
"Bi, tolong kupasin apel ya." Titah Sera kepada bi Sumi.
"Baik Bu."
Hari ini Sera hanya bermalas-malasan di rumah, karena suami, anak dan menantunya tak ada di rumah.
"Bosan sih tapi enak juga." Gumam Sera seraya mengoleskan cat kuku ke kuku jari tangannya.
Dari dapur datang bi Sumi dengan nampan yang berisi air mineral dalam gelas, dan sepiring apel yang telah di kupas.
"Ini Bu." Bi Sumi meletakan nampan di meja yang ada tepat di samping kursi yang tengah di duduki Sera.
"Makasih bi."
"Bibi pamit ke kebelakang lagi, mau lanjutin nyuci."
"Iya bi."
Bi Sumi beranjak, dia pergi ke belakang melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
"Jenuh banget seharian di rumah."
Karena pintu rumah terbuka, Becky nyelonong masuk ke rumah Abi tanpa permisi.
"Pagi jeung Sera." Sapa Becky, Sera sontak terkejut.
"Astaga, Becky. Kamu ngagetin saya aja." Bentak Sera, bukannya takut, Becky malah duduk di samping Sera.
"Ada perlu apa kamu datang ke rumah saya?" Tanya Sera dengan mimik yang elegan.
"Saya mau pernikahan Abi dan Lulu di percepat."
"Apa?" Sera terkejut, tiba-tiba Becky membahas pernikahan.
"Santai aja Jeung, pernikahan ini harus secepatnya dilaksanakan."
"Saya gak yakin kalau anak kamu hamil oleh anak saya."
"Jeung gak tahu, karena bukan Jeung yang melakukannya. Jadi jangan menghalangi pernikahan ini, anak saya yang rugi disini. Saya tekankan, pernikahan Lulu dan Abi dilaksanakan minggu ini." Ucap Becky penuh penekanan lalu beranjak dan pergi.
Sera melongo dengan nafas tersengal. "Aku harus cari tahu siapa ayah dari anak yang sedang di kandung Lulu."
Sera membuka handphone lalu mengetik nama kontak, Alena.
Tutt.. Tutt...
Alena 'Halo ma, ada apa?'
Me 'Kalian bisa pulang cepat, kalau bisa sekarang juga'
Alena 'Ada apa ma?'
Me 'Pulang aja dulu, mama akan jelaskan kalau kalian sudah ada di rumah'
Alena 'Baik ma, aku sama suami pulang sekarang'
Sambungan telepon terputus, Alena buru buru menghampiri suaminya yang sedang memberi makan ikan di empang.
__ADS_1
"Sayang." Panggil Alena.
"Ada apa sayang?" Sahut Abi, lalu menghampiri Alena.
"Kita harus pulang sekarang, mama barusan telepon aku. Terus mama nyuruh kita pulang sekarang." Ucap Alena tergesa-gesa.
"Iya iya, tenang dulu jangan buru-buru gitu ngomongnya."
"Ayo kita siap siap, kita pulang sekarang aku takutnya ada apa apa sama mama."
"Iya sayang, iya."
****
Sampai di rumah Abi
"Ma, ada apa ma?" Tanya Alena.
"Abi mama bingung, apa keputusan mama ini benar apa salah?"
"Maksud mama apa sih?" Tanya Abi, yang tak paham maksud mamanya.
"Bi, mending kalian berdua pergi dari rumah ini." Tiba-tiba Sera menyuruh Abi dan Alena pergi meninggalkan rumah.
"Maksud mama gimana? Kok Abi makin gak ngerti." Abi mengusap dahinya.
"Coba jelaskan alasan mama nyuruh kita berdua pergi dari rumah, biar jelas gitu ma." Ucap Alena.
"Begini, tadi pagi mamanya lulu datang ke rumah. Dia bilang pernikahan Abi dan Lulu harus di laksanakan Minggu ini, mama gak mau kamu nikah lagi, bi." Ucap Sera, mengkhawatirkan pernikahan pertamanya dengan Alena. Karena hanya Alena menantu yang paling Sera inginkan, bukan yang lain.
"Apa?" Alena yang mendengarnya kesal. "Kok bisa gitu sih ma? Anaknya aja belum tentu anak suamiku."
"Mama juga tahu, bi." Balas Sera.
"Kenapa ada aja gangguan dalam pernikahan kita sayang." Ucap Alena frustasi.
"Sayang hei, jangan ngomong gitu." Abi memeluk istrinya.
"Mama gak habis pikir sama Lulu, kok dia tiba-tiba bilang hamil dan minta kamu yang tanggung jawab." Sera keheranan, dengan apa yang menimpa Lulu.
"Lulu hamil?" Tanya suami Sera dari arah pintu masuk.
Sera melongo seraya menatap kedatangan suaminya. "Papa."
Abi dan Alena saling tatap, dan ketar ketir.
Suami Sera pasti akan mendukung pernikahan Abi dan Lulu, karena dari dulu juga suami Sera lebih memilih Lulu untuk jadi menantunya ketimbang Alena.
"Lulu hamil sama Abi, apa itu benar?" Tanya suami Sera.
Sera, Abi dan Alena hanya terdiam, tak ada yang menjawab pertanyaan suami Sera.
"Jawab, apa benar Lulu hamil anak kamu Abi?" Tekan suami Sera, kepada tiga orang yang ada di hadapannya. "Kenapa diam, apa itu benar?"
Sera menarik nafas. "Bukan lah pa, masa Abi ngehamilin Lulu. Abi kan punya istri pa."
"Papa gak nyangka sama kamu bi, pokoknya pernikahan Abi dan Lulu harus dilaksanakan secepatnya. Papa mau diskusi dengan papanya lulu."
__ADS_1
"Sayang." Bisik Alena.
"Tenang sayang, aku gak akan nikah sama Lulu kok." Ucap Abi menenangkan istrinya.
"Tenang biar mama yang bujuk papa, supaya menghentikan pernikahan ini." Sera mengikuti suaminya.
Abi menggendong Alena yang mematung lemas, Alena tak habis pikir kalau benar suaminya akan menikah lagi dengan wanita masa kecil suaminya.
Kamar
Abi menurunkan Alena ke atas ranjang, lalu memeluk manja istrinya itu. Namun Alena tak bergeming sama sekali, dia malah bengong memikirkan pernikahan suaminya.
"Sayang." Panggil Abi, namun tetap saja Alena tak menghiraukan suaminya itu.
"Pasti Alena kepikiran tentang pernikahan ini." Batin Abi.
"Sayang coba sini lihat aku." Abi membalikan muka istrinya, lalu menatap lekat manik mata istrinya.
"Aku gak rela kamu nikah lagi." Pekik Alena, air matanya jatuh begitu saja.
"Sayang." Abi menghapus air mata yang jatuh ke pipi mulus istrinya, dengan manja.
"Aku gak mau berbagi suami dengan siapa pun, aku gak akan rela sayang walaupun itu dengan wanita yang pernah kamu sukai dulu." Tangis Alena pecah, Abi menghapus air mata istrinya yang mengalir deras dari pelupuk matanya.
"Sayang, percaya padaku. Kalau pun aku menikah dengan wanita lain, cintaku, perhatianku, waktuku dan semuanya itu hanya untuk kamu seorang. Cuma kamu wanita yang paling berarti dan berharga dalam hidupku." Jelas Abi meyakinkan Alena.
"Aku harap begitu, tapi aku lebih berharap kamu gak akan menikah lagi."
"Dan aku akan berusaha untuk tidak menikah lagi."
"Aku harap begitu, karena aku gak rela harus berbagi suami dengan orang lain."
"Sini, peluk aku." Abi merentangkan tangannya, Alena pun mendekat dan memeluk suaminya.
****
"Pa, jangan bilang ke mas Surya lah. Kan belum tentu Abi yang hamilin Lulu." Ucap Sera pada suaminya.
"Diam ma, ini persoalan yang serius."
Suami Sera membuka handphone nya, bersiap menelpon ayahnya Lulu.
Me 'Hallo mas'
Surya 'Iya'
Me 'Gimana kabarnya mas?'
Surya 'Fine fine aja, ada apa nih tumben nelpon?'
Me 'Iya, ini mau bahas Lulu sama Abi'
Surya 'Sudahlah mas Rega, saya sudah ikhlas kalau Abi lebih memilih wanita lain ketimbang Lulu, anak saya'
Me 'Bukan itu mas'
Surya 'Terus apa?'
__ADS_1
"Pa, tolong pertimbangkan lagi." Bisik Sera pada suaminya.
"Diam ma."