendiri. "Aww, ini sakit. Ini nyata?" Aku menatap kembali si pemilik suara itu, sungguh aku tak bisa berkata-kata, sontak aku memeluknya.


"Kamu kenapa?" Tanyanya.


"Kamu yang kenapa." Ucapku dalam pelukannya.


"Kamu pasti takut ya?" Ucapnya.


Aku melepas pelukannya. "Kamu gak papakan, kamu sehatkan?" Aku menyelidik setiap inci tubuhnya.


"Sayang, aku sehat. Berkat doa kamu aku bisa melewati masa kritis, makasih sayang." Abi mencium keningku.


"Aku bersyukur kamu sehat, aku gak tahu harus apa jika gak ada kamu." Ujarku.


"Aku akan selalu sama kamu, jadi aku harap aku bisa hidup seribu tahun lagi bersama kamu." Kata Abi.


"Ayo ikut aku." Abi memapah ku ke sebuah tempat yang aku pun tak tahu.


"Tunggu!" Abi berhenti.


"Ada apa?" Tanyaku.


Abi mengeluarkan sebuah kain berwarna hitam, lalu di ikatkan nya tepat untuk menutupi mataku.


"Apa sih ini?" Aku makin heran.


"Ini kejutan jadi kamu harus menutup mata kamu, ayo kita jalan lagi."


Skip


"Akhirnya kita sampai." Ucap Abi.


"Penutup matanya udah bisa di lepaskan?" Mataku sudah lelah karena terus-menerus di tutup.


"Aku buka ya." Abi membuka penutup mata yang menutupi mataku. "Taraa..."

__ADS_1


Betapa terkejutnya aku, semua orang yang aku sayangi ada disana. Mama mertua papa mertua, ibu ayah, Jia mas Ken, ayu Doni, meta pak Kusuma juga Lulu dan Remon ada disana.


"Kenapa semua orang ada disini?" Tanya ku.


"Ini kejutan buat kamu, kamu jangan sedih terus nak." Ucap ibu lalu memelukku.


"Ibu." Aku memeluk kembali pada ibu.


"Coba lihat ini siapa?" Abi membawa anak kami.


"Sayang." Aku menghampiri Abi dan anakku.


"Jangan nangis lagi mama, jangan sedih terus sekarang papa sudah sehat." Ucap Abi dengan nada mengajak bayi bicara.


"Sayang." Air mataku tak bisa di bendung lagi, ku peluk dua pria hebatku kesayanganku.


***


Rumah


"Sayang kok bisa sih semua orang ada disana?" Tanyaku seraya memasang popok.


"Sebenarnya aku sudah pulih beberapa hari lalu, tapi aku selalu mendengar keluhan Ken yang setiap hari menceritakan kalau kamu seperti orang mati." Jelas Abi.


"Lalu kenapa kamu gak pulang terus nemuin aku?"


"Aku punya niat buat bikin surprise buat kamu, aku mencoba menghubungi semua orang yang setiap hari mensuport kamu."


"Kamu sweet banget sih."


"Dan satu lagi."


"Apa?"


"Aku juga yang menemukan pelaku tabrak lari itu, gimana keren kan aku?" Kata Abi seraya menyibak rambut nya.


"Bagus ya kamu, dengan gesitnya mencari pelakunya. Sedangkan istrinya di bikin stres di rumah mikirin kamu, dasar kurang ajar." Aku merajuk.


"Maafin aku sayang."


"Sudahlah, aku mau menidurkan anaku dulu."


"Arkan Putra Pangestu nama anak kita."


"Kamu sudah ada nama buat anak kita rupanya." Ucapku.

__ADS_1


"Tentu." Balasnya singkat.


^_^


__ADS_2