
Rumah
Sepulang dari party aku gak mood buat apa-apa, aku hanya menghabiskan waktu dengan rebahan saja di kamar.
"Sayang makan malam dulu ya!" Ajak Abi, aku tak menggubrisnya sama sekali malah membelakanginya.
"Ayo dong sayang nanti kamu sakit loh."
"Duluan aja, aku malas makan." Balasku.
"Gak boleh gitu dong sayang, ayolah makan."
"Iya sayang iya, nanti aku nyusul."
"Ya sudah aku juga disini aja temenin kamu."
Aku berbalik ke arah Abi, lalu tersenyum.
"Ada apa nih, kok tiba-tiba tersenyum gitu?" Tanya Abi.
"Sayang kamu pasti belum buka kado dari aku ya." Ucapku.
"Oh iya aku lupa sayang, bentar aku ambil dulu." Abi pergi mengambil kado pemberian dariku.
"Lama banget ngambil kadonya." Lirihku, lalu berguling di atas kasur.
Abi datang dengan kado di tangannya. "Nih aku buka ya kadonya."
Aku menatap Abi yang sedang membuka kado pemberian dariku dengan perlahan, saat di bukanya dia melihatku dengan ekspresi yang tak bisa di gambarkan.
"Ini beneran?" Tanyanya seakan tak percaya.
Aku mengangguk. "Iya itu beneran."
Abi memelukku dengan gembira. "Aku bakalan jadi papa."
"Selamat sayang kita bakal jadi orang tua."
Kamu berdua terhanyut dalam kebahagiaan yang tiada duanya, sampai aku lupa dengan apa yang aku pikirkan dari tadi. Kami berdua pun turun untuk ikut makan malam, walaupun telat tapi syukurlah mertuaku masih ada di meja makan.
"Kalian kok telat banget turun nya, untung makanannya belum di bereskan sama si bibi." Ucap mama mertua.
"Iya nih." Balas Abi.
"Ada apa?" Tanya mama mertua.
"Kami berdua ada kabar baik buat mama sama papa, eh bukan maksudnya buat semua orang." Jelas Abi.
"Kayaknya kabarnya menggembirakan ya?" Timpal Lulu.
"Tentu." Balasku.
"Kalau begitu selamat ya, aku mau pamit ke kamar anak aku waktunya minum ASI." Ucap Lulu lalu pergi meninggalkan meja makan.
"Ada kabar apa bi?" Tanya papa mertua pada Abi.
"Ma, pa, Alena hamil." Ucap Abi.
Semua orang yang mendengarnya ikut merasa senang atas kehamilanku, apalagi mama mertua dia begitu antusias saat tahu kalau aku hamil.
"Sayang kamu hamil?" Tanya mama mertua.
"Iya ma." Balasku singkat.
__ADS_1
"Selamat sayang, pokoknya kamu harus jaga kandungan kamu." Ucap mama mertua.
"Iya dong ma." Balas Abi.
"Selamat nyonya, akhirnya nyonya bakalan jadi ibu." Ucap bi Sumi padaku, seraya memberikan segelas jus strawberry padaku.
"Makasih bi." Balasku.
"Akhirnya Alena bisa hamil juga." Ucap papa mertua.
"Ya bisalah Alena kan perempuan." Cetus mama mertua, papa mertua yang mendengarnya lantas pergi ke kamarnya. Begitulah sifat mertua laki-laki, dinginnya seperti kulkas pintu seribu.
"Sayang makan yang banyak ya, anak kita boleh sampai kelaparan." Ucap Abi yang menyiapkan nasi dengan lauknya untukku.
"Sayang biar aku aja yang ngambil, kamu juga kan harus makan." Ucapku pada Abi.
"Gak papa nanti aku makan kok, sekarang kamu harus makan yang banyak."
"Iya sayang, makan yang banyak ya. Inikan cucu pertama mama, kamu harus ekstra menjaganya okey!" Ucap mama mertua. "Kamu makan aja bi, biar mama yang siapin makanan buat Alena."
"Aduh ma gak usah, Alena bisa ambil sendiri kok."
"Diam ya, biar mama aja yang ambil nya kamu makan aja yang lahap dan banyak biar baby nya sehat."
Aku menurut saja, dan melanjutkan makan yang sudah di ambilkan Abi dan mama mertua untukku.
****
Di kamar Abi terus saja mengelus perutku yang masih rata, sambil menciuminya sesekali.
"Padahal masih rata pun perut aku." Ucapku.
"Yang penting ada baby di dalamnya." Lirih abi.
"Aku tahu kok, gak mesti kamu ungkap juga aku tahu semua kebenarannya." Ucap Abi, jadi selama ini Abi tahu.
"Kamu tahu?" Tanya ku.
"Tentu, aku tahu semuanya."
"Semua?"
"Iya, aku berniat mengusir Lulu dari rumah selepas acara ulang tahun. Tapi aku urungkan karena aku lagi bahagia." Ucap Abi.
"Jadi kamu tahu toh, ya sudah deh kalau kamu sudah tahu." Ucapku.
"Jangan marah ya sayang." Pinta Abi.
"Nggak aku nggak marah, aku cuma kesal aja." Aku kembali memejamkan mataku dan mulai kehilangan kesadaran.
****
Pagi ini semua orang yang ada di rumah sudah berkumpul di meja makan untuk melaksanakan sarapan, begitupun Lulu.
"Sayang aku tuh udah gedek lihat Lulu lalu lalang di rumah kita, kapan kamu mau bertindak?" Tanyaku pada Abi yang merangkulku turun ke bawah.
"Iya sebentar lagi juga aku bakalan bertindak, kamu cukup duduk dan perhatikan ya!" Ucap Abi.
"Lama banget kamu bertindak nya, apa jangan-jangan kamu suka sama Lulu?" Pikirku.
"Ngaco kamu, mana ada aku suka sama wanita yang berbohong demi mendapatkan apa yang di inginkan." Abi mendelik kesal, iya juga siapa pula yang menginginkan wanita yang berbohong demi keinginan nya semata tanpa memikirkan orang lain.
"Duh bumil akhirnya datang." Ucap mama mertua.
__ADS_1
"Bumil?" Sentak Lulu.
"Kamu sih malah cepet masuk ke kamar jadi gak tahu kalau menantu tante bawa kabar menggembirakan, dia hamil anak pertama." Jelas mama mertua seakan sengaja memanasi Lulu.
"Cucu pertama." Timpal papa mertua.
"Loh kok begitu, Valeria juga kan cucu kalian." Ucap Lulu kesal lalu beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya.
"Dih dia ngambek." Pekik mama mertua.
"Biarin ma, bukan urusan kita pun." Kata Abi lalu duduk dan ikut sarapan.
"Sayang makan yang banyak ya." Mama mertua memberikan roti yang sudah di olesi cokelat padaku.
"Iya ma." Balasku, padahal baru saja aku mau mengambil rotiku sendiri tapi sudah di siapkan oleh mertuaku.
"Bi tolong seduh susu kehamilan ya, biar Alena minumnya susu itu." Mama mertua menyuruh bi Sumi menyeduh susu untuk ibu hamil.
"Ma, biar Alena saja yang nyeduh nanti." Ucapku.
"Kamu diam saja, biar bi Sumi yang buatkan ya." Kata Abi.
"Baiklah baiklah, alena nurut aja." Aku melanjutkan memakan roti yang di berikan mama mertua padaku.
"Jaga kesehatan itu yang paling utama buat kamu saat ini." Ucap papa mertua, akhirnya dia mengeluarkan suara.
"Betul kata papa kamu, kamu tuh harus jaga kesehatan." Timpal mama mertua.
"Pastinya dong ma, pa." Balas Abi, sedangkan aku hanya mengangguk saja.
Skip
Siang siang begini aku hanya rebahan saja di kamar sambil menatap layar handphone, tunggu! Aku belum memberitahu ibu dan ayah.
Segera ku hubungi ayah dan ibu, hendak memberitahukan kehamilanku.
Ibu 'Hallo nak, tumben telpon ada apa?'
Me 'Bu, Alena punya kabar bahagia buat ayah dan ibu'
Ibu 'Apa itu?'
Me 'Ibu sebentar lagi akan punya cucu'
Ibu 'Kamu hamil nak?'
Me 'Iya Bu, selamat ya sebentar lagi jadi nenek'
Ibu 'Ibu ikut senang, pokoknya ibu dan ayah akan ke Jakarta nengokin kamu'
Me 'Iya Bu, Alena tunggu kedatangan ayah dan ibu'
Ibu 'Iya'
Sambungan telepon seluler pun terputus.
Pov author...
Sedangkan di kamar lain, Lulu tengah menggendong anaknya.
"Jadi Alena hamil." Gumam Lulu.
"Semua orang berpaling dariku dan Valeri, aku harus menyingkirkan calon anak Alena." Ucap Lulu penuh kebencian.
__ADS_1