My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 22


__ADS_3

"Alena maaf, kamu saya tinggal sebentar." Ucap Abi dengan nafas tak beraturan.


"Gak papa, gimana rapatnya lancar kan?" Tanya Alena, di tahunya Abi pergi rapat bukan ketemu Lulu.


"Rapat?" Abi pun sama dia bingung, kok rapat?


Ken mengangguk pelan memberi kode kepada Abi, Abi pun membalas anggukan nya itu.


"Oh iya, rapat nya lancar kok. Gimana keadaan kamu, sudah mendingan?" Tanya Abi mendekati Alena.


"Sudah, saya mau pulang sekarang." Balas Alena, dia dari tadi minta pulang.


"Baik, sebentar saya ke ruangan dokter dulu." Ucap Abi.


"Biar saya saja yang keruangan dokter, pak Abi silahkan duduk saja." Ucap Ken menawarkan diri.


"Baiklah." Sambung Abi.


Ken pun pergi menemui dokter, untuk membicarakan kepulangan Alena.


"Kamu gak papakan?" Tanya Abi pelan.


"Gak papa kok, nih lihat sudah segeran." Sahut Alena seraya memamerkan otot lengannya.


"Sukur kalo begitu, kok bisa kamu kecapean sama kurang gizi?" Abi to the point menanyakan alasan kenapa Alena sampai pinsan.


"Seharian kemarin saya memang fokus banget sama kerja dan sampai lupa makan." Balas Alena.


"Saya minta sama kamu, kerja juga harus ada istirahatnya intinya kamu jangan lupa makan. Makan itu penting." Ujar Abi, Alena mengangguk mengiyakan perkataan Abi.


****


"Alena sudah bisa pulang sekarang." Ucap Ken.


"Yeayy akhirnya aku pulang." Alena begitu senang karena dari tadi dia memang sudah ingin pulang.


Pov author end...


Hari ini aku baru keluar dari rumah sakit.


"Kita pulang kemana hari ini?" Tanyaku pada presdir.


"Hotel." Balasnya singkat.


"Masih ke hotel ya?"


"Iya sampai besok."


Sukurlah ternyata sampai besok, tapi inginku sekarang juga mending pulang ke rumah.


Sesampainya di hotel, aku hanya duduk manja di sofa yang menghadap ke jendela yang cukup besar disana aku bisa melihat kota di ketinggian. Presdir, dia sedang keluar sebentar membeli makanan karena dia takut aku jatuh sakit lagi karena kekurangan gizi.


Sekitar 30 menitan presdir sudah tiba di hotel, dia menyiapkan makanan yang di belinya sendirian.


"Biar saya bantu." Aku menawarkan diri untuk membantunya.


"Kamu duduk saja biar saya yang siapkan, kamukan baru keluar dari rumah sakit." Ucapnya begitu posesif, padahal aku gak papa. Aku menurut saja dan duduk sambil melihat kelihaian presdir yang menyiapkan makanan.


"Ayo makan, setelah bere makan minun obat dan langsung tidur ya besok ga usah berangkat kerja." Ucap nya seraya memberikan makanan padaku.


"Bapak juga makan." Ucapku pelan.


Kami berdua menikmati makan malam yang di beli presdir, tak ada suara saat makan malam berlangsung hanya suara sendok yang beradu dengan piring. Makan malam pun selesai, presdir menyiapkan obat yang akan ku minum.


"Ini minum obatnya." Ucapnya memberikan obat dan air putih padaku, akupun mengambilnya dan segera ku telan obat itu.


"Terimakasih." Ucapku seraya menjatuhkan badan pada kasur yang empuk.

__ADS_1


"Selamat tidur." Ucapnya di sebrang pintu kamar.


Kami tidur terpisah, aku tidur di kamar dengan kasur yang begitu empuk sedangkan presdir dia tidur di sofa yang ada di luar kamar.


***


Pagi pun tiba, aku sudah rapih dan akan segera berangkat kerja. Ku lihat presdir tengah minum kopi sambil menonton televisi, dia juga sudah terlihat rapih.


"Selamat pagi." Sapaku pada presdir.


"Pagi, kamu mau berangkat kerja?" Tanyanya.


"Iya pak." Balasku singkat.


"Saya sudah bilang gak usah berangkat kerja dulu, istirahat saja." Dia melarangku berangkat kerja.


"Saya sudah sehat kok, saya harus kerja pak." Aku ngeyel ingin berangkat kerja.


"Ya sudah kita berangkat bareng." Entengnya.


"Gak bisa gitu pak, kitakan gak boleh ketahuan." Ucapku, ya wajarlah aku ngomong gitu aku takut kalau orang kantor tahu aku istri presdir.


"Sudahlah ikut saja, biar saya yang cari alasan." Ujarnya, akupun tak bisa menolak ajakannya.


Selama perjalanan menuju kantor aku dan presdir tak banyak bicara.


"Nanti kamu bereskan barang barang kamu, kita pulang ke rumah mama." Ucapnya memecah keheningan.


"Baik." Sahutku singkat.


"Kamu bisakan beresin sendiri? Saya harus pergi ke suatu tempat dulu." Ucapnya, mau kemana lagi sebenarnya dia itu.


"Iya." Balasku pelan.


Suasanapun kembali hening, dan akhirnya kami sampai di kantor. Syukurlah tidak ada orang yang melihat, jadi aman gak perlu nyari nyari alasan.


"Pak." Panggilku pada presdir.


"Kalau bapak gak bisa bantuin saya beres beres, bolehkan saya minta bantuan sama sekretaris Ken?" Aku meminta ijin supaya sekretaris Ken bisa membantu, toh dia juga gak bisa membantuku.


"Baiklah biar nanti saya telepon Ken." Ucapnya.


"Gak perlu, biar saya saja yang telepon sekretaris Ken."


"Terserah kamu." Ujarnya seraya pergi.


****


Hari ini gak ada yang aneh, nulis sudah ini itu juga sudah. Apa aku telepon mama mertua saja ya? Iya, aku telepon mama mertua saja dan ngasih tahu kalau nanti malam aku dan presdir pulang ke rumah.


Mamer 'Hallo sayang ada apa?'


Me 'Ma, nanti malam aku sama suami pulang ke rumah'


Mamer 'Oh ya? Nanti mama siapin makanan. Oh ya sayang, kamu jangan risih ya sama Lulu'


Me 'Lulu? Siapa Lulu ma?'


Mamer 'Yang mau di jodohkan sama Abi'


"Kok bisa ada dia di rumah mama?" Batin Alena.


Mamer 'Hallo sayang kamu dengarkan?'


Me 'Iya ma, ngapain risih ma suami kan milih aku dan sekarang istrinya kan aku'


Mamer 'Sayang deh sama mantuku ini, iya deh Abi milik kamu seorang'

__ADS_1


Me 'Iya ma kalau gitu aku tutup ya telepon nya'


Mamer 'Iya sayang'


Aku mematikan Sambungan telepon, aku heran kenapa wanita itu ada di rumah mama mertua kok bisa ya. Apa aku tanya kan sama presdir saja? Nggak deh jangan ngapain juga nanya nanya soal itu.


Jam sudah menunjukan waktu pulang kerja, aku berpapasan dengan sekretaris Ken.


"Selamat sore Alena." Sapa sekretaris Ken begitu sopan.


"Sore juga, mas Ken." Aku berbalik menyapa.


"Mau pulang sama presdir ya?" Tanyanya.


"Nggak, presdir ada urusan dia harus pergi ke suatu tempat." Balasku.


"Oh begitu."


"Iya, dan kebetulan sekali kita ketemu disini mas. Aku mau ada perlu sama kamu, boleh gak?"


"Ada perlu apa?"


"Bantuin aku beresin barang, nanti aku dan presdir mau pulang ke rumah." Jelasku padanya.


"Jadi malam ini kalian pulang ya? Kalo begitu ayo aku bantuin kamu." Ucapnya.


"Makasih ya mas."


"Ken tunggu!" Cegah presdir sebelum kami melangkah.


"Ada apa?" Tanya sekretaris Ken.


"Tolong bantuin Alena beres beres ya." Ucap presdir.


"Iya, ini juga mau berangkat. Iyakan Alena?" Tanya sekretaris Ken padaku.


"Iya." Balasku singkat.


"Ya sudah kalau begitu, titip ya jangan sampai Alena pingsan lagi." Ujar presdir, rupanya dia menghawatirkan aku.


"Iya siap bos." Sahut sekretaris Ken.


Setelah menitip pesan presdir pergi, dan aku juga sekretaris Ken langsung ke hotel untuk berkemas.


Hotel


"Mas tolong ambilkan koperku yang di dalam lemari itu." Ucapku seraya menunjuk lemari.


"Oke." Sekretaris Ken mengambil koper itu dan memberikannya kepadaku.


"Terimakasih mas." Aku mengambil koper yang di bawakan sekretaris Ken.


"Sama sama." Balasnya.


"Mas aku mau nanya dikit boleh?"


"Boleh, mau nanya apa?"


"Mas, apa presdir gak pernah pacaran ya?" Tiba tiba terlintas pertanyaan itu di pikiranku.


"Nggak pernah sama sekali nggak pernah." Apa aku wajib percaya sama perkataan sekretaris Ken? Masa gak pernah pacaran sih.


"Tapi dia bilang pernah suka sama wanita loh mas."


"Memang, wanita yang pernah Abi sukai kan Lulu." Perasaan dari kemarin yang aku dengar nama Lulu, Lulu dan lulu.


"Terus katanya lagi dia pernah suka sama gadis kecil, kalo gak salah waktu dia umur 10 tahun." Ucapku.

__ADS_1


"Kamu rupanya tahu ya tentang Abi, kalau gadis kecil itu sih Abi pernah cerita sama aku kalau gak salah namanya nana." Jelas sekretaris Ken.


Nana?


__ADS_2