
"Gak papa sayang, aku seriusan nggak papa." Ucapku, namun Abi tak menggubrisnya dia terus saja mengoleskan salep pada memar di wajahku.
"Awhh..." Sakit sekali rasanya.
"Sakit ya?" Tanyanya khawatir.
"Sedikit." Timpalku, aku menatap suamiku ini. Dia begitu khawatir padaku, aku merasa senang karena dia masih peduli dan perhatian padaku.
"Sayang." Panggilnya membuyarkan lamunanku.
"Iya."
"Jujur deh sama aku, kenapa wajah kamu lebam kayak gini?"
"Aku jatuh sayang."
Abi menatap penuh selidik padaku. "Aku tahu kamu bohong."
Aku menunduk, kenapa sulit sih membual pada Abi?
Abi menangkup wajahku, dia tersenyum lalu mencium dahiku penuh cinta.
"Jujur." Tekannya, dan akupun tak bisa menyimpannya lagi.
"Tadi aku ketemu Remon, aku cuma penasaran sama dia, tapi reaksi dia berlebihan sampai mencengkeram aku sayang."
"Memangnya kamu penasaran karena apa, kok sampai Remon berbuat kejam sama kamu?"
"Aku cuma nanya, kenapa dia dari tadi merhatiin ruang persalinan."
"Ya terus salahnya apa kalau si Remon merhatiin ruang persalinan?"
"Soalnya ya sayang, raut wajah Remon itu terlihat gelisah dan senang, dan poinnya aku nanya apa dia ayah dari anak yang di kandung Lulu."
"Lantas?"
"Dia malah mencengkeram aku, apa salahnya jawab bukan atau mungkin iya."
"Aku jadi curiga." Ucap Abi, lalu mengernyitkan dahinya.
"Curiga?"
"Sudahlah, kamu gak mau lihat bayinya? Dia cantik deh, kamu harus lihat." Ucapnya begitu antusias, aku hanya bisa melepas senyum yang penuh paksaan. Cemburu, iri, dan benci menyatu dalam diriku, tapi aku tak bisa menampakkan nya karena melihat senyum suamiku yang begitu merekah semua rasa itu hilang.
"Aku pulang saja, mau nyiapin tempat buat baby nya." Ucapku.
"Baiklah, tapi sayang maaf ya aku gak bisa anterin kamu." Ucapnya lalu merangkulku.
"Gak papa, toh aku bisa pulang sendiri."
"Hati-hati ya sayang." Ucapnya lalu mencium puncak kepalaku, aku tersenyum tipis.
****
Setelah melepas rasa lelah semalaman aku tinggal di rumah sakit, menunggu seseorang melahirkan cukup menguras tenaga. Hari begitu cerah seakan menunjukan bahwa hari ini sangat indah, kehadiran baby yang sudah di nantikan mertuaku akhirnya sekarang terpenuhi. Aku hanya bisa merenung di kamar seorang diri, menatap diri pada pantulan cermin. Kadang aku berpikir kenapa tuhan tak adil padaku, kenapa harus Lulu yang di berikan kesempatan untuk punya baby, kenapa aku gak di beri kesempatan itu?
Tok...tok...tok..
"Iya."
"Nyonya, semuanya sudah pulang." Ucap bi Sumi di luar pintu kamar.
"Iya bi, nanti aku turun." Ucapku.
"Baik nyonya."
Sebelum turun ke bawah menemui semua orang, aku sedikit berdandan. Mencoba menyamarkan lebam di wajahku akibat ulah Remon semalam, setelah itu aku langsung turun ke bawah menemui semua orang.
__ADS_1
"Welcome baby girl." Ucapku seraya menghampiri anak Lulu yang sedang di pangku mama mertua.
"Kemana aja kok baru turun?" Tanya papa mertua.
"Iya pa, tadi aku mandi dulu." Ucapku, ramah.
"Len tolong bawa barang anak aku ke kamar ya." Titah Lulu.
"Baik." Balasku.
"Gak usah, biar aku saja yang bawa ke kamar kamu duduk saja." Cegah Abi lalu merebut tas yang ada di tanganku.
Lulu yang melihatnya merasa kesal, raut mukanya yang tak terkontrol sangat jelas kalau dia gak suka Abi berbuat seperti ini padaku. Tapi maaf, dia adalah suami sah ku kamu.
"Gak usah tuan, biar bibi saja yang bawa inikan tugas bibi." Bi Sumi menarik tas yang ada di tangan Abi lalu pergi ke kamar Lulu.
"Sini sayang kita mimi dulu." Ucap Lulu, lalu mengambil anaknya dan langsung membawanya ke kamar untuk di susui.
"Yuk tante bantu kamu jalan." Ucap mama mertua lalu memapah Lulu ke kamarnya.
"Papa mau pergi ke kantor, kalau kamu bi?" Tanya papa mertua.
"Abi juga ke kantor ada hal yang harus di bereskan." Ucap Abi.
"Kalau gitu papa duluan."
"Iya pa."
****
Kamar
Setelah merapikan kemeja Abi, lalu aku memasangkan dasi di lehernya.
"Gagah banget suami aku." Aku melepas tanganku dari dasinya seraya tersenyum.
"Kamu wangi banget." Ucapnya lalu menciumi leherku.
"Geli." Rintihku.
"Gak tahan, kamu wangi banget." Lirihnya semakin menikmati leherku. Aku hanya terdiam, dan pasrah dengan kelakuan Abi saat ini.
"Sayang." Panggilnya.
"Iya ada apa?"
"Kita pergi kerja bareng ya, aku bilang sama papa mau kerja tapi aku bukan mau kerja."
"Lalu apa? Hari ini aku free ya di kantor, jadi aku gak ke kantor."
"Aku mau manjain kamu, kamu pergi sama aku, kita berduaan."
Aku mengangguk lalu tersenyum seraya menatap wajah suamiku.
"Aku ganti baju dulu ya." Ucapku.
"Jangan lama ya, aku tunggu kamu di mobil."
"Iya, aku gak akan lama kok."
"Aku duluan ya ke mobil, jangan lama." Ucapnya, sebelum keluar kamar dia mencium bibirku terlebih dahulu.
Akhirnya Abi keluar dari kamar, aku membuka lemari pakaian, memilih gaun apa yang akan aku kenakan hari ini. Aku terus memilih baju yang akan aku gunakan, dan akhirnya aku menemukan baju yang cocok untuk hari ini.
****
"Sayang." Aku membuka pintu mobil lalu masuk.
__ADS_1
"Cantik banget istriku." Pujinya membuatku tersipu.
"Biasa aja kali, kita mau kemana sayang?"
"Sebelum itu aku akan ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA, karena aku yakin tante Becky sudah melakukan tes DNA tanpa sepengetahuan kita." Ucapnya begitu serius.
"Ah begitu."
Kami pun berangkat ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA.
"Sayang apa gak terlalu dini melakukan tes DNA, anak Lulu juga masih bayi." Ucapku khawatir, karena anak Lulu baru saja lahir.
"Lebih cepat lebih baik." Ucapnya.
"Baiklah terserah padamu." Ucapku pasrah dengan ucapan Abi.
Kami berdua pun sampai di rumah sakit, dan secepatnya melakukan tes DNA. Abi menyerahkan darah bayi Lulu, yang aku tak tahu kapan Abi mengambil darahnya itu.
"Kamu pakai darah bayi itu?" Tanyaku.
"Iya, sebelum pulang aku meminta suster untuk mengambil darah bayi itu. Untungnya suster itu mau membantu aku." Jelasnya.
"Kamu gegabah banget sih, anak Lulu kan masih bayi. Kamu tega banget ngambil darahnya." Ucapku heran dengan kelakuan Abi.
"Aku juga gak tega, tapi aku mau kepastian sayang." Ucapnya, dia begitu frustasi dengan apa yang menimpa keluarga kami.
"Iya iya."
Setelah menunggu beberapa menit, suster yang menangani tes DNA yang dilakukan Abi akhirnya keluar.
"Untuk hasilnya bapak bisa datang lagi lusa." Ucap sang suster.
"Baik sus." Ucap Abi.
"Kalau begitu saya permisi pak, Bu." Ucap sang suster seraya pergi meninggalkan kami berdua.
"Sebelum ke tempat tujuan, kita ke kantor dulu ya." Ucapnya.
"Iya."
****
Kantor
Aku berjalan barengan dengan Abi, semua karyawan yan melihat menyapa kamu berdua.
"Pagi pak, Bu." Sapa seorang karyawan wanita paruh baya.
"Pagi juga." Balasku, sedangkan Abi membalas sapaan nya dengan tersenyum.
Jam 09.30 WIB kami datang ke kantor, menurut para karyawan dan suamiku ini masih pagi, tapi menurutku jam segini sudah agak siang. Biasanya aku pergi kerja sangat disiplin dan menaati peraturan, beda dengan Abi, mau jam berapapun datang menurutnya sama saja. Dasar manusia yang tak disiplin waktu.
"Sayang, aku ikut ke ruangan kamu aja deh." Ucapku seraya bergelayut manja di lengan kekar milik Abi.
"Kamu gak ada kerjaan ya?" Tanyanya lalu menyentil hidungku, pelan.
"Iya, kalau gak ada kerjaan bawaannya kesal sama ngantuk."
"Ya sudah kamu boleh lihatin aku lagi kerja, biasanya kalau lagi bekerja kegagahanku makin bertambah loh." Ucapnya begitu pede.
"Masa sih?"
"Gak percaya?"
Aku menggeleng kepala. "Nggak tuh."
"Nanti kamu harus perhatiin aku, biar lihat kegagahan yang dimiliki seorang Presdir Abi Pangestu." Ucapnya penuh percaya diri, aku hanya diam dan menatap nya penuh cinta.
__ADS_1