Nion

Nion
#43# "Nia mengubah keputusannya lagi lagi"


__ADS_3

"Dion" Lita yang tanpa sengaja menampar Dion pun kaget.


"Ahh" Dion berdesis kesakitan.


"Kamu gak papa Dion?" Nia memperhatikan Dion, dan merasa sedih.


"Lo gak papa kan Dion?" Lagi lagi Lita bertanya.


"Nggak kok, gue gak papa" Jawab Dion.


"Apanya yang gak papa sih, ini lebam loh pipi mu Dion" Nia memperhatikan lebam pipi Dion sebelah kiri.


"Udah, gue gak papa kok, lo juga gak papa kan?" Dion bukannya memperhatikan luka nya malah memperhatikan luka orang lain yang sama sekali tidak ada.


"Kamu yang luka, malah aku yang ditanya, gimana sih" Nia malah jadi sebal.


"Iya iya deh" Jawab Dion.


Putri dan Risa begitu juga anak kelas 8-2, yang baru datang hanya menonton. Menonton bioskop tanpa ada bayaran.


"Yaudah kalau gak papa, gue keluar dulu nyari angin" Nia pun merasa gerah ada didalam ruangan yang sempit itu.

__ADS_1


"Lo gak ada niat buat bawa gue ke UKS kompres gitu?" Dion mencegah langkah Nia dengan berkata seperti itu.


"Tadi katanya gak sakit" Nia pun merasa kesal deh.


"Yaudah kalau lo gak mau, biar gue yang bawa Dion" Lita yang merasa kesal pun mengambil pilihan.


"Udah biar aku aja, nanti ditampar lagi sampai UKS" Kesal;Nia bikin Lita kesal.


"Seharusnya bukan Dion yang kayak gini, harusnya lo cewek ganjen" Lita merasa tersindir pun mengatakan Nia dengan sebutan yang tak pantas Nia dapatkan.


"Bukannya gue ganjen, lo yang ganjen tapi gak ada cowok yang ingin sama lo, karena lo itu sampah" Nia makin membuat onar dikelas itu.


"Lo itu ya, lantam banget" Muka Lita berubah menjadi merah. Merah bukan karena malu dirayu melainkan emosi.


"Apaan sih Dion, lo dari tadi belain cewek ganjen ini deh" Kesal Lita.


"Eh, biar kau sadar yah kayak mana yang ganjen, ganjen itu adalah orang yang berantam karena dia gak bisa dapetin pacar orang, berarti gue lepas dong dari kata ganjen, kan gue pacaran sama bang Vano, dan lo tiba tiba marah gara gara gue pacaran sama bang Vano, jadi yang ganjen itu lo" Nia pun berbicara dengan panjang lebar.


Lelah. Itulah yang dirasakan Nia, berbicara dengan orang seperti Lita sangat menguras tenaga.


"Udah udah" Dion pun makin kesal.

__ADS_1


"Biar gue sendiri aja yang kompres, kalian selesaikan masalah kalian tentang cowok kalian itu" Dion makin kesal. Perih. Dion merasa perih dihati melihat Nia yang berdebat karena Vano, Dion benci Vano.


"Udah biar aku yang bantu" Nia pun menarik tangan Dion untuk mencegah langkahnya.


"Yaudah ayo" Ajak Dion, hati Dion mulai bergetar, detak jantung berguncang kencang.


Sedangkan Lita hanya diam memaku.


Nia pun membuka pintu dan betul ternyata banyak orang diluar, tetapi banyakan anak


kelas 8-2 yang sedari tadi ingin masuk.


"Untung guru belum datang, kalau gak bisa habis kita" Dion yang sedari tadi memperhatikan kearah ruang piket guru dekat gerbang.


"Iya nih, maaf yah, gara gara aku kamu jadi gini"


"Iya gak papa kok, dulu kan lo pernah nolongin gue dari Jason, christian, dan Andre"


"Masih ingat kamu?"


"Ingat dong"

__ADS_1


Selama perjalanan menuju UKS mereka berdua terus berbincang bincang.


__ADS_2