My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 50


__ADS_3

Aku turun menemui Lulu yang sedang menjemur bayi nya, dia begitu telaten mengurus bayi yang baru dua hari lahir itu.


"Hai anak cantik." Seruku.


"Hai." Balas Lulu mewakili anaknya yang masih bayi itu.


"Cantik banget kamu nak, lu boleh aku gendong anak kamu?"


"Boleh, ini juga aku mau bawa ke kamar." Ucapnya.


Aku pun menggendong bayi mungil itu, dan membawanya ke kamar. "Kamu sudah ada nama buat anak kamu?"


"Sudah." Jawab Lulu.


"Bagus deh."


"Oh iya Len, kamu gak berangkat kerja?" Tanyanya.


"Aku mau berhenti kerja." Tukasku.


"Berhenti? Loh bukannya jadi penulis sudah jadi cita-cita kamu sedari dulu?" Ucap Lulu, tunggu! Lulu kok tahu kalau aku ingin jadi penulis sedari dulu, darimana dia tahu?


"Iya sih, tapi ngomong-ngomong kok kamu tahu kalau jadi penulis itu cita-cita aku dari dulu?"


"Ah itu, kak Abi yang bilang."


"Oh." Aku ber oh saja.


"Sayang loh Len, kok kamu bisa melepaskan apa yang sudah kamu kejar selama ini dan pada akhirnya kamu berhasil. Padahal aku iri loh, aku gak berguna cuma bisa merepotkan orang tua saja. Aku juga ingin punya karir seperti kamu, tapi sayangnya buat aku itu mustahil." Jelas Lulu, hari ini Lulu sangat aneh gak biasanya dia seperti ini. Biasanya dia selalu ketus padaku tapi hari ini dia dengan santai mengatakan kekurangannya sendiri padaku.


"Are you okay lu?" Tanyaku, aku hanya heran saja.


Lulu menatapku dengan senyuman yang tulus. "Kenapa? Apa kamu gak pernah dengar aku bicara seperti ini?"


"Tentu, aku kan jadi khawatir sama kamu. Apa kamu sakit?"


"Aku gak sakit, aku hanya bicara seperti ini. Karena sebentar lagi aku akan jadi madu kamu, aku mau kita akur Len." Ucapnya, awalnya ku kira dia benar benar berubah ternyata dugaan ku salah, dia hanya ingin mengambil posisiku saja.


"Begitu ya." Aku menidurkan bayinya di atas kasur milik Lulu, lalu aku beranjak pergi meninggalkan Lulu dan anaknya.


****


"Sayang kamu dari mana saja? dari tadi aku nyariin kamu lho."


"Aku habis dari kamar Lulu."


"Habis ngapain kamu ke kamar Lulu?"


"Aku lihat bayi kamu."


Raut muka Abi berubah drastis. "Itu bukan anak aku."


"Aku yakin itu anak kamu." Aku terus meyakini anak itu anak Abi.


"Bukan." Abi terus membantah kalau anak itu bukan anaknya.

__ADS_1


"Terserah kamu deh, aku mau pergi ke rumah Jia." Aku hanya ingin menghilangkan stres, dan berencana pergi ke rumah Jia untuk membantu menyiapkan pernikahan nya dengan mas Ken.


"Gak kerja?" Tanyanya.


"Aku mengundurkan diri dari pekerjaan." Ucapku.


"Loh, terus gimana sama projek karya baru kamu?"


"Aku cancel semua projek baru, aku sudah capek dan waktunya aku mau istirahat dari pekerjaan."


"Sangat di sayangkan lho sayang, karya kamu itu sangat populer di kalangan pembaca. Mereka pasti menunggu karya terbaru kamu." Ucap Abi mengkhawatirkan karya yang sudah aku siapkan untuk projek terbaruku.


"Sudahlah sayang, aku mau berhenti menjadi penulis." Tegasku.


"Aku gak bisa memaksa, jika kamu mau berhenti, ya aku bisa apa. Keputusan ada di tangan kamu, aku akan menghargai keputusan yang kamu ambil." Ucapnya yang cukup menenangkan istrinya yang sedang kalut ini.


"Makasih sayang karena sudah mauengerti aku." Aku merangkulnya, dia pun menepuk pelan punggungku.


"Kamu mau ke rumah Jia kan?" Tanyanya, aku hanya mengangguk mengiyakan pertanyaan Abi. "Kalau begitu aku anterin kamu ya, sekalian berangkat kerja."


"Iya, bentar ya aku ambil tas aku dulu ya." Aku berlari ke kamar mengambil tas.


Pov Lulu...


Hari ini aku akan menjemur anakku yang cantik ini, saat sedang menjemur Alena datang menghampiri ku.


"Hai anak cantik." Serunya


"Hai." Balasku.


"Boleh, ini juga aku mau bawa ke kamar." Aku membolehkan Alena menggendong anakku.


"Kamu sudah ada nama buat anak kamu?"


Tiba-tiba Alena menanyakan nama.


"Sudah." Balasku singkat.


"Bagus deh." Wajah Alena sedikit cerita, setelah mendengar kalau anakku sudah ku siapkan sebuah nama. Dugaanku Alena ingin memberi nama untuk anakku, jangan harap kamu Alena.


"Oh iya Len, kamu gak berangkat kerja?" Tanyaku, biasanya Alena sudah siap untuk berangkat kerja.


"Aku mau berhenti kerja." Tukasnya, cukup membuatku kaget mendengarnya.


"Berhenti? Loh bukannya jadi penulis sudah jadi cita-cita kamu sedari dulu?"


"Iya sih, tapi ngomong-ngomong kok kamu tahu kalau jadi penulis itu cita-cita aku dari dulu?" Dia penasaran kenapa aku bisa tahu semua tentang apa yang dia cita-citakan sedari dulu.


"Ah itu, kak Abi yang bilang." Ucapku, lihatlah ekspresi wajahnya yang mendadak pucat.


"Oh." Alena ber oh saja.


"Sayang loh Len, kok kamu bisa melepaskan apa yang sudah kamu kejar selama ini dan pada akhirnya kamu berhasil. Padahal aku iri loh, aku gak berguna cuma bisa merepotkan orang tua saja. Aku juga ingin punya karir seperti kamu, tapi sayangnya buat aku itu mustahil." Jelasku, mungkin sekarang Alena merasa aku aneh.


"Are you okay lu?" Tanyanya, sudah kuduga kalau dia akan menanyakan apa aku baik-baik saja.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kamu gak pernah dengar aku bicara seperti ini?" Tanyaku sok tulus.


"Tentu, aku kan jadi khawatir sama kamu. Apa kamu sakit?"


"Aku gak sakit, aku hanya bicara seperti ini. Karena sebentar lagi aku akan jadi madu kamu, aku mau kita akur Len." Ucapku, mukanya begitu pucat kala aku mengucapkan kalau sebentar lagi aku akan jadi madunya dia. Alena Putri, terimalah nasibmu yang sebentar lagi akan berbagi suami denganku.


"Begitu ya." Lirihnya, lalu menidurkan anakku ke atas ranjang tempatku tidur. Alena pergi meninggalkan kamarku, aku sungguh bahagia melihat Alena sedih seperti itu.


Aku memindahkan anakku ke box tempat dia tidur, begitu nyenyak tidurnya. Aku senang ternyata mengurus anak tak semerepotkan yang orang bilang.


"Haus." Aku keluar dari kamar, betapa terkejutnya aku saat melihat dua orang insan tengah berpelukan begitu mesra, sakit sekali hati ini.


Saat Alena pergi mengambil tasnya, aku menghampiri Abi.


"Pagi kak." Sapaku pada Abi.


"Pagi lu, baby mana?" Tanyanya, aku senang karena dia menanyakan keberadaan anaknya.


"Baby tidur, kakak mau berangkat kerja ya?"


"Iya."


"Tapi kok belum berangkat? Sudah siang loh kak."


"Lagi nunggu Alena ngambil tasnya."


"Bukannya Alena sudah mengundurkan diri?"


"Iya, dia mau pergi ke rumah Jia."


"Begitu ya."


"Iya, kamu ada apa menghampiri aku?" Tanyanya.


"Oh iya kak, aku mau nitip kalau nanti pulang kerja tolong beliin pempers buat baby."


"Oke, dan iya lu, kamu kan sudah di bilangin jangan panggil aku kakak."


"Lantas?"


"Terserah kamu saja, asal jangan sayang." Tegasnya.


"Baiklah, mas."


"Begitu dong."


"Hai sayang." Ucap Alena yang baru datang.


"Sudah siap?" Tanya Abi pada Alena, Alena mengangguk sambil tersenyum. Rasa cemburu menggerogoti diriku, kenapa Alena boleh memanggil Abi dengan panggilan sayang sedangkan aku tidak.


"Kalau begitu kami pergi dulu ya lu." Ucap Alena.


"Iya, hati hati di jalan." Ucapku.


Mereka pun berlalu dari pandanganku, dengan hati yang acak-acakan aku harus pura-pura kuat melihat keromantisan mereka. Aku cukup lelah menjaga anakku, dan hari ini aku kesal melihat Abi dan Alena yang lengket macam lem. Mana Tante Sera dan suaminya sedang ada perjalanan bisnis ke luar negeri, aku harus bisa mengurus semuanya sendiri.

__ADS_1


Pov Lulu end....


__ADS_2