
"Apa maksudnya Lulu ngirim foto ini? Mungkin dia kira aku bakalan cemburu."
Abi membanting handphone nya ke sebelah kursi mobilnya, dia menyalakan mobilnya dan melakukannya dengan kecepatan yang tinggi.
"Aku sedikit cemas, kenapa pagi-pagi Alena sudah ada di kantin, sama Ken pula."
****
"Bete bete bete, aish bete banget sih." Setelah berada di ruang kerjanya Alena hanya memandangi foto pernikahan yang di pajang di mejanya, sesekali dia mengumpat lalu mengelus foto.
"Aish." Teriak Alena.
Tok...tok...tok...
"Masuk."
"Selamat siang istriku yang cantik." Ucap Abi seraya menghampiri istrinya yang sedang duduk malas.
"Sayang." Alena sontak berdiri dan menghampiri suaminya.
"Kangen ya?" Abi memeluk istrinya.
"Sangat sangat kangen."
"Sayang aku mau tanya sesuatu sama kamu, boleh?"
"Boleh dong sayang, mau tanya apa?"
"Tadi aku kan dapat pesan dari Lulu." Abi belum selesai bicara Alena langsung memotongnya.
"Sudah kuduga."
"Gimana sayang?"
"Kamu mau curiga sama istri kamu sendiri, gitu?" Alena menyipitkan matanya seraya menunjuk Abi.
"Mana berani aku curiga sama kamu, hehe.." Karena takut di amuk istri, Abi mengalah dan malah nyengir kuda.
"Bagus, sudah makan sayang?" Dari judes jadi lembut, begitulah sifat wanita, gak ada yang bisa nebak.
"Belum, makan yuk."
"Ayok."
Alena dan Abi pergi makan siang, sedangkan di sisi lain Lulu sedang kegirangan. Dia berpikir Abi dan Alena akan bertengkar hebat, karena ulahnya yang telah mengirim foto itu.
"Kenapa kamu senyum senyum sendiri?" Tanya Becky, mengagetkan Lulu.
"Ah mami, pokoknya hari ini anak mami ini lagi seneng banget." Balas Lulu begitu bersemangat.
"Ada apa? cerita dong."
"Aku yakin, Abi sama Alena bakalan bertengkar."
"Kenapa emangnya, kamu bikin ulah lagi ya?" Becky sudah menduga kalau anaknya ini memang jagonya bikin masalah.
"Yes, of course." Balas Lulu, tersenyum ala psikopat.
****
"Eeehhh." Ketua hena menghampiri Jia yang baru tiba, diikuti pak Ben.
Jia menyipitkan kedua matanya seraya membuang muka. "Mulai deh." Gumam Jia.
"Jia." Panggil pak Ben dengan nada bagaikan memanggil, yang mulia.
"Hehehe..." Jia tersenyum agak terpaksa.
"Minggir." Ketua hena mendorong tubuh pak Ben.
"Ketua hena makin kesini makin berani, padahal disini aku lebih tua daripada dia. Mentang-mentang jabatannya tinggi daripada aku, ngelunjak dia. Huh." Pak Ben menggerutu sendiri setelah dapat dorongan kuat dari ketua hena.
"Apa hah?" Ketua hena mengangkat kepalanya.
"Mulai deh." Gumam Jia lalu menutup telinga.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, silahkan lanjutkan." Ucap Ben sedikit menunduk.
"Kalau berani ngomong depan saya, jangan diam-diam gitu. Kamu bicara pelan pun kedengaran tahu orang bicaranya di samping saya."
"Terserah saya dong, mulut-mulut saya kok ketua yang heboh."
"Wajarlah, orang kamu ngomongin saya."
"Heh ketua, kamu harus sopan dong kamu sama saya masih tuan saya."
"Cuma beda setahun saja."
"Tetap tuaan saya."
Jia mengambil aba-aba, bersiap untuk bersuara.
"Berhenti." Teriak Jia, sontak ketua hena dan pak Ben terkejut.
"Aish, Jia gendang telinga saya bisa-bisa pecah." Ucap pak Ben.
"Betul." Timpal ketua hena.
"Ah maaf, sini deh. Kalian mau tahu sesuatu gak?"
"Apa-apa?" Timpal ketua hena dan pak Ben barengan.
"Sini mendekat dong." Ucap Jia.
Mereka berdua mendekat ke arah Jia, Jia pun ikut mendekat dengan seringainya.
"Apa?" Tanya ketua hena.
Jia mengambil aba-aba lalu. "Berisik." Teriak Jia.
"Aihh."
Pov end...
Setelah selesai makan siang bersama suamiku, aku meminta dia untuk mengantarku pulang ke rumah orang tuaku.
"Lantas?"
"Kita ke sana ya."
"Tapi sayang.."
Sebelum melanjutkan ucapannya, suamiku berhenti karena melihatku sudah memasang raut wajah yang sulit di artikan.
"Iya kita kesana, kapan kira-kiranya?"
"Sekarang."
"Sekarang? Nggak besok aja?"
"Sekarang, aku maunya sekarang." Tegasku.
"Iya."
"Ayo pulang dulu ke rumah, packing dulu sebelum berangkat."
"Iya, aku nurut aja maunya kamu apa."
"Ah suamiku, i love you." Aku mencium bibirnya, ku lihat kedua sudut bibirnya terangkat.
Kami pun pulang ke rumah, di rumah hari ini cukup tenang gak ada mama mertua dan papa mertua, yang ada hanya pembantu.
"Siang tuan, nona." Sapa bi Sumi.
"Siang bi, ibu sama bapak kemana ya?" Tanya suamiku.
"Ibu sama bapak belum pulang, ibu masih ada arisan sama temen-temennya katanya pulangnya nanti malam, kalau bapak masih di kantor." Jelas bi Sumi.
"Oh iya."
"Bi kamu mau pergi hari ini, kalau ibu nanya kemana bilang kalau kami berdua ke Bekasi ya." Ucapku pada bi Sumi.
__ADS_1
"Baik non."
"Ya udah kami mau siap-siap dulu."
Bi Sumi mengangguk mengiyakan ucapanku.
"Sayang." Rengek suamiku seraya memeluk manja padaku.
"Hmm." Aku hanya berdehem saja.
"Sayang." Lagi-lagi dia merengek.
"Apa?"
"Mandi ayo." Pintanya enteng padahal dia tahu kalau istrinya yang solehah ini sedang packing.
"Kamu pilih ya, antara pisau sama gunting. Mau gunting apa pisau?"
"Nggak keduanya." Jawabnya seraya melepaskan pelukannya, dan tangannya langsung memegang benda yang ada di sekitarnya untuk di masukan ke dalam koper.
"Ngapain sih bawa-bawa bantal?" Heran aku sama dia, kenapa bantal mesti di bawa, emang dia pikir di rumah ibu gak ada bantal apa?
"Bantal ini nyaman buat tidur, kalau gak ada bantal ini aku gak bisa tidur sayang." Jelasnya, ah bohong sekali tidak bisa tidur apanya toh dia kalau kepalanya udah nemplok dimanapun auto teler.
"Oh ya? Kok aku baru tahu ya?"
"Kamu sih, gak pernah merhatiin kalau suami kamu tidur. Harusnya sebagai seorang istri kamu tahu apa saja yang di butuhkan dan di sukai suami." Ocehnya, inginku mencincang dia tapi aku tahu mencincang orang adalah perbuatan yang tidak di sukai tuhan, alias dosa.
"Begitu ya sayang, udah bantal ya jangan di bawa ya. Kan ada aku, masa kamu gak bisa tidur kalau ada aku."
"Ey, bukan begitu sayang. Kalau dekat kamu hawanya pengen nerkam bukan nya malah pengen tidur." Ternyata alibinya sangat oke.
"Kalau gitu aku tantang kamu, jangan bawa bantal itu dan kamu bakalan tidur di pelukan aku."
"Oke."
"Kalau kamu kalah, aku mau kita nginep di rumah ayah ibu selama seminggu."
"Dan kalau kamu kalah, kamu harus siap-siap melayani aku setiap malam sampai aku kelelahan."
"Oke, setuju."
Taruhan apa sih ini, dalam rumah tanggaku. Ini adalah pengalaman yang unik, tapi dalam hati aku menginginkan kemenangan dalam taruhan ini. Kalau aku kalah bisa-bisa aku mati.
"Dah siap, kita berangkat."
"Bi, bilangin ya ke ibu dan bapak kalau kami pergi ke Bekasi." Ucap suamiku.
"Siap tuan."
"Kami berangkat ya bi." Ucapku pada bi Sumi.
"Iya non, hati-hati ya."
"Iya bi."
Mobil pun melaju meninggalkan pekarangan rumah. Selama perjalanan aku bersenandung, karena aku sudah sangat amat rindu pada ayah dan ibu.
"Sesenang itu kayaknya kamu ya." Ucap suamiku.
"Iyalah, aku tuh udah rindu berat sama ayah dan ibu."
"Aku senang kalau lihat kamu senang."
"Aku pun."
****
Sampai di Bekasi
Tok...tok...
Tak ada sahutan dari dalam rumah, kemana orang tuaku pergi.
"Ketuk yang keras yang pintunya." Ucapku.
__ADS_1
"Ini juga sudah keras sayang."