My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 27


__ADS_3

"Remon?"


"Hey, alena?"


"Iya, mau kemana?" Tanya Alena kepada remon yang hendak memasuki kantor milik suaminya.


"Mau ketemu dengan pemilik kantor ini, pak Abi Pangestu." Balas remon ramah.


"Presdir sedang tidak ada di kantor." Ucap alena.


"Ah sayang sekali." Remon menunduk lesu, dan berjalan menuju kursi yang ada di dekat pintu masuk kantor. Alena pun mengikutinya tanpa di minta.


"Ada hal apa kamu mau ketemu presdir?" Alena bertanya, apa yang membuat remon ingin menemui presdir.


"Kamu tahu gak?" Ucap remon semangat.


"Apa?"


"Kamu kerja disini kan? Kalau kamu kerja disini pasti kamu tahu penulis alput itu." Remon berucap penuh keceriaan.


"Alput?" Alena mengangguk pelan.


"Iya alput, masa kamu gak tahu dia itu penulis novel bidadari tuan muda. Nah tujuan aku kesini ingin memberikan kontrak kepada si penulis karena aku ingin membuat drama dari cerita itu."


Alena yang mendengar perkataan remon mendadak beranjak dari duduknya dan melongo, antara senang dan terharu. Dia mengekspresikannya dengan raut muka yang sulit di baca.


"Kenapa kamu berdiri?" Remon membuyarkan suasana hati alena yang sedang berkecamuk.


"Aku, aku kesemutan." Balas alena.


Di ujung pintu terlihat seorang pria dengan pakaian khas bekerja, berjalan ke arah alena dan remon.


"Siapa kamu?" Tanya abi kepada remon dengan nada dingin.


"Saya remon angkasa, ceo RA entertainment."


"Remon angkasa ceo RA entertainment?" Abi mengulang ucapan remon. "Oh saya baru ingat, anda anak dari pak arjo angkasa bukan?"


"Betul beliau ayah saya." Ucap remon sangat sopan.


"Kenapa anda bisa dekat dengan alena?" Tanya abi ke intinya, padahal mereka masih di pintu masuk.


"Oh tadi siang saya ketemu alena tergeletak di jalan, jadi saya menolongnya." Jelas Remon.


Alena mendelik saat abi menatapnya, dia masih kesal dan marah karena tadi pagi abi benar benar mengacuhkannya.


"Maaf saya permisi." Ucap alena memotong pembicaraan antara abi dan remon.


"Mau kemana?" Tanya abi.


"Bukan urusanmu." Ketus alena.


"Kalian sepertinya dekat sekali." Timpal remon, alena yang mendengar perkataan remon sontak berbalik dan mendekat ke samping abi.


Alena menginjak kaki abi dengan sengaja, dia memberi kode agar abi tidak berkata yang sebenarnya apalagi ini bukan di ruangannya.


Abi menatap jahat istrinya itu, abi sudah mengetahui alena pasti gak mau memberitahu kalau dirinya istri abi. Alena salah besar, rupanya abi berucap di luar dugaan alena.


"Iya kami sangat dekat, sedekat ini." Abi menarik badan alena supaya nempel dengan badannya.


Alena berusaha memberontak dia mengode abi dengan mulut komat kamit, tapi abi tak melihat alena sama sekali.

__ADS_1


"Wajar kan kalau suami istri sedekat ini."


Duar...


Semua mata dan telinga melihat dan mendengar penuturan abi, dan kini alena menjadi pusat perhatiaan orang sekantor.


"Kenapa di kasih tahu, aih aku malu semua mata tertuju padaku." Batin alena resah.


"Sayang jangan tegang dong." Tegas abi.


"Presdir apa apaan sih, lepas malu tahu." Alena menarik badannya dari pelukan abi.


"Alena kamu istrinya presdir?" Tanya remon seakan tak percaya.


"A-anu a-aku aku..."


"Iya alena putri istri saya, presdir abi pangestu." Tegas abi yang lagi lagi membuat para karyawan di perusahaan melongo.


"Jadi ini presdir perusahaan ini? Wah saya senang sekali bertemu dengan anda." Remon menjabat tangan abi, abi dia kebingungan kenapa tiba tiba remon menarik tangannya lalu menjabatnya.


"Ada apa ya? saya jadi bingung." Ucap abi yang sudah kebingungan dari tadi.


"Saya kesini mau bertemu dengan penulis alput." Jelas remon, yang jelas dia gak tahu kalau alput adalah alena putri orang yang ada di sebelah abi.


"Mau apa ketemu sama alput?" Tanya abi.


"Begini, aktor dari agensi saya mendapat hukuman dari channel televisi atas penayangan drama baru yang bocor dan sekarang drama yang akan di bintanginya sudah di ambil setengah dari naskah oleh channel televisi lain." Jelas remon.


"Lantas apa hubungannya dengan penulis alput?" Abi menyelidik setiap inci perkataan remon, apa hubungannya sampai hrus menemui alput.


"Apa dia hendak merekrut aktris baru, nggak jangan sampai alena jadi aktris dan sampai terkenal nanti banyak yang suka sama dia. Aku gak mau itu terjadi, cukup aku saja yang terkenal menjdi seorang presdir." Batin abi.


"Iya, saya kesini karena aktor sayalah yang katanya menyebarkan naskah dramanya. Jadi dia harus bertanggung jawab, sutradara meminta supaya aktor saya untuk mendapatkan kontrak dengan penulis alput." Remon menjelaskan kembali atas kedatangannya ke kantor abi.


"Tepat sekali." Ucap remon.


"Tapi maaf ya saya menyela pembicaraan kalian berdua, sebelumnya novel itu ada 16 jilid jadi akan panjang untuk di jadikan drama. Begini saja kalau iya novel ini akan di angkat jadi drama, novelnya akan di revisi terlebih dahulu." Jelas alena, dia begitu senang karena novelnya sebentar lagi akan di angkat jadi drama.


"Kok kamu begitu antusias?" Remon heran, kenapa yang sangat antusias dengan tawarannya itu.


"Tentu dia antusias, toh dia penulisnya." Ketus abi.


"Jadi alput itu alena ya, wah hebat." Remon berucap seraya menatap alena.


****


"Sayang apa tawaran itu akan kamu setujui?" Tanya abi seraya menjatuhkan kepalanya ke pangkuan alena.


"Entahlah." Balas alena lesu.


"Sayang kamu marah ya sama aku?" Abi mendongak menatap istrinya yang melamun. "Sayang jawab dong."


"Hmm.." Alena hanya berdehem saja.


"Sayang." Abi bangkit dari tidurannya, dia menatap lekat istrinya itu. "Kamu ngambek sama aku?"


Lagi lagi alena hanya berdiam diri saja, dia tak mendengarkan perkataan suaminya itu.


"Sayang, aku mohon jawab. Kalau kamu marah sama aku pukul saja aku, ayo pukul." Ucap abi seraya mengangkat tangan alena dan memukul mukulkan pada wajahnya sendiri.


Alena hanya menatap abi dengan tatapan malas, dia menepis tangannya lalu beranjak dan pergi dari ruangan abi. Pun abi ikut beranjak dan hendak mencegah alena keluar dari ruangannya.

__ADS_1


Alena menarik nafas dalam dalam. "Ada apa?" Lalu berbalik menghadap abi.


"Kamu marah? Ngambek? Atau apa?" Abi kebingungan dengan sikap alena hari ini.


"Tadi kamu gak gini loh sayang pas ketemu sama remon, tapi pas berduaan sama aku kamu berbeda banget. Kenapa sayang?" Abi terus menyelidik apa hal yang membuat istrinya berbeda.


"Pikirkan sendiri, dan lepas tangan kamu aku mau ke ruanganku." Alena berucap begitu dingin, abi pun melepaskan genggaman tangannya itu.


"Sayang." Lirih abi, tapi alena tidak menghiraukannya dan pergi dari ruangan abi tanpa berucap lagi.


"Sial." Abi mengutuk dirinya sendiri.


Abi benar benar berpikir, mencari tahu akar penyebab istrinya dingin seperti itu.


Pov end..


Dasar laki laki sialan, sudah melupakan kejadian yang baru tadi pagi terjadi dia malah nanya kenapa sama aku. Kalau bukan suamiku sudah ku cincang dia, untungnya dia suamiku. Hari ini semoga dia menyadari kesalahannya.


Aku pulang ke rumah tanpa abi, aku sengaja pulang lebih dulu agar gak bareng pulang.


"Sayang." Sambut mama mertua, setidaknya di depan mertua aku harus memasang muka ceria.


"Iya ma." Balasku.


"Tumben pulang awal banget, mana abi?" Tanya mama mertua, iya biasanya aku pulang selalu bareng dengan abi.


"Aku lelah sekali hari ini, jadi pulang duluan." Balasku.


"Ya sudah kamu istirahat sana." Mama mertua menyuruhku untuk beristirahat.


"Iya ma, aku ke kamar ya." Aku pun pergi ke kamar.


Cklek...


Aku menjatuhkan badanku ke atas ranjang, lalu berpikir sejenak tentang tawaran tadi. Namun dalam pikiranku yang melintas adalah sosok abi yang terus terusan memohon jawaban atas perubahanku, aku jadi hawatir.


Aku mengambil tas dan merogoh handphone, lalu menelpon abi.


Suami 'Hallo ada apa sayang?'


Syukurlah dia terdengar baik baik saja.


Me 'Nggak hanya memastikan kamu angkat telepon aku'


Suami 'Kamu sudah sampai di rumah ya?'


Me 'Iya, kamu dimana?'


Suami 'Aku masih di jalan'


Me 'Hati hati jangan ngebut'


Suami 'Iya, awas hati hati bi itu di depan'


Me 'Sayang kamu sama siapa?'


Suami 'Ken, banting stir aja'


Aku hawatir, banting stir? Apa jangan jangan.


Tuut..tut...sambungan telepon terputus, aku panik.

__ADS_1


Me 'Sayang hallo, sayang kamu denger aku kan?'


__ADS_2