My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 52


__ADS_3

Hari ini, setelah selesai mandi. Aku bersiap untuk pergi ke kondangan pernikahan Jia dan mas Ken, aku menatap suamiku yang baru saja keluar dari kamar mandi yang masih berbalutkan handuk.


"Terpesona ya lihat bentuk tubuh suaminya." Ucap Abi kepedean, aku terkekeh mendengarnya. "Malah ketawa."


"Kamu kepedean banget sih jadi orang, aku natap kamu itu." Aku berhenti bicara dan kembali terkekeh saat melihat wajahnya yang kebingungan.


"Apa sih, ketawa mulu." Kesalnya lalu mendekat padaku.


"Plis kamu jangan ngaca." Kataku sambil mendorong badannya, bukan apa-apa sih hanya saja aku takut suamiku akan malu sendiri.


"Apa sih." Ketusnya, aku menutup mulutku dengan kedua tanganku agar tak mengeluarkan suara.


"Jadi penasaran." Abi menyeimbangkan badannya lalu agak sedikit membungkuk untuk melihat pantulan dirinya pada cermin yang ada di depanku dan abi.


Dia berbalik menatapku. "Jadi dari tadi ngetawain aku gara gara ini?"


Aku mengangguk. "Haha..lucu banget tahu gak." Sumpah aku gak bisa menahan tawa, ekspresi nya berubah dan langsung berlari ke kamar mandi. "Makanya kalau mandi harus tenang, jadinya kelupaan gak di cuci tuh kepala."


"Diam." Teriaknya dalam kamar mandi.


Heran aku masa dia lupa membersihkan busa sampo yang ada di kepalanya, herannya aku, ngapain aja dia di kamar mandi sampai lupa nggak membersihkan sisa keramasnya.


****


"Sudah siap sayang?" Tanyaku pada Abi yang sedari tadi kelihatan badmood.


"Sudah." Balasnya ketus.


"Kenapa sih, ngambek sama aku?" Aku menggodanya.


"Tahu deh." Abi berjalan keluar kamar.


Aku tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya yang seperti anak kecil, lucu sekali marahnya.


"Tunggu aku." Teriakku lalu pergi menyusulnya.


Saat aku dan Abi turun bersamaan, di bawah sudah ada Lulu yang sedang menggendong anaknya.


"Mau ke kondangan ya?" Tanyanya, Abi tidak menjawab pertanyaan Lulu dan malah melengos begitu saja.


"Ah, iya." Terpaksa aku yang menjawab.


"Boleh ikut?"


"Ikut? Sebentar-sebentar aku mau nyusul Abi dulu." Aku berlari menghampiri Abi yang sudah dahulu menaiki mobil.


"Sayang." Panggilku pada Abi.


"Ayo kita berangkat." Ucap Abi dari dalam mobil.


"Sebentar sayang." Ucapku dengan nada terengah-engah, karena tadi aku menghampiri Abi dengan berlari.


"Apalagi sayang."


"Lulu mau ikut."


"Ngapain ikut, bilangin sama Lulu diam saja di rumah jaga anak." Titah Abi.

__ADS_1


"Tapi sayang." Cegahku.


"Kamu ingatkan, hari ini kita mau apa?"


Aku mengangguk pelan, hari ini setelah dari kondangan aku dan Abi akan pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes DNA.


"Aku balik lagi ke dalam ya, mau ngasih tahu Lulu."


Abi mengangguk.


"Lu maaf nunggu lama." Ucapku pada Lulu.


"Gimana Len, bolehkan aku ikut?" Lulu berharap aku dan Abi mengijinkan ikut ke kondangan.


Aku menggeleng kepala. "Maaf ya."


"Len aku mohon, aku mau banget ikut sama kalian berdua."


"Kata Abi kamu diam aja di rumah, jaga baby." Ucapku selembut mungkin, agar Lulu tak ikut kami.


"Len aku bisa titip baby sama bi Sumi kok." Keukeuh Lulu.


"Lu bi Sumi gak bisa jagain anak kamu, bi Sumi sudah tua. Dia cape jaga rumah beres beres lah nyuci lah masak juga, dan sekarang kamu malah mau nitipin anak kamu sama bi Sumi."


"Aku cuma mau ikut aja kok gak boleh, apa jangan-jangan ada hal yang ingin kalian lakukan di belakang aku ya?" Prasangka Lulu, aku hanya menggeleng pelan seraya memijat jidat.


"Aku sama Abi itu bukan mau ngelakuin yang bikin kamu khawatir kok, tenang saja. Aku dan Abi cuma mau ke kondangan saja." Tekan ku pada Lulu.


"Baiklah baiklah, silakan kalian pergi berdua." Bentak Lulu lalu pergi ke kamarnya lagi.


"Perihal mau kondangan saja di ributin." Rutuk ku.


****


"Sudah fokus saja bawa mobil."


"Kamu kenapa, bukannya aku ya yang lagi ngambek?" Abi mengoceh sepanjang jalan. "Kamu ngambek ya?"


"Apa sih." Bentak ku pada Abi.


"Galak amat, apa gara-gara Lulu ya. Wajarlah sayang dia pengen ikut, dia pasti jenuh diam di rumah. Mama sama papa gak ada, dan di rumah cuma ada bi Sumi."


"Terus."


"Kasihan gak sih?" Tiba-tiba Abi mengatakan itu, membuatku makin kesal.


Aku memutar lagu dengan volume yang tinggi, Abi menutup sebelah kupingnya. Aku tak menggubris Abi yang minta di kecilkan volumenya, aku memandangnya penuh kekesalan.


"Sayang kecilin volumenya, gendang telinga aku nanti pecah." Keluh Abi.


Aku membuang muka ke samping, tak sengaja aku melihat Tante Becky dengan Remon sedang apa mereka batinku bertanya-tanya, kenapa Remon selalu menghampiri Tante Becky?


Apa benar prasangka aku mengenai ayah kandung anak Lulu, pasti Remon ayah kandungnya. Aku yakin. Aku mengecilkan volumenya musik yang aku putar, lalu menghadap Abi, Abi yang melihatku keheranan.


"Ada apa?" Tanya Abi.


"Sayang, apa gak sebaiknya kita ke rumah sakit dulu lalu setelah itu ke pesta pernikahan Jia." Ucapku.

__ADS_1


"Loh kok tiba-tiba, ada apa?" Tanyanya.


"Ayo kita ke rumah sakit dulu, ini lebih penting." Kataku tak sabaran.


"Iya iya, kita putar balik."


Aku dan Abi segera melesat ke rumah sakit, Abi membawa mobil dengan kecepatan tinggi.


"Ada apa sih kok minta ke rumah sakit segera?"


"Sayang jangan banyak nanya dulu, kita harus cepat-cepat ke rumah sakit."


"Ada apa sih?"


"Ayo ngebut sayang."


Rumah sakit


"Sus kami mau mengambil hasil tes DNA." Ucap suamiku kepada suster yang mengurus tes DNA yang dilakukan kami.


"Baik, tunggu sebentar ya pak." Ucap suster.


Kami menunggu sekitar 5 menit, dan suster tadi datang dengan amplok putih di tangannya.


"Ini pak." Suster itu memberikan amplop putih itu kepada suamiku.


"Makasih sus."


Suster itu mengangguk dan pergi kembali. Aku dan Abi segera berjalan menuju mobil.


"Ayo masuk cepat." Ucapku buru-buru.


"Kamu buru-buru banget sih, ada apa? coba jelaskan!"


"Mana hasil tes DNA itu, aku mau lihat."


"Ini." Abi menyodorkan hasil tes DNA itu padaku.


Aku mengambilnya lalu membukanya perlahan, namun tangan Abi menghentikan aksiku untuk membuka amplop yang berisikan hasil tes DNA.


"Ada apa sayang?" Tanyaku pada Abi.


Tatapan Abi hampa, aku yakin dia merasa gemetar. Hari ini dia dan aku akan tahu siapa ayah kandung anak Lulu yang sebenarnya, aku memegang tangannya erat-erat lalu ku usap pelan. Abi kini mulai tenang, aku pun dengan leluasa membuka amplop itu.


"Jangan dulu di baca." Cegah Abi lagi-lagi.


"Jangan ragu, ini yang kita tunggu-tunggu selama ini." Kataku.


"Aku takut sayang." Lirih Abi.


"Percayalah hasilnya akan sesuai yang kita harapkan." Ucapku menenangkan Abi.


"Baiklah, ayo baca." Pinta Abi.


Akupun membaca isi dari kertas putih itu, betapa terkejutnya aku.


"Sayang." Lirihku.

__ADS_1


"Kenapa?"


__ADS_2