
Aku keluar dari kamar dengan tergesa gesa, mama mertua yang melihatku seperti orang panik sontak bertanya.
"Sayang ada apa, kok kamu panik gitu?" Tanya mama mertua.
"Ma, itu aduh aku panik ma." Aku gugup dan panik, aku berlari menuju garasi.
"Sayang kamu kenapa sih? Mama jadi ikutan panik nih." Teriak mama di dalam rumah.
"Aku pergi ma." Teriakku.
"Hati hati sayang."
"Pak agak ngebut bawa mobilnya ya." Pintaku pada supir pribadi mama.
"Baik nyonya."
Kamu dimana sayang, aku hawatir banget. Banting stir? Aduh pikiranku jadi kalut seperti ini, mana aku ada salah karena sudah bersikap dingin sama kamu tadi.
"Pak cepet pak."
"Kita harus kemana nyonya?"
"Jalan menuju kantor, cepat ya."
*****
"Bangun bi." Ucap ken kepada abi yang tak sadarkan diri.
"Nyonya bukannya itu mobil tuan abi." Ucap sopir, aku langsung melihatnya. Benar saja itu mobil suamiku.
"Berhenti pak." Setelah mobil berhenti aku menghampiri mobil yang menabrak pohon besar yang ada di tepian jalan, aku mengetuk kaca mobil.
"Mas ken." Panggilku pada sekretaris Ken.
"Alena." Lirihnya dengan suara yang begitu lemah.
"Mas ayo keluar." Aku mencoba membuka pintu mobil, tapi sulit karena di kunci. Sedangkan ken dan abi mereka tak sadarkan diri.
"Nyonya biar saya pecahkan kacanya pake batu." Ucap pak sopir seraya membawa batu seukuran kepala bayi.
"Nyonya mundur." Pak sopir menyuruhku untuk mundur, sesegera aku mundur.
Prang...
Kaca mobil pecah kala pak sopir membenturkan batu pada kaca, sesegera aku menghampiri dan membuka pintu mobil lewat jendelanya.
"Sayang bangun." Aku menarik paksa suamiku untuk keluar dari mobil. "Pak tolong bantu keluarin mas ken juga."
"Baik nyonya."
"Ayo sayang bangun." Akhirnya aku bisa mengeluarkan suamiku dalam mobil itu, terlihat asap asap sudah berkepulan sesegera aku menarik tubuh suamiku sekuat tenaga untuk menjauh dari mobil itu.
"Ayo pak, bawa jauh dari mobil." Aku menyuruh pak sopir membawa ken menjauh dari mobil.
Setelah kami berhasil menjauhi mobil, duar...
Mobil meledak bagaikan bom, apinya menyambar karena tertiup angin sepoy sepoy akibatnya akupun terjatuh ke jalanan aspal begitupun pak sopir.
"Nyonya tidak apa apa?" Pak sopir malah bertanya padaku, sedangkan dia tak menghawatirkan dirinya.
"Tidak papa pak, ayo kita ke rumah sakit."
Kami pun berangkat ke rumah sakit.
Rumah sakit IGD
"Bagaimana keadaan suami saya dok?" Tanyaku kepada dokter yang memeriksa suamiku.
"Tidak apa apa, hanya benturan ringan pada kepalanya yang membuatnya tak sadarkan diri. Ibu tidak usah hawatir, sebentar lagi suami ibu siuman kok." Jelas dokter padaku.
__ADS_1
"Ah begitu, kalau begitu keadaan pasien yang satu lagi bagaimana dok, gak serius kan?"
"Beliau juga tidak apa apa, cuma tulang tangannya patah. Tapi tidak apa apa nanti juga sembuh jika rutin cek up."
"Ah terimaka kalau begitu."
"Saya permisi."
Aku menghampiri suamiku yang tengah terbaring, dia masih belum sadarkan diri.
"Sayang, maafin aku ya udah bersikap dingin sama kamu." Ucapku seraya memegang tangan kanannya.
"Aku janji gak akan gitu lagi, asal kamu gak ketemu lulu." Ucapku pelan.
"Aku janji kok." Balasnya lirih seraya mencium tanganku.
Aku kaget, rupanya dia sudah sadar.
"Janji apa?" Tanyaku seraya memonyokan bibir.
"Janji gak akan ketemu lulu lagi dan gak akan cuekin kamu karena si lulu, pokoknya janji." Ujarnya seraya bangun dari tidur dan memelukku.
"Janji yah?"
"Janji."
"Kamu gak ada yang sakit kan sayang?"
"Nggak, aku gak akan sakit kalau ada istriku yang cantik dan gemesin ada disini temenin aku." Godanya.
"Apa sih." Aku tersenyum mendengar rayuan suamiku sendiri.
"Ken mana?" Tiba tiba dia teringat ken.
"Ada di sebelah kamu, bentar aku buka tirainya ya." Aku berpindah ke arah kiri membuka tirai penghalang antara suami dan ken.
"Ken." Panggil suamiku.
"Kamu sudah sadar dari tadi ya? Pasti kamu dengar aku dan alena ya?" Ucap suamiku penuh selidik.
"Padahal aku ingin istirahat dengan tenang dan nyaman, tapi telingaku tetap saja gatal mendengar percakapan kalian berdua. Aku ingin pulang." Ucap ken sembari menatap langit langit rumah sakit.
Aku tersenyum malu. "Jangan dulu pulang mas, tangan kamu harus di gips dulu."
"Tanganku yang jadi korbannya." Ken mengusap tangannya yang tak bisa di gerakan.
"Maaf ya ken, kamu bisa cuti selama yang kamu mau." Ucap suamiku.
"Kalau bisa aku tak mau bekerja tapi gaji terus ada mengalir padaku." Ucapnya kini dia menatap kami berdua.
"Janganlah nanti perusahaan rugi, ngasih gaji sama orang yang tak bekerja." Timpal suamiku.
"Tapi tanganku, lihatlah karena tangan ini perusahaan berkembang pesat." Aku hanya jadi penonton di antara percakapan dua sejoli ini.
"Bodo amatlah dengan tanganmu, yang penting tanganku aman. Karena nanti malam dia akan menopang kisah cintaku yang sesungguhnya." Aku terbelalak, maksud dari ucapannya itu bukannya terlalu intim.
"Mulai berperang ya?"
"Tentu, apa gunanya ada musuh kalau tidak di perangi."
"Jangan terlalu gusar, takutnya musuhmu jatuh dalam waktu singkat."
Aku tak mengerti apa yang mereka katakan, aku hanya menjadi pendengar setia saja di pertengahan.
"Ey, musuhku sangat lihay dalam menaklukanku. Aku takutnya bukan musuh yang kalah tapi aku yang kalah."
"Semangat bro, pedangmu sudah kau asah?"
"Pedang? Kamu punya pedang sayang?" Rupanya suamiku memiliki pedang, tapi aku gak pernah melihatnya sama sekali selama menikah dengannya. Apa di sembunyikan supaya aku tak tahu.
__ADS_1
"Punyalah." Balas suamiku angkuh.
"Aku gak pernah lihat kok."
"Belum waktunya."
"Tenang alena nanti malam, kamu akan menemui pedang itu." Timpal ken, nanti malam?
"Sudahlah ken jangan membahas pedang, kalau di bahas takutnya nanti malam malah menolak untuk di keluarkan."
"Oke bi."
Percakapan pun berakhir dengan membahas pedang, aku berpikir untuk apa suamiku menyimpan pedang apa dia akan berperang?
"Sayang kamu kok ngelamun?" Abi membuyarkan pikiranku yang terus bertanya tanya tentang pedang.
"Nggak kok, aku nggak ngelamun."
"Jangan jangan ngelmunin pedang ya?" Ken menggodaku.
"Nggak."
*****
"Sayang kamu yakin, udah gak papa?" Tanyaku, hari ini juga sudah keluar dari rumah sakit. Sedangkan ken masih menjalankan perawatan karena patah tulangnya itu.
"Iya sayang gak papa."
"Sayang mobi yang meledak itu.."
"Gak papa nanti di buang saja ke rongsokan." Ucapnya padahal aku belum selesai bicara.
"Ya sudah kalau begitu."
Sesampai di rumah, mama mertua berlari menghampiri kami.
"Kamu gak papa kan bi?" Ucap mama hawatir dan seraya menyelidik setiap inci tubuh abi takutnya ada yang luka.
"Gak papa ma, lihat abi sehat kok."
"Tunggu, sayang lutut kamu kenapa?" Tanya mama seraya jonhkok menyeimbangkan tingginya dengan lututku.
"Lutut?" Aku melihat lututku ternyata ada luka, tapi aku tak merasa sakit.
"Lutut kamu sobek sayang."
Abi yang mendengar ucapan mama, langsung melihat lututku. Dia memegang lukaku itu, aku meringis kesakitan.
"Aww.." Rintihku.
"Obati cepet." Suruh mama.
Abi membawaku ke kamar dengan menggendong.
"Biar abi yang obati, mama gak usah hawatir."
Kamar
"Pelan pelan sayang."
"Iya ini pelan kok."
"Nah selesai, gak sakitkan sekarang?"
"Nggak."
"Kita mandi yuk."
"Mandi?" Tumben dia ngajak aku mandi, bukannya dia ingin mempetlihatkan pedang padaku.
__ADS_1
"Iya kita mandi, mandi bareng."
Aku membulatkan mata. "Mandi bareng?"