
"Ayo sayang agak ngebut bawa mobilnya, aku khawatir banget sama Jia."
"Sayang ini udah ngebut banget."
****
"Coba jelasin sama aku, kenapa bisa ada di rumah sekretaris Ken?"
"Karena aku gak mau nikah."
Jia terlihat begitu frustasi, sebenarnya apa yang terjadi pada Jia?
"Kamu pasti terguncang ya?" Aku memeluk Jia, dia hanya menangis dalam pelukanku.
"Cup cup cup." Aku menepuk nepuk pelan punggungnya.
"Sebenarnya apa yang terjadi Ken?" Abi pun angkat bicara.
"Semalam dia melakukan percobaan bunuh diri." Balas Ken.
Aku yang mendengarnya begitu terkejut. "Bunuh diri?"
Jia melepas pelukannya, dia menatapku penuh kesedihan.
"Kenapa kamu mau bunuh diri ji?" Aku bertanya kepada Jia seraya menggoyang goyangkan badannya. "Kamu gila ya, hah?"
"Sudah sayang jangan terlalu keras gitu, Jia kelihatannya stres." Timpal Abi.
"Maaf." Hanya maaf yang keluar dari mulut Jia.
"Kenapa ji?" Aku hanya ingin mendengar alasan yang tepat dari Jia namun Jia hanya terdiam saja.
"Sudahlah Alena, dia sedang frustasi. Nanti juga dia cerita, bantu tenangkan saja dulu." Ucap Ken memberi saran.
"Iya sayang, betul apa yang di katakan Ken."
"Baiklah." Aku akhirnya mengalah.
Ken menghampiri Jia, lalu dia berbisik pada Jia, kira kira dia bicara apa ya.
Pov author..
Jia terlihat gugup saat di depan Alena dan Abi, dia bingung menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Jia hanya bisa menangis dalam pelukan Alena, sedangkan Alena, sebagai seorang teman ingin benar benar membantunya.
"Jelaskan sendiri." Bisik Ken tepat di samping telinga Jia, Jia menatap Ken dengan tatapan nanar.
Ken mengangguk pelan, mengisyaratkan agar Jia jujur kepada Alena.
"Aku gak bisa cerita sama Alena, tapi aku harus cerita." Batin Jia.
Alena mengelus pelan punggung Jia, dia berharap Jia bicara jujur padanya.
"Aku keluar ya, kalian bicara saja." Ucap Ken, dia memberikan luang kepada Jia untuk menceritakan kejadian yang tengah terjadi pada Jia.
"Kalau gitu aku juga keluar dulu." Timpal Abi.
Di ruang tamu tinggal hanya ada Alena dan Jia, Jia mulai angkat suara.
"Maaf bikin kamu khawatir, aku gak tahu apa yang harus dilakukan selain percobaan bunuh diri." Jelas Jia.
"Apa yang membuat kamu sefrustasi ini, ji?"
"Aku gak mau nikah sama laki laki yang sudah punya istri." Lirih Jia.
"Apa?"
"Karena hutang aku di paksa menikah."
"Aku gak nyangka, orang tua kamu setega itu nikahin anaknya sendiri pada laki laki yang sudah beristri." Alena kesal mendengar temannya akan menikah dengan laki-laki yang sudah beristri.
"Karena kalau aku menikah hutang ayah akan lunas, padahal Len aku mau kok bayar hutang ayah walau harus nyicil lama."
__ADS_1
"Aku percaya, kamu pasti bisa bayar hutang itu."
"Jadi Len, aku mohon jangan kasih tahu ibu aku kalau aku ada disini."
"Baiklah."
****
"Kok kamu sudah keluar dari rumah sakit?" Tanya Abi pada Ken.
"Suntuk." Balas Ken singkat.
"Itu doang?"
"Hmmm."
"Sorry, karena aku tanganmu jadi kayak gini."
"No problem, kamu sahabatku jadi gak usah khawatir."
"Okelah."
Pembicaraan antara cowok, yang sifatnya benar benar dingin.
"Omong-omong bi, gimana sama Lulu?" Tiba tiba Ken menanyakan perihal Lulu.
"Sudahlah, aku sedang fokus pada pernikahanku dengan Alena. Aku gak mau mengecewakan Alena lagi."
Raut muka Ken berubah saat mendengar perkataan Abi.
"Pada akhirnya aku bukan siapa-siapa untuk dia." Gumam Ken pelan.
****
"Kok kamu pake baju gede gini? Jangan bilang ini baju mas Ken?" Goda Alena.
"Iya, ini milik sekretaris Ken."
"Apa sih, eh minjem baju dong."
"Minjem baju?"
"Iya, masa aku pakai baju ini terus."
"Oke bentar ya, ada kok di mobil."
"Ada?"
"Ada, kemana mana aku selalu bawa baju buat jaga jaga aja."
"Padahal kamu kan kaya, kemana mana kok bawa baju tinggal beli aja apa susahnya."
"Kalau ada ngapain harus beli, sayang uangnya lebih baik pake buat anak yatim."
"Kamu itu, udah cantik baik pula."
"Terimakasih atas pujiannya, Jia."
"Hahaha......"
****
"Sayang." Alena memanggil Abi , yang tengah asyik ngobrol sama Ken.
"Iya sayang." Sahut abi begitu cepat.
Alena tersenyum manis. "Tolong ambilin tas yang ada di bagasi mobil ya, urgen nih."
"Baik tuan putri." Abi segera mengambil tas yang ada di dalam bagasi mobil.
"Ada apa mas?" Tanya Alena pada Ken, rupanya Ken mengamati pasutri yang tengah bucin bucinnya.
__ADS_1
"Nggak." Balasnya. "Ah iya, gimana Jia dia sudah lebih tenangkan sekarang?"
"Sudah dong, aku kan sahabatnya." Ucap Alena begitu sombong.
Ken melihat Alena dengan tatapan yang sulit di artikan, dia tersenyum melihat kelakuan Alena. "Iya, kamu sahabatnya."
"Sayang ini tasnya." Abi menyodorkan tas yang di minta istrinya itu.
"Makasih sayang, mwuahh." Alena pergi dengan kiss bye nya, Abi tersipu melihatnya.
"Jangan pingsan, kamu berat aku gak kuat." Cetus Ken meninggalkan Abi yang tengah tersipu di luar rumah.
"Jantung aman." Gumam Abi seraya tersenyum sendiri.
****
"Ini nih bajunya." Alena memberikan mini dress miliknya pada Jia.
"Apa gak terlalu seksi?" Tanya Jia, sejujurnya Jia kurang nyaman dengan pakaian yang sedikit terbuka, karena dia terbiasa memakai celana jeans panjang.
"Nggak, percaya deh. Pasti cocok sama kamu." Alena terus menempelkan baju itu di tubuh Jia.
"Ya sudah." Jia mengambilnya lalu masuk ke dalam kamar untuk berganti pakaian.
"Gimana sudah selesai?" Tanya Ken yang baru sampai.
"Ah, masih di coba." Jawab Alena.
"Begitu ya?"
"Iya."
"Len." Panggil Jia yang baru keluar dari kamar.
"Cocok banget, bukan begitu mas?"
"Iya." Balas Ken.
"Tapi Len, ada satu hal yang kurang nih." Ucap Jia pelan.
"Ada yang kurang, apa?" Alena bertanya tanya.
"Ini." Ucap Jia, memutar bola matanya.
"Apa sih?" Alena malah kebingungan.
"Ah ini, masa gak ngerti sih." Jia frustasi karena Alena nggak ngerti ngerti.
"Apa sih Jia, kamu bikin orang bingung saja." Timpal Ken yang ikut ikutan kesel.
"Ah, aku frustasi." Teriak Jia, Alena dan Ken melihatnya sampai benar-benar kebingungan.
"Ada apa ini?" Abi berlari, dia begitu khawatir.
"Ini Jia, gak tahu kenapa dia bilang frustasi." Balas Alena.
"Kami berdua jadi kebingungan di buatnya ." Sambung Ken.
"Ada apa Jia, ayo bicara mungkin kita bisa membantu." Ucap Abi.
"Baik pak." Balas Jia lesu.
"Ada apa Jia?" Lagi lagi Alena bertanya.
"Ayo bicara." Sambung Ken.
Jia yang pusing dengan keadaan yang membuatnya semakin pusing, dia berteriak.
"Saya butuh BH sama ****** *****." Teriak Jia frustasi.
Ken dan Abi sontak saling tatap, keduanya menelan kasar saliva. Sedangkan Alena dia malah senyum puas.
__ADS_1
"Ah BH sama ****** ***** ya." Seringai Alena.