
Rumah
"Sudah jangan nangis, ayo ganti pakaianmu." Ucapku seraya memberikan kaos dan celana milikku pada Jia.
Jia mengambilnya. "Terimakasih pak."
****
Saat Jia selesai dan keluar dari kamar mandi, aku tertawa begitu puas.
"Badanmu memang kecil ya, sampai gak kelihatan tangan sama kaki."
Jia murung, dia menatapi dirinya pada pantulan pintu kulkas yang ada di sebelahnya.
"Kalau gitu, aku lepas baju sama celananya disini sekarang juga."
Aku menelan saliva kasar saat mendengar perkataan jia yang begitu vulgar.
"Jangan." Sergahku.
"Ya sudah jangan tertawa, bukan badannya yang kecil bajunya aja yang kegedean." Ucap Jia.
Jia duduk di sebelahku.
"Tangan bapak pasti sakit ya?" Ucap Jia.
"Sudah tahu, malah nanya."
"Maaf."
"Sudahlah, coba sekarang jelaskan kenapa kamu mau bunuh diri?"
"Ternyata lelaki yang akan menikahiku sudah punya istri, tapi ayah dan ibu tetap memaksa. Kata ayah dan ibu kalau aku menikah dengan lelaki itu hutang ayah akan lunas, aku gak mau menikah karena harus melunasi hutang. Kalaupun mau aku juga bisa bayar hutang hutang ayah walaupun harus menyicil lama." Lirihnya.
"Sabar ya." Aku hanya bisa menghibur dengan mengucapkan sabar.
"Jadi aku memilih bunuh diri." Lanjutnya.
"Bunuh diri? Kamu salah, kalau kamu mati hidup kedua orang tuamu akan lebih sulit. Apa kamu gak kasihan sama mereka? Setidaknya hiduplah dan pergi tinggalkan pernikahan itu, lalu bebaskan kedua orang tuamu dari belenggu hutang itu."
Jia menatapku. "Benar apa yang bapak ucapkan, pikiran saya terlalu dangkal sampai memilih bunuh diri adalah jalan satu satunya agar terlepas dari pernikahan ini."
"Kamu mengerti kan sekarang, bangkitlah dan lihatkan kepada lelaki itu kalau kamu mampu melunasi hutang ayahmu."
"Iya aku pasti bangkit."
"Sudah malam tidur sana."
"Tapi bapak tidur dimana, kalau saya tidur di kamar bapak?"
"Dimanapun jadi, sana tidur."
Pov end...
Mentari pagi menyelinap masuk, menyinari dua insan yang masih terlelap dalam tidurnya.
"Sayang." Panggilku kepada Abi yang masih memeluk erat tubuhku, bukannya bangun dia malah mempererat pelukannya.
"Sayang, bangun." Aku mendorong tubuhnya perlahan.
"Masih malam sayang." Balasnya.
"Malam gimana, lihat matahari aja udah di atas kepala."
"Itu lampu sayang, bukan matahari."
"Ish." Aku membenamkan mukaku kedalam pelukan Abi, hangat sampai aku tak mau menjauh darinya.
__ADS_1
"Nyaman bukan?" Tanyanya.
"Hmmm..."
Tok..tok..
"Sayang lepas dulu, ada yang ngetok pintu." Ucapku.
"Ih ganggu aja, orang lagi nyaman nyamannya." Rengek Abi macam anak kecil.
"Bentar ya sayang." Aku memungut pakaianku yang berserakan di lantai, sebab semalam Abi melucuti pakaianku tanpa ampun.
Aku membuka pintu kamar, betapa terkejutnya kok dia ada disini sepagi ini.
"Hai Alena." Sapa Lulu seraya tersenyum lebar macam hantu momo.
"Hai, ada apa pagi pagi ada disini?" Aku berdiri di ambang pintu, menutupi kamar yang berantakan akibat kejadian semalam. Pakaian berserakan dimana-mana, dalaman milik Abi dan aku pun berhamburan di lantai.
"Permisi aku mau masuk." Ucapnya seraya mendorongku.
"Apaan sih gak sopan banget." Aku berdiri tegak di hadapannya, menjaga agar dia tak bisa masuk ke kamarku dan Abi.
"Minggir." Dia menyeretku dan berhasil memasuki kamar dengan jalan terpincang-pincang.
"Cewek gila." Makiku.
"Ada apa sayang?" Abipun angkat bicara, mungkin dia terganggu oleh keributan yang aku buat.
"Kakak." Lulu mendekat lalu duduk di sebelah suamiku.
Ku lihat Abi celingukan karena heran, dia menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Kok kamu bisa ada disini?" Tanya Abi yang menjauh dari Lulu dan tak melepas menutupi tubuhnya dengan selimut.
Biarkan saja, aku akan melihat apa yang akan di katakan suamiku ini. Apa dia bisa marah sama Lulu si gadis yang so lemah di hadapan suami orang.
"Aku mandi duluan." Aku masuk kamar mandi tanpa mendengar balasan dari Abi.
Aku sudah muak melihat tingkah Lulu, kenapa Abi selalu luluh sama si Lulu itu, apa lebihnya gadis itu sih?
Aku berkaca dan melenggak lenggokan lekuk tubuhku, apa yang kurang dari aku sih? Aku cantik, seksi, dan ya aku ah jadi malu sendiri.
Aih aku kepo sama dua orang itu, aku nguping aja kali ya. Kalo gini ngapain juga sih aku tadi mesti bilang mandi duluan, ujung ujungnya kan aku tetap kepo.
Aku menghidupkan keran air, lalu kembali menempelkan kuping pada pintu siap siap menguping pembicaraan suami dan Lulu.
"Kakak, kok kakak tega gak balik lagi ke rumah sakit?" Nenek lampir memang banyak banget gaya bicaranya.
"Maaf." Hanya maaf, suamiku memang the best.
"Ayo anterin Lulu pulang."
"Gak bisa, hari ini aku mau full time bareng Alena."
Aku senyum senyum sendiri, full time?
"Tapi kak, Lulu susah jalan loh."
"Tapi lu, kamu kok bisa masuk kesini?"
"Tadi aku masuk aja soalnya pintu depan kebuka."
"Kamu kok jadi gak sopan gitu sih?"
"Kan.."
"Kan apa lu? Kamu itu gak punya etika, nyelonong masuk ke rumah orang tanpa permisi dan sekarang kamu malah nerobos masuk kamar orang. Etika kamu letakan dimana lu?"
__ADS_1
Waw is the best, harga diri dong taruhan nya. Gak malu apa di gituin sama suami orang.
"Kakak kok gitu sih sama aku? Hiks...hikss.." Ku dengar Lulu menangis.
"Kakak jahat."
Brak...
"Sayang kamu nutup pintunya kenceng banget, sampai kedengeran loh." Aku berbasa-basi saja.
"Iya maaf sayang, kamu terkejut ya."
"Nggak kok, bentar ya aku belum beres." Kali ini aku melakukan mandi dengan rileks dan nyaman.
****
"Sayang kamu cantik banget." Puji Abi.
"Iyalah harus cantik, kan aku mau pergi ke acara pernikahan Jia."
"Padahal aku mau ikut loh yang."
"Cuma sebentar kok."
Drrrtt....drrrtt...
"Handphone kamu bunyi tuh yang."
"Iya, tolong angkat. Tanggung lagi masang anting nih."
"Ken?"
"Mas Ken? Ngapain dia nelpon aku pagi pagi begini?"
"Gak tahu."
"Angkat aja yang, siapa tahu penting."
Me 'Hallo, ngapain pagi pagi nelpon bini orang?'
Sekretaris Ken 'Ah, ini pasti Presdir ya?'
Me 'Siapa kamu?'
Sekretaris Ken 'Maaf pak, saya Jia saya harus bicara sama Alena'
"Sayang nih, katanya mau ngomong sama kamu."
Aku mengambil handphone.
Me 'Iya ada apa?'
Sekretaris Ken 'Len ini aku Jia'
Me 'Eh kok bisa?'
Sekretaris Ken 'Cepet ke rumah sekretaris Ken ya sekarang'
Me 'Oke otw'
"Yang ayo ke rumah sekretaris Ken sekarang."
"Ada apa, katanya mau ke kondangan."
"Udah ayo kita ke rumah mas Ken."
"Iya iya."
__ADS_1
Kami berdua pun melesat ke rumah sekretaris Ken, sebenarnya apa yang terjadi kok bisa Jia ada di rumah mas Ken?