Nion

Nion
#66#


__ADS_3

Kini hari pun sudah pagi, ayam ayam yang menjadi alaram pun sudah saut bersautan.


"Nak Nia, bangun nak, apa kamu tidak sekolah?" Tanya ibu Nia yang bernama Mirna itu ke Nia.


"Hmm" Nia pun langsung bangun dari tempat duduknya. Seperti tidak biasanya saja Nia di banguni langsung bangun. Dia kan biasanya seperti kebo bangunnya.


"Kamu mandi yah, biar ibu siapkan sarapan dulu" Ucap Mirna pada anak nya satu satu itu.


"Yah buk" Ucap Nia pada ibunya. Ibunya pun langsung keluar, setelah ibunya keluar dari kamar nya. Nia pun langsung melanjutkan tidur nya kembali. Hadeh dasar Nia, kebo banget dah.


"Huh, untung ibu langsung percaya dan pergi" Ucap Nia menggerutu. Nia pun tidur seperti semula.


Namun dua menit kemudian ibunya masuk lagi dan membawa air dan memercikannya ke Nia.


"Bangun kebo" Ucap Mirna pada anak nya itu.


"Ibu" Ucap Nia sedikit kesal.


"Ibu sudah tau akal mu itu, cepat bangun dan mandi!" Ucap Mirna memerintahkan anak tunggal nya itu.


"Sebentar lagi bu" Ucap Nia memelas pada Mirna, ibunya itu.


"Yah sudah, sebentar lagi kamu bilang, ibu akan memgambil ember yang berisi air, agar ibu yang memandikan mu" Ucap Mirna mengancam putri tunggal dan sekaligus putri yang sangat-sangat disayangi oleh nya.


"Iya, baiklah bu, aku akan mandi" Ucap Nia.


Nia pun mengambil handuk dan juga seragamnya. Hanya 15 menit Nia pun keluar dari tempat ia mandi, dan Nia pun mengikat rambut nya itu. Ikat satu. Nia pun mengambil bedak My baby yang selalu ia pakai. Walau dia sudah remaja, tapi ia lebih suka memaik bedak seperti itu.


"Hmm, sudah rapi" Gumam Nia. Nia pun melihat jam alaramnya yang ingin menuju ke angka 8 jarum panjang, dan 6 jarum pendek.


"Yah ampun, aku bisa telat kalau begini, malah belum sarapan, belum juga nyusun buku pelajaran" Ucap Nia mengerutu.


Nia pun dengan cepat menyusun buku yang akan bawa, hingga tidak ada yang ketinggalan. Setelah itu Nia keruang makan.


"Bu aku gak bisa sarapan bersama, aku sarapan di sekolah saja itu pun kalau sempat" Ucap Nia yang buru buru, Ibu Nia pun memasukan bekal di tas milik Nia. Nia pun segera pamitan dan langsung berjalan.


"Sudah jam 7 kurang lima menit, aku kesekolah jika berjalan akan menghabiskan waktu 25 menit, mungkin aku akan telat" Gumam Nia yang merasa bingung. Nia pun terus berjalan dengan cepat cepat. Tanpa sadar bahwa Dion kan satu kompleks dengan nya. Biasa nya Nia selalu sadar dan akan menunggu Dion. Kini dia lupa begitu saja.


"Hei Nia, ayo dengan ku!" Dion yang berada di belakang Nia, Dion menggunakan sepedanya.


"Syukurlah" Nia bergumam senang. Nia pun langsung naik ke atas sepedanya. Mereka pun melajukan sepedanya dengan sangat kencang. Karena waktu mereka sedikit lagi.


Mereka pun sampai disekolah dengan waktu hanya 15 menit dan ada 10 menit tersisah. Mereka langsung memarkirkan sepeda nya, dan masuk ke sekolah itu. Tanpa mereka sadari tangan mereka berdua bergandengan. Banyak bisikan orang orang yang tidak senang melihat Nia.


"Lihat lah Dia, sudah pacaran sama Vano, tapi tetap aja dekati Dion, padahlakan Dion sudah punya Chika" Ucap anak kelas 7, yang tak tau namanya.


"Iya, dia sungguh kegenitan" Ucap kelas 7 itu menatap Nia. Nia dan Dion pun tersadar dengan tangan mereka. Dion dan Nia dengan sentak langsung melepaskan genggaman nya.


"Maaf" Ucap mereka berdua bersamaan.


"Apa mungkin Nia itu seorang murid baru yang fuckgirl" Ucap seseorang cewek yang kelihatan sangat cabai cabaian. Liptin yang sangat merah, alis yang dicetak dan bedak yang 10 inchi.


Nia yang gak tahan mendengar bisikan mereka langsung datang dan melabrak.


"Heh, kalau lo ingin mengatai saya, pastikan diri anda sudah sempurna!" Ucap Nia dengan kesal.


"Ups dia marah we" Ucap nya menatap Nia dengan sengit. Sedangkan teman teman sekelasnya menertawakan Nia dengan tawa yang menjijikan.


"Emang betul kan kalau kau itu gadis PHO" Ucap cewek cabe cabean itu.


Nia pun mendengarnya langsung melotot kan matanya hingga ingin keluar rasanya.


"Jaga omongan mu" Ucap Nia dengan penuh penakanan. Baru saja dia masuk kembali di sekolah ini, udah langsung dapat masalah baru saja.


"Kenapa?, gak senang?" Tanya gadis mentel itu dengan senyuman puas.


"Hai sayang" Tiba tiba ada seseorang laki laki datang mendekati gadis mentel itu. Pria itu ternyata Andre. Andre memeluk tubuh gadis mentel itu hingga tangannya mengenai payu dara gadis mantel itu. Nia hanya terdiam menatap mereka yang sedang bercinta di sekolah. Gadis itu menaruh pandangannya ke Andre dan ******* bibir Andre. Nia yang melihatnya langsung bergidik ngerih.


"Hkm, baru SMP aja lo dah gini, gimana dah SMA?, jadi wanita penghibur?" Ucap Nia menantang gadis itu.


Tatapan gadis mentel itu pun mengarahkan tajam ke Nia dan Adre yang mendengar nya langsung mengangkat tangan nya ingin menampar. Tapi setelah sadar bahwa lawannya Nia, pria itu langsung menundukkan kepalanya. Sedangkan kekasih andre itu hanya menatap Nia dan Andre dengan heran.


"Kenapa gak jadi menamparnya sayang?" Tanya kekasih andre itu pada Andre. Namum Andre hanya diam.


"Lo gak tau, bahwa dia sering babak belur karena gue?" Tanya Nia menunjukan siapa dirinya. Dion yang sedari tadi menatapnya langsung menariknya jauh. Terlihat juga bajwa teman teman gadis mentel tadi menertawak Nia itu. Kini mereka pun ikut terbungkam.


"Seharusnya itu pagi pagi kamu tersenyum" Ucap Dion pada Nia. Nia hanya tersenyum. Setelah itu mereka masuk ke kelas bersama sama.


"Hkm" Deham Putri menatap tajam ke Nia.


"Lo kenapa?" Tanya Risa heran melihat sahabat sekaligus sahabatnya. Sedangkan Nia melirik ke Risa dan Putri. Putri pun menarik Nia kepada nya, hingga mereka bertiga berkumpul bareng, dan Dion seperti orang yang diasingkan.


"Lo sama Vano ada masalah apa?" Tanya Putri menatap Nia curiga.


"Gue sama Vano baik baik aja" Ucap Nia berbohong.


"Lo bohong" Tuding Risa pada Nia.


"Lo anggap kita sahabatkan Nia?" Tanya Putri menatap Nia sayu.


Nia pun mulai bingung. Dia hanya menatap kedua sahabatnya bingung.


"Ya sudah kalau lo gak mau bicara, kami berdua pamit jadi sahabat lo" Ucap Risa, sedangkan Putri menatap wajah Risa dengan aneh.


"Apa Risa benaran?" Risa bergumam sendiri dihatinya.


"Baik gue akan bicara sejujurnya" Ucap Nia pada kedua sahabatnya. Risa pun tersenyum bahagia.


"Akhirnya gue tidak salah ucap" Gumam Risa tersenyum.


Nia belum mengucapkan apa pun dia hanya diam sedangkan kedua sahabatnya itu menatapnya dengan tidak sabar.


"Bentar lagi bel, nanti saja kita lanjutkan" Ucap Nia dengan begitu saja. Dan bel pun berbunyi menandakan masuk.


"Ahah" Desah Risa dan Putri dengan kesal.


Kini yang masuk adalah pelajaran bu Rosana, ibu itu mengambil cuti karena kecapekan. Kini Risa dan Putri pun tersenyum senang, karena mereka bisa menanyakan nya lagi ke Nia. Nia sendiri malah bingung.


"Nia cepat dong bicara nya" Paksa Risa ke Nia. Nia yang bingung pun langsung menceritakan nya ke Risa dan Putri dengan jelas.


"Gue sama Vano sempat marahan, tapi sekarang kami dah baikan kok" Ucap Nia dengan jujur.


"Lo kok bisa marahan sama Vano?" Tanya Putri pada Sahabat nya yang bernama Nia itu.


"Gue sama Vano?, marahan?" Gumam Nia dalam hatinya bertanya.


"Dia menghina ku" Ucap Nia dengan kesal dan rasanya ia ingin menangis karena mengingat kata kata Vano minggu lalu saat di tenda.


"Apa?, menghina?" Dengan serentak Risa dan Putri langsung kaget dan teriak dua kata itu. Nia hanya diam menahan air mata nya. Mata Nia berkaca kaca, Risa yang melihat nya langsung memeluk Nia. Sedangkan Putri masih tidak percaya.


"Bagaimana mungkin Vano menghina seseorang, apalagi sahabat sepupunya sendiri?, seperti tidak nyata, pasti ada yang tidak beres" Putri pun bergumam.

__ADS_1


"Maaf kan kami Nia, pasti kau sangat terpukul saat ini" Ucap Risa mengerti perasaan Nia.


Entah kenapa tiba tiba Putri menarik tangan kedua sahabat nya itu yang bernama Risa dan Putri dengan paksa, mereka pun menuruni anak tangga itu dengan tergesa gesa. Risa yang biasanya ngoceh-ngoceh saat menuruni tangga atau meniki tangga tersebut, kini Risa tidak bisa berkutik. Dia hanya heran melihat sepupu dan sekaligus sahabat nya itu.


"Dia kenapa sih?" Gumam Risa dalam hati nya.


Mereka pun terus ditarik Putri hingga tepat di lapangan sekolah.


"Kalian disini sebentar" Ucap Putri memerintahkan. Sedangkan ia pergi kearah UKS.


"Aku yakin, pagi ini dia ada di UKS, gue harus lihat dia, mastiin dia sendiri atau nggak" Putri pun bergumam sambil berjalan dengan tergesa gesa.


"Hei Putri lo ngapain" Tanya Vano ketika melihat Risa sedang berada di depan pintu UKS.


"Lo sendiri?" Tanya Putri to the point dengan tatapan wajah sengit nya itu.


"Iya nih, gue sendiri, lo sakit?" Tanya Vano pada sepupunya yang bernama Putri itu. Seketika Vano ingin memeriksa suhu kening nya Putri. Dengan cepat Putri menepis kan tangan milik Vano.


"Bukan gue yang sakit, tunggu sebentar!" Ucap Putri memerintahkan Ke Vano.


Putri pun berlari ketempat dimana ia meninggalkan kedua sahabatnya.


"Ayo" Ajak Putri pada Risa dan Nia. Putri tangan kedua sahabat nya yang bernama Risa dan Nia.


"Pelan pelan kali" Ucap Risa dan Nia dengan kesal. Namun Putri tidak menggubris nya sedikit pun. Hingga akhirnya mereka pun sampai di UKS. Mukan Nia semakin bingung. Kenapa Putri mengajaknya ke UKS.


"Loh, siapa yang sakit dari antara kalian?" Tanya Vano heran menatap ketiga cewek yang bernama, Risa, Putri dan nia.


"Nia" Ucap Putri dengan lantang ke Vano. Sedangkan Nia semakin bingung maksud nya Putri apa. Dia menatap Putri dengan wajah keheranan. Begitu juga yang dilakukan Risa menatap Putri. Sedangkan Vano sangat panik mendengar ucapan Putri.


"Lo sakit Nia?" Ucap Vano yang mendekat dan ingin menempelkan tangan nya kekening Nia. Namun Putri langsung menepis kan tangan Vano.


"Dia bukan demam, tapi sakit hati" Ucap Putri ke Vano.


"Maksudnya hepatitis?" Tanya Vano pada Putri. Putri yang gak tahu apa yang di ucapkan Vano pun bingung.


"Bukan hepa ritis, atau apa lah itu" Ucap Puti yang susah menyebut nama penyakit yang baru di ucapkan Vano. Vano dan Nia pun tersenyum geli mendengarkan ucapan Putri yang hepa ritis itu.


"Terus Nia sakit gimana sih?" Tanya Vano yang masih heran dan bingung. Begitu juga Nia.


"Dia patah hati, karena lo telah menghina Nia, lo hina Nia gimana?, gue sebagai sahabat Nia berhak membela nya. Dan gue sebagai sepupu lo merasa malu" Ucap Putri dengan lantang.


"Maksud lo gimana sih?" Tanya Vano heran. Kini bukan Putri yang bicara melainkan Nia. Putri rasanya lelah berbicara. Dia tak sanggup terus berbicara ke Vano. Karena berbicara ke Vano itu sangat menggunakan tenaga yang banyak.


"Iya kak, gue kecewa saat dengar lo bilang kalau gue ngomong nya kasar, gue kecewa bahwa ternyata kakak mandang fisik" Ucap Nia, Nia pun memberi jeda pada ucapannya.


"Gue sadar diri kok kak, dan makasih dah mau jadi pacar pura pura ku kak, gue sadar diri kok, gue minta maaf jika dah buat kaka malu" Ucap Nia pada Vano. Nia mengeluarkan senyuman nya dengan paksa.


Yang Nia rasakan saat ini adalah, tersenyum walau hati menangis. Ternyata itu lebih menyakitkan dari pada mengais hanya kerana di pukul.


"Gue gak pernah menghina lo kok Nia, apalagi soal omongan lo, itu gak bermasalah" Ucap Vano pada Nia. Sedangkan hanya diam dan bingung.


"Tapi gue dengar kakak, ngata ngatain gue dalam tenda. Gue yakin itu suara kakak" Ucap Nia menceritakan nya. Walau sakit hati nya mengingat itu, tapi dia harus menyelesaikan semuanya dengan baik. Karena jika duri tidak diambil dari kulit yang ia tusuk, ia akan tetap lengket dan menyiksa.


"Gue?, menghina?, tenda?" Gumam Vano dengan heran.


"Gue pagi pagi saja sudah di kamar mandi agar tidak ngantri, dan lo sejak kapan di tenda?" Tanya Vano heran ke Nia.


"Dion juga dengar kak, kakak gak usah berbohong, gue gak akan menyalahkan kakak kok" Ucap Nia pada Vano.


"Hai Van, gue mau bicara soal ki--" Tiba tiba kata kata nya terhenti. Seorang gadis yang sangat di benci Nia, Putri, Risa dan Putri. Dan gadis itu adalah Karina. Karina menatap mereka sinis dan tersenyum kecut.


"Soal apa?" Tanya Putri dengan heran.


"Gak usah tau!" Ucap Vano begitu saja, Nia menatap Vano dan mendekatinya.


"Kemarin, bilangnya saling terbuka, apa ini yang namanya terbuka?" Ucap Nia kesal menatap Vano. Nia berharap Vano akan menceritakan masalahnya. Namun Vano hanya diam tak berkutik sedikit pun, hingga Nia kesal.


"Ternyata dia tidak peduli akan kata kata ku" Nia pun bergumam.


"Ya udah sih kalau gak mau bicara, gue kan gak siapa siapa lo" Ucap Nia dan melangkahkan kakinya.


"Gue kecewa sama lo!" Ucap kedua sahabat Nia itu dengan kesal ke Vano. Vano hanya diam.


"Lebih baik gue gak usah memiliki lo Nia, dari pada gue harus kehilangan lo dan melihat lo tersiksa" Ucap Vano bergumam dan menghapus air mata nya yang baru saja jatuh.


Nia pun menahan tangisannya tapi percuma selalu keluar, Nia pun melap air mata nya dengan tangan nya cepat cepat dan kasar.


"Gue benci lo Van, benci, benci, benci" Nia pun bergumam kesal dalam hatinya.


"Nia hati hati" Ucap Putri khawatir.


Nia pun masuk kekelas dengan emosi yang meluap luap, orang orang masih ramai di kelas dan sebagiannya lagi memilih ke kantin atau ke perpustakaan. Tapi Dion masih tetap disitu melihat Nia. Dion sedang mengambil sesuatu si tasnya dan buku dihadapan nya. Mungkin dia sedang membaca buku nya yang akan diadaka 1 bulan 11 hari lagi.


Nia pun menutup wajahnya dengan menggunakan kedua tangannya. Banyak orang yang mengerumuminnya.


"Dia kenapa?" Tanya seorang ke pada Putri, sedangkan Putri hanya diam. Gadis itu tidak berniat untuk menceritakannya.


"Apa kalian tidak pernah melihat orang sedih? kampungan banget sih, bubar!" Ucap Dion memerintahkan semua yang sedang mengerumuni Nia. Semuanya pun bubar dan bersorak.


"Huuuh" Sorakan para teman sekelas 8'2. Dan semuanya bubar, mengambil aktivitas masing masing.


Sedangkan Nia hanya menundukkan kepalanya dan di sembunyikan di tangan nya yang menempel diatas meja mata. Risa dan Putri mengelus elus punggung gadis bernama Nia.


"Vano brengsek" Putri bergumam. Tangannya mengepal sempurna.


"Vano pecundang" Begitu juga Risa yang bergumam di hatinya. Yang mereka pikir adalah bahwa Vano itu sangat menyebalkan. Mereka benci dengan Vano.


"Nia sebaiknya kamu hapus air mata mu sekarang juga" Ucap Putri memerintahkan Nia dengan suara lembut.


"Bagaimana mungkin lo menangisi orang seperti dia!" Walaupun dia sepupu gue, tetap aja gue benci melihat cowok seperti itu" Ucap Risa menyambung kembali.


Dion pun mengambil sesuatu dari tas nya, fan dia mengeluarkan tisu dari tas nya.


"Ini jika perlu" Ucap Dion seraya memberi tisu itu ke Risa, dan Dion pun mengambil buku nya dan membawa buku milik nya itu ke depan kelas dan menghafal disitu.


"Sampai segitu nya lo karena Vano" Ucap Dion kecewa.


"Nia ayo lah" Ucap Risa membujuk Nia.


Nia pun mengangkat kepalanya dan terlihat wajahnya penuh tetesan air berlian dari wanita itu.


"Hapus air matamu!" Ucap Risa pada Nia dengan sangat lembut.


"Makasih yah dah mau mengerti keadaan gue" Ucap Nia sambil menghapus air mata nya dengan tisu yang di beri Dion tadi.


"Kami juga minta maaf yah, atas kelakuan sepupu kami" Ucap Putri meminta maaf ke Nia.


"Dia gak salah kok, apa lagi kalian" Ucap Nia tersenyum walau cekuaan karena nangis terlalu lama dan meneteskan air mata yang begitu banyak.


"Nih minum dulu" Ucap Risa memberi air minum, entah air minum siapa.

__ADS_1


Nia pun meneguknya sampai sisa seperempat isi di botol minum itu. Nia mungkin haus sekali.


"Ni makasih air minum nya" Ucap Nia pada Risa. Sedangkan Risa yang mendengarnya heran dan bingung, begitu juga Putri.


"Emangnya lo bawa air minum tadi Ris?" Tanya Putri heran melihat nya.


"Nggak, gue juga bingung. Gue kira punya Nia" Ucap Risa dengan takut dan heran.


Mata Nia pun melototkan mata nya dan wajahnya langsung memerah.


"Gue kira punya lo" Ucap Nia sedikit kesal.


"Gue juga gitu, gue kira punya lo" Ucap Risa menjawab ke Nia.


"Soalnya di atas meja lo" Ucap Risa dengan sedikit takut.


"Apa jangan jangan punya Dion?" Tanya Putri mengambil keputusan. Sedangkan Dion yang mendengar namanya di panggil langsung datang.


"Ada apa?" Tanya Dion.


"Eh Dion, lo tadi bukannya didepan?" Tanya Risa tersenyum, mengabaikan pertanyaan milik Dion.


"Bentar lagi bel, makanya gue masuk, ada apa lo manggil manggil nama gue?" Tanya Dion dengan heran. Namun Risa, Nia dan Putri pun mengalihkan pembicaraan.


"Nggak ada kok, ya kan we" Ucap Risa sedikit gugup. Gugup karena ketakutan.


"Lo dah ga sedih lagi kan Nia?" Tiba tiba Putri langsung mengalihkan pembicaraan.


"Nggak kok, tenggorokan gue juga dah gak sreg lagi" Ucap Nia sedikit bercanda. Mendengarnya mata Risa seakan akan melotot ingin keluar. Putri dan Nia menatap nya ingin tertawa terbahak. Sedangkan Dion menatap nya merasa ada yang aneh dari mereka bertiga.


Bel pun berbunyi menandakan masuk, dengan cepat Risa dan Putri mengambil tempat duduk nya. Kini mereka berdua pun duduk bersama. Nia menatapnya sangat takut. Tenggorokan nga kini terasa kering. Rasanya sangat sulit menelan salivanya sendiri.


Dan apa yang ia takuti terjadi. Dion mengambil botol minumnya dan meminum nya dan tersadar air minum nya tinggal sedikit lagi, Nia yang melihat reaksi Dion langsung mengarahkan pandangan nya dan Risa juga Putri yang melihat semuanya tersenyum.


"Nia lo minum air minum gue?" Tanya Dion dengan menatap tajam.


"Nggak kok" Ucap Nia pura pura gak tau.


"Untung lah, soalnya mama ku tadi mencampurkan minuman ini dengan sedikit sup cacing, katanya itu sangat berfaedah bagi kesehatan" Ucap Dion tersenyum.


Nia yang mendengarnya melotokan matanya dan ingin memuntahkan apa yang baru ia minum. Sedangkan Dion menertawakan nya dengan puas.


"Lo sih gak mau jujur, jadi gue jahilin kan" Ucap Dion bergumam.


"Selamat siang anak anak" Sapa seorang guru yang tidak mereka kenal.


"Apa ada yang mengenal saya?" Tanya seseorang guru laki laki kepada mereka.


Semua murid hanya diam tak berkutik. Karena dari mereka tidak ada yang mengenal laki laki di depan itu.


"Yah, mungkin hanya anak kelas 9 yang mengenal saya" Ucap Bapak itu pada mereka.


"Bapak adalah seorang guru yang telah pernah pertukaran mengajar di Amerika" Ucap bapak itu dengan bangga.


Semua yang mendengar nya langsung memberi tepuk tangan yang sangat meriah ke guru laki laki tersebut.


"Bapak disini hanya ingin berpesan, untuk kalian raih lah cita cita mu setinggi bintang bersinar dan rendahkan hati mu serendah mutiara yang berada dibawah laut" Ucap bapak itu yang memberikan semangat ke pada murid murid tang ada disitu.


"Maka bapak harap kalian bisa melakukan nya dari sekarang!, sebentar lagi ujiankan?, maka belajar lah, agar bisa seperti Vano kakak kelas kalian!, siapa tau kalian bisa berjumpa sama bapak di Amerika" Ucap bapak itu tersenyum.


"Amin kan dulu anak anak!" Ucap bapak guru itu memerintah.


"Amin" Ucap semua murid itu, kecuali Nia, dia benci mendengar nama Vano.


"Kalau begitu bapak keluar, Oh iya bapak tadi kesini hanya ingin menyampaikan bahwa bu Anita ada urusan" Ucap bapak guru itu dan pergi keluar kelas.


Nia hanya menggerutu tidak jelas dan meletakkan kepalanya di atas meja tangan nya yang menjadi bantal nya, mata nya menatap ke arah Dion, Dion sebangkunya itu. Dion yang ditatap Nia merasa tidak nyaman.


"Apa yang lo lihat?" Tanya Dion pada Nia.


"Gue heran melihat lo, lo pacaran sama Chika?" Tanya Nia pada Dion. Dion hang mendengarnya mengerutkan kening nya.


"Iya, emangnya kenapa?" Tanya Dion heran ke Nia.


"Gue heran lihat lo, lo sama Chika awet banget yah, padahal Chika orang nya super ribet" Ucap Nia pada Dion. Nia tidak takut mengatakan sifat Chika didepan pacar Chika yang bernama Dion itu.


"Suka suka gue dong" Ucap Dion kesal.


"Nggak gue heran aja, lo sama awet, lah gje sama Vano cepat amat berlalu" Ucap Nia kesal.


"Mungkin Chika orang nya lebih baik dari gue yah" Ucap Nia memberi kesimpulan.


"Sebenarnya lo itu sempurna bagi gue, tapi gue cowok ***** yang udah menyia nyiain lo" Ucap Dion menjawab di dalam hatinya.


"Jelas lah, Chika kebih baik" Ucap Dion membela chika. Emang manusia sering munafik yah, lain dihati lain juga di mulut. Dasar.


Setelah lama mereka pun akhirnya pulang sekolah. Nia menuruni anak tangganya dan ketika menatap Vano seketika emosinya meluap luap, namun yang dilakukan gadis itu malah tersenyum manis ke Vano.


"Sabar Nia, walau begitu dia juga pernah buat lo bahagia, dia juga pernah bantu lo untuk balas dendam me Lita. Bahkan dia juga menasehati mu agar menjadi manusia yang jujur" Ucap Nia bergumam di hatinya. Gadis itu memaksa hati nya. Vano yang melihatnya merasa bersalah.


Putri yang melihat Vano geram langsung pura pura menyenggolnya dan menatap nya dengan tatapan benci.


"Nia kita bareng yah pulang nya" Dion yang tiba tiba datang dengan nafas yang naik turun membuatnya terkejut dengan melihat yang terjadi.


"Ayo lah" Ucap Nia menarik tangan Dion.


"Maaf Nia, gue telah membuat mu kecewa" Ucap Vano dengan sangat pelan, mungkin hanya dirinya yang bisa mengetahui ucapan nya barusan.


Nia dan Dion pun seperti dulu lagi yang naik sepeda jika ingin pergi atau pulang sekolah. Bahkan ke mall. Rasanya sudah lama mereka gak merasakan kebersamaan ini semuanya. Mereka sangat merindukan nya.


"Ion, lo masih ingat kan waktu kita seperti ini?"


"Nia menyebut nama ku seperti itu lagi?, sungguh aku sangat rindu" Dion bergumam dengan sangat senang.


"Masih dong, andai kita bisa mengulangnya" Ucap Dion berharap.


"Gue sangat ingin Ion, tapi masalahnya ada dinding yang sangat besar menghalangi itu semua" Nia bergumam dihatinya. Mengingat tentang Chika.


"Oh ia Ion, kok gue dah lama gak liat Chika main kekelas?" Tanya Nia yang bingung.


"Dia kemarin ngambek, lalu pas gue bujuk tadi, dia masih marah" Ucap Dion menjelaskan ke Nia.


"Semangat yah" Ucap Nia tersenyum.


"Makasih" Ucap Dion tersenyum.


"Nia, besok lo mau nggak main main kerumah gue?" Tanya Dion dengan penih harapan akan jawaban ia.


"Gue gak bisa janji, soalnya gue harus bantu ibu gue" Ucap Nia yang tak dapat memberi kepastian.


"Oh yah sudah" Ucap Dion sangat pengertian.

__ADS_1


__ADS_2