
Malam berlalu begitu cepat, pagi ini Alena tengah duduk di atas kursi seraya menatap pantulan dirinya pada cermin. Alena mengambil lipstik warna merah muda, lalu di oleskannya pada bibirnya, begitu imut kini bibirnya dengan balutan lipstik.
Setelahnya, Alena menaburkan bedak pada wajahnya. Tak lupa, alena mengoleskan sedikit perona pipi, yang makin membuatnya terlihat sempurna.
"Mau kemana sih? Perasaan hari ini kamu cantik banget." Ucap Abi di ujung pintu kamar mandi.
Alena menatap Abi pada pantulan cermin tempatnya berdandan. "Emang gak boleh kalau istrinya cantik?"
"Boleh dong sayang." Ucap Abi seraya menghampiri istrinya.
"Sayang." Panggil Alena.
"Hmm." Abi hanya berdehem saja, dia sibuk membenarkan kemejanya.
"Kita program hamil yuk." Ajak Alena tiba-tiba.
"Emangnya sudah siap?" Bukannya mengiyakan ucapan Alena, dia malah bertanya atas kesiapan istrinya.
"Loh, emangnya aku gak siap punya anak?" Alena berbalik nanya.
"Ya gak tahu, yang aku tahu pernikahan kita aja baru 7 bulanan." Ucap Abi.
"Emangnya kalau mau punya anak harus nunggu usia pernikahan 2 tahun apa 10 tahun gitu?" Ucap Alena begitu menyolot, lalu pergi meninggalkan Abi.
"Malah kabur, emangnya pertanyaan aku ada yang salah? Aku kan cuma nanya, kesiapan nya aja kok." Gumam Abi. "Cewek mah ribet."
"Pagi ma." Sapa Alena.
"Pagi, ayo sarapan sayang." Balas Sera, mertuanya.
Di meja makan, Sera duduk sendiri seraya menyiapkan sarapan untuk keluarganya. Dan kebetulan Alena turun, Sera meletakan roti ke atas piring milik Alena.
"Makasih ma." Ucap Alena.
"Good morning all." Sapa seseorang dari arah kamar yang ada di bawah tangga.
"Morning." Balas Sera, ketus.
"Morn..." Alena berbalik melihat pemilik suara cempreng itu, betapa terkejutnya pemilik suara itu adalah Lulu. "Lulu?"
"Bolehkan Lulu ikut sarapan bareng kalian?" Tanya Lulu seraya duduk.
Sera maupun Alena tidak menjawab sama sekali pertanyaan Lulu, tapi Lulu tidak menghiraukannya sama sekali dan malah ikut mengambil sarapannya sendiri.
"Pagi ma." Sapa Rega, suami Sera.
"Pagi pa." Balas Sera.
"Pagi pa." Timpal Alena.
"Pagi om." Timpal Lulu.
"Iya, gimana betah tinggal disini?" Tanya Rega pada Lulu.
"Ya gitu deh om, Lulu harus ngebiasain dulu." Ucap Lulu, Rega hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lulu.
"Abi mana Len?" Tanya Rega pada Alena.
"Masih di kamar." Balas Alena.
Abi pun turun dan ikut sarapan bareng, Abi terkejut melihat Lulu ikut sarapan di rumahnya ini.
"Pagi kak." Sapa Lulu seraya memasang smile.
"Iya." Balas Abi singkat.
Pov author end....
Setelah selesai sarapan aku dan suami pergi kerja bareng, aku muak lama lama di rumah karena melihat pemandangan suram yaitu si Lulu.
"Ma, alena sama suami pergi kerja dulu ya." Pamit ku kepada mama mertua.
"Iya sayang, hati hati ya." Ucap mama mertua.
"Iya ma." Balas suamiku.
Setelah berpamitan, di susul papa mertua yang ikut pamitan kepada mama mertua untuk pergi kerja.
__ADS_1
"Semuanya hati hati ya, bawa mobilnya jangan ngebut." Ucap mama mertua.
"Iya ma, kalau gitu papa duluan." Ucap papa mertua dan pergi.
"Kami juga ya ma." Timpal suamiku.
"Iya." Balas mama mertua.
Dalam perjalanan menuju kantor, aku makin gelisah karena Lulu yang sudah mulai masuk ke rumah kami. Aku takut dengan apa yang akan terjadi ke depannya, aku takut suamiku tak lagi mencintaiku. Banyak rasa takut menghantui pikiranku, semuanya seakan akan terjadi suatu saat nanti, apa yang aku pikirkan aku benar-benar takut.
"Sayang." Panggil suamiku, membuyarkan lamunanku.
"Iya." Balasku.
"Dari tadi melamun aja, mikirin apa sih?" Tanyanya, khawatir padaku.
"Nggak kok, aku cuma mikir kok Lulu ada di rumah kita?"
"Aku juga gak tahu, kapan datangnya?"
"Aku dengar tadi papa bilang, gimana rasanya tinggal di rumah kita. Apa Lulu tinggal di rumah kita bareng sama kita?"
"Masa sih? Semoga gak tinggal bareng kita." Ucap suamiku seraya mencium tanganku.
Kantor
Gara gara si Lulu, yang tadinya cuti kerja masih lama dan ingin bersantai di rumah harus berakhir seperti ini. Kalau di rumah pasti lihat si Lulu, yang lagi caper sama mama mertua.
Tok...tok...
"Masuk."
"Pagi Len." Sapa mas Ken.
"Pagi mas, ayo masuk."
Mas Ken duduk, dan memberikan kantong plastik padaku.
"Apa nih?" Aku membuka kantong plastik itu, lalu mengeluarkan isinya.
"Suka?" Tanya mas Ken, aku mengangguk mengiyakan ucapan mas Ken.
"Syukur kalau kamu suka, jangan lupa makan ya." Ucap mas Ken.
"Pasti dong mas."
Cklek...pintu terbuka, siapa pula yang datang ke ruangan aku.
"Sayang, Ken?" Panggil suamiku, rupanya yang datang adalah suamiku.
"Hei sayang."
"Ngapain kamu ada di ruangan istri saya?" Tanya suamiku.
"Nggak, saya cuma ngasih siomay aja. Saya pamit kerja lagi, permisi." Ucap mas Ken seraya membuka kenop pintu keluar dari ruanganku.
"Lihat deh sayang, mas Ken bawain aku siomay. Dia tahu banget kalau aku suka siomay." Ucapku.
"Suka banget ya?" Tanya suamiku.
"Iya dong sayang, waktu pulang ke kampung halamanku aku juga pernah ajak kamu makan siomay kan, enakan kamu juga suka kan?"
"Mendadak jadi gak suka." Jawabnya ketus.
"Kok bisa? Padahal waktu itu kamu makannya lahap banget."
"Waktu itu, sekarang nggak." Lagi-lagi nada bicaranya ketus.
"Kenapa sih kamu?" Aku keheranan dengan sikapnya yang mendadak jadi ketus.
"Sudahlah, aku balik lagi aja ke ruanganku." Ucapnya lalu pergi meninggalkan ruanganku.
"Aih gak jelas banget."
Aku membuka kembali kantong plastik pemberian mas Ken, lalu aku mengambil siomay dan dengan lahapnya aku memakan siomay. Betapa nikmatnya, ini mengalahkan steak dagi sapi premium.
****
__ADS_1
Sore ini aku tak melihat suamiku, biasanya dia selalu menungguku untuk pulang bersama tapi kali ini dia sama sekali tak kelihatan. Aku merogoh handphone dalam saku celanaku, lalu mencari kontak bernama suamiku.
Tersambung, tapi tak ada jawaban. Kemana dia pergi, kenapa dia meninggalkan aku sendiri di kantor. Sore ini para pegawai sudah pulang semuanya, dan menyisakan aku sendiri.
Betapa sialnya hari ini, aku lupa membawa dompet dan baterai handphone juga lowbat. Di luar langit begitu gelap pertanda hujan akan turun, dan kemana semua orang kenapa mereka cepat sekali menghilang dari kantor. Mas Ken, biasanya dia masih stand by di kantor sampai pukul 19.30, tapi sekarang dia gak ada. Suamiku pula, kenapa dia tega meninggalkan istrinya ini sendirian di kantor.
"Menyebalkan." Gumamku, lalu berjalan menyusuri jalanan yang cukup sepi. Mungkin karena akan turun hujan, kendaraan maupun orang tak ada yang lalu lalang.
Air hujan jatuh tepat saat aku menyusuri jalanan, kenapa timingnya gak tepat sih. Padahal menuju rumah masih sangat jauh, dan lagi aku malas berteduh.
Pov author...
"Sore ma." Sapa Abi pada mamanya.
"Sore juga." Balasnya, dan Sera menyadari tidak melihat Alena bareng Abi. " Alena mana bi?"
"Masih di kantor." Balas Abi ketus.
"Loh kok di tinggal?" Tanya Sera.
"Biarin lah ma, ada Ken juga. Nanti Alena di antar Ken, mama gak usah khawatir." Jelas Abi, lalu pergi menuju kamarnya.
"Padahal hari mulai gelap, dan sepertinya akan turun hujan." Gumam Sera.
Tok..tok...tok
"Masuk." Ucap Abi dalam kamarnya.
Cklek...
"Kak." Panggil Lulu.
"Iya ada apa?" Tanya Abi.
"Boleh masukan?" Tanya Lulu.
"Masuk aja, duduk." Abi menyuruh Lulu duduk, Lulu pun duduk di sofa.
"Kamar kakak sama Alena besar juga ya." Ucap Lulu basa basi.
"Ada perlu apa kamu kesini?" Tanya Abi to the point.
"Lulu pengen aja duduk berhadapan sama kakak, kayaknya baby nya mau duduk bareng papanya deh." Ucap Lulu, seraya mengelus pelan perutnya.
"Oh ya?" Tanya Abi.
"Tentu, kakak mau coba megang perut Lulu?"
"Tidak perlu."
Lulu menarik tangan Abi, lalu menempelkannya pada perutnya. "Baby nya seneng."
Abi menatap perut Lulu yang masih terlihat datar, seulas senyuman terlihat jelas di wajah Abi.
****
Hujan turun begitu deras, dan jam menunjukkan pukul 18.30 Alena masih belum menampakkan diri di rumah.
"Abi kok Alena belum pulang, mama khawatir." Ucap Sera begitu khawatir.
"Masih kerja mungkin ma." Tegas Abi.
"Iya tante, mungkin Alena masih sibuk." Timpal Lulu.
"Mama telepon deh."
Sera mencoba menelpon Alena, tapi tidak ada sahutan sama sekali.
"Bi, nomor Alena gak aktif. Mama makin khawatir, di luarkan hujan lebat." Ucap Sera.
"Sudahlah ma, nanti juga pulang. Alena kan bukan anak kecil." Imbuh Abi.
"Kamu gak peduli ya sama istri kamu?" Tanya Sera, makin gelisah.
"Tante terlalu berlebihan." Timpal Lulu.
"Diam kamu." Hardik Sera pada Lulu.
__ADS_1
"Ma, gak usah bentak Lulu, Lulu benar mama terlalu berlebihan sama Alena. Nanti juga pulang, toh dia tahu jalan pulang." Ucap Abi kesal, lalu pergi ke kamarnya.