
"Rumah sakit? Kok bisa di rumah sakit, kenapa sama Alena?" Tanya Sera khawatir.
"Semalam kehujanan, udah ya ma Abi mau mandi dulu." Ucap Abi.
"Iya, mandi dulu sana." Ucap Sera.
****
"Kak." Panggil Lulu pada Abi yang baru turun dari tangga.
"Iya, ada apa?" Tanya Abi.
"Lulu dengar Alena di rawat di rumah sakit."
"Iya."
"Lulu boleh ikut ke rumah sakit?"
"Nggak usah, kamu tunggu aja di rumah."
"Tapi Lulu juga khawatir sama Alena."
"Gak perlu, kamu diam aja di rumah." Sela Sera.
"Tapi tante."
"Sudahlah ayo ma kita pergi, kamu duduk aja di rumah jaga diri baik-baik." Ucap Abi.
"Baiklah." Lulu pun pergi ke kamarnya.
Pov author end...
Kenapa Abi lama sekali, aku hampir mati kelaparan menunggunya kembali ke rumah sakit. Aku gak suka makan makanan yang di sediakan pihak rumah sakit, rasanya hambar.
Cklek...
"Menantuku sayang." Panggil mama mertua seraya berlari menghampiriku.
"Eh mama kesini juga?" Ucapku.
"Mama khawatir sayang, mama beliin kamu makanan di makan ya." Ucap mama seraya memberikan kotak makanan padaku.
"Suamiku mana ma?" Aku mencari keberadaan Abi, kenapa dia tidak terlihat.
"Oh suamimu, dia lagi beli siomay buat kamu. Katanya sih kamu suka banget makan siomay, emang iya kamu suka siomay?"
Aku tersenyum mendengar ucapan mama mertuaku. "Iya ma, sangat suka."
"Suami kamu perhatian ya." Ujar mama mertua.
Tak selang beberapa menit suamiku pun datang, dengan kantong plastik di tangannya.
"Sayang." Panggilnya.
"Iya." Balasku.
"Ini siomay buat kamu." Abi menyodorkan kantong plastik itu padaku, akupun mengambilnya.
"Makasih sayang." Ucapku.
"Sweet banget sih kalian." Ucap mama mertua.
__ADS_1
"Biasa aja kali ma." Timpalku.
****
Setelah sehari semalam di rawat, akupun di izinkan pulang oleh dokter.
"Sayang, kamu yakin sudah enakan?" Tanya Abi.
"Iya yakin." Balasku.
"Ya sudah, tapi kalau ada yang di rasa sakit langsung bilang ya!"
"Iya ayang."
Sesampainya di rumah, mama mertua, bi Sumi dan Lulu menyambut kedatanganku. Mama mertua menghampiriku lalu memelukku, pun bi Sumi menghampiriku dan memberikan minum sedangkan Lulu dia menatap ketus diriku. Aku hanya tersenyum melihat tingkah Lulu yang kesal, karena orang orang memperhatikanku.
"Di minum ya nyonya air nya." Ucap bi Sumi.
"Iya bi makasih ya." Aku mengambil gelas yang berisi air mineral dari bi Sumi.
"Sudah sudah ya, Alena harus istirahat banyak biar gak sakit lagi." Ucap Abi seraya memapahku. "Abi mau bawa Alena ke kamar."
"Iya." Timpal mama mertua.
*****
Beberapa bulan kemudian...
Kehamilan Lulu sudah memasuki bulan ke sembilan, tinggal menunggu hari menuju kelahirannya. Dan Abi suamiku, kini dia lebih memperhatikan Lulu ketimbang aku, istri sahnya. Jujur aku sedikit cemburu, tapi aku memakluminya bagaimanapun Lulu tengah hamil tua dan butuh seseorang untuk selalu ada di sisinya. Dan entah apa yang terjadi dengan Jia dan mas Ken, kini mereka sibuk dengan urusan pernikahannya. Yang aku tahu mereka akan menikah, tapi aku gak tahu kapan mereka menjalin hubungan. Makin kesini mas Ken lebih tertutup padaku, tidak seperti sebelumnya. Itupun aku memakluminya, karena bagaimanapun mas Ken harus memiliki keluarga dan aku sangat bersyukur pasangan mas Ken adalah seseorang yang aku kenal.
"Sayang." Panggilku pada Abi yang tengah menatap layar ponselnya.
"Iya." Balasnya.
"Iya." Balasnya, makin kesini Abi makin cuek padaku.
"Tapikan ini kamar kita, apa gak bisa ya kalau Lulu tetap di kamarnya?"
"Kalau hasil tes DNA membuktikan anak itu anak aku, kamu harus siap pindah kamar." Jelasnya, bukan karena kamar yang jadi masalah tapi kenangan yang kita buat di kamar ini sangat tergambar jelas dalam ingatanku, membuatku tak nyaman harus meninggalkan kamar yang menjadi saksi cinta kita tumbuh.
"Baiklah." Ucapku pasrah. "Tapi kamu yakin kalau anak itu anak kamu?"
"Aku gak tahu, tapi aku punya keyakinan kalau anak itu anak aku." Imbuhnya yang cukup membuat hatiku sakit.
Aku keluar dari kamar, meninggalkan Abi sendirian. Saat menuruni tangga, aku melihat Lulu dan mama mertua tengah tertawa terbahak-bahak. Jujur aku iri melihatnya, dulu mama mertua lebih menyukaiku tapi kini semuanya berubah.
"Lagi membahas apa sih kayaknya seru banget?" Tanyaku pada mama mertua dan Lulu.
"Nggak." Balas mama mertua.
"Boleh ikutan?"
"Aduh Alena, kami lagi bahas nama baby. Yakin mau ikutan?" Ucap Lulu.
"Ah, kalau di bolehin sih. Ya Alena ikutan juga, bolehkan?"
"Lebih baik kamu ke kantor saja, bukannya pekerjaan kamu banyak banget." Ujar mama mertua.
"Iya lebih baik kamu ke kantor saja, kalau ikutan sama kami nantinya kamu gak ngerti." Ucap Lulu, menyinggung perasaanku.
"Ya sudah, Alena mau ambil tas dulu." Aku pergi mengambil tas ke kamar.
__ADS_1
Aku kuat aku yakin aku bisa menahan semuanya, aku yakin sebentar lagi akan kembali seperti semula.
"Sayang." Panggilku pada Abi.
"Hmm." Dia hanya berdehem saja.
"Ah nggak." Aku mengurungkan niatku memberitahu kalau aku mau pergi ke kantor di hari Sabtu, dulu kalau aku pergi kerja hari Sabtu dia langsung marah tapi sekarang dia mengabaikanku.
"Mau kemana kamu?" Tanyanya.
"Aku mau ke kantor." Balasku.
"Oh." Dia hanya ber oh saja.
"Aku pamit ya."
"Iya."
*****
Di kantor pun aku hanya duduk termangu menatap jalanan ibu kota yang ramai, memikirkan nasib rumah tanggaku yang semakin kesini semakin rumit.
"Kalau begini terus aku bisa gila, suami yang tak perhatian lagi dan wanita lain yang tengah hamil, lalu ibu mertua yang berpaling. Sahabat yang entah masih peduli apa nggak, membuatku semakin frustasi." Gumamku seraya memutar kursi yang tengah ku duduki.
Tok..tok..tok
"Masuk."
"Pagi Alena." Sapa seseorang yang masih ada di balik pintu.
"Iya pagi."
"Bagaimana kabarmu?" Tanyanya seraya duduk di hadapan mejaku.
"Kamu?" Aku kaget melihatnya, karena sudah cukup lama aku tak melihatnya.
"Aku harap kamu baik baik saja." Ucapnya.
"Ada apa kamu datang kesini? Saya sudah bilang karya saya gak menerima di jadikan drama." Ucapku kesal.
"Aku kesini bukan untuk membahas pekerjaan."
"Lantas apa?"
Kenapa Remon datang lagi ke kehidupanku, bukannya dulu aku menolak tawarannya. Ada hal apa yang ingin di bicarakannya, kenapa bukan membahas pekerjaan? Sungguh membuat penasaran.
"Bagaimana kabar Lulu?" Tanyanya, tiba-tiba menanyakan kabar Lulu.
"Dia baik baik saja." Balasku.
"Begitu ya."
"Iya, tunggu! Apa kamu kenal sama Lulu?"
"Iya aku mengenalnya."
"Apa kamu tahu Lulu sedang hamil?"
Remon menatapku cukup lama, lalu dia tersenyum. Aku heran dengan sikapnya, apa dia tahu kalau Lulu hamil dan apa dia tahu siapa yang menghamili Lulu.
"Apa kamu tahu siapa ayah dari anak yang sedang di kandung Lulu?"
__ADS_1
"Tentu."