My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 35


__ADS_3

Menyebalkan sekali, pagi-pagi begini kenapa wanita ini ada di tempat kerjaku. Bikin moodku hilang saja, padahal hari ini aku mau bikin novel baru, hilang sudah semua rencana yang sudah tersusun dalam otakku.


"Gini ya rasanya duduk di kursi kerja."


Aku tak menggubris perkataan yang keluar dari mulutnya, aku fokus memainkan ponsel.


"Alena, aku ngomong loh."


"Terus." Sahutku acuh.


"Dengerin dong, gini gini bentar lagi aku jadi madu kamu loh." Ucapnya seakan dirinya seseorang yang penting dalam kehidupan rumah tanggaku.


"Selamat, akhirnya kamu bisa jadi istri kakak Abi." Ucapku penuh penekanan, aku keluar dari ruangan kerjaku.


"Alena kamu mau kemana? Gak terima ya kalau aku bentar lagi jadi istri kak Abi, makanya jangan belagu." Ocehnya, dalam ruangan kerjaku.


"Wanita sialan, gila, stres, bikin moodku gak bagus." Aku mengumpat, mengutuk wanita itu. Kepalaku rasanya mau pecah, kalau dengar wanita itu bicara.


Aku duduk di kursi kantin kantor, tak ada orang satupun disini. Tentu saja, karena masih waktunya bekerja.


"Hei, masih pagi kenapa malas malasan?" Tanya seseorang dari belakangku.


Aku berbalik. "Hei mas."


"Lagi ngapain kamu di kantin, di jam kerja begini?" Tanya mas Ken.


"Lagi menghilangkan stres." Balasku seraya menyedot minuman.


"Pagi-pagi sudah stres aja, mikirin apa, apa mikirin judul novel terbaru?"


"Bikin judul buat novel mah gampang mas, yang bikin aku stres pagi ini tuh, si Lulu."


"Lulu, ngapain Lulu bikin kamu stres?"


"Dia ada di ruanganku."


"Ngapain?"


"Entahlah mas, eh kok kamu ada disini bukannya ada meeting sama pak Seno?"


"Aku gak ikut, lihat tanganku saja masih susah diajak gerak."


"Ah iya, aku lupa mas."


"Dari raut muka kamu, kayaknya kamu lagi ada pikiran berat nih."


"Apa sih mas, aku gak ada mikirin apa apa. Aku cuma pusing kalau lihat Lulu aja kok."


"Len, aku tahu kamu. Aku kenal kamu bukan kemarin tapi sudah terbilang lama, setiap ada masalah pun aku tahu. Dulu kalau kamu ada masalah, kamu datang ke aku dan bercerita, jadi aku yakin kali ini kamu lagi ada masalah."


Memang benar apa yang di katakan mas Ken, dulu sebelum aku dan Abi benar benar bersama seperti sekarang. Setiap ada masalah ataupun keluhan hanya pada mas Ken aku berani bicara, dia memang tahu aku sejauh ini rupanya.

__ADS_1


"Ternyata sulit menyimpan rahasia dari kamu ya mas." Aku tersenyum, dia pun ikut tersenyum.


"Aku paham kamu, karena rasa ini yang tumbuh perlahan,  jadi aku dapat langsung memahami kamu dalam keadaan apapun itu." Batin Ken.


"Jadi apa masalahnya?"


"Kamu tuh mas, orang yang paling bisa membaca suasana hati aku. Kamu memang sahabat sekaligus kakak buat aku."


Pov author...


Senyuman yang mengembang di wajah Ken, seketika luntur kala mendengar penuturan Alena.


"Kamu ya mas, aku seneng banget bisa kenal sama kamu. Kamu sudah kayak saudara laki-laki buat aku, kamu selalu ada di saat aku terpuruk." Ucap Alena yang membuat hati ken perih.


Ken memang menyimpan rasa untuk Alena dan rasa itu semakin hari semakin kuat, tapi dia sadar memilikinya adalah kesalahan besar untuknya. Alena bukanlah wanita lajang yang boleh di dekati oleh laki-laki lain, Alena adalah wanita yang telah menjadi istri dan dia adalah istri dari bos sekaligus sahabatnya sendiri.


"Sadar Ken, Alena punya Abi. Kamu lebih cocok jadi kakak bagi Alena bukan jadi pendampingnya." Batin Ken.


"Kalau kamu senang aku ikut senang, dan sebaliknya kalau kamu sedih maka aku juga ikut sedih." Ucap Ken, begitu meyakinkan.


Alena menatap manik mata Ken dalam-dalam, dia melihat kesedihan di matanya tapi Alena sendiri tidak tahu arti dari kesedihannya.


Alena tersenyum seraya menatap Ken. "Makasih mas."


"Kamu adalah sahabat sekaligus adik buat aku." Ken mengelus pelan puncak kepala Alena.


"Waw, beautiful moment." Ucap Lulu dari belakang lalu memotret Ken, yang tengah mengelus kepala Alena.


"Maaf ya fotonya gak sengaja aku send ke kak Abi." Ucap Lulu seraya pergi.


Alena menghela nafas kasar, dia sungguh jengkel dengan kelakuan Lulu.


"Abi gak mungkin menuduh kita macam-macam, tenang saja oke." Ucap Ken menenangkan Alena.


"Aku gak khawatir soal Abi, aku hanya kesel aja sama kelakuan Lulu."


"Aku kira kamu kesel gitu, takut Abi nuduh kita ada hubungan."


"Abi mencintai aku mas, dia akan percaya sama aku. Kamu tenang aja, aku balik ya ke ruanganku." Alena pergi meninggalkan Ken yang masih duduk sendiri di kantin.


"Ya, aku harap Abi menuduh kita macam-macam Len. Tapi aku gak sejahat itu, aku mungkin akan senang jika Abi menuduh kita tapi aku gak akan senang karena kamu pasti bakalan sedih dan terluka, aku gak akan tenang kalau kamu sedih."


Ken benar-benar menyukai Alena sedalam itu, jika pun Abi menyakiti Alena, Ken akan menjadi orang pertama yang akan merangkul Alena. Tapi Ken yakin Abi tidak akan menyakiti Alena, secara Abi pun mencintai Alena.


"Tapi kenapa aku jadi kepikiran sama sama Jia, ya?" Ken pergi untuk menemui Jia.


Tok..tok..


"Wah sekretaris Ken, ada perlu apa anda kemari?" Ketua hena menghampiri Ken.


"Saya ada perlu sama Jia."

__ADS_1


Jia yang tengah fokus mengerjakan tugasnya, sontak terperanjat.


"Ah sekretaris Ken, ada apa ya?"


"Mari ikut saya."


"Baik."


"Saya pinjam Jia sebentar." Ucap Ken kepada ketua hena dan pak Ben.


"Jangan lama-lama ya di pinjamnya, kami lagi banyak kerjaan." Ucap pak Ben, sangat jujur.


"Jangan dengarkan pak Ben, mau lama pun boleh kok." Timpal ketua hena, seraya menyenggol lengan pak Ben.


"Terimakasih."


Ken dan Jia pun keluar, ken membawa Jia ke dapur kantor.


"Ada apa pak?" Tanya Jia.


Ken kebingungan, untuk apa dia membawa Jia ke dapur. "Buatkan saya kopi."


"Kopi? Kenapa gak beli di kantin aja pak?"


"Saya mau kopi yang ada di dapur kantor." Ken berdalih seakan ingin minum kopi.


"Kenapa gak bikin sendiri sih pak, saya gak tahu selera ngopi bapak." Keluh Jia.


"Kamu gak lihat tangan saya?" Ken mengangkat tangannya yang sakit. "Kalo tangan saya gak gini, gak perlu saya nyuruh kamu buat bikinin saya kopi. Saya juga bisa sendiri."


"Ah, saya lupa. Kalau gitu saya buatkan kopinya ya, bapak bisa duduk rileks di sini." Jia menyiapkan kursi untuk duduk Ken.


"Terimakasih." Ketus Ken, namun dalam hati senang.


Jia begitu fokus membuat kopi untuk Ken, lalu Ken terus saja memandangi Jia sesekali kedua sudut bibirnya terangkat ke atas.


"Nah kopinya sudah jadi." Jia memberikan kopi buatannya kepada Ken. "Selamat menikmati."


Ken meneguk kopi buatan Jia dengan khidmat. "Cukup enak."


"Cukup katanya, tapi terus di minum." Batin Jia.


"Terimakasih kopinya, silahkan kembali kerja."


Jia menghela nafas berat. "Iya pak, permisi."


****


Abi membuka ponselnya, dia mendapat pesan dari Lulu.


"Lulu ngirim foto apa sih?" Abi membuka pesan dari Lulu, dia cukup kesal melihat kiriman pesan dari Lulu.

__ADS_1


__ADS_2