My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 33


__ADS_3

"Pak, saya harus pulang. Saya gak bisa tinggal diam begini, sedangkan orang tua saya akan di buat kesulitan sama juragan yang mau nikahin saya." Ucap Jia begitu serius kepada Ken.


"Kamu yakin mau pulang?" Ken memastikan keputusan yang diambil Jia.


"Saya yakin, pak." Lirih Jia.


"Baik kalau begitu, saya akan antar kamu pulang."


"Gak usah pak, saya bisa sendiri."


"Sudah, saya akan antar kamu."


Jia pun tak bisa mengelak lagi, dia juga sebenarnya sangat takut kalau pulang sendiri pasalnya mungkin nanti dia benar benar akan di nikahkan.


"Sepertinya aku harus mengantar Jia pulang." Ucap Ken kepada Alena dan Abi.


"Loh kok pulang?" Alena kecewa karena belum bisa bersenang-senang dengan Jia dan Ken.


"Maaf ya Alena, aku gak bisa biarin juragan menindas kedua orang tuaku." Sambung Jia.


"Aku ngerti perasaan kamu saat ini Jia, kalau gitu aku sama suamiku ikut anterin kamu ya."


"Tapi Len, gak perlu."


"Ayolah ji, aku mau bantu kamu."


"Tapi aku jadi nggak enak sama kalian semua."


"Sudahlah, lagian Ken juga gak bisa bawa mobil dengan keadaan tangannya yang seperti itu." Timpal Abi.


"Baiklah, kalau kalian memaksa." Jia pun tak bisa menolak.


****


"Tolong bawakan Jia ke hadapan saya, sekarang juga." Pinta juragan Danang.


Ibu Jia tertegun, suaminya tergeletak lemah dan pilihan terbaik untuk menyelamatkan suaminya adalah anaknya sendiri.


"Kenapa diam? Bisakan bawa Jia ke hadapan saya."


"S-saya gak bisa menjamin akan hal itu."


"Bodoh." Juragan Danang mendorong tubuh ibunya Jia sampai terjungkal.


"Ampuni kami juragan." Pinta ibunya Jia.


Tangan kanan juragan Danang siap melayangkan satu tamparan ke arah ibunya Jia, saat tangan itu mengayun sebuah tangan berhasil menghentikannya.


Juragan Danang melihat ke arah pemilik tangan itu. "Calon istriku."


Jia menepis tangannya. "Jangan macam-macam dengan keluarga saya."


"Kenapa kamu terlambat, penghulunya sudah pulang." Ucap juragan Danang.


Jia memasang raut muka dingin, dia begitu jijik melihat laki laki yang ada di depannya.


"Sayangku." Juragan Danang mengelus pipi halus milik Jia, sontak Jia membuang muka.


"Kenapa?" Tanya juragan Danang.

__ADS_1


"Singkirkan tangan kotor anda dari muka saya, menjijikan." Maki Jia.


"Menjijikan?" Juragan Danang menampar muka mulus Jia tanpa ampun.


Jia tersenyum setelah mendapat tamparan dari juragan Danang.


"Jangan tampar anak saya, saya mohon." Ibu Jia angkat bicara, melihat putrinya di tampar.


"Saya sudah bilang, nyawa putri anda tidak akan sia sia jika mati di tangan saya." Seringai juragan Danang.


Sedangkan di dalam mobil, Alena ken dan Abi. Menyaksikan pertikaian yang tengah terjadi di depan mata mereka.


"Sayang, Jia kena tampar." Alena tak sanggup melihat sahabatnya yang kena tampar.


"Tenang sayang." Abi mencoba menenangkan istrinya.


"Bodoh, kenapa dia diam saja saat di tampar. Kalau saja tanganku gak cedera, sudah ku cincang lelaki itu." Batin Ken membara.


"Apa anda sudah puas?" Teriak Jia.


"Jia sayang, kemarilah jangan teriak begitu pada calon suamimu ini."


"Najis." Maki Jia.


"Kurang ajar." Satu tamparan mendarat di wajah Jia.


Nafas Jia menderu bagaikan ombak di lautan, dia berada di puncak amarah.


"Dengarkan saya baik baik, saya gak akan Sudi menikah dengan anda dan saya akan melunasi hutang ayah saya." Ucap Jia penuh penekanan.


"Sombong sekali kamu, memangnya kamu punya uang? Orang miskin jaman sekarang belagunya minta ampun, heran. Sok Sokan mau bayar hutang." Juragan Danang menghina keluarga Jia.


"Cukup." Sergah Ken.


"Siapa anda?" Tanya juragan Danang dengan tampang belagunya.


"Anda tidak perlu tahu siapa saya, berapa hutang keluarga mereka?" Ucap Ken.


"Anda tidak akan sanggup bayar hutang mereka, hutang mereka terlalu besar." Juragan Danang meremehkan Ken.


"Memangnya berapa?" Timpal Abi yang ada di belakang Ken.


"Kalian siapa hah? Kenapa kalian ikut campur?" Juragan Danang kebingungan kenapa ada orang yang ikut campur dalam urusannya dengan keluarga Jia.


"Cepat jawab, berapa?" Tegas Abi.


"Lima puluh juta." Tekan juragan Danang, dia mengira Abi tidak sanggup bayar hutang keluarga Jia.


"Cash apa cek?" Tutur Abi membuat juragan Danang mematung.


"Saya mau cash." Seringai juragan Danang.


"Baik." Abi pergi menuju mobil, dia mengambil koper kecil yang isinya uang yang telah disiapkannya.


"Ini." Abi menyerahkan koper isi uang itu kepada juragan Danang, pun juragan Danang mengambilnya.


"Puas anda?" Tanya Alena.


"Sangat amat puas." Juragan Danang pergi dari kediaman Jia dengan raut muka senang.

__ADS_1


"Pak Presdir terimakasih." Ucap Jia.


"Sama sama, imbalannya lebih giat bekerjanya." Ucap Abi, dengan entengnya dia bilang imbalan.


"Sayang." Bisik Alena seraya mengelus pelan lengan suaminya itu.


"Bercanda." Abi tersenyum.


"Kurang ajar ya bos kita makin kesini." Maki Ken yang melengos pergi memasuki mobil.


"Kamu yang kurang ajar, bisa bisanya memakai bos sendiri. Di pecat baru tahu rasa." Balas Abi, Alena dan Jia tersenyum mendengar pertikaian antara sekretaris dan Presdir.


"Sudah sayang, malu sama keluarga Jia." Ucap Alena.


"Pak Presdir maaf telah merepotkan Anda." Ucap ibu Jia, bangkit dari duduknya.


"Tidak apa-apa Bu, semoga cepat pulih keadaan keluarga kalian." Balas Abi, ramah.


Pov end...


Setelah kejadian yang menimpa keluarga Jia selesai, aku dan suami terlebih dahulu mengantar mas Ken ke rumahnya.


"Terimakasih kepada pasutri yang rela mengantar bujang pulang ke rumahnya dengan selamat, saya ijin masuk rumah. Dan semoga hari hari kalian bahagia." Ada apa dengannya, sepertinya mas Ken kurang belaian seorang wanita.


"Baik terimakasih, bujang lapuk. Dan semoga hari anda lebih menyenangkan dari kami pasutri yang bahagia." Balas Abi, aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepala mendengar ucapan mereka berdua.


"Sudahlah sana pulang." Mas Ken menendang mobil punya Abi.


"Ban mobil saya limited edition loh, kalau gugus gak ada gantinya. Gaji anda juga tak bisa menutupi ganti ruginya." Aku makin terbahak mendengar celotehan suamiku, apa apaan ban limited edition.


"Kalau gitu saya gak akan ganti rugi, oh ya Alena, semoga mimpimu indah ya." Mas Ken memasuki rumahnya.


"Kurang ajar, ngapain pamit sama istri orang."


"Ayok pulang, kita ehm ehm." Aku memberi kode pada Abi, dia pun tersenyum tanda mengerti.


"Sayang nanti jangan lupa pakai baju seksi ya." Bisik Abi, bisikan nya membuat bulu kudukku berdiri.


"Apa sih kamu." Aku menepuk pelan lengannya, lalu menjatuhkan kepala pada bahunya.


Nyaman sekali, aku wanita paling beruntung di dunia. Memiliki suami yang ganteng, baik, penyanyang dan dingin.


"Kamu itu cantik kalau lagi, telanjang." Bisiknya, aku menatap malu suamiku itu.


"Gak lucu tahu." Aku memalingkan wajah darinya.


****


"Selamat malam anak anakku." Sambut mama mertua, yang ada di ruang tengah.


"Mama." Aku menghampiri mama mertua.


"Sini deh kalian."


"Ada apa ma, Abi mau mandi nih."


"Begini." Ucap mama mertua, seraya menatap lekat kami berdua.


Aku kebingungan, kenapa? Dan ada apa mama mertua kok kayak serius begini.

__ADS_1


__ADS_2