
"Ibu sama ayah kemana sih malam-malam gak ada di rumah." Ucapku kesal padahal aku sudah mengantuk dan lelah.
"Sabar sayang." Suamiku memelukku.
"Ini juga sabar, cuma aku udah lelah sayang."
"Iya iya aku tahu."
"Loh loh, ada tamu rupanya." Terdengar suara ibu dari arah samping rumah.
"Ibu." Rengekku, berlari menghampiri ibu.
"Anak ibu sama mantu ibu, tumben kesini ada apa?" Tanya ibu seraya membelai rambutku.
"Alena kangen sama ibu dan ayah." Timpal suamiku.
"Aduh mantu, pasti lelah ya? Ayo masuk." Ucap ayah, seraya menggandeng tangan suamiku.
"Terimakasih ayah mertua."
Kami berempat masuk kedalam rumah, ayah membawa koper kami berdua.
"Sudah sudah ayah mertua, biar Abi saja yang bawa." Ucap Abi menawarkan diri.
"Tak perlu mantu, biar ayah saja yang bawa. Ayah tahu kamu pasti lelah, ayo masuk lalu kita makan." Ucap ayah.
"Ayo sayang masuk."
"Iya sayang."
Dalam rumah
"Ayo biar Alena aja yang bawa koper ke dalam kamar." Aku mengambil koper yang di pegang ayah. "Tunggu ya sayang, aku ke kamar dulu."
"Iya sayang, aku ke meja makan duluan ya."
"Iya sayang."
Aku memasuki kamar, masih sama seperti dulu, nyaman dan sederhana.
"Meskipun sederhana kamar ini nyaman banget."
Aku menghampiri ayah, ibu dan suamiku yang sedang asyik makan.
"Eh sayang, ayo makan." Ucap suamiku, seraya mempersiapkan kursi untukku.
"Makasih sayang."
"Senang deh lihat kalian kompak begini." Ucap ibu di tengah acara makan malam.
"Kenapa baru sekarang datang ke rumah kami?" Tanya ayah.
"Maaf yah, Abi terlalu sibuk jadi gak ada waktu buat nyempetin datang kesini." Jelas suamiku.
"Gak papa, yang penting kalian selalu bahagia." Ucap ayah.
"Iya yah." Balas suamiku.
"Tenang aja, ayah gak usah khawatir sama kami berdua. Ayah tahu gak suamiku itu pandai banget jagain aku."
"Oh ya?"
"Iya dong."
"Sudah sudah ayo habiskan makannya, setelah ini kalian harus istirahat." Ucap ibu.
Kami melanjutkan makan malam dengan khidmat.
****
Kamar
"Nah gimana soal taruhannya?" Tanya suamiku, ku kira dia sudah melupakan soal taruhan.
"Oke, coba kita lihat apa kamu bisa tidur tanpa bantal kamu itu."
"Aku yakin, aku gak bisa tidur."
"Seyakin itu ya kamu, kita lihat aja, aku yakin kamu bakalan tidur nyenyak malam ini." Seringaiku, aku gak boleh tidur duluan, aku harus memastikan kalau suamiku yang tidur duluan.
"Oke, kita lihat."
__ADS_1
1 jam kemudian
Kenapa suamiku belum tidur juga sih, padahal aku sudah ngantuk berat.
"Gimana yah kok aku gak ngantuk?" Ucapnya seakan memojokanku karena aku mulai kalah.
"Aku juga gak ngantuk." Cetusku, aku ngantuk tolong.
"Oh ya? Padahal aku lihat lihat kantung mata kamu kok hitam gitu." Godanya, aku harus bertahan.
"Mana ada." Aku membuang muka.
Dia memelukku begitu erat, dan menyembunyikan mukanya kedalam dadaku.
"Kamu ngapain sih?" Tanyaku.
"Kayaknya aku ngantuk deh." Ucapnya.
"Ya udah, tidur aja." Aku menepuk-nepuk pelan punggungnya.
"Aku ngalah deh, aku tahu kamu lagi pengen kangen kangenan sama keluarga kamu. Kali ini aku ngalah buat kamu." Batin Abi.
****
Mentari menyinari wajahku, masuk melewati celah jendela yang tak tertutup gorden.
Perlahan aku membuka mata. "Hoamm..."
Aku melirik ke samping, ku lihat suamiku masih tidur dalam keadaan membelakangi ku.
"Sayang bangun." Aku menggoyangkan tubuhnya, tapi dia tak bangun bangun.
"Sayang ayo bangun, udah pagi nih."
"Hmmm..." Dia hanya berdehem saja.
"Bangun."
"Iya bentar 5 menit lagi." Ucapnya.
"Ya udah aku keluar ya." Aku turun dari ranjang.
Aku keluar kamar, kulihat ibu sedang menyiapkan sarapan untuk kami semua sedangkan ayah, aku tak melihatnya.
"Ayah mana Bu?" Tanyaku.
"Ada di belakang rumah, lagi nyiram tanaman." Jawab ibu.
"Ohh." Aku ber oh saja. "Alena mandi dulu ya Bu."
"Iya, oh iya bangunin suami kamu kita sarapan bareng."
"Iya Bu."
Pov author...
"Morning." Ucap Sera seraya memasuki rumah, bi Sumi bergegas menghampiri majikannya itu.
"Eh bibi." Ucap Sera.
"Tak kira ibu pulangnya malam." Ucap bi Sumi.
"Iya bi, saya kemarin pergi ke rumah temen lama sekalian aja nginep. Oh iya, bapak sama anak anak mana?"
"Bapak tadi pagi pagi sudah keluar katanya ada janji mau mancing sama temannya."
"Iya iya, kalau anak anak?"
"Tuan sama nona pergi ke Bekasi."
"Loh kok gak bilang bilang kalau mau ke Bekasi, padahal aku juga pengen ikut."
"Ibu sudah sarapan?" Tanya bi Sumi.
"Belum."
"Bibi tadi bikin nasi goreng."
"Terimakasih bi."
Sera pergi ke meja makan, melaksanakan sarapan seorang diri.
__ADS_1
"Gak enak banget sarapan sendirian." Gumam Sera.
****
"Mih, kok belum ada respon sih dari keluarganya Abi?" Lulu mulai resah, karena keluarga Abi belum memberikan kepastian.
"Sabar dong sayang." Becky mencoba menenangkan anaknya.
"Sabar gimana, perut aku semakin hari makin kelihatan loh gedenya."
"Tenang, mami lagi mikirin cara buat menekan keluarga Abi, sayang."
"Aish, pokoknya harus secepatnya. Malu lah mih sama orang."
"Iya iya, kamu sih main kok sampe kebablasan gitu. Mami jugakan yang repot, mami mau nanya siapa yang hamilin kamu?" Tanya Becky.
"Aku lupa." Entengnya.
"Lulu Lulu, mami gak pernah ngajarin kamu melakukan tindakan bodoh yang bikin malu keluarga." Becky mulai kesal, karena ulah anaknya yang mencemari nama baik keluarga.
"Untuk itu pokoknya aku minta maaf, tapi mih tolong buat keluarga Abi menyetujui pernikahan ini. Anak ini harus punya ayah mih." Ucap Lulu.
"Mami lagi cari cara, kamu diam aja."
Pov end...
****
"Kalian belum ada rencana punya anak?" Tiba-tiba ibu membahas anak.
"Ah itu, Alena belum kepikiran punya anak Bu." Balasku.
"Loh kok gitu, harus secepatnya dong. Pernikahan kalian juga sudah lumayan lama." Pekik ibu.
"Setengah tahun waktu yang cukup pas untuk punya anak." Timpal ayah.
"Iya nanti kami bahas berdua saja, ibu mertua ayah mertua." Timpal suamiku.
"Ibu ini, sudah kepingin punya cucu." Ucap ibu.
"Iya Bu." Balasku, disini aku gak bisa ngomong apa-apa lagi.
"Sayang mending kita jalan-jalan aja kali ya, mumpung lagi ada disini." Ajak suamiku.
"Boleh."
"Ya sudah, kalian pergi jalan-jalannya pake motor kamu saja na." Ucap ayah.
"Oh iya, sayang aku punya motor loh. Gimana kalau kita jalan-jalannya pake motor, biar gak capek."
"Boleh juga."
"Bentar ayah keluarin dulu motornya."
Ayah mengeluarkan motor matic ku, sudah usang sih tapi masih okelah untuk di ajak jalan. Karena ayah gak bisa bawa motor, jadinya motornya sulit menyala.
"Yah kok gak nyala-nyala sih motornya." Aku mendekat ke arah suamiku ayang tengah mengotak-atik motor.
"Sabar sayang, bentar lagi nyala kok." Ucap suamiku.
"Kamu gak sabaran banget deh." Cetuk ayah.
"Ini gara-gara ayah si, punya motor malah di diemin kali-kali nyalain dong yah." Aku mulai kesal.
"Eh gak boleh gitu, kamu kan tahu ayah kamu gak bisa bawa motor." Sahut ibu membela ayah.
"Walaupun gak bisa setidaknya kalau nyalain mah pasti bisa ibu, gak perlu di bawa di nyalain doang biar gak susah kalau nanti mau di pake." Aku malah nyerocos karena lama nunggu motornya nyala.
"Kamu gak usah nyerocos gitu dong sama ibu dan ayah, gak papa motornya baik-baik aja kok bentar lagi nyala." Suamiku angkat bicara.
"Lama."
"Nah nyala-nyala, coba agak di gas." Ayah heboh sendiri.
"Tuhkan nyala." Ucap suamiku, aku pun tersenyum melihat suamiku yang wajahnya cemong dengan oli.
"Kenapa tersenyum, malu karena tadi ngomel terus?" Tanya suamiku yang tak menyadari noda di wajahnya.
"Nggak, kamu cuci muka dulu deh sana."
"Iya iya." Suamiku pergi cuci muka.
__ADS_1