Nion

Nion
#41# "Maafkan aja deh"


__ADS_3

Hari hari tetap dilewati Nia, walau dia tau masalahnya akan tetap terus datang.


Tapi Nia akan lewatinya dengan senyumannya.


"Hai Nia" Sapa Dion yang tiba tiba gitu aja.


"Hai" Nia tetap membalas senyuman nya, walau sebenarnya dia heran.


"Gua mau minta maaf Nia" Dion mendekati Nia padahal bangku mereka saja susah dekat, tapi Dion malah tetap mendekat hingga mereka betul betul dekat.


"Minta maaf untuk apa yah?" Nia bertanya heran.


"Emangnya salah gua banyak yah?" Bukannya menjawab, Dion malah bertanya kembali.


"Menurut mu?" Sama. Nia bukannya menjawab malah bertanya lagi.


"Yah, mungkin susah maafin gua, tapi gua hanya bisa minta maaf yah, terserah lo mau nggak maafin gua atau mau maafin gua tapi gua hanya bisa berkata maaf" Dion pun berkata apa yang dia inginkan.


"Kamu gak pernah berubah yah"


"Maksudnya?"


"Iya, kamu ngomong apa aja, tak perduli apa itu membuat mereka senang atau tidak"


"Maaf" Lagi lagi hanya kata itu yang diucapkan oleh Dion.


"Aku pikir pikir dulu" Padahal Dion dah minta maaf semalm, dan Nia juga memaafkannya, tapi kenapa sekarang Dion bertanyalagi malah dijawab pikir dulu?, tentu Nia belum bisa mengambil keputusan begitu aja, karena masih banyak dendam dalam hidup padanya.

__ADS_1


Tapi, bagaimana mungkin Dion tiba tiba minta maaf padanya, ada apa dengan nya.


"Hei sayang" Vano masuk ke dalam kelas 8-2 dan menatap gadis yang ingin di jumpainya sedari tadi.


"Eh bang Vano" Nia membalas sapanya.


"Aku ingin bicara, ke depan yuk sambil merasakan udara pagi yang segar" Ajak Vano pada Nia.


Sesampai didepan kelas.


"Kamu sampai kapan pura pura?" Tiba tiba wajah Vano berubah menjadi cemas.


"Emangnya kenapa bang?"


"Gue takut aja, soalnya lo akan ada masalah jika semakin dekat dengan gue"


"Ini masalah"


"Biarin aja"


Mereka berdua pun berbicara dengan serius.


"Gua gak mau lo kenapa kenapa Nia"


"Tapi bang Van, aku gak takut kok sama masalah yang akan ku lewati"


"Gak takut lo bilang, semalam lo luka hanya karena Karina cemburu"

__ADS_1


"Emangnya dia siapa?"


"Lo gak perlu tau siapa dia, yang perlu lo tau itu, dia berani melakukan apa pun untuk menyakiti orang orang yang tidak dia suka"


"Terserah" Nia sangat keras kepala untuk diingatkan. Dia sangat tidak peduli dengan masalah yang akan dilewatinya.


"Lo itu, bandel banget sih" Vano pun melihat kearah Nia.


"Bang, aku sudah tidak peduli pada masalah yang akan datang, yang aku utamakan dendam ku pada Lita" Nia mengepalkan tangannya, mengingat perbuatan mereka yang jahat.


"Gua ngerti lo itu dendam, tapi jika lo membalas nya sama aja dong" Vano menasehati Nia.


"Tapi kan mereka luan" Jawab Nia tuk menjelaskan.


"Mau dia luan, atau lo, yang penting sama, lebih parahnya lagi lo" Jeda Vano.


"Lo dah tau digituin sakit rasanya, lo dah alami nya, tapi kenapa lo masih ngulanginya?" Vano lagi lagi menasehati Nia.


"Makasih yah bang, dah nasehati Nia" Nia bersyukur mempunyai Vano.


Jika Nia selalu bersama sama dengan Vano, dia pasti akan merasa kan indah nya punya abang kandung.


Nia yang selalu di nasehati, dijagain, dihibur.


Mungkin jika orang memandang mereka sekilas akan menganggap mereka berdua abang adik.


"Eh Vano, lagi ngapain?" Putri yang ingin masuk kekelas, langkahnya berhenti ketika melihat kedua pasangan itu.

__ADS_1


"Ada deh" Jawab Nia dengan senyuman jahilnya.


__ADS_2