My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 34


__ADS_3

"Ada apa sih, ma?" Abi pun kebingungan.


Mama mertua menunduk lemah, seakan dia tak ingin berbicara.


Aku menghampirinya. "Ada apa ma? ayo katakan."


Dia menatapku lalu mengelus pelan tanganku dan tersenyum. "Kamu memang menantu yang terbaik."


"Itu sudah jelas." Sahut Abi.


"Nanti saja ya mama ceritanya, kalian pasti capek istirahat dulu aja." Ujar mama mertua.


"Ya sudah, kami ke kamar dulu ya ma." Aku dan Abi meninggalkan mama yang masih terpatung.


"Sayang ada apa ya, kok aku deg degan?" Aku mengelus pelan dadaku.


"Entahlah, jangan khawatir ya jangan mikir yang macam-macam." Ujar Abi.


****


Karena penasaran, aku dan Abi menghampiri mama mertua lagi setelah selesai mandi dan berganti pakaian.


"Ma, ada apa serius amat?"


"Abi, mama percaya sama kamu." Tiba-tiba mama mertua bicara seperti itu, apa yang terjadi?


"Maksud mama?" Abi mengernyitkan dahinya, dia kebingungan pun aku juga sama.


"Ma, bicaralah." Aku mengelus pelan punggungnya.


"Tadi siang Lulu sama mamanya datang ke rumah." Ucap mama.


"Lulu sama Tante Becky, mau ngapain ma?" Tanya Abi.


"Mereka kesini mau minta pertanggungjawaban sama kamu." Tiba-tiba minta tanggungjawab, maksudnya apa? Aku jadi bingung sendiri.


"Maksudnya?" Aku geram dan ikut bersuara.


"Lulu hamil." Tegas mama mertua.


"Lantas?" Sahut Abi.


"Iya, Lulu hamil dan dia bilang kamu yang hamilin dia." Ujar mama mertua.


Aku syok mendengar perkataan mama mertua, hamil Lulu hamil dan minta pertanggungjawaban dari suamiku?


Apa maksudnya, kenapa dia meminta pertanggungjawaban dari suamiku?


Suamiku tidak mungkin melakukan hal yang sangat rendah itu, tapi aku juga bingung dengan semua ini. Di antara percaya dan gak percaya, mana mungkin suamiku mengkhianati pernikahan kami.


Aku harus percaya padanya, bagaimanapun dia suamiku, aku akan mempercayainya.


"Lulu sakit kali ya, kalau hamil mana mungkin dia hamil anak Abi. Abi sendiri gak pernah menyentuhnya, mama percayakan? Sayang kamu juga percayakan sama aku?" Abi berusaha mencari kebenaran dan meminta aku begitu juga mama untuk mempercayainya.


"Mama percaya sama kamu, mana mungkin kamu melakukan hal menjijikan itu apalagi kamu sudah beristri." Mama mertua sendiri percaya, akupun harus ikut percaya.


"Sayang kamu percayakan sama aku?"


"Iya aku percaya."

__ADS_1


Abi memelukku dan dia berusaha menenangkanku, jujur aku sedikit kurang percaya karena sebelumnya Abi selalu berduaan dengan Lulu. Tapi di sisi lain aku percaya, karena gak mungkin seorang Abi yang telah beristri tega menodai pernikahannya sendiri walaupun setadinya pernikahan ini hanya pernikahan kontrak.


"Aku percaya kok." Bisikku di telinganya, lalu dia melepaskan pelukannya.


"Kalau boleh tahu, usia kandungannya sudah berapa bulan ma?" Aku bertanya pada mama, siapa tahu ada hal yang janggal.


"Lulu bilang sih usia kandungannya sudah memasuki minggu kedua." Balas mama mertua.


"Oh baru dua minggu."


"Sayang, kita ke kamar ya."


"Iya."


"Ma, Abi sama Alena ke kamar ya." Abi pamit kepada mama mertua.


"Iya, selamat istirahat ya."


****


Jujur setelah mendengar ucapan mama mertua tadi, aku jadi kebingungan dan melamun. Kalau benar anak yang di kandung Lulu anaknya Abi, aku bisa apa. Tapi kalau di pikir-pikir kehamilan Lulu baru menginjak minggu kedua, berarti Abi menyentuhnya baru-baru ini dong. Tapi setahuku sekitar dua minggu kebelakang Abi dan aku selalu menghabiskan waktu berdua, tapi kenapa kehamilan Lulu baru ketahuan sekarang dan itupun baru menginjak minggu kedua. Aku jadi heran, kalau iya pun Abi menyentuhnya, harusnya kehamilan Lulu paling nggak sudah menginjak bulan kedua atau nggak sekitar sebulanan. Kenapa kehamilannya sangat muda? Tapi ya sudahlah setidaknya bukan suamiku yang menyentuhnya, dan anak itu aku yakin bukan anak dari suamiku.


"Sayang, kok kamu malah melamun sih? Ayo tidur sudah malam."


"Iya sayang."


SKIP


Pagi


"Sayang jangan pikirin omongan mama semalam ya, fokus saja bekerja." Ucap mama mertua padaku saat sedang sarapan.


"Ada apa ma, belakangan ini papa jarang dapat info dari mama?" Timpal papa mertua.


Papa mertua tidak tahu tentang kehamilan Lulu, aku kira mama mertua memberitahu papa rupanya tidak ya. Apa karena tadinya papa mertua sangat mendukung hubungan Abi dan lulu?


"Nggak pa, ayo sarapan." Mama mertua meletakan roti yang telah di baluri slai cokelat ke atas piring yang ada di hadapan suami tercintanya.


"Sayang, benar apa yang di katakan mama. Jangan terlalu di pikirkan ya, takutnya kamu nanti malah sakit." Abi pun menyarankan aku untuk tidak terbuai perkataan mama mertua, semalam.


"Iya sayang."


Pov Lulu...


"Aku yakin Abi dan keluarganya, akan mempertimbangkannya bukan?"


"Tentu dong, mereka kan hanya mementingkan harga diri."


Kali ini Abi akan benar-benar jadi milikku, Alena kali ini kamu kalah.


"Mih, makasih ya udah mau bantuin aku."


"Mamih akan lakukan apapun yang menurut kamu, kamu bakal bahagia."


"Ah mamih, i love you." Aku memeluk mamih dengan rasa bahagia.


"Selamat ya sebentar lagi kamu bakalan jadi nyonya Abi."


Mamih gak tahu saja kalau aku hamil anak orang lain, bukan anak Abi. Tapi hanya dengan alasan ini aku bisa bersama Abi selamanya, aku akan menjadi wanita paling bahagia.

__ADS_1


"Mih, gimana bicara sama papih?" Aku mendadak khawatir karena papih belum tahu kalau aku hamil, aku takut papih kecewa dan marah.


"Tenang sayang, nanti kalau tanggal pernikahan kamu sudah di tetapkan mamih akan langsung memberitahu papih."


"Makasih ya mih."


"Iya sayang." Balas mamih lalu memelukku dengan lembut.


Pov end...


Kantor


"Sayang nanti kita ketemu pas makan siang ya, aku ada rapat di luar kantor." Ucap Abi.


"Iya, rapat sama siapa?"


"Sama pak Seno, penerbit novel dari penulis Hera Yoo."


"Hera Yoo? Sayang aku ngefans banget sama dia."


"Oh ya?"


"Iya, aku pengen banget ketemu dia."


"Untuk saat ini sih susah ketemu sama dia, soalnya dia lagi pulang ke kampung halamannya."


"Ke Korea?"


"Iya, nanti kalau dia sudah ada di Indonesia. Aku janji bakal mempertemukan kamu sama Hera Yoo."


"Makasih ayangku."


"Sama sama."


"Kalau begitu, aku masuk ke dalam ya. Hati-hati di jalan, kalau sudah nyampe hubungi aku ya."


"Iya sayangku, cintaku, istriku."


"Kalau begitu, aku masuk ya."


"Eits, ada yang ketinggalan."


"Apa? Aku nggak ninggalin sesuatu kok."


"Ada, nih." Abi memonyokan bibirnya, aku tersenyum lalu mendekatinya.


Cup, satu ciuman mendarat di bibirnya. Sudut bibir Abi mengangkat begitupun aku.


"Bye." Abi melambaikan tangannya, akupun membalasnya.


****


"Good morning." Sapa seseorang yang tengah duduk di kursi kerjaku, dan menghadap ke belakang.


"Morning, siapa ya?"


"Hai." Dia memutar kursi dan kini tampak wajah yang tak asing yang tengah duduk di kursi kerjaku.


"Kenapa kamu ada disini?"

__ADS_1


"Aku hanya ingin menyapa saja."


__ADS_2