
Beberapa Minggu kemudian...
"Happy birthday suamiku sayang." Ucapku pada Abi seraya mencium sebelah pipinya.
"Hmm." Abi berdehem saja, dia masih enggan membuka matanya dan masih bergelut dengan selimutnya.
"Ayo bangun, kita siap-siap pergi ke party." Aku menyibak selimut yang menutupi tubuh Abi.
"Ayolah sayang, ini masih pagi untuk siap-siap." Keluhnya.
"Ya sudah terserah kamu saja." Aku beranjak dari tempat tidur, dan pergi ke kamar mandi.
Selama di kamar mandi aku termenung menatap diri pada pantulan cermin, tanganku yang sebelahnya memegang alat tes kehamilan.
"Semoga kali ini tidak mengecewakan." Gumamku, lalu aku mengetesnya.
Setelah selesai, aku menyembunyikan alat tes kehamilan itu pada dadaku. Nafasku memburu hebat, ingin segera melihat hasilnya tapi rasa takut masih saja menghantui. Pasalnya sudah beberapa kali aku melakukan tes namun hasilnya tetap sama, yaitu negatif.
"Kok deg-degan gini?" Aku membuka alat tes kehamilan itu, senang bercampur tak percaya menyatu bersamaan.
"Aku, aku hamil." Aku menutup mulutku dengan kedua tanganku, selama satu tahun lebih menanti kehamilan akhirnya aku benar-benar hamil.
Aku menyembunyikan alat tes kehamilan itu pada saku celana, berniat untuk aku bungkus untuk kado ulang tahun suamiku. Hari ini akan banyak hal yang terjadi di acara ulang tahun suamiku, aku bersiap lalu keluar dari kamar mandi.
Saat menatap Abi, rasanya aku ingin sekali memberitahu nya kalau aku tengah mengandung anaknya, tapi ku urungkan niatku ini.
"Sayang." Panggilku.
"Iya." Balasnya singkat.
"Ayo siap-siap, nanti kita telat datang ke acaranya."
"Iya iya, aku mandi dulu ya." Abi pergi ke kamar mandi.
****
"Aku lihat-lihat kamu kayak bahagia banget, padahal yang ulang tahun aku loh." Ucap Abi.
"Udah fokus saja menyetir."
Tempat acara..
Sesampainya di pesta, banyak orang yang menyambut kedatangan aku dan Abi. Ku lihat Lulu duduk di pojokan bersama pengasuh bayi nya, seraya melihat ke arahku.
"Selamat ulang tahun pak Presdir." Tamu undangan saling mengucapkan selamat kepada suamiku.
"Sayang aku mau duduk ya, kaki aku udah kesemutan." Bisikku, Abi pun mengangguk mengiyakan ucapan ku. Aku menghampiri meta dan Jia, lalu ikut duduk.
__ADS_1
"Cantik banget istrinya pak Abi." Goda meta padaku.
"Kamu gak tahu aja, Alena dari dulu emang cantik." Timpal Jia.
"Pak Abi emang gak salah cari istri ya! Iri deh cantiknya kelewatan." Ucap meta yang tak henti-hentinya memujiku, aku hanya tersenyum tipis mendengarnya.
"Eh ayu mana?" Tanya Jia.
"Benar, ayu kok gak ada." Sambung meta.
"Aku takutnya ayu gak datang, gimana dong?" Ucapku gelisah.
"Kalau ayu gak datang rencana yang kita siapkan akan benar-benar berantakan." Jia mencari keberadaan ayu ke setiap pojokan.
"Aku yakin ayu bakalan datang, jadi jangan panik ya!" Ucap meta.
****
"Selamat datang di acara ulang tahun anak saya, Abi Pangestu." Ucap mama mertua begitu lantang dengan mikrofon di tangannya.
Semua orang bertepuk tangan dengan meriah, menyambut kedatangan Abi ke atas panggung.
"Sayang." Abi menjulurkan tangannya kepadaku, akupun meraih tangannya dengan seutas senyuman.
"Aku grogi banget naik ke atas sana." Bisikku pada Abi.
"Aku kan baru pertamakali ngerayain ulang tahun seformal ini, wajar dong kalau aku grogi."
"Udah kamu nempel aja terus sama aku, biar grogi nya hilang."
Aku menatap Abi begitupun Abi dia juga menatapku sambil berjalan ke atas panggung, dengan saling bertukar senyum.
"Kita akan mulai acaranya." Ucap mama mertua yang menjadi MC dadakan.
Pertama acaranya adalah tiup lilin, semua orang bernyanyi happy birthday bersamaan. Dan lilin pun di tiup oleh Abi, semua orang bertepuk tangan. Dilanjutkan dengan potong kue, potongan pertama Abi berikan kepadaku.
"Untuk potongan pertama suapan pertama istrikulah yang harus menerimanya." Abi menyupkan potongan kue kedalam mulutku.
"Untuk yang kedua mama dan papa." Ucap Abi.
*****
Setelah selesai dengan acaranya, semua orang asyik berpesta. Sedangkan aku masih gelisah kenapa semua yang sudah di siapkan tak kunjung terjadi. Apa yang sebenarnya terjadi kenapa ekspetasiku tak sesuai dengan realita?
"Len." Panggil Jia padaku.
"Iya, ada info apa dari mas Ken?" Tanyaku.
__ADS_1
"Belum." Jia menggelengkan kepalanya, makin rapuh sudah harapanku tentang kebenaran yang ingin ku ungkap.
"Daripada memikirkan itu, lebih baik kamu kasih kado kamu itu sama suami kamu." Ucap Jia, rupanya dia menyadari kotak panjang berukuran sedang yang sedari tadi aku pegang.
"Ini?" Aku mengacungkan kotak itu.
"Iya, sana kasih." Jia menyuruhku memberikan kado ulang tahun kepada Abi.
"Baiklah, aku pergi menemui suamiku dulu ya!"
"Iya."
Aku berjalan menuju Abi, dia tengah asyik berbincang-bincang dengan teman-teman nya.
"Sayang." Panggilku.
"Iya sayang ada apa?" Abi berbalik padaku. "Bentar ya bro."
"Siplah."
"Ada apa sayang?" Tanya Abi padaku.
"Ini." Aku memberikan kadoku padanya.
Abi mengambil kado dari tangan ku. "Apa ini?"
"Buka saja."
Abi membuka kado pemberian dariku, tapi aku mencegahnya. "Berhenti sayang, jangan dulu di buka."
"Loh kenapa?" Abi kebingungan. "Aku penasaran isi kado dari istriku kira-kira apa ya?"
"Nanti saja di rumah."
"Ya sudah kalau kamu bilangnya begitu."
Skip
Aku dan Abi pulang ke rumah dengan gurat kekecewaan pada raut mukaku, apa yang di rencanakan benar-benar tak terjadi.
"Sayang kamu kok mukanya di tekuk gitu?"
"Nggak papa kok, aku capek aja."
"Sebentar lagi kita sampai kok ke rumah."
Maaf untuk part yang sekarang kurang panjang, dan lama banget updatenya dikarenakan author sakit baru pulang dari puskesmas🙏
__ADS_1