My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 46


__ADS_3

"Jawab." Desak Lulu, kami berdua saling tatap.


"Nggak papa." Balas Abi mencoba menenangkan Lulu, dia menghampirinya.


Tahan Alena, suamimu bilang ini hanya sementara. Harusnya aku tak ikut saja dengan mereka, kan ujungnya aku yang cemburu.


"Kalian yakin gak ngapa-ngapain? Tadi Lulu lihat kalian pegangan tangan, mana romantis banget pegangannya." Sindir Lulu.


"Tadi di tanganku ada serangga, aku takut. Ya sudah sua.mi.ku yang bantu ngusir serangganya." Jelasku, seraya menekankan kata suami dekat telinga Lulu.


"Biasanya aja nyebut suamiku, gak usah lebay." Protes Lulu, tak menerima perkataanku.


Sedangkan Abi, dia tersenyum mendengar pertikaian kecil diantara aku dan Lulu. Sumpah deh bukannya melerai, malah asyik sendiri.


"Sudah sudah jangan ribut disini, malu dilihatin orang." Ucap Abi.


"Aku pulang saja, kalian lanjutin saja berdua." Ucapku.


"Bagus, lebih baik kamu pulang." Ketus Lulu.


"Ya sebaiknya kita pulang saja." Ucap Abi.


"Tapi kak, kitakan mau belanja." Ucap Lulu.


"Mood kamu kayaknya lagi gak bagus, kita pulang ya!" Ucap Abi, meyakinkan Lulu untuk pulang.


"Baiklah." Jawab Lulu lemah.


Kami bertiga pun pulang ke rumah, setelah ada pertikaian kecil antara aku dan Lulu. Dalam mobil hanya ada keheningan, aku memainkan handphone dan Lulu dia tertidur.


"Wah gantengnya." Ucapku berbinar-binar, menatap foto seseorang di media sosial.


"Ehm..." Abi berdehem seraya menatapku pada pantulan kaca mobil.


"Kenapa?" Tanyaku ketus.


"Siapa yang ganteng?" Tanyanya.


"Yang ganteng cowoklah masa cewek." Balasku makin ketus, kenapa lihat dia amarahku makin membuncah.


"Iya aku tahu, maksud aku cowok mana yang lebih ganteng dari aku?" Dengarlah ucapannya terlalu pede sekali, dia kata dia ganteng.


"Hoekk...." Aku pura-pura muntah.


"Loh kok muntah, kamu gak mengakui kalau suami kamu ini ganteng?" Ucapnya seraya menyisir rambutnya menggunakan telapak tangan.


"Ganteng sih, tapi sayang..."


"Sayang kenapa?"


"Sayangnya kamu biarin istri sendiri duduk di belakang sedangkan wanita lain duduknya di depan, di samping kamu." Ketus ku.


"Jangan gitulah sayang." Abi merajuk.


"Tak peduli." Aku membuang muka.


****


Rumah


"Tante." Panggil Lulu sambil lari lari kecil.


"Tahu hamil malah lari lari." Gumamku.


"Hei, baru pulang ya?" Ucap mama mertua.


"Lihat deh tante, Lulu bawa sampel buat kartu undangan. Tante bantuin Lulu ya buat milih yang mana yang bagus." Ucap Lulu memberikan buku yang berisikan contoh gambar kartu undangan.


"Sini duduk disini." Ucap mama mertua, aku gak tahan lihatnya dan lebih baik ke kamar.


Kamar


Aku menjatuhkan bobot badanku ke ranjang, rasanya semua beban menghilang. Aku menatap langit-langit kamar, menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan kasar. Melihat kedekatan Lulu dan mama mertua membuat dadaku sesak, aku pikir cukup suamiku saja yang dekat dengan Lulu mama mertua jangan. Tapi sayang, semuanya seperti membuangku. Dan posisiku sebagai menantu kesayangan, kini posisi itu sudah di rebut Lulu, sakit sekali.


"Sayang." Panggil Abi yang ada di ambang pintu.

__ADS_1


"Iya."


"Kamu gak ikut makan siang?"


"Nggak nafsu makan."


"Nanti kamu sakit loh."


"Gak papa, toh gak ada yang peduli sama aku."


"Kamu kok ngomongnya gitu? Kan ada aku, suami kamu."


"Sudah pergi sana, kamu pasti lapar."


"Aku disini saja sama kamu."


Abi menghampiriku, lalu ikut menjatuhkan bobot badannya ke ranjang. Dia berbalik, lalu menatapku.


"Apa sih?" Tanyaku.


"Lihat aku deh." Ucapnya.


"Ngapain lihat kamu, sana pergi makan." Aku mendorongnya.


"Sayang." Dia memelukku. "Aku cuma cinta sama kamu."


Aku hanya diam mendengar ucapan Abi, cinta? Apakah masih tersisa rasa cinta untukku?


"Iya aku tahu kamu mencintai aku." Lirihku.


"Kalau kamu tahu, kamu jangan gini dong."


"Aku becanda." Gurauku, padahal memang iya. Aku merasa semua orang tak ada lagi yang peduli padaku.


"Kalau gitu kita makan ya."


"Nggak, aku lagi gak mau makan. Kamu saja yang makan, nanti mama sama Lulu nunggu kamu lalu mereka gak makan karena kamu gak turun turun."


"Ya sudah aku pergi makan dulu ya." Abi beranjak dari ranjang, lalu pergi.


Zrass.....


Aku menangis di bawah air yang mengalir dari shower, walaupun semuanya adalah rencana Abi, tapi aku gak bisa menerima orang yang ku cintai berpaling dariku.


"Aku gak sekuat yang kamu kira." Lirihku.


****


Pov author...


Di bawah semua orang sedang melaksanakan makan siang, sedangkan Alena dia menutup diri di kamar.


"Makan yang banyak, biar baby nya sehat." Ucap Sera.


"Iya tante."


Drrrtt.....drrrt...


"Angkat telepon kamu tuh." Ucap Abi.


"Ah iya, ini gak penting kok." Ucap lulu.


"Angkat aja dulu lu, siapa tahu penting." Timpal Sera.


"Iya, kalau gitu Lulu permisi mau angkat telepon dulu." Lulu pergi ke kamarnya untuk menjawab telepon.


Me 'Remon ngapain sih nelepon aku?'


Remon 'Aku hanya rindu suaramu'


Me 'Kamu jangan ganggu aku'


Remon 'Bagaimana janji yang kamu sebutkan itu?'


Me 'Aku belum melahirkan'

__ADS_1


Remon 'Begitu ya, kalau gitu aku tutup teleponnya'


Tut... Tut...Tut..


"Aku harus nyingkirin si Remon, dia masalah besar bagi hubungan aku dan Abi." Gumam Lulu. "Aku harus minta bantuan mami."


"Angkat dong mi."


Mami 'Hallo sayang'


Me 'Mih tolongin Lulu, Remon ngancam Lulu lagi'


Mami 'Remon? Siapa Remon?'


Me 'Nanti Lulu ceritain sama mami, kita harus ketemu dulu mi'


Mami 'Oke! Nanti mami send lokasi tempat ketemuannya'


Me 'Oke!'


Lulu keluar dari kamar dan melanjutkan makannya yang tertunda.


"Siapa yang nelepon kamu lu?" Tanya Sera.


"Mami." Balas Lulu singkat. "Oh iya, Lulu mau ijin keluar sebentar."


"Mau ngapain?" Tanya Abi.


"Ketemu sama mami."


"Kenapa gak datang ke rumah saja, kalian kan bisa ketemu di rumah." Cecar Abi.


"Lulu mau ketemunya di luar saja."


"Kamu kan lagi hamil besar."


"Gak papa kok kak, Lulu bisa jaga diri."


"Yakin?"


Lulu mengangguk mengiyakan pertanyaan Abi, Lulu senang karena Abi begitu perhatian padanya. Padahal Abi sendiri banyak bertanya bukan sekedar perhatian, dia memojokan Lulu agar sedikit berbicara.


"Rupanya dia tak mengatakan hal yang ingin aku dengar, baiklah aku akan mengiyakan setiap permintaanmu." Batin Abi menggerutu.


"Sudahlah Abi, kamu terlalu berlebihan pada Lulu." Ucap Sera.


"Baiklah kamu boleh ketemu di luar." Ucap Abi, mengijinkan Lulu bertemu ibunya di luar.


****


"Apapun yang kamu ucapkan, kamu harus lakukan." Gumam Remon.


Remon menatap bolpoin warna hitam miliknya, lalu memutar mutarkanya.


"Lulu!"


Remon menatap lekat foto Lulu yang sedang berlibur di sebuah pantai, begitu bahagia Lulu dalam foto itu.


"Sampai jumpa di lain cerita."


***


Cafe Star


"Mi, maaf Lulu terlambat." Ucap Lulu lalu duduk.


"Cepat katakan siapa Remon?" Becky langsung memberikan pertanyaan.


"Santai mih."


"Lu siapa Remon? Apa dia?.."


"Iya."


"Apa?"

__ADS_1


__ADS_2