
Kini Nia dan kedua sahabatnya yaitu Putri beserta Risa masuk ke dalam kelas dan hari ini adalah pelajaran Seni budaya dan gurunya buk Friska. Bagi murid yang ada di SMP itu, guru seni yang satu ini guru yang paling cuek tapi ngangeni. Satu hari saja dia tidak hadir rasa nya mereka sudah rindu. Kenapa?.
Karena ibu ini hadir dikelas itu hanya bermain handphone nya dan menyuruh para siswa/siswi yang ada dikelas 8'2 atau kelas mana dia mengajar untuk mencatat walau catatannya banyak banget. Tapi mereka lebih suka seperti itu dari pada sama guru paling kiler yaitu buk Rosana. Guru paling galak tapi sebenarnya ibu itu baik kok.
"Hai anak anak apa kabar?" Tanya ibu guru itu.
Ibu bernama Friska itu kadang aneh, kadang cuek kadang ramah banget seperti halnya hari ini, entah apa yang membuat nya tiba tiba perhatian sama muridnya
"Baik buk" Ucap para murid yang berada di kelas itu.
"Kalian ingat kan bentar lagi ujian?" Tanya ibu itu yang mengingatkan ketiga sahabat itu yang sedang berderetan.
"Kita kapan ujian?" Tanya Nia menghadap kebelakang tepat didepan Risa.
"Lama lagi sih, kan dua bulan lagi" Ucap Risa menjawab.
"Aneh banget tuh buk Friska" Ucap Putri yang merasa heran.
"Ingat buk dua bulan lagi" Ucap para siswa/siswi menjawab.
"Nah ibu cuman mau bilang kalian pelajari dari bab 1 sampai 3 di buku semeter genap yah, jangan ada yang bertanya kisi kisi lagi yah, soalnya ibu tidak mengajar selama sebulan ini, ibu mau bawa anak UKS ke Sumatera utara untuk penelitian swkalian refreshing sekali sekali" Jelas ibu itu pada murid murid, dan murid murid pun mengerti dan paham akan penjelasannya.
"Nanti ibu harus kemas kemas bareng persiapan" Ucap buk Friska pada murid murid.
"Oh iya, Nia kamu pasangan nya Vano kan?, katanya dia akan barengan kamu?" Tanya buk Friska menanyakan kepastian pada Nia sedangkan Nia hanya diam tercengang.
"Apa bang Vano tadi datang mau bilang itu?, tapi aku langsung mengusirnya?" Batin Nia. Kini Nia pun merasa kesal pada dirinya sendiri, betapa ceroboh nya dirinya yang harus bersikap seperti tadi.
"Nia kok gak jawab" Tanya buk Friska lagi lagi. Nia pun tersadar dari lamunannya.
"Nn-----" Ucapan Nia pun terpotong karena Risa langsung menjawabnya.
"Iya bu, tadi Vano datang kesini bu, untuk ngasih taunya" Ucap Risa tersenyum.
Sedangkan Nia yang mendengar langsung mengarah kebelakang dan menatap Risa.
"Apaan sih Ris kalau bang Vano gak ada niat gimana?" Tanya Nia cemas.
__ADS_1
"Gua itu saudara nya, gue ngerti sifatnya Nia, santai aja lo" Ucap Risa menenangkan Nia.
Sedangkan Putri hanya diam, dia memang benar benar sangat aneh saat ini, berbeda seperti biasanya yang selalu ceria.
Tanpa mereka sadari, mereka berbincang bincang seakan akan di dalam dua meja itu hanya ada 3 orang, dan satu lagi yaitu Dion seperti tidak dianggap oleh mereka. Begitu juga Dion yang memilih untuk membaca buku nya untuk persiapan ujian yang dua bulan lagi lamanya.
Tapi walau begitu, terlihat jelas dari wajah Dion. Wajah yang sedang cemburu dan kesal. Apa mungkin Pria itu kesal karena mendengar Nia akan pergi mendampingi si Vano?, entahlah, hati anak itu susah ditebak oleh siapa pun.
Nia dan kedua sahabatnya yang bernama Risa dan Putri itu terus berbincang bincang walau ada guru. Seperti yang diucapkan tadi, bahwa dia (guru seni) orang nya sangat cuek, dia hadir hanya untuk bermain hp nya saja.
"Tok tok tok" Suara pintu di ketuk.
"Ehh nak Vano, ada apa nak?" sapa Friska dan ibu ibu paruh baya itu bertanya ke orang yang berada di dekat pintu kelas 8'2.
"Buk dipanggil sama pak Syahdanil, barang barang yang diambil apa apa aja" Ucap Vano dengan sangat sopan dan ramah.
Wajar orang orang suka dengan nya, dia orangnya humoris, baik, penyayang lagi.
"Oh yasudah ibu pergi sebentar yah anak anak" Pamit bu Friska pada murid murid yang ada disitu, dan beranjak keluar. Sedangkan Vano, bukannya menyusul malah datang ketempat Nia.
Nia yang melihatnya datang kearah nya langsung menunduk.
"Tenang aja Van, dia ikut kok besok, iya kan Nia?" Risa bertanya pada akhir kalimatnya.
"Iya" Jawab Nia dengan menunduk.
"Aku pergi dulu yah" Tanpa lupa Vano memberi elusan di kepala Nia seperti biasa. Itu sudah menjadi hobi nya.
Pria itu pun melangkah, dan tiba tiba saja Nia memanggilnya.
"Bang Van" Teriak gadis itu, sedangkan Vano yang merasa namanya dipanggil langsung memutarkan posisi nya 180 derajat.
"Ada apa" Tanya Vano ramah pada Nia.
"Gue minta maaf soal tadi" Ucap Nia ragu ragu.
"Iya gak papa" Ucap Vano yang sangat pengertian. Dan pria itu pun pergi berjalan menuju keluar.
__ADS_1
Tentu banya sepasang mata yang melihatnya dan berbisik, walaupun berbisik tetap aja kedengaran.
"Romantis banget yah"
"Sosweat"
"Vano keren banget deh" Yah ada banyak hal yang diucapkan tapi yang ditulis hanya segini saja yah.
Tanpa di sadari Nia. Lagi lagi ekapresi Wajah Dion kesal dan emosi.
"Panas" Ucap Dion dan keluar entah kemana.
Sedangkan Lita yang tiba tiba mendekati Nia. Awalnya Nia berfikir bahwa gadis yang menjadi musuh bebuyutan nya itu datang datang untuk mengata katainya gak jelas tapi hasilnya sungguh menakjubkan.
"Nia" Panggil Lita pada Nia.
Sedangkan Nia memutar bola matanya dengan malas dan menatapnya.
"Gue mau minta maaf atas salah gue" Ucap gadis itu pada Nia. Kata kata yang dia ucapkan barusan tadi, membuat Nia benar benar heran. Gadis bernama Nia itu mencoba mencerna kata kata yang jarang dia dengar dari Lita, bahkan baru kali ini pun.
Bukan cuman Nia yang heran melainkan Risa dan Puri begitu juga teman sekelas mereka, namun mereka tidak terlalu mempedulikannya. Putri yang dari tadi sinis kini berbicara.
"Tumben ada inisiatif lo mau minta maaf sama Nia" Ucap Putri yang heran melihat Lita.
"Gue bukan cuman minta maaf sama Nia melainkan sama kalian berdua juga, gue sadar akan ucapan Vano semalam Nia, gak selayaknya gue membenci lo, malah seharusnya gue bersyukur karena orang yang gue cintai kini dah mendapatkan orang yang selalu buat nya nyaman dan bahagia, gak sepantas nya gue cemburu" Ucap Lita yang tiba tiba saja berbicara seperti orang dewasa.
"Kami gak tau kalau lo itu layak jadi teman atau nggak?" Kini Risa yang menjawabnya sedangkan Nia hanya diam menatap nya heran, seperti nya Nia masih gak percaya akan semua hal yang diucapkan oleh Lita barusan. Sepertinya itu hanya hayalan saja.
Sedangkan Putri hanya menatapnya aneh dan Risa selalu mengintrogasi Lita. Seperti orang penculik aja.
"Menurut gue, kata kata lo gak masuk akal, baru semalam lo mau nyakitin Nia tiba tiba aja sekarang ini lo mau minta maaf?, rencana apa lagi sih?" Tanya Risa dengan nada bosan nya akan semua permainan ini.
"Ini bukan permainan, karena ini dari hati terdalam gue yang sedalam dalamnya" Ucap Lita lagi dengan wajah yang seperti benar benar tulus.
Tentu saja sulit bagi mereka bertiga untuk percaya begitu saja, karena yang mereka hadapi bukan sembarang orang, melainkan setan licik berkepala dua, hanya saja menggunakan jasad manusia.
"Setelah lo dan kami berteman lo mau ngapain lagi sama kami?" Tanya Risa yang masih saja mengintrogasinya.
__ADS_1
"Gue mau kita bersahabat dengan baik dan jika saya mengulangi kesalahan, aku harap kalian mencegah ku" Ucap Lita dengan wajah tulusnya.
"Ogah" Ucap Putri dengan malas dan kesal.