My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 32


__ADS_3

Jia menyembunyikan wajahnya dalam bantalan kursi, malu dengan ucapannya sendiri.


"Aish, malu banget." Batin Jia.


"Sudahlah, jangan sembunyi begitu. Toh sudah di ucapin, percuma nyesel juga." Cetus Ken menahan tawa.


Sedangkan Alena, dia sibuk mencari BH dan ****** ***** miliknya. Siapa tahu ada, karena kebiasaan Alena kalau pergi selalu bawa pakaian cadangan.


"Nah ini dia." Teriak Alena seraya mengangkat BH miliknya, Ken dan Abi terbelalak melihatnya.


"Sayang j-jangan di kibarkan gi-gitu B-BH nya." Ucap Abi yang seketika menjadi gagap.


Alena memandang suaminya, dengan raut muka imut. "Sayang kamu kan suka sama isinya."


Ken terkejut mendengarnya, sontak dia tersedak angin yang melesat ke depan mukanya.


Jia, dia malah makin membenamkan wajahnya sebab malu.


"Sayang." Lirih Abi.


"Hehe..." Alena tersenyum ala psikopat. "Nih, coba pakai semoga ukurannya sama kayak aku."


"Ukuran apa?" Tanya Ken.


"Aset wanitalah." Sahut Abi ketus.


Jia mengambilnya dari tangan Alena, masih sama dia terus menunduk karena malu, lalu memasuki kamar sesegera untuk memakai BH dan ****** *****.


Pov end..


*****


Hari ini cukup menyenangkan bagiku, meskipun Jia gagal menikah tapi aku bersyukur karena Jia tak menikah dengan laki-laki yang tak pantas jadi suaminya.


"Sayang." Panggil suamiku begitu lembut.


"Iya." Balasku singkat.


"Aku sayang kamu." Ucapnya tiba-tiba, lalu memelukku.


"Maaf ya mas Ken, bukan maksud kami memanasi kamu." Ucapku pada mas Ken yang duduk di hadapan kami berdua.


"Jika mau romantis romantisan, jangan di rumah saya nanti auranya horor. Soalnya saya seorang bujang." Ucapnya, yang membuat kami berdua terkekeh.


"Maaf tuan bujang." Goda suamiku, yang makin nempel padaku.


"Pergi sana." Mas Ken melempar bantal kursi ke arah kami.


****


"Maaf sudah bikin repot kalian." Lirih Jia.


"Sudah gak papa, ji." Ucapku.


"Terus, rencana kamu setelah ini apa?" Tanya Abi.


"Saya juga gak tahu, apa yang harus saya lakukan sekarang." Balas Jia begitu sopan.

__ADS_1


"Kalau kamu mau, gimana kalau kita pergi berlibur." Saranku, daripada berlarut dalam kesedihan lebih baik berlibur untuk menenangkan pikiran.


"Ada betulnya juga, Alena." Timpal mas Ken.


"Bolehkan sayang?" Aku terlebih dahulu meminta izin pada suamiku.


"Boleh dong, kalau kamu senang aku pun ikut senang." Abi mengelus puncak kepalaku begitu lembut.


"Ya sudah, ayo kita pergi." Ucap mas Ken.


"Naik mobil masing-masing." Tegas Abi.


"Sayang kok gitu, mas Ken tangannya sakit loh masa kamu tega nyuruh dia bawa mobil." Suamiku memang rajanya tega, orang sakit pun di suruh bawa mobil sendiri.


"Alena memang the best." Ucap mas Ken seraya mengacungkan jempol.


"Ayo kita berangkat." Ucapku.


Aku melihat Jia termurung, dia pasti sungkan dan canggung.


"Ayo Jia, kamu harus happy hari ini." Aku menuntun Jia, memasuki mobil.


Kami berempat pun pergi melesat meninggalkan kediaman mas Ken.


"Kamu mau kemana sayang?" Tanya Abi padaku.


"Gimana kalau kita ke pantai, aku sudah lama pengen ke pantai. Makan makanan seafood sambil lihat sunset, kayaknya seru." Memang keinginan ku saat ini adalah, pergi ke tempat yang damai yaitu pantai. Mendengar deru ombak dengan hembusan angin pantai yang sejuk, menikmati setiap inci kehidupan.


"Kalau begitu, kita pergi ke pantai sesuai keinginan istriku."


"Makasih sayang."


"Maksudnya?" Jia sendiri kebingungan.


"Ah tidak, lupakan saja." Mas Ken berdalih, sepertinya dia ingin mengomel tapi di urungkannya karena malu ada Jia.


"Jia hari ini kamu harus happy, sesuai keinginan istri saya. Saya harap kamu jangan sedih, biarkan saja kekacauan yang tengah terjadi di rumah kamu." Ucap Abi, suamiku memang ter the best. Mampu meluluhkan keadaan yang suram menjadi terang, aku memang gak salah mencari suami.


"Terimakasih pak Presdir."


"Sama sama."


****


"Jia aku harap kamu mendapatkan kebahagiaan, dan lupakan masalah yang tengah terjadi hari ini. Ingatlah suatu saat nanti kamu akan bertemu dengan laki-laki yang tulus mencintai kamu sepenuh hati." Aku berusaha menghibur Jia, karena sejak dari tadi dia hanya murung.


"Nikmatilah angin pantai ini, kamu pasti rileks." Ucapku lagi lagi.


Jia pun tersenyum, dia menghirup udara pantai.


"Alena, makasih atas semuanya. Ternyata sekretaris Ken dan pak Presdir gak sedingin apa yang di katakan orang." Ucap Jia, aku pun tersenyum mendengar ucapannya.


Pov author...


Sedangkan di kediaman Jia, sekarang begitu ramai. Orang orang mencari Jia, pengantin pria pun kesal, dia membanting meja tamu yang ada di depan rumah Jia.


"Kok bisa, dia hilang di hari sepenting ini." Teriak lelaki yang akan menikah dengan Jia.

__ADS_1


"Kami cari bos." Ucap salah satu anak buahnya.


"Cari sekarang juga." Titahnya begitu garang.


"Baik bos."


Anak buahnya pun, berlarian mencari keberadaan Jia.


"Gimana ini yah? Anak kita kok malah gak ada." Ibu Jia begitu resah, karena anaknya menghilang begitu saja tanpa pamit.


"Tenang Bu, Jia pasti ketemu." Ayah Jia pun mencoba menenangkan istrinya.


"Kalau saja ayah gak ngutang sama juragan Danang, Jia gak akan kabur kayak gini. Gimana kalau Jia mencoba bunuh diri, ibu gak bisa bayangkan kalau anak kita mati secepat itu." Ibu Jia terus mengomel, ada rasa bersalah dalam dirinya.


"Suutt, jangan bicara sembarangan dong Bu. Anak kita gak mungkin melakukan tindakan yang gegabah." Timpal ayah Jia.


"Pokoknya anak kita harus ketemu, dan satu hal pernikahannya batalkan saja."


"Ayah keluar dulu, mau bicara sama juragan."


***


"Gimana ini, mana si Jia?" Tanya juragan Danang pada ayah Jia.


"Jia pergi, dia menolak pernikahan ini." Balas ayah Jia.


"Apa, menolak? Kalau tahu begini bayar hutangnya sekarang juga." Teriak juragan Danang.


"Tapi untuk saat ini saya belum ada uang."


"Halah bacot." Juragan Danang mendorong ayah Jia sampai terjatuh.


"Untungnya anak saya pergi, jika dia jadi menikah dengan anda, mungkin jika ada kesalahan sedikit anak saya bisa bisa mati di tangan anda." Maki ayah Jia, karena kesal kenapa dia harus mendorongnya sampai terjatuh.


"Jika itu bisa ngelunasin hutang kamu, maka nyawa anakmu tidak sia sia."


Ayah Jia naik pitam mendengar ucapan juragan Danang tentang nyawa putrinya.


"Keparat, baru kali ini saya melihat orang sekeparat anda." Maki ayah Jia.


"Hey hey hey, yang keparat disini bukan saya tapi anak anda yang pergi di saat hari pernikahannya." Lagi lagi juragan Danang memancing emosi ayah Jia.


"Diam bajingan."


Bugh, satu bogeman mendarat di muka juragan Danang.


"Anda berani menonjok saya?" Seringainya seraya mengusap sudut bibirnya yang kena bogeman. "Padahal saya hormat pada anda, karena anda akan menjadi mertua saya. Ah salah rupanya saya menilai anda."


"Mertua? Saya tak sudi punya menantu kayak anda, keparat."


Bugh, kali ini juragan Danang yang membogem ayahnya Jia.


Bruk, ayah Jia ambruk ke lantai, dia meringis sambil mencoba bangkit. Sayangnya, juragan Danang malah menendang badannya dengan kuat. Mendengar kegaduhan di luar, ibunya Jia pun langsung keluar, betapa terkejutnya dia.


"Ayah." Teriaknya sambil mencoba membantu membangunkan suaminya.


"Tolong jangan siksa suami saya, juragan." Ibu Jia memohon pada juragan Danang untuk menghentikan perkelahiannya dengan suaminya.

__ADS_1


"Ibu mertua tolong carikan Jia." Balas juragan Danang.


Ibu Jia terdiam mendengar permintaan juragan Danang.


__ADS_2