
Tiba di tomok.
Akhirnya mereka pun telah tiba di tomok, mata Nia yang berbinar binar melihat barang barang yang di jual di tomok tersebut. Pelabuhan yang ada di dekat tomok itu.
Para murid yang turun dari bus pun langsung disuruh baris oleh guru guru pengawasnya.
"Kita akan pergi melihat patung sigale gale bersama sama" Ucap Pak Haris menjelaskan.
"Dan setelah itu kita baris bersama sama, dan jika ingin berbelanja, kita harus berbagi tempat sesuai bus, dan pengawas nya juga sesuai bus, dan kita akan berbaris seperti ini kembali" Seru pak Haris kembali untuk menerangkan.
"Sekarang berjalan sesuai biasa" Ucap pak Haris memerintahkan. Semua murid pun berjalan seperti biasa mereka lakukan dalam 2 minggu ini.
"Nia, berarti lo harus ada di belakang gue yah" Ucap Vano pada Nia. Nia mendengarkan kata kata Vano hanya diam mengerutkan keningnya.
"Kan lo duduk di samping gue kalau di bus" Ucap Vano menerangkan pada Nia.
"Yah kan kita gak bisa berjalan gandengan, lihat tuh jalan penuh, dan laki laki yah baris sama laki laki, yah kali gue nyusup sendiri" Ucap Nia judes pada Vano.
"Nia ayo jalan" Panggil seorang gadis yang ada di depannya berbaris. Vano bukan nya ingin Nia dekat padanya karena modus, melainkan dia khawatir dengan keadaan Nia saat ini. Entah kenapa Vano akhir akhir ini sangat sangat berbeda.
"Oh iya" Ucap Nia mengiyakan dan berjalan. Mereka pun mulai berjalan menuju suatu pertunjukan. Mereka harus membayar uang karcis masuk lima ribu per orang. Setelah itu mereka di beri suatu kain yang disebut ulos dan sesuatu di buat dikepala. Yah ini ciri khas orang yang ada di situ.
Setelah menggunakannya Risa, Putri dan Nia pun berfoto menggunakan kamera Risa.
"Wow seru juga yah" Ucap Risa dan Putri berbarengan. Setelah itu, bu Rosana berbicara pada seseorang pemimpin acara itu, entah apa yang mereka bicarakan.
"Hei anak anak, mari berbaris" Ucap bu Rosana memerintahkan.
Dengan cepat para murid murid pun berbaris seperti biasa mereka lakukan selama 2 minggu ini.
"Bukan berbaris seperti ini, kalian baris nya berbentuk lingakaran" Ucap pemimpin acara.
Sedangkan disana ada banyak orang yang menyaksikan mereka, semuanya takjub melihat kepatuhan para murid murid itu.
"Mereka barisnya rapi dan cepat ya, tanpa ada yang mengatur barisan mereka, berbeda dengan anak murid kita" Ucap seseorang yang ada disana. Mungkin dia seorang guru.
Para murid pun berbaris berbentuk bulat, entah kenapa Vano tiba tiba bisa ada disamping Nia.
"Sekarang kalian saling bergandengan ya" Ucap pemimpin itu pada orang yang ada sedang berbaris. Karena para murid terlalu banyak hingga bentuk lingkaran itu tak tertata rapi, akhirnya para guru memilih untuk membuatnya dua kali, bergantian.
"Sekarang yang ada di bus satu masuk, bus dua menunggu" Ucap bu Rosana memerintahkan. Dengan cepat semuanya bergegas mengambil tempat dengan rapi. Nia yang sadar akan hal itu. Nia cepat cepat keluar dari barisan itu padahal dia sendiri pun berposisi di bus satu
"Nia lo kok kesana, kita kan satu tim" Ucap Vano sedikit berteriak. Ada beberapa oramg yang menyadari akan hal itu, tapi Nia tetap tidak mau menyahut, dia berjalan dan menemui para sahabatnya. Risa dan Putri yang menyadari Nia keluar dari situ heran.
"Lo kok nggak ikut Nia?" Tanya Risa pada Nia dengan heran, sedangkan Nia hanya diam.
"Lo kenapa sih Nia?" Ucap Putri yang ikut ikutan bertanya.
"Gue mau nya sama kalian aja" Ucap Nia pada Risa dan Putri.
"Lo lagi marahan sama si Vano?" Tanya Risa pada Nia dengan penuh selidik.
"Nggak kok" Ucap Nia pada Risa berbohong.
"Terus lo sama Vano kenapa kayak lagi gak kompak gitu yah?" Tanya Putri menginterogasi Nia.
"Kalian terlalu banyak bicara deh, gue capek gue mau istirahat sebentar yah" Ucap Nia beralasan, karena dia lagi malas membicarakan tentang Vano dan dia yang semakin enggan.
Nia, Risa dan Putri beserta tim bus 2 pun melihat dan menikmati pertujukan mereka. Mereka para bus 1 kecuali Nia mengikuti pemimpin acara itu. Mereka menari nari dengan sangat senang, terkecuali Vano yang terlihat sedikit murung. Tarian ini disebut tari Tor tor, tarian khas sumatera utara. Sungguh menakjubkan mereka.
Setelah selesai mereka salam salaman, dan kini para bus 2 yang masuk untuk menari. Nia pun memilih berada di tengah antara Risa dan Putri, sedangkan disamping Risa adalah Dion dan Lita.
Sekarang yang menyaksikan mereka para bus dua adalah bus 1. Risa sebelum baris tadi, menyuruh Jeri untuk videoin dia bersama para timnya menari. Sungguh hati Nia merasa senang, umurnya yang hampir menginjak umur lima belas tahun di sumatera utara, tapi baru kali ini dia menjalani yang namanya Parapat.
Mereka menari dengan senyuman yang mengembang. Emang saat penelitian rasanya lelah tapi saat ini yang di rasakan Nia adalah kebahagian.
Setelah selesai bersalam salaman mereka pun memilih untuk berdiam diri sejenak. Dan setelah itu baris kembali.
"Ya, sesuai ucapan bapak tadi, lita akan berbelanja dengan berbagi tempat" Ucap pak Haris menjelaskan kepada murid murid yang akan ditanggung jawabi nya saat ini.
"Bus satu diawasi oleh bu Rosana, bu Friiska dan kepala sekolah kita, sedangkan bus dua diawasi oleh bapak dan guru yang sisahnya" Ucap pak Haris menjelaskan pada murid murid itu.
"Sesuai ucapan bapak, bus satu bergegas berjalan dengan guru yang mengawasi, setelah itu bus dua ikuti bapak, semuanya bubar dengan rapi, perhatikan satu sama lain" Lagi lagi pak haris menjelaskan hingga para murid murid itu memahami semuanya yang harus dilakukan saat ini.
Nia hanya kesal, karena dia tidak bisa berbelanja dengan temannya eh- sahabat nya. Vano yang sedari tadi melihat wajah Nia kesal hanya diam tak berkutik. Mungkin pria itu lagi kesal melihat Nia.
"Yah jika kalian ingin berbelanja silahkan kalian pilih saja, pada bawa uang masing masingkan?" Tanya bu Rosana dengan lembut. Walau lembut, tetap saja para murid murid melihat bahwa tatapannya sangat tajam. Mengerikan.
"Van, lo mau beli apa?" Tanya Nia pada Vano, Nia yang biasanya memanggil kak atau bang. Kini malah berubah.
"Gue mau beli baju kaos aja untuk kenang kenangan" Ucap Vano menjawab dengan malas.
"Kalau kamu" Tanya Vano pada Nia.
"Gue juga mau beli baju kaos" Ucap Nia tersenyum ramah. Tumben saat ini dia tersenyum?, apa marahnya sudah redah?.
"Oh, yaudah ayo kita beli saja" Ucap Vano tanpa menatap Nia. Kini pria itu yang berubah.
"Kayaknya ini bagus deh Va-, eh maaf maksudnya kak Vano" Ucap Nia tersenyum merasa bersalah pada Vano.
"Hmm" Ucap Vano dengan malas. Dia malas karena Nia yang akhir akhir ini berubah entah kenapa. Sungguh menyebalkan.
"Buk ini berap bajunya" Tanya Nia pada seseorang perempuan.
"Ini harganya 75 ribu nak" Ucap penjual itu.
"Oh ya aku ma-" Kata kata Vano tiba tiba diambil ahli oleh Nia.
"Gak bisa kurang buk?, 35 ribu saja yah?" Ucap Nia menawar dengan memelas. Vano mendengarnya heran.
"Ni anak gila banget nawarnya" Ucap Vano yang heran nelihat tawaran Nia.
"Gue yang ba-" Ucap Vano pun dipenggal Nia.
"Soalnya kami mau beli 6 baju nya, ia kan kak" Ucap Nia pada Vano dengan melotot kan matanya pada Vano. Sedangkan Vano yang merasa seram dengan tatapan Nia hanya bisa menunduk.
"Iya bu" Ucap Vano dengan memindahkan arah pandangan nya dari tatapan mata Nia yang sangat sangat menyeramkan itu.
"Kalau gitu 65 ribu saja" Tawar ibu itu pada Nia kemabali. Sedangkan Nia yang merasa harga itu tidak pas tetap berusaha 35 ribu.
"35 ribu saja dong buk, mau belu 6 loh dah banyak" Ucap Nia sedikit memohon.
"Yasudah saya taruh harga pas nya saja, 55 ribu" Ucap penjual itu.
"Kurang 15 ribu lagi, jadi 35 ribu" Ucap Nua lagi lagi yang gak mau kalah. sedangkan Vano hanya diam heran menatap dua orang itu.
"50 ribu saja dah" Ucap penjual itu lagi.
"Yasudah bungkus 6 buk" Ucap Vano yang dari tadi melihat perdebatan mereka.
Nia hanya menatap Vano kesal sekesal kesalnya. Ingin rasanya di memarahi Vano yang jadi pahlawan kesiangan.
"Nah gitu dong" Ucap penjual tersenyum pada Vano.
Mereka pun pergi ke toko lain, sebelum pergi dari tempat penjual yang rempong satu itu. Penjual itu memberi ucapan pada Nia dan Vano.
"Adik mu ini sangat pandai menghemat uang, kelak dia pasti jadi orang kaya" Ucap penjual itu pada Vano. Sedangkan Nia hanya tersenyum malu ata pujaan penjual itu.
"Iya, bu, mudah mudahan kenyataan" Ucap Vano tersenyum pada ibu ibu itu.
Mereka pun langsung pergi keluar. Nia yang sedari tadi menahan kesal nya. Kini langsung berdecak kesal pada Vano.
"Lo gimana sih kak Van, masa gue nawar vak didukung" Ucap Nia kesal pada Vano.
"Lo nawar lebih setengah harga, kasihan penjualnya jadinya" Ucap Vano berkomentar.
"Tapi kak, ini barangnya tipis, hanya coraknya saja yang buat menarik" Ucap Nia melawan yang gak mau kalah.
"Yah gue minta maaf" Ucap Vano yang mengalah. Sedangkan Nia yang menatap wajah Vano merasa bersalah kini Nia juga minta maaf juga pada Vano.
"Gue juga minta maaf kak" Ucap Nia melihat Vano. Vano pun menegakkan kepalanya dan melihat Nia. Vano pun tersenyum begitu juga Nia yang membalas senyuman hangatdari Vano. Mudah mudahan saja mereka akur kembali.
"Sekarang lo mau beli apa lagi" Tanya Vano pada Nia.
"Aku mau beli gantungan kunci dan gorga" Ucap Nia tersenyum.
"Yaudah kayaknya disana ada" Ucap Vano pada Nia. Vano menunjukan salah satu tempat, dan mereka pun kesana dan membeli gantungan kunci itu.
"Bu gantungan kuncinya berapa?" Tanya Nia ramah pada tukang penjual itu.
"sepuluh ribu tiga nak" Ucap tukang oenjual itu.
"Enggak dapat dua ribu satu?" Tanya Nia yang mulai menawar nawar.
"Wah gak dapat nak" Ucap ibu itu pada Nia.
"Aku beli 20 gantungan kunci tapi dengan harga gantungan kuncinya 4/ 10 ribu?" Tanya Nia memberi tawaran.
"20 ribu, 7 gantungan kunci saja yah" Ucap penjual itu pada Nia. Vano yang melihat dan mendengarnya hanya memilih diam. Vano malas melihat Nia marah dan kesal pada dirinya.
"8 lah dua pulu ribu bu, dah beki banyak loh" Ucap Nia lagi lagi memelas.
"Yasudah lah" Ucap penjual itu pasrah. Nia pun tersenyum senang dan langsung menyuruh ibu itu membungkus 20 gantungan kunci itu dan setelah itu dia membelikan 2 topi untuk Vano dan satu lagi, itu mungkin untuk dirinya sendiri.
Setelah capek kesana kesini, Nia dan Vano pun memilih untuk beristirahat, mereka segera menemui bu Rosana.
"Kita istirahat di bus aja ya" Ucap Vano mengajak Nia.
"Kita permisi dulu yok" Nia pum memauinya. Nia pum mengajak Vano.
Mereka berdua pun menemui bu Rosana.
"Buk, kami ke bus luan yah" Ucap Vano pada bu Rosana pamitan.
"Yausudah sana, hati hati yah" Ucap bu Rosana dengan lembut, Nia dan Vano pun membungkukkan badannya setelah itu pergi ke bus mereka.
__ADS_1
"Badan ku pegal semu deh" Ucap Vano pada Nia.
"Sama nihh kak, bada ku rasanya pegal banget dah" Ucap Nia yang ikut ikutan berkomentar ke Vano.
"Lo capek banget yah?, maaf yah dah repotin" Ucap Vano yang merasa bersalah ke Nia, karena Vano lah Nia ikut meneliti, jika tidak Vano mengajak Nia, mungkin dalam 2 minggu ini akan dapat menghirup udara tanpa ada beban. Bukan seperti sekarang ini yang Nia rasakan semuanya pegal dan ngantuk juga lelah.
"Gak papa kok kak, gue malah senang, karena sangat banyak pengalaman yang ku temuin di sini, disini juga sangat menyenangkan kok bagi ku, aku gak keberatan sedikit pun" Ucap Nia pada Vano.
"Soal kemarin aku minta maaf yah" Ucap Vano pada Nia dengan wajah bersalah. Sedangkan Nia hanya diam berdecak kesal.
"Dia minta maaf atas kata kata nya?, berarti emang benar dia yang ucapkan?" Ucap Nia bergumam bingung dan heran.
"Lo gak mau maafin gue yah?, gue emang gitu Nia kalau lagi jadi pengganti guru. Gue akan galak" Ucap Vano menerangkan ke Nia. Bisa memberi keterangan juga alasan sih.
"Oh, gue maafin kok kak" Ucap Nia pada Vano, walau sebenarnya Nia belum mengerti kata kata Vano, tapi dia hanya berkata seperti itu saja, dari pada nanti malah tambah ribet, kan lebih susah masalah nya.
"Lo ngantuk?" Tanya Vano pada Nia. Nia melihat gerak gerik Nia yang mulai mengantuk.
"Lumayan lah, perjalanan kita jauh yah" Ucap Nia pada Vano.
"Iya jauh banget" Jawab Vano.
"Lo kalau mau tidur, tidur aja Nia, gue gak bakalan modus kok" Ucap Nia pada Vano, sedangkan Nia hanya tersenyum. Memang Nia ingin tidur, tapi dia merasa malu jika tidur terlebih dahulu, dan Vano pasti akan melihati nya tidur, apalagi pas mendengkur. Nia pun membuka matanya untuk berusaha tidak tidur dengan sebisanya mungkin. Sedangkan Vano, malah tertidur terlebih dahulu. Dasar Vano.
"Katanya tidur aja luan, eh ini malah dia yang tidur terlebih dahulu, dasar" Ucap Nia tersenyum menatap pria bernama Vano, yang sedang tidur disamping nya.
"Aku tidur juga deh, mataku sudah mengantuk" Gumam Nia oada dirinya.
Nia dan Vano pum tidur, kepala Vano yang berada di bahu Nia, sedangkan kepala Nia berada di sandaran kaca bus. Mungkin Nia sudah merasa sangat lelah dengan perjalanan yang ekstrim. Perjalanan yang menakutkan dan menakjubkan. Perjalan ketempat mereka berada sudah seperti perjalan dalam hidul, yang eksrim, dari balik menakutkan timbullah sesuatu yang sangat-sangat menakjubkan pada setiap pejuang jalan ekstrim.
•••••
"Apa Nia menikmati pemandangan ini disana yah?" Tanya Dion yang bergumam pada dirinya sendiri.
"Lo kok diam aja sih Dion" Ucap Lita bertanya pada sepupunya itu.
"Gue hanya menghayal gak bengong kok" Ucap Dion pada Lita. Sedangkan Lita hanya menggeleng geleng heran melihat sepupu nya yang sangat aneh itu.
"Lo mau beli apa nih?" Tanya Lita pada Dion. Dion pun memilih salah satu syal untuk cewek dan juga kardigan cewek.
"Bu, ini harga nya berapa?" Tanya Dion pada ibu ibu paru baya itu.
"Harganya 175 ribu nak" Ucap ibu paru baya itu alias tukang jualan kaki lima itu.
"Aku beli satu dan baju kaos ini dua, satu ukuran sedang dan satu lagi biasa saja" Ucap Dion memerintahkan tukang jualan itu. Sedangkan Lita tersenyum senang melihat Dion. Entah apa yang buat anak itu tersenyum.
"Lo kenapa senyum senyum sendiri?" Tanya Dion heran pada Lita.
"Makasih yah" Ucap Lita lagi lagi tersenyum senyum bahagia. Dion yang masih bingung malah mengerutkan kening nya, dia masih tidak mengerti apa yang dimaksud sepupunya yang satu itu.
"Makasih?, makasih untuk apa?" Tanya Dion yang sangata-sangat heran.
"Makasih buat baju yang barusan lo belikan untuk gue, padahal gue gak ada minta ke lo, lo nya langsung peka aja, pengertian banget sih" Ucap Lita dengan sangat senang dan tersenyum. Sedangkan Dion malah tertawa mendengar perkataan sepupu nya yang satu itu.
"Hahahah" Tawa Dion yang sangat kuat. Sedangkan Lita hanya menatapnya heran. Entah apa yang lucu hingga dia tertawa sangat kuat seperti itu.
"Apa yang lucu?, lo kok malah tertawa?" Tanya Lita yang sangat heran.
"Kata kata lo yang lucu" Ucap Dion jujur lada sepupu nya itu.
"Maksudnya kata kata ku?" Tanya Lita yang masih saja heran.
"Iya, siapa juga yang mau ngasih ke lo, ogah, orang ini untuk Nia kok, percaya diri amat sih mbak" Ucap Dion meledak sepupunya itu.
"Tau ah, kesal" Ucap Lita ngambek. Bodoh banget dirinya yang langsung mengambil keputusan seperti itu.
"Idih mbak nya ngambek" Ucap Dion meledek sepupunya itu. Sedangkan Lita hanya memalingkan wajahnya dari Dion. Ia ia rasa adalah malu dan kesal pada sepupu nya yang satu itu. Menyebalkan.
"Yaudah kita lanjut berbelanja saja" Ucap Dion mengajak Lita yang masih ngambek.
•••••••
"Ris, lo mau beli apa ya?" Tanya Putri pada Risa.
"Hm, aku mau beli syal untuk kita empat aja deh" Ucap Risa menjawab ke Putri. Sedangkan Putri hanya mengangguk anggukan kepalanya.
"Aku mau beli gorga, untuk kita empat aja" Ucap Putri yang bingung dari tadi.
"Yaudah kita belu kesana saja" Ucap Risa menunjukan suatu tempat, mereka pun pergi ke tempat tersebut dan setelah itu Putri dan Risa membelikan syal untuk nyokap nya sebagai buah tangan.
••••••••
Setelah semua selesai berbelanja, akhirnya mereka semua berbaris ditempat semula dan masuk ke bus masing masing. Untung para pengawas guru tidak memperhatikan Nia dan Vano yang sedang tidur. Tapi Jeri selalu saja memperhatikan nya semua. Seperti nya Jeri sangat rempong jika melihat Nia dan Vano tidur berdekatan seperti itu.
Terpancar senyum licik di muka Jeri. Jeri pun menarik kepala Vano ke arah tempat yang tidak ada sandaran hingga akhirnya kepalanya hampir terjatuh ke bawah. Vano pun tersadar, ada beberapa orang yang menyaksikannya itu ikut tertawa. Vano yang sedari tadi tidur pun, jadi langsung bangun dam sadar. Dia membenarkan posisi tidurnya kembali hingga nyaman.
Tapi jika Nia tidak keberatan, mengapa jadi Jeri yang sewot?. Nanti orang orang malah berfikir bahwa Jeri suka sama Nia. Bisa bahaya kalau itu terjadi. Bukan hanya Vano membenci Jeri melainkan Risa juga akan benci pada Nia, seperti yang dilakukan Putri ke Nia hanya karena Raka. Emang saat awal percintaan, kita mampu dibuat dengan bergerak menggunakan emosional, berbeda seperti biasanya.
•••••••
"Lo masih kesal sama gue yah?" Tanya Dion pada Lita. Sedangkan Lita tidak menjawab. Karena Lita masih kesal dan malu. Lita tidak biasanya bertingkah bodoh seperti ini.
"Gue minta maaf deh, karena gue dah meledek lo beelebihan" Ucap Dion meminta maaf Pada Lita. Sedangkan Lita hanya diam tak bersuara.
"Dion ada ada aja deh, dah jelas jelas gue yang bloon, kok dia malah minta maaf, nyebelin aja deh" Gumam Lita menggerutu kesal.
"Please jangan marah gitu dong ke gue" Ucap Dion memelas. Sedangkan Lita hanya melipat dua tangan nya di atas perutnya.
"Hmm, lo cantik deh sebagai sepupu gue, tolong maafin gue yah" Ucap Dion lagi lagi merasa sepupu nya itu. Sedangkan Lita mendengarnya jadi tertawa.
"Iya gue maafin, lo lucu banget dah" Ucap Lita tertawa. Sedangkan Dion pun ikut tersenyum dan merasa lega. Karena Lita sepupu mya itu sudah mau memaafkan dia.
"Makasih dah mau memaafkan gue" Ucap Dion tersenyum.
"Hm sama sama" Ucap Lita tersenyum.
"Gue ada sesuatu kok buat lo" Ucap Dion pada Lita. Apa mungkin Dion meledak Lita? atau malah sebaliknya?, dia jujur. Dia memegang membelikan sesuatu ke Lita?, entahlah.
"Lo mau meledek gue lagi nih?" Ucap Lita kesal pada Dion.
"Gue serius!" Ucap Dion pada Lita, Lita hanya diam, dia malas merespon, entar malah bikin dirinya sendiri malu lagi.
"Lo gak mau nih?" Tanya Dion pada Lita.
"Gue malas Dion, nanti gue di ledek lagi" Ucap Lita pasrah pada Dion. Sedangkan Dion yang mendengar malah menjadi merasa bersalah Lita.
"Jahat banget gue, sampai bikin lo jadi trauma" Ucap Dion bergumam tentang pendapatnya.
"Gue emang seriusan kok aka kasih lo sesuatu, nih" Dion pun memberi Lita sebuah topi dan coklat. Dengan senang Lita mengambilnya dengan senyuman manis.
"Makasih" Ucap Lita dengan senang.
Tanpa sengaja Putri melihat Lita dan Dion yang saling tersenyum bareng.
"We kalau sepupuan jangan terlalu romantis" Ucap Putri meledek mereka berdua sedangkan Lita hanya tersenyum dan Dion pun jadi sewot.
"Eh keluarga juga harus romantis dan harmonis ya" Ucap Dion yang sok bijak ke Putri.
"Tapi jangan sampai jatuh cinta yee" Ucap Putri pada Dion.
"Kalau lo kasih Vano ke Lita pasti gak akan terjadi" Ucap Dion bercanda.
Putri dan Risa pun kompak mengeluarkan lidahnya untuk mengejek Dion. Sedangkan Lita hanya tertawa melihat tingkah mereka berdua yang selalu kompak. Suasana disitu pun mulai hening, hingga Dion memilih untuk membuat hening itu menjadi ribut kembali. Gimana caranya?. Dion pun mengambil gitarnya dan mulai memetik senar gitar nya dengan lembut, dia pun menyanyikan lagu By: Rosa yang berjudul ku menunggu.
isi lagu
'Ku menunggu
'Ku menunggu kau putus dengan kekasihmu
Tak akan kuganggu kau dengan kekasihmu
'Ku 'kan selalu di sini untuk menunggumu
Cintaiku
Kuberharap kau kelak 'kan cintai aku
Saat kau telah tak bersama kekasihmu
Kulakukan semua agar kau cintaiku
Haruskah kubilang cinta
Hati senang namun bimbang
Ada cemburu juga rindu
Kutetap menunggu
Haruskah kubilang cinta
Hati senang namun bimbang
__ADS_1
Dan kau sudah ada yang punya
Kutetap menunggu
Datang padaku
Kutahu kelak kau 'kan datang kepadaku
Saat kau sadar betapa 'ku cintaimu
'Ku 'kan selalu setia 'tuk menunggumu
Na na na na
Na na na na na na
Na na na na na na
Na na na na na na
Na na na na
Na na na na na na
Na na na na na na
Na na na na
Haruskah kubilang cinta
Hati senang namun bimbang
Ada cemburu juga rindu
Kutetap menunggu
Haruskah kubilang cinta
Hati senang namun bimbang
Dan kau sudah ada yang punya
Kutetap menunggu
Na na na na
Na na na na na na
Na na na na na na
Na na na na na na
Na na na na
Na na na na na na
Na na na na na na
Na na na na
Haruskah kubilang cinta
Hati senang namun bimbang
Ada cemburu juga rindu
Dan aku tetap menunggu
Haruskah kubilang cinta
Hati senang namun bimbang
Dan kau sudah ada yang punya
Kutetap menunggu
(Aku tetap menunggu)
Kutetap menunggu
(Aku tetap menunggu)
Kutetap menunggu
Dion pun menyanyikan nya sesuai lirik di atas.
Dan akhirnya bus itu pun mulai ramai kembali, rencana Dion pun berhasil untuk membuat bus itu ramai kembali. Dion bernyanyi sambil menghayati betapa cemburu nya diri nya melihat Vano dan Nia bersama dalam 2 minggu ini.
•••••••
"Hoam" Ucap Nia yang baru bangun. Gadis bernama Nia itu melihat orang orang yang belum tidur. Mereka sibuk dengan pikiran masing masing, Nia pun berencana untuk membuat bus nya itu ramai kembali. Gadia bernama Nia itu pun mengambil gitar milik kakak kelas yang dia pinjam. Nia pun mulai memetik senar gitar tersebut dan menyanyikan lagu By:Zivila yang berjudul Aishteru.
Isi lagu
Menunggu sesuatu yang sangat menyebalkan bagiku
Saat 'ku harus bersabar dan terus bersabar
Menantikan kehadiran dirimu
Entah sampai kapan aku harus
Menunggu sesuatu yang sangat sulit 'tuk kujalani
Hidup dalam kesendirian sepi tanpamu
Kadang kuberpikir cari penggantimu
Saat kau jauh di sana
Gelisah sesaat saja tiada kabarmu
Kucuriga entah penantianku takkan sia-sia
Dan berikan satu jawaban pasti
Entah sampai kapan aku harus
Bertahan saat kau jauh di sana
Rasa cemburu merasuk ke dalam pikiranku
Melayang tak tentu arah tentang dirimu
Apakah sama yang kau rasakan?
Walau raga kita terpisah jauh
Namun hati kita selalu dekat
Bila kau rindu pejamkan matamu
Dan rasakan a-a-a-aku
Kekuatan cinta kita takkan pernah rapuh
Terhapus ruang dan waktu
Percayakan kesetiaan ini
Pada ketulusan a-a-ai-aishiteru
Saat kusendiri pikiran melayang terbang
Perasaan resah gelisah
Jalani kenyataan hidup tanpa gairah
Kumohon kau kembali
Kimi ga tooku ni itemo
Kimino omoi ga tsunagaru kara
Shinjiteru yo, shinjiteru yo
Walau raga kita terpisah jauh
Namun hati kita selalu dekat
Bila kau rindu pejamkan matamu
Dan rasakan a-a-a-aku
Kekuatan cinta kita takkan pernah rapuh
Terhapus ruang dan waktu
Percayakan kesetiaan ini
Pada ketulusan a-a-ai-aishiteru
__ADS_1
Suara gitar dan suara Nia sangat serasi. Kini bus tersebut mulai kembali ramai. Yang di inginkan Nia pun terjadi.
Setelah Nia bernyanyi di bus nya orang orang pun berkata. "Baper deh" Ucap mereka. Begitu juga Dion di busnya, banyak orang yang memuji muji kepandaiannya dalam bidang musik tersebut.