My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 26


__ADS_3

Me 'Hallo lu ada apa?'


Lulu 'Kakak tolongin lulu, kaki lulu sakit tadi jatuh di tangga'


Me 'Apa?'


Lulu 'Cepat kak bantuin lulu, hiks hiks'


Me 'Aku berangkat ke sana'


"Ada apa sayang kok kamu panik gitu?" Tanya alena.


"Lulu jatuh dari tangga." Balasku, segera ku lajukan mobilku dengan kecepatan ala pembalap.


Pov end..


"Sayang jangan ngebut ngebut, aku takut." Sergahku seraya berpegangan pada pegangan mobil.


"Tenang sayang." Balas suamiku santai, sedangkan dia tak menghiraukan rasa takutku.


Aku hanya terdiam dan berpegangan dengan erat, secemas itukah suamiku pada lulu. Aku berpikir, apa kalau aku terluka seperti lulu diakan secemas ini?


Aku masih di baluti rasa tak percaya sepenuhnya pada suamiku ini, dia begitu berbeda saat mengetahui lulu terluka. Sejujurnya aku cemburu, setidaknya dia harus mendengarkanku bukan? aku memintanya agar tidak membawa mobil dengan kecepatan tinggi, tapi dia hanya berucap tenang.


Rumah Lulu


Suamiku, dia berlari menuju ke dalam rumah lulu dan sepertinya tak menyadari keberadaanku. Aku pun mengekor di belakangnya, ku lihat lulu yang sedang meringis kesakitan sesegera suamiku menggendongnya dan membawanya ke dalam mobil.


"Tahan ya lu, kita ke rumah sakit sekarang." Ucapnya seraya memasangkan sabuk pengaman lulu, sedangkan aku dia sama sekali tak menghuraukanku. Saat aku hendak menghampiri mobi, tiba tiba mobilnya melaju. Apa dia tak ingat kalau dia datang bersamaku?


Aku berjalan menelusuri jalanan di bawah teriknya matahari siang, aku mengingat setiap perlakuan suamiku pada lulu. Rupanya dia tidak berubah, selalu mementingkan wanita itu. Tak terasa air mata jatuh dari pelupuk mataku, aku mengusapnya dengan ujung jari telunjukku.


Hari ini begitu cerah, panasnya terik matahari begitu menancap di pucuk kepalaku. Aku kehilangan keseimbangan, penglihatanku begitu buram kaki melangkahpun terasa berat.


Brugg, dan akhirnya aku tak ingat apa apa.


***


Aku mengucek mataku, dimana aku?


Kenapa aku tidur disini? Ku dengar ada langkah kaki menuju tempatku berbaring.


"Kamu gak papakan?" Tanyanya, siapa dia aku tak mengenalnya.


"Aku baik baik saja, aku ada dimana?" Aku berbalik bertanya.


"Tenang saja kamu aman kok, saya juga bukan orang jahat. Saya melihat kamu pingsan di jalanan jadi saya menolong anda." Jelasnya, rupanya aku pingsan dan laki laki ini telah menolongku.


"Terimakasih." Ucapku.


"Sama sama." Balasnya seraya duduk di samping trmpatku berbaring, aku sedikit beringsut menjauh darinya.


"Omong omong siapa namamu?" Tanyaku.


"Namaku remon, namamu siapa?" Tanyanya balik.


"Aku alena, terimakasih remon kamu sudah menolongku." Aku turun dari tempat itu.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?"


"Aku harus pergi kerja."


"Rupanya kamu seorang pekerja ya." Ucapnya.


"Iya, jadi terimakasih atas pertolonganmu saya permisi." Ucapku dan meninggalkan Remon yang terpatung di tempat tidur.


Aku harus menelpon suamiku, memberitahu dia kalau aku belum sampai ke kantor takutnya dia mencari ku.


Me 'Hallo sayang, kamu dimana?'


Suami 'Aku masih di rumah sakit'


Jleb, hatiku sakit jadi dia masih setia menunggu wanita itu. Sedangkan aku dia tak hawatir dengan keadaanku, padahal aku baru saja bangun dari pingsan.


Me 'Oh ya sudah, aku tutup teleponnya ya'


Tanpa mendengar balasannya, aku langsung mematikan sambungan telepon itu. Bodoh, kenapa aku harus menyatakan cinta padanya kalau akhirnya aku sakit hati begini. Dia juga, seharusnya dia bilang kalau dia masih ada rasa sama lulu.


Di kantor aku hanya memainkan ponsel saja, bekerja pun tak ada semangat sama sekali. Suami juga tak ada dia sedang menjadi pahlawan untuk wanita lain, memang dunia ini menyebalkan.


Saat istirahat pun suamiku tak terlihat sama sekali, dia benar benar melupakan aku dan lebih menemani wanita itu.


"Kamu sedang apa, kok ngelamun sendirian?" Aku di kejutkan oleh suara bas lelaki yang barusan duduk di hadapanku.


"Ah mas ken." Aku melihatnya duduk di hadapanku dengan dua botol minuman di tangannya.


"Nih." Dia memberiku minuman, akupun mengambilnya. "Minum biar rileks."


Slurppp, minuman bersoda itu mengalir melalui kerongkonganku. Segar, rasanya aku terhanyut dalam segarnya minuman itu. Seketika aku mengingat apa yang terjadi tadi pagi, ingin rasanya aku mencabik cabik wanita itu, walau aku tahu dia teman masa kecilnya suamiku aku tetap membencinya.


"Mas aku mau ngomong, serius nih." Ucapku.


"Apa coba? Biar aku dengar siapa tahu aku bisa membantu." Ucapnya antusias.


"Mas, tolong carikan aku cowok..." Belum selesai ucapanku tiba tiba sekretaris Ken memotong.


"Apa apaan kamu, kok tiba tiba minta di carikan cowok kamu gak berniat cerai dalam waktu dekat inikan?" Teriaknya, aku langsung menutup mulutnya takutnya kedengeran staff lain, apalagi kalau jia tahu beuh bisa berabe merekakan gak tahu kalau aku sudah menikah.


"Mas jangan keras keras dong kalau ngomong." Sergahku seraya melepas sumpalan tanganku di mulutnya.


"Maaf refleks, kamu sih ngomong minta di cariin cowok gimana aku gak histeris coba." Ocehnya, aku hanya tersenyum melihat tingkah sahabat dari suamiku ini.


"Alena kamu itu jangan berpikir untuk mendua, masa kontrak kamu kan satu tahun masih ada tujuh bulan lagi menuju satu tahun, kamu harus sabar sedikit."


"Pfftt, ngakak banget sih." Timpalku, menertawakan sekretaris Ken.


"Kok ngakak? Aku gak ngelawak loh, aku serius." Ucapnya serius.


"Kamu lucu mas, haha.." Aku terbahak menertawakan perkataannya itu.


"Terus kamu gimana sama ucapan kamu tadi?"


"Ucapan yang mana mas?"


"Yang minta di cariin cowok, itu gak serius kan len?"

__ADS_1


"Serius mas, aku minta di cariin cowok bukan buat aku."


"Terus buat siapa?"


"Lulu." Balasku malas mengucapkan nama lulu.


"Jadi kamu berniat nyariin cowok buat lulu?"


"Iya mas, tadi pagi aku sama suamiku sudah sepakat buat nyariin lulu cowok, baru saja ngomong gitu suamiku malah tergesa gesa nyamperin si lulu. Aku kese mas masa aku di tinggalin, istri sendiri di suruh jalan kaki sedangkan lulu naik mobil duduk manja di sebelah suami." Jelasku dengan raut muka cemberut.


"Maksud kamu?" Sekretaris Ken ternyata lola ya, atau aku yang berbelit belit.


"Sudahlah mas, intinya tolong cariin cowok buat si lulu." Ucapku seraya beranjak.


"Mau kemana?" Tanyanya.


"Aku pergi menemui mereka." Tunjukku kepada tiga orang yang berjalan menuju kantin.


"Mereka mengganggu sekali." Gumam Sekretaris Ken.


"Ketua, pak ben, jia i miss you." Aku berlari menghampiri mereka.


"Plis deh lebay banget alena." Cetus pak ben.


"Alena i really miss you." Jia memelukku dan menangis manja.


"I miss you more." Timpal ketua Hena, yang ikut memelukku juga. Sedangkan pak ben, dia melihat kami berjingkrak sambil berpelukan pun dia terlihat berkaca kaca.


"Cukup, ini memalukan." Pak ben melenggang dari hadapan kami bertiga.


"Pak ben mah gitu." Teriak jia, dia tak menghiraukan orang orang yang melihat tingkah kami bertiga.


"Kita makan yuk, laper." Ucap ketua Hena.


Pov author..


Seharian ini abi benar benar menunggu lulu di rumah sakit, dia benar benar melupakan alena.


Drtt...drttt


Ponsel abi bergetar, segera abi merogoh ponsel itu dalam saku jas nya.


Me 'Iya ken ada apa?'


Ken 'Istrimu curhat, dia bilang dia di campakan'


Me 'Aku lupa, dimana sekarang alena?'


Ken 'Sepertinya ada laki laki yang menemuinya'


Me 'Laki laki? Siapa?'


Ken 'Intinya dia bukan mantan pacarnya'


Me 'Aku segera ke kantor'


Setelah mendengar perkataan ken, abi segera melesat pergi ke kantor dia meninggalkan lulu yang masih tertidur akibat meminum obat penenang.

__ADS_1


"Siapa laki laki yang menemui alena selain doni?"


__ADS_2