My Possessive Lover

My Possessive Lover
part 49


__ADS_3

Setelah menyelesaikan tugasnya, Abi mengajakku ke sebuah tempat yang begitu aku pun tak tahu, pasalnya mataku di tutup oleh kain yang cukup tebal, hingga aku tak bisa melihat walaupun samar samar benar benar tak terlihat.


"Dimana kita?" Tanyaku seraya di papah olehnya.


"Sebentar lagi kita sampai." Ucapnya, sungguh membuatku penasaran.


"Ah aku jadi penasaran, aku buka ya penutup matanya."


"Jangan, ayo duduk." Abi mendudukan aku ke sebuah kursi, dengan hati hati aku duduk di atas kursi tersebut.


"Siap ya, aku buka kain penutup matanya." Ucapnya lalu membuka kain yang menutupi mataku.


Setelah di bukannya aku sontak terharu, mataku terbelalak melihat apa yang telah di siapkan suamiku ini. Aku bertanya-tanya kapan dia menyiapkan ini semua?


"Apa kamu suka sama kejutannya?" Tanyanya seraya berlutut dihadapan ku dengan sebuah cincin berlian yang ia sodorkan ke hadapanku.


"Kamu sweet banget." Aku mengambil cincin itu lalu memakainya.


Abi mengambil tanganku lalu di ciumnya, aku tersenyum tipis. Abi bangkit lalu mencium keningku.


"Apa ini?" Aku mendongak ke atas menatap wajah suamiku.


"Maaf untuk beberapa bulan ke belakang sayang, aku tidak bermaksud untuk menyakiti kamu sungguh-sungguh. Aku hanya..."


"Ssttt.."Aku menyela perkataannya. "Aku percaya kamu bukan orang yang gampang berpaling dari aku, bukan begitu?"


Dia tersenyum lalu mengangguk pelan, kini dia duduk percis di hadapanku.


"Aku harap kamu akan selalu setia padaku, meski aku pernah berbuat jahat sama kamu." Lirihnya parau.


"Kamu tahu seberapa besar cintaku sama kamu bukan?"


"Yang aku tahu aku yang paling mencintai kamu." Ucapnya.


"Aku tahu." Balasku.


Seorang pelayan datang menghampiri kita berdua, dengan sebuah nampan di tangan nya.


"Silahkan di nikmati." Ucap pelayan itu sembari menyodorkan beberapa hidangan kecil di tengah meja.


"Terimakasih." Ucapku.


"Ayo makan." Abi mempersilahkan aku untuk makan.


Kami berdua menikmati makanan yang telah di siapkan pelayan, mungkin ini yang di namakan romantic dinner. Setelah beberapa bulan lamanya, aku dan Abi akhirnya bisa bersama seperti dulu. Kehangatan yang hilang juga kebersamaan yang hilang kini akhirnya sudah kembali lagi, duniaku benar benar kembali lagi. Semua kebahagiaan ini sungguh tak ternilai, ladangku bersabar akhirnya berbuah manis. Walaupun cukup lama menunggu semuanya berubah, aku bersyukur, Tuhan memang maha adil.


"Oh ya sayang, kenapa dulu kamu menjauh dari aku sih?" Aku penasaran apa alasan dia menjauhi aku selama beberapa bulan ke belakang.


"Ah itu, nanti aku jelaskan di rumah saja." Ucapnya.


"Baiklah."

__ADS_1


****


Setelah selesai dengan acara romantic dinner, aku dan Abi segera pulang ke rumah. Dalam perjalanan pulang, aku teringat kembali apa alasan Abi menjauhi aku.


"Sayang." Panggilku.


"Hmm." Balasnya.


"Aku mau tanya yang tadi, boleh?"


"Boleh, mau nanya apa sayang?"


"Apa alasan kamu menjauhi aku?"


"Aku kan sudah bilang, nanti ya di rumah bahasnya."


"Aku kan kepo." Ucapku seraya memonyongkan bibir.


"Plis deh bibirnya, gak usah di monyong monyongin." Ledeknya, membuatku geram saja.


"Apa sih?" Aku memalingkan muka.


Dia hanya diam saja, mungkin dia lelah dan aku malah memaksanya untuk berbicara.


****


Rumah


"Rumah kok sepi ya?" Tanyaku seraya menyelidik setiap sudut ruangan, tapi tak menemukan siapapun. Biasanya mama mertua masih stay duduk di kursi sambil membuka majalah fashion nya, dan papa mertua biasanya belum pulang sih kalau jam segini.


"Nggak mungkin deh inikan masih awal untuk tidur." Jelasku.


Kemana semua orang, kenapa tidak ada? Ah, apa jangan-jangan lagi pada ngumpul di kamar Lulu ya?


"Kamu malah ngelamun, mending kita ke kamar kita mandi terus istirahat. Aku capek loh yang." Keluh Abi, memang ya mukanya terlihat kusut efek kelelahan.


"Cepat sekali kamu lelah, apa karena umur kamu sudah tua ya jadi kamu mudah lelah." Ledek ku pada Abi, wajahnya berubah menjadi lebih tegas dan kini menatapku.


"Haha...kamu mau di hukum ya?" Serunya.


"Jahat banget, cuma ngatain juga kok dapat hukuman padahal itu fakta loh." Sungutku merasa tak berdosa.


"Jahat banget ya mulut kamu." Cetusnya lalu menggendongku menaiki tangga menuju kamar.


Bukannya menolak aku malah senang di gendong olehnya, aku tersenyum seraya menatap wajah tampannya.


"Gimana, aku berat gak?" Aku menggodanya tepat di anak tangga terakhir.


"Kamu enteng banget, gendong kamu serasa gendong bayi." Ucapnya, apa aku setingan itu?


Abi menendang pintu kamar lalu masuk ke dalam, di jatuhkan nya aku ke atas kasur yang empuk.

__ADS_1


"Ish,, sakit tahu." Aku meringis memegangi bokongku.


"Jatuh ke kasur juga, kamu mau bodohi aku ya." Ucapnya lalu mendekat padaku.


"Hehei, jangan macam-macam kamu ya, bokongku sakit tahu." Aku mendorong tubuhnya, pelan.


"Aku gak peduli." Seringainya, sudah kuduga malam ini kami pasti akan bertempur. "Malam ini cocok untuk mulai beraksi."


"A-aku belum siap." Aku terbata bata, lalu mundur tapi dengan sigap Abi menarik tanganku.


"Jangan lari sayang, kalau lari aku kecewa." Ucapnya memeluk tubuh mungilku.


"Aku gak akan lari dari kamu." Lirihku seraya mengelus puncak kepalanya.


"Main dulu apa mandi dulu?" Tanyanya padaku yang sedikit mendongak, karena dari tadi dia terus menyelundupkan kepalanya pada dadaku.


"Up to you." Seruku.


"Main dulu deh." Ucapnya seraya tersenyum nakal.


Abi pun beraksi, dia mulai melucuti semua pakaianku lalu di lemparnya ke sembarang arah. Kini tak sehelai kain pun ada yang tersisa pada tubuhku, dia mulai beraksi menjalankan tugasnya.


*****


Aku terbangun kala mendengar keributan di bawah, ada apa pagi-pagi begini sudah berisik. Padahal aku masih ingin menutup mataku, namun aku tak bisa karena suara keributan itu cukup mengganggu.


"Ada apa sih?" Aku bangkit dari tidurku, sesegara aku membungkus tubuhku dengan kain yang ada di atas sofa dekat ranjang.


"Sayang." Panggil abi, suaranya agak serak efek baru bangun tidur.


"Iya."


"Mau kemana?" Tanyanya.


"Aku denger keributan di bawah, aku mau cek."


"Mau cek?" Serunya, aku mengangguk. "Pakai kain tipis gitu keluar?"


Aku melihat tubuhku, ah benar, masa aku keluar tanpa pakaian.


"Hehe...aku mandi dulu ya." Aku berlari menuju kamar mandi.


"Iya sana mandi, aku mau lanjutin mimpi dulu." Cetusnya.


Aku pun melaksanakan mandiku dengan khidmat, dan cepat keramas.


****


"Sayang." Panggil Abi.


"Iya."

__ADS_1


"Tolong keringin rambut aku dong." Pintanya, dia juga habis keramas.


"Boleh, ayo duduk disini." Aku menepuk kursi tempat ku duduk untuk memperias diri.


__ADS_2