
"Sebenarnya aku kena KDRT Len." Lirih ayu begitu parau.
"Maksud kamu, luka ini kamu dapat karena kekerasan suami kamu?" Aku sungguh terkejut, kenapa Doni jadi brutal seperti ini.
"Ayo duduk." Meta menyuruh ayu duduk.
Tangisan ayu pecah, aku dan meta berusaha menenangkan ayu.
"Apa alasan Doni melakukan ini sama kamu?" Tanyaku, aku benar-benar penasaran.
"Setelah tahu kehamilan aku dia berubah sama aku Len, dia jadi pemarah dan gak bisa mengontrol emosinya." Jelas ayu. "Dia sering menyuruh aku untuk menggugurkan kandungan ini."
"Ada apa sebenarnya dengan suami kamu, kenapa dia marah gak jelas sama kamu?" Meta pun angkat bicara, setelah mendengar penjelasan dari ayu.
"Apa ada yang aneh dari perubahan sikap suami kamu?" Bukan karena ingin ikut campur, aku hanya ingin tahu saja. (Bukankah ingin tahu juga termasuk ikut campur ya? Terserah Alena deh)
"Aku pernah mendengar dia teleponan dengan orang lain."
"Siapa?" Aku memotong ucapan ayu.
"Entahlah aku juga tidak tahu." Balas ayu.
"Apa yang mereka bahas?" Tanya meta, jiwa kepo kami berdua meronta-ronta.
"Yang aku dengar sih." Ucap ayu, aku dan meta semakin mendekatkan telinga pada ayu. Aih dasar aku kenapa harus sekepo ini pada urusan rumah tangga orang, begitu juga meta, kenapa dia ikut-ikutan bukankah rumah tangga dia juga masih di fase canggung.
"Maaf kalian bisa agak jauhan gak?" Ayu menggeser posisi duduknya, mungkin terasa panas akibat bentrokan nafas kami.
"Iya iya iya." Meta pun menggeser sedikit diikuti olehku.
"Coba ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" Ucapku.
"Aku juga gak tahu penyebab utama dia berubah, tapi perbedaannya itu sudah lama aku rasakan." Jelas ayu.
__ADS_1
"Kira-kira kapan?" Meta menyela penjelasan dari ayu.
"Perubahan nya sih sudah lama sudah ada sepuluh bulanan, tapi sikap kerasnya baru terjadi bulan-bulan ini. Aku juga kaget kenapa dia sampai semarah itu, apalagi setelah tahu aku hamil." Lirih ayu, air matanya menetes. Kami berdua yang mendengarnya pun ikut sedih atas apa yang menimpa ayu. Dan aku gak percaya Doni bisa segila itu, untung aku gak jadi berjodoh dengannya.
"Kok sedih ya?" Kata meta seraya menyeka air matanya, karena dia ikutan menangis.
"Apa kamu pernah mendengar atau melihat hal yang mencurigakan gitu?" Aku hanya fokus menanyakan yang terjadi.
"Aku pernah dengar dia teleponan, tapi aku juga gak tahu sama siapa dia teleponan tapi yang aku dengar. Katanya..." Ucapan ayu terpotong, lalu tangisannya begitu menjadi spontan orang yang lewat ke depan kami melihat kamu dengan aneh.
"Yu, jangan nangis malu di lihatin orang banyak." Meta menenangkan ayu, sedangkan aku terus berpikir.
"Apa yang Doni katakan?" Aku benar-benar ingin tahu, padahal masalah dalam rumah tanggaku juga lagi gak baik-baik saja ini sok sokan mau ikut campur dalam urusan rumah tangga orang lain.
"Len kamu gak lihat? Ayu masih nangis, kamu malah memprovokasi saja. Dasar gak punya hati nurani." Cetus meta, jadi aku yang di salahkan. Aku hanya ingin tahu akar masalah yang terjadi dalam rumah tangga ayu saja, siapa tahukan aku bisa membantu.
"Tapi met, kita harus cepat tahu yang sebenarnya. Supaya ayu gak tersiksa begini." Ucapku.
"Baiklah baiklah, ayo yu coba apa yang kamu debgar waktu suami kamu teleponan itu." Meta pun ikut serta mengintrogasi ayu.
Skip
"Aku kasihan banget deh sama ayu." Ucap meta.
"Sama aku juga." Balasku. "Oh ya met, gimana hubungan kamu sama suami kamu?"
Wajah meta memerah jambu, saat di tanya hubungan nya dengan suaminya. "Berkat ucapan kamu, hubungan aku dan suami berjalan normal."
Aku yang mendengarnya ikut bahagia, rupanya solusiku manjur untuk kebahagiaan meta. "Aku ikut senang ya, semoga secepatnya kamu di kasih baby."
"Amiiin, kamu juga Len." Ucap meta.
"Oh ya, ini sudah sore aku pulang duluan ya." Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, sepanjang hari hanya mendengarkan ke keluhan dari ayu. Sampai tak melihat waktu sudah jam 16.30 WIB, dan sebentar lagi suamiku pulang.
__ADS_1
"Ya sudah, aku juga mau pulang." Ucap meta.
Meta pergi dengan menggunakan taksi, sedangkan aku pulang dengan mobilku sendiri. Berniat untuk menemui mas Ken akhirnya batal, aku harus mengatur waktu untuk bertemu dengannya. Padahal urusanku lebih penting ketimbang urusan ayu, tapi kenapa aku begitu tertarik dengan urusan ayu.
Aku memasuki mobilku dan melajukan nya perlahan.
*****
Cklek....
Aku membuka pintu kamar, terlihat Abi sedang duduk menghadap jendela besar yang menampakan keindahan sungai dan ti tambah lagi hujan turun, membuat pesonanya semakin indah. Aku kini menghampiri Abi, dia tersentak saat aku memegang pundaknya.
"Sayang?" Sentaknya, aku membalasnya dengan secarik senyuman. "Kamu bikin kaget saja, ngomong-ngomong kamu dari mana sih kok aku pulang kamu malah gak ada?"
Aku duduk di pangkuannya. "Aku habis ketemuan sama meta dan ayu."
"Ayu?" Ucap Abi mengulang nama ayu.
"Iya ayu, si ayu istrinya si Doni yang waktu nikah kamu kasih mereka kado mobil." Balasku.
"Ah itu, kenapa sama dia? Kok kamu bisa ketemu lagi sama dia?" Kata Abi melontarkan pertanyaan.
"Sayang kamu harus tahu sih ini." Ucapku serius.
"Apa yang harus tahu?" Tanyanya seraya merangkul pinggangku.
"Aku gak nyangka deh yang, masa Doni melakukan KDRT sama ayu!"
"KDRT? Wah laki-laki brengsek beraninya menganiaya istri sendiri." Ucap Abi kesal.
"Kok kamu kelihatan kesal sih?" Cetusku.
"Ya kesal gimana, kok masih ada sih cowok yang menyiksa istrinya sendiri. Padahal seorang istri itu harus di istimewakan, aish, aku kesal banget." Kekesalan Abi begitu membuncah.
__ADS_1
"Dengerin aku sayang ini point pentingnya." Ucapku.
"Apa?"