
Seorang suster datang dengan wajah gelisah dan menghampiri Alena.
"Ada apa sus? Saya gak minta suster buat kesini kan?" Tanya Alena.
"Saya kesini ingin memberitahukan kalau suami ibu kecelakaan." Ucap suster dengan nafas terengah-engah.
"Apa?"
****
"Dimana suami saya sekarang?" Alena berlari tanpa menghiraukan kesehatannya, teman temannya yang menjenguk tadi berusaha mencoba menenangkan Alena.
"Len, kamu harus tenang." ujar meta.
"gimana ini mas, aku jadi khawatir sama Alena." ucap Jia pada Ken.
sedangkan ayu dan Doni duduk di ruangan menjaga bayi kecil yang terlelap itu, Jia meta juga Lulu ikut mengejar Alena.
"ibu tenang, suami ibu sedang di periksa dulu di IGD. tolong ibukan baru melahirkan, jangan terlalu memaksakan diri." ucap sang suster.
pov author end...
perasaanku begitu berkecamuk kala mendengar suamiku mengalami kecelakaan, jujur aku tak memperdulikan anakku dengan langkah cepat aku mencari suamiku. walaupun rasa sakit sehabis melahirkan aku tak hiraukan, karena aku takut suamiku terluka parah.
"ibu tenang, suami ibu sedang di periksa dulu di IGD. tolong ibukan baru melahirkan, jangan terlalu memaksakan diri." ucap sang suster.
"diam sus, kamu gak tahu rasanya pas mendengar suami sendiri kecelakaan." aku menerobos masuk ke dalam IGD, kulihat suamiku terkapar lemah di atas ranjang rumah sakit yang cukup keras. kepalanya sudah di perban, jarum infusan sudah terpasang di tangannya.
dengan memberanikan diri aku menghampiri suamiku.
"sayang." aku meraih tangannya yang pucat pasi, begitu dingin kurasa.
"bangun, kamu bercanda nya berlebihan deh." aku mencoba mengajak bicara, namun dia sama sekali tak menjawab ku.
Jia yang datang bersama mas ken mencoba menenangkan ku, bagaimana mungkin aku bisa tenang saat melihat keadaan suamiku seperti ini. hidup tapi seperti orang mati, apa gunanya itu.
"Len, aku janji akan cari tahu siapa pelakunya." ucap mas Ken, aku menatapnya.
"Len, percayakan ini semua sama kami. kamu istirahat ya, sekarangkan ada anak kamu, kamu gak boleh sakit." ucap Jia, kata-katanya membuatku tersadar.
"anakku." aku mencari keberadaan anakku.
"anak kamu sama ayu, nanti kita pulang ya." Jia memapah ku ke ruangan dimana tadi aku meninggalkan anakku, soal Abi mas Ken yang akan menjaganya.
skip
rumah
__ADS_1
"cucu kita suda pulang." terdengar suara riuh dari dalam rumah, aku melangkah kan kakiku ke dalam. ku lihat ayah ibuku juga kedua mertuaku menyambut kedatangan cucunya, cukup meriah.
"loh yang nganter nya banyak juga." ucap ibu.
"Abi mana Len?" tanya ayahku, dia menyadari kalau menantunya tak ada di antara kami.
"Abi..." aku tak sanggup melanjutkannya.
"sudahlah, ayo kita bawa baby nya ke kamar." Jia mencoba mengalihkan pembicaraan, akupun tak bisa mengelak dan mengikuti saran Jia.
***
semua orang begitu bahagia menyambut kedatangan cucunya dari rumah sakit, sedangkan aku hanya bisa termenung melihat semua orang. memikirkan Abi yang sendirian di rumah sakit sedang memperjuangkan hidupnya, tiba-tiba aku berdiri.
"eeh ada apa?" tanya mama mertua padaku.
sekilas aku menatapnya. "aku mau ke rumah sakit lagi ma."
"ke rumah sakit mau ngapain?"
"aku mau temenin Abi, ma. Abi pasti kesepian di sana, Alena minta tolong sama mama tolong jagain anak aku dulu ya." ucapku seraya meneteskan air mata, entah kapan air mata ini berjatuhan.
"maksud kamu apa?" mama mertua melohok, raut mukanya tak dapat di gambarkan saat ini.
Jia segera mendekat ke arah kami berdua. "Tante, Tante tenang ya."
kulihat Jia terdiam sesaat, namun secepatnya Jia memeluk tubuh mama mertua ku.
"ada apa Len?" kini papa mertua yang bertanya.
aku hanya menggelengkan kepala saja seraya mencoba menahan air mata jatuh, namun air mata ini tak dapat di bendung.
"sebenarnya, pak Abi mengalami kecelakaan." ujar Jia. semua orang yang mendengarnya terkejut, apalagi mama mertua. dia begitu syok sampai tubuhnya ambruk ke lantai.
"apa?" ibu mendekat ke arahku, lalu di peluknya tubuhku. "yang sabar ya nak, ini pasti berat buat kamu."
skip
pov author...
sudah hampir satu bulan lebih Abi di rawat di rumah sakit, dan hari demi hari Alena seperti orang mati. semua orang yang melihat keadaan Alena sangat prihatin, termasuk mertua juga orang tua nya sendiri sangat cemas dengan mental Alena saat ini.
"sayang lihat anak kamu, dia sudah ganteng, beri ASI ya!" ucap Sera seraya memindahkan gendongan anak Alena pada pangkuan Alena.
"ayo sini nak." Alena bersiap memberikan asi nya, meskipun begitu Alena tetap menjaga pola makan demi meningkatkan suburnya asi yang akan di berikan pada anaknya.
***
__ADS_1
suatu malam Jia datang menemui Alena, Alena di paksa untuk mengikutinya ke suatu tempat. walaupun dengan berat hati Alena akhirnya ikut Jia, dan entah apa yang aka. Jia tunjukan pada Alena, Alena pun tak tahu.
"ada apa sih ji?" tanya Alena.
"mas Ken sudah menemukan pelaku tabrak lari itu." Tutur Jia.
"kamu serius?" Alena senang mendengarnya namun di balik senang itu masih ada rasa sedih, karena suaminya belum sadarkan diri.
"aku serius."
Jia membawa Alena ke suatu tempat, yaitu rumah besar Alena sendiri tidak tahu rumah siapa yang mereka kunjungi.
"kita masuk." ajak Jia tak lupa menuntun Alena.
di dalam begitu ramai, yang terdengar jelas adalah suara Lulu yang sedang marah besar.
"tega ya mami sama Abi, gimana kalau Abi mati mih?" teriak Lulu.
"maksud kamu apa lu?" tak sengaja Alena mendengar ucapan Lulu, Lulu termohok kala melihat Alena dan Jia sudah ada di belakangnya.
"Alena? Jia?"
"maksud kamu apa lu? siapa yang tega melakukan itu pada suamiku?"
Lulu tak menjawab pertanyaan Alena, dia mematung menatap lekat Becky. Lulu rasanya ingin diam dan tak memberitahu kebenaran, namun dia juga tak tega melihat Alena yang hidup dalam kesedihannya.
"mami aku yang sudah nabrak Abi." enteng Lulu.
"apa?" Alena ambruk ke lantai, dia begitu tak habis pikir dengan apa yang di lakukan Becky pada suaminya.
di luar terdengar suara langkah kaki, polisi dan juga Ken datang bersamaan.
"tangkap wanita itu pak." titah Ken pada polisi yang datang bersamanya seraya menunjuk Becky.
"nggak." teriak Becky.
"mami mohon kamu harus percaya sama mami." ucap Becky pada Lulu.
"mami kenapa sih jadi begini?" lirih Lulu.
"mami hanya ingin membalaskan dendam kamu sayang, mami ingin kamu bahagia." jelas Becky.
"mami salah, selama ini aku bahagia bersama anak dan suamiku."
pov author end....
jadi selama ini Tante Becky memiliki dendam pada keluargaku, dan dengan tega dia mencoba menyingkirkan suamiku.
__ADS_1