
"Apa?" Tanya Abi.
"Ayu bilang, dia pernah dengar kalau suaminya teleponan." Ucapku.
Flashback..
"Aku pernah dengar suamiku teleponan, dia marah aku juga gak tahu apa yang mereka bicarakan di telepon itu. Yang jelas dia kesal dan marah gitu." Jelas ayu.
"Apa kamu gak dengar sesuatu apa gitu?" Tanya meta.
"Iya aku ingat, suamiku bilang kalau dia gak mau tanggung jawab." Kata ayu.
"Kira-kira apa yang mereka bicarakan ya?" Aku jadi bingung sendiri.
"Tanggung jawab?" Meta mengulang kata tanggung jawab.
"Sabar ya, yu." Aku menyemangati ayu untuk sabar menghadapi ujian dalam rumah tangganya.
Flashback end...
"Kamu itu ngapain sih mikirin urusan orang, urusan kita juga banyak loh." Ucap Abi sewot.
"Iya iya, tapi kan aku tuh kasihan sama ayu."
"Kamu kasihan sama ayu?" Abi pergi ke kamar mandi.
"Sayang, emangnya kamu gak kasihan sama ayu?" Teriakku.
Abi tak menggubris pertanyaanku dan malah menghidupkan kran air, ada apa sama Abi? Biasanya juga tak sesensi ini. Bukannya tadi dia bilang kasihan sama ayu karena habis kena kdrt, dasar Abi kok plin plan banget.
*****
"Sayang ayo makan, nanti kalau udah agak malam malah gak selera lagi." Aku mengajak Abi makan malam.
"Lagi malas makan." Balas Abi.
"Makan dong sayang." Aku berusaha membujuknya.
"Iya iya." Abi pun akhirnya menyerah, dan melaksanakan makan malam bersamaku.
Saat makan malam terjadi tak ada sepatah kata pun keluar dari mulutku maupun mulut Abi, kami benar-benar menikmati makan malam berdua seraya menikmati pemandangan malam di luar sana.
Sekitar setengah jam bergelut dengan acara makan malam, akhirnya makan malam selesai. Aku membereskan piring dan juga gelas kotor sisa makan, sedangkan Abi dia kembali mengambil handphonenya. Entah apa yang ia kerjakan sampai sefokus itu main handphone, tak melihat istrinya sibuk beres-beres.
"Gak punya mata kali ya?" Gumamku seraya menghentakkan kaki, siapa tahu dia peka.
"Sudah kuduga dia gak peka." Kesalku, segera aku membawa piring dan gelas kotor itu keluar dari kamar ini. Tiba-tiba sebuah tangan melingkar di pinggangku, sontak aku kaget dan hampir menjatuhkan piring dan gelas tadi.
"Kamu ngapain sih? Bikin kaget aja, gimana kalau piring sama gelasnya jatuh?" Gerutuku, tapi sedikit bahagia juga.
"Buktinya gak jatuhkan." Pekiknya.
"Tahu ah."
__ADS_1
Skip
"Selamat bobo sayang." Ucap Abi begitu sweet.
"Iya, selamat bobo juga." Balasku, segera aku menutup mataku.
****
Pagi
"Sayang." Panggil Abi yang masih bergelut dengan selimutnya.
"Iya ada apa?" Balasku.
"Mau kemana udah cantik?" Tanyanya.
"Aku ada urusan, kamu gak papa kan di tinggal dulu?" Kataku yang asyik merias diri.
"Padahal inikan weekend loh yang, kok kamu tega ninggalin suami sendirian?" Rengeknya, aku menoleh ke arahnya.
"Sayang bentaran kok."
"Memangnya mau kemana?"
"Duh sayang, ini urusan cewek kamu gak usah tahu ya. Lagian aku cuma sebentar kok keluarnya." Jelasku. "Mending kamu mandi terus siap-siap, nanti sepulang aku dari janji aku, kita jalan-jalan berdua. Okey!"
"Iya deh." Abi memasang wajah datar lalu pergi ke kamar mandi.
Aku sibuk merias wajah, membenarkan aksesoris yang aku kenakan hari ini. "Oke, udah cantik."
"Iya." Sahut Abi.
Akupun bergegas pergi, tujuanku kali ini adalah benar-benar bertemu dengan mas Ken.
Kali ini aku pergi mengendarai sepeda motor, supaya cepat dan praktis membawanya.
Pov author...
Setelah Alena turun dan menjalankan sepeda motor nya, Abi bergegas mengikuti istrinya tanpa sepengetahuan Alena.
"Mau kemana dia pagi-pagi begini?" Gumam Abi, Abi mengendarai mobil lalu mengikuti Alena tepat di belakangnya.
Alena tak tahu kalau dirinya diikuti suaminya dari tadi, dia hanya fokus mengendarai motornya. Kini motornya ia parkirkan di sebuah kafe, begitupun Abi tapi dia memilih parkir agak jauhan dengan motor Alena. Alena masuk ke dalam, Abi pun ikut masuk.
"Mbak." Panggil Alena kepada pelayan kafe.
"Iya, mau pesan apa mbak?" Tanya si pelayan kafe.
"Americano ice satu ya." Ucap Alena.
"Baik mbak, mohon di tunggu."
Selagi menunggu, alena membuka handphone nya.
__ADS_1
Drtt...drtt...
Abi terperanjat saat handphonenya bergetar dalam saku celananya.
"Bikin kaget saja." Cetus Abi, lalu merogoh handphone nya dalam saku celananya.
"Alena? Angkat gak ya?" Abi malah menatap tajam layar handphone nya.
Sedangkan dimeja sana, Alena khawatir karena Abi tak kunjung mengangkat teleponnya.
"Kok gak di angkat sih?" Alena mengecek handphone nya, lalu menelpon kembali Abi.
Abi menggigit bibir bawahnya lalu dengan hati-hati ia mengangkat telepon dari istri nya itu.
Abi 'Hallo sayang ada apa?'
Alena 'Kamu lama banget angkat teleponnya'
Abi 'Aku habis buang hajat dulu'
Alena 'Pantesan, aku khawatir tahu'
Abi 'Maaf udah bikin kamu khawatir, ngomong-ngomong ada apa kamu nelepon aku?'
Alena 'Emangnya aku nelepon kamu harus ada alasannya gitu?'
Abi 'Nggak juga sih'
Tepat saat Alena bertelepon dengan abi, Ken pun datang lalu duduk di hadapan Alena.
"Maaf telat." Ucap Ken.
Abi 'Ken?'
Alena 'Udah dulu ya sayang'
Abi 'Hei tung..'
Tut..Tut..Tut..
"Ngapain alena ketemu sama Ken?" Gumam Abi.
"Mas, apa kamu sudah menemukan sesuatu?" Tanya Alena.
Ken mengangguk. "Aku rasa ada yang aneh dengan semua ini."
"Maksud kamu apa?"
"Ternyata Remon bukan orang yang kita maksud."
"Maksud kamu apa? aku gak ngerti." Alena mengernyitkan dahinya.
"Remon tidak menghamili Lulu."
__ADS_1
"Apa?"