
Pagi ini, suami Sera menyuruh anggota keluarganya berkumpul di ruang tengah.
"Ada apa ya sayang, pagi-pagi sudah nyuruh kita kumpul disini?" Tanya Sera pada suaminya.
"Duduk saja dan dengarkan." Tegas suami Sera.
Sera, Alena dan Abi pun duduk stay, mendengarkan ucapan suami Sera.
"Sayang kok firasat aku nggak enak ya." Bisik Alena pada Abi.
"Tenang sayang." Bisik Abi pada Alena seraya mengelus tangan Alena.
Alena tersenyum tipis sambil menatap suaminya itu, pun Abi.
Suami Sera duduk, dengan melipat tangan di atas dada. Siap untuk memberikan informasi yang sudah di tunggu-tunggu oleh keluarganya.
"Dengarkan papa, papa harap tidak ada yang keberatan dengan keputusan ini." Tegas suami Sera, lagi.
"Firasat ku semakin buruk saja." Gumam Alena.
"Untuk Alena, kamu harus ikhlas menerima kenyataan." Ucap suami Sera, Alena pun menatap mertuanya itu dengan ekspresi membingungkan.
"Maksud papa apa?" Tanya Abi.
"Dengarkan saja, jangan menyelang pembicaraan papa." Bentak suami Sera.
"Lanjutkan perkataan papa." Timpal Sera.
"Baik, Abi dengarkan. Papa dan om surya sudah sepakat untuk menikahkan kamu dan Lulu, kamu harus tanggung jawab atas perbuatanmu itu." Jelas Rega, ayah sekaligus suami Sera. "Papa harap kamu tidak mengecewakan papa."
"Pa, apa apaan papa ini?" Sera memberontak, lalu Rega pun berlalu pergi dari ruangan, tentu saja Sera mengejarnya.
Alena duduk lemas, menatap suaminya penuh emosi. Menahan amarah dan tangis, Alena beranjak meninggalkan suaminya yang masih bengong sendirian.
Tangis Alena pecah di sudut ruangan kamar, dia menangis seraya memukul mukul dadanya, sesak. Dia meluapkan amarahnya dengan menyakiti dirinya, suara tangisnya tercekat.
"Kenyataan apalagi ini?" Gumamnya seraya mengepalkan tangannya.
Abi membuka pintu begitu keras, membuat Alena terperanjat.
"Sayang." Abi menghampiri Alena yang tengah duduk di sudut kamar sambil menangis.
"Sayang." Abi memeluk istrinya lalu mengusap pelan punggungnya.
Alena hanya terdiam, lalu menarik nafas dalam-dalam. "Kamu dengarkan apa yang di katakan papa?" Alena tersenyum tipis.
"Aku gak bisa melanjutkan rencana papa, sayang." Ucap Abi.
"Papa bilang, dia gak mau kamu mengecewakannya. Sayang aku.." Ucapan Alena terputus, air matanya jatuh lagi.
"Aku gak mau membuat kamu terluka seperti ini, kamu tahu, cintaku hanya untuk kamu seorang." Tegas Abi.
"Aku tahu, tapi sayang kamu gak boleh membantah perintah papa." Kata Alena, yang berusaha tegar.
"Jangan berusaha tegar, aku tahu kamu rapuh." Tutur Abi.
"Aku harap kamu mendengar ucapan papa." Ucap Alena seraya tersenyum, lalu mencium bibir suaminya.
Kali ini Abi tak bergeming saat di cium istrinya, Abi hanya tak menyangka kejadian seperti ini benar benar membuat dirinya kesal.
****
"Pa, papa kok tega sama anak sendiri. Abi gak mau nikah lagi pa, Abi kan sudah punya istri." Ucap Sera.
"Ma, apa mama mau menanggung malu?" Tutur Rega, suaminya.
"Malu? Malu apa pa, malu apa?" Bentak Sera.
"Keluarga kita akan malu kalau tahu anak kita telah menghamili Lulu, dan akan malu lagi kalau orang tahu Abi menghamili wanita lain saat sudah beristri." Jelas Rega.
__ADS_1
"Untuk apa malu, toh bukan Abi yang menghamili Lulu." Kata Sera, kesal karena ulah suaminya.
"Cukup ma, papa pusing dengerin mama yang selalu melawan kehendak papa." Bentak Rega, lalu pergi meninggalkan Sera yang duduk di atas ranjang.
"Mau kemana pa? Urusan kita belum selesai." Teriak Sera, namun Rega tak menghiraukannya dan terus berjalan. " Pa, papa." Sera berlari menghampiri suaminya yang semakin menjauh.
Rega memasuki mobil, menyalakan mesin dan berlalu dengan kecepatan tinggi. Sera terlambat menghentikan suaminya, dia menunduk lesu seraya bersandar pada pintu.
Rega pergi ke rumah Lulu, bergegas memberitahu kalau pernikahan Lulu dan Abi akan dilaksanakan minggu ini.
Rumah Becky
Tok..tok...
Keluar Becky, dia terkejut melihat Rega yang datang bertamu ke rumahnya.
"Mas Rega?"
"Boleh saya masuk?" Tanya Rega.
"Tentu, ayok masuk." Becky mempersilahkan masuk, Rega pun mengikutinya.
"Ayo duduk mas, sebentar saya ngambil dulu minum."
"Baik." Rega pun duduk, dan Becky pergi ke dapur untuk mengambil minum.
"Maafkan papa, bi." Gumam Rega.
"Mas, ayo di minum." Ucap Becky, memberikan secangkir teh hangat.
"Terimakasih." Rega mengambil lalu meminumnya.
"Omong-omong ada hal apa mas Rega kesini?" Tanya Becky.
"Saya sudah tahu apa yang menimpa Lulu, saya mau meluruskan masalah ini." Ucap Rega.
Rega menatap Becky, lalu teringat ucapannya saat berteleponan dengan surya, suami Becky.
Flashback
"Diam ma." Bentak Rega, Sera pun pergi meninggalkan suaminya itu.
Surya 'Apa?'
Me 'Iya mas, Lulu sekarang tengah hamil'
Surya 'Siapa yang menghamilinya?'
Me 'Belum jelas, tapi istri mas datang ke rumah meminta pertanggungjawaban kepada anak saya'
Surya 'Berarti Abi yang menghamilinya?'
Me 'Belum tentu Abi, karena Abi menyangkal bukan dia yang menghamilinya'
Surya 'Jadi maksud mas Rega, anak saya terlalu murahan sampai rela hamil walaupun bukan Abi yang menghamilinya'
Me 'Bukan begitu mas, saya akan tanggung jawab. Tapi menunggu anak dalam kandungan Lulu lahir, kami sekeluarga akan melakukan tes DNA terlebih dahulu'
Surya 'Lantas bagaimana dengan Lulu? Dia akan menanggung malu kalau tidak di nikahkan'
Me 'Mas tenang saja, Lulu akan tinggal di rumah kami sampai anaknya lahir, jika tes DNA dilakukan dan terbukti anak yang di kandung Lulu anak Abi maka pernikahan yang sesungguhnya akan terlaksana'
Surya 'Baiklah, saya akan mengikuti saran mas Rega. Tapi jangan sampai Lulu, menanggung malu sendiri'
Me 'Tenang saja mas'
Surya 'Saya serahkan sama mas Rega, semoga ini menguntungkan bagi keluarga saya'
Me 'Baik mas'
__ADS_1
Flashback end
"Terus gimana mas?" Tanya Becky memecah lamunan Rega.
"Saya sudah membuat keputusan, untuk sementara Lulu tinggal di rumah kami." Ucap Rega.
"Yes, misi saya rupanya berhasil." Batin Becky, menyeringai.
"Tapi untuk pernikahannya, akan di tunda sampai Lulu melahirkan." Tegas Rega, Becky yang mendengar sontak menatap Rega.
"Kok begitu mas? Saya gak mau, anak saya menanggung malu sendirian." Becky membantah perkataan Rega.
"Tenang Becky, Lulu gak akan menanggung malu sendirian kok. Lulu akan tinggal di kediaman saya, saya jamin Lulu gak akan nanggung malu sendiri." Tegas Rega.
"Oke kalau begitu, awas saja kalau anak saya menderita di sana." Ancam Becky.
"Baik, kalau begitu saya permisi." Rega pamit pulang.
Lulu turun menghampiri mamanya, yang sedang duduk manis.
"Mih." Panggil Lulu.
"Hei sayang." Sahut Becky.
"Ada apa sih, kok mami senyum-senyum sendiri?" Tanya Lulu.
"Duduk dulu, mami ada kabar bagus buat kamu." Ucap Becky, begitu antusias.
"Apa sih mih? Bikin penasaran aja." Lulu duduk di samping maminya, lalu mendengarkan perkataan maminya.
"Kamu hari ini siap siap ya, beresin barang barang."
"Ada apa sih mih?"
"Mami akan mengantarkan kamu ke rumah Abi." Tutur Becky, Lulu menatap maminya.
"Serius mih?"
"Of course beb, makanya cepat packing sekarang."
"Oke, Lulu mau packing dulu."
****
"Kamu sudah tenang sayang?" Tanya Abi.
"Dari tadi juga sudah tenang." Ketus Alena.
"Tapi jawabnya ketus gitu."
"Mana ada sih aku ketus sama kamu."
Abi tersenyum tipis, pun Alena. Malam ini, setelah huru hara di rumah, Alena dan Abi sudah baikan lebih tepatnya sudah tenang.
"Kira kira papa kemana yah yang?" Tanya Alena.
"Aku juga gak tahu, mungkin ke kantor."
"Besok masuk kerja?" Tanya Alena.
"Kamu kan ijinnya satu minggu, baru aja sehari. Masih ada enam hari, buat quality time sama kamu."
"Iya juga sih."
Malam ini Alena dan Abi hanya bermesraan, tiduran di ranjang seraya memandangi bulan yang terlihat samar karena terhalang kaca jendela yang berembun, sisa air hujan siang tadi.
"Malam yang indah, menatap istriku yang cantik, memeluk tubuhnya yang hangat juga harum." Pujian setiap pujian keluar dari mulut Abi, Alena pun menatap manik mata suaminya lalu tersenyum tipis.
"Kamu cantik banget kalau tersenyum." Abi dan Alena terhanyut dalam mesraan kasih sayang satu sama lain.
__ADS_1