
"Kalau ada apa-apa langsung hubungin aku ya." Ucap Abi, seraya mengacungkan handphonenya.
"Iya iya, sudah ayo berangkat sudah siang." Ucapku pada Abi, pasalnya hari sudah cukup siang.
"Oke, tapi awas ya kalau ada apa-apa hubungin aku." Tekannya.
"Iya iya."
"Ya sudah, aku berangkat ya." Abi melesat dengan mobil yang dikendarainya.
Aku memasuki rumah Jia yang begitu ramai, banyak orang yang lalu lalang. Ada yang sedang menghias dinding dengan dekorasi khas hajatan pernikahan, ada yang sedang membawa bahan bahan untuk masak dan lainnya.
"Permisi." Sapaku pada salah seorang nenek yang sedang duduk, dan merapihkan barang yang baru di turunkan dari mobil pick up.
"Iya." Balasnya.
"Jia nya ada?" Tanyaku pada nenek tersebut.
"Neng Jia?" Dia malah celingak-celinguk, membuatku bingung saja.
"Iya, Jia. Apa Jia nya ada?"
Dia mengangguk lalu menunjuk ke dalam rumah, akupun mengikuti tunjukan nya dan mengangguk pertanda mengerti.
"Terimakasih nek." Aku pun masuk ke dalam rumah.
Di dalam begitu ramai, aku melihat banyak orang yang sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Aku melihat Jia yang sedang duduk termangu di dekat jendela, bukankah besok hari pernikahan nya tapi kelihatannya Jia tak bersemangat. Apa Jia dan mas Ken bertengkar, pikirku.
"Hei ji, lagi ngapain duduk sendirian disini?" Tanyaku membuyarkan lamunannya.
"Eh Len, kapan kamu datang?" Ucapnya mengalihkan pembicaraan.
"Beberapa menit yang lalu, ngomong-ngomong kamu kenapa?"
"Gak papa kok."
"Nggak deh kayaknya, kamu itu kenapa-kenapa. Coba ceritakan sama aku, ada apa?"
"Len." Jia mendekat padaku lalu memegang tanganku, dia terlihat gelisah.
"Iya."
"Aku khawatir banget sumpah." Ucapnya begitu gelisah.
"Khawatir kenapa?"
"Mas Ken keserempet motor Len." Ucapnya.
Aku kaget. "Apa? Keserempet motor?"
"Iya, aku khawatir besok mas Ken gak akan kuat buat ijab qobul."
"Kapan keserempet nya?"
"Beberapa hari kebelakang sih, tapi tetep saja aku khawatir Len."
"Sudah jangan gelisah gitu, aku yakin mas Ken akan baik baik saja besok. Kamu tenang ya, rileks." Aku mencoba menenangkan Jia.
__ADS_1
"Okey, tapi bayangan pas keserempet nya itu masih terngiang di kepalaku Len." Keluhnya.
"Sudah kamu makanya tenang, jangan terus di bayangin dan di ingetin."
"Iya." Jia menunduk.
"Rileks okey!"
Setelah Jia tenang, aku mengajaknya melihat semua orang yang sedang sibuk menyiapkan untuk acara pernikahan nya. Kebahagiaan tergambar jelas pada wajah Jia, aku sebagai sahabatnya turut ikut bahagia, apalagi pasangannya adalah mas Ken orang yang paling aku percayai.
"Makasih sudah bantu aku." Ucap Jia.
"Emangnya aku bantu apa sih? Perasaan aku gak bantu apa apa, dan malah aku cuma mondar-mandir gak jelas."
"Kamu bantuin aku jadi lebih tenang, jujur beberapa hari ini aku terguncang."
"Sudah jangan terlalu di pikirkan, fokus saja sama acara kamu."
"Baiklah."
"Ji, ini sudah sore aku pamit pulang dulu ya." Aku berpamitan pada Jia untuk pulang.
"Pulang sama siapa, apa di jemput pak Presdir?"
"Iya, tadi aku sudah kirim pesan supaya dia menjemput aku."
"Ya sudah kalau begitu."
****
Skip
"Ada apa lu?" Tanya Abi.
"Nggak papa, cuma baby nya nangis dari tadi gak henti-henti." Panik Lulu, bayinya terus menangis. Aku merasa iba melihat tangisan bayi yang tak berair mata itu, aku mengambil bayi itu dari gendongan Lulu.
"Biar aku gendong." Aku menenangkan bayi itu lalu ku tepuk pelan tubuh mungilnya, dan akhirnya bayi kecil itu pun berhenti menangis.
"Ah syukurlah nak, akhirnya kamu berhenti menangis." Ucap Lulu lega. "Sini biar aku menidurkannya."
"Biar aku saja, takutnya malah nangis lagi." Ucapku.
"Tapi.."Belum selesai bicara, Abi memotong pembicaraan Lulu.
"Sudahlah lu, kalau nangis lagi yang repot juga kamu. Lebih baik Alena saja yang tidurkan." Ucap Abi.
"Baiklah."
Akupun menidurkan bayi mungil ini, setelahnya aku dan Abi keluar dari kamar Lulu. Tapi tiba-tiba Lulu menyuruh kami untuk tinggal sebentar, dan mendengar perkataannya.
"Tunggu, aku mau kalian dengar perkataan ku sebentar." Cegah Lulu, aku dan Abi berbalik bersiap mendengar apa yang akan di katakan Lulu.
"Katakan." Seru Abi.
"Aku sudah memberi nama putriku." Tegasnya.
"Wah, serius? Siapa namanya?" Tanyaku begitu antusias.
__ADS_1
"Namanya Valeria Perinova Pangestu." Ucapnya, terdapat nama Pangestu di belakang nama putrinya itu. Seketika aku melihat suamiku, tangannya mengepal kuat seakan siap membogem apa saja yang ada di hadapannya, aku meraih tangannya seketika amarahnya memudar.
"Pangestu?" Kataku.
"Iya Pangestu." Ucap Lulu menyebutkan kembali nama Pangestu. "Dia kan putri kamu mas Abi, dan sepantasnya kalau putriku memiliki namamu di belakang namanya."
Abi hanya terdiam tak menggubris perkataan Lulu sama sekali, Abi malah melengos keluar dengan amarahnya. Sedangkan aku melihat Lulu yang kebingungan dengan sikap Abi, aku pun pergi mengikuti Abi.
"Aku pergi dulu." Ucapku seraya beranjak keluar dari kamar Lulu.
Aku menyusul Abi yang melengos dengan langkah begitu cepat, Abi berhenti di ambang pintu rumah. Sesekali kepalan tangannya menghantam tembok, aku begitu paham dengan situasi nya sekarang.
"Sayang." Panggilku, lalu Abi berbalik dan menatapku.
"Aku benci perempuan itu." Serunya.
"Sayang, jangan begitu." Ucapku menenangkan Abi.
"Aku yakin anak itu bukan anak aku, aku yakin itu." Tukasnya begitu yakin kalau anak itu bukan anak Abi.
"Hasil tes DNA belum keluar, jadi kamu gak boleh seperti ini."
"Tapi aku punya firasat kalau anak itu bukan anak aku."
"Iya iya, tapi gak usah kasar juga sayang."
"Emang aku kasar?" Tanyanya tak menyadari ucapannya tadi.
"Gak ngerasa?" Ucapku, aku pun pergi meninggalkan Abi yang masih mematung di ambang pintu.
"Hei sayang, tunggu aku!" Abi berlari kecil mengikutiku, aku yang melihatnya tersenyum tipis, lucu sekali tingkahnya.
****
"Yang baru beres mandi, wanginya menyengat banget." Sindir Abi yang sedang memeluk guling.
"Apa sih, sana mandi bau tahu." Aku menyuruh Abi mandi.
"Nggak ah lagi musuhan sama air." Canda Abi.
"Ah begitu ya, kalau gak mandi, malam ini kamu bobonya di lantai ya." Ancamku seraya tersenyum smirk.
"Aku mandi deh." Ucapnya dan bangkit dari duduknya, berjalan begitu lesu menuju kamar mandi.
"Yang bersih ya." Teriakku, aku menaiki ranjang tempat tidur lalu menarik selimut, dan bersiap menutup mata.
Setelah beberapa menit, aku masih saja tidak bisa memejamkan mataku. Teringat tentang hasil tes DNA, besok tepatnya aku dan Abi akan mengetahui kebenaran dari semua yang terjadi selama beberapa bulan kebelakang. Aku menatap langit-langit kamar, sesekali aku mencoba memejamkan mata lagi namun tak mempan aku masih saja tak bisa tidur. Sampai Abi tiba-tiba sudah ada di sampingku, menarik selimut lalu memelukku.
"Bikin kaget saja." Ucapku.
"Lagi mikirin apa sih, sampai gak sadar aku ada di samping kamu."
"Nggak, nggak mikirin apa-apa." Ucapku.
"Yakin?" Aku hanya mengangguk saja. "Tapi kayaknya ada hal yang menggangu pikiran kamu deh." Ucap Abi menerka-nerka.
"Sudahlah, kita tidur ya." Kataku lalu mematikan lampu tidur yang ada di sebelahku, begitupun Abi.
__ADS_1
Good night dari pasutri yang berbahagia, dan semoga pembaca juga bahagiašā...