Nion

Nion
#54# Marahan dengan Vano


__ADS_3

Nia dan Dion pun pulang barengan, mereka hanya diam saja hingga Nia sampai dirumahnya atas jasa Dion yang baik hati mengantarnya.


"Lo mau disepeda terus atau masuk kerumah lo" Dion pun meledak Nia yang sedari tadi hanya diam saja di sepeda Nia, padahal Dion sudah memberhentikan sepedanya namun tetap aja Nia diam.


"Oh dah nyampek" Ucap Nia yang menyadari keberadaannya sedang berada didepan rumahnya sendiri.


"Iya, bahkan gue dah lima menit berhentiin sepeda gue dan lo tetap aja diam" Ucap Dion kesal menatap gadis yang dia bonceng.


"Kampret kau" Ucap Nia dan menjitak kepala Dion.


"Sakit tau" Ringis Dion yang kesakitan.


"Dion sih dari tadi gak bilang" Ucap Nia nyalahin Dion.


"Lah salah lo juga ngapain melamun" Ucap Dion yang tak mau kalah.


"Dari dulu kau itu gak mau kalah adu mulutnya yah" Ucap Nia mengingat masa kenangan nya sama Dion awal berteman.


"Masih ingat lo yee" Jawab Dion pada Nia.


"Hahaha, aku kepingin ngulangnya lagi sih" Ucap Nia dengan begitu saja.


Sedangkan Dion yang mendengarnya langsung menatap Nia dengan dalam.


"Gue rindu sosok lo yang ganggu hari hari gue Nia" Ucap Dion dalam hatinya.


"Yaudah, aku masuk yah, dan untuk hari ini makasih" Ucap Nia tersenyum manis pada Dion.


"Makasih?, Makasih untuk apa?" Tanya Dion yang bingung maksudnya Nia.


"Iya makasih, makasih dah temani aku waktu dihukum dan makasih dah mau nganterin aku" Ucap Nia menjawab pertanyaan Dion.


"Bukannya dulu kita sering kayak gini ya?" Ucap Dion pada Nia mengingatkan kenangan manis mereka.


"Yah sebelum bertengkar dan sebelum kau punya pacar, dan gak mungkin lagi masa dulu itu terulang lagi" Ucap Nia menegakkan pemikirannya tentang semua fakta ini.


"Maaf" Ucap Dion menatap Nia.


"Maaf untuk apa?" Tanya Nia lagi lagi bingung.


"Maaf untuk kesalahan gue" Ucap Dion sedih.


"Udah gak usah sedih, kau gak lihat sekarang ini sudah jam berapa?, aku harus pergi untuk camping" Ucap Nia mengingat acaranya beserta janjinya.


"Oh iya, gue pulang see you" Ucap Dion tersenyum dan pergi menggohet sepedanya.


"Andai kau itu belum punya Cika gue pasti tidak akan jaga jarak sama mu Ion" Nia pun bergumam sendiri dan senduh.


Nia masuk kekamarnya dan mulai packing packing barang barang yang mau dibawanya, Nia memang masih kesal sama Vano soal tadi, tapi mau bagaimana pun itu Nia sudah berjanji, Nia tidak suka orang yang menelan janjinya seperti itu saja.


Setelah selesai packing barang yang dibuat Nia, Nia juga tidak lupa membawa buku tiga tulis yang ketiganya berisi 100 lembar buku tulis. Dua buku itu masih baru dan tidak ada yang ditulis dan yang satu lagi sebuah buku yang ditulis Nia tentang pelajaran, bentar lagi ujian, maka Nia harus giat belajar, dan untung nya Nia sudah lama mempersiapkan catatan yang penting tentang kisi kisi, Nia pun melihat jam yang masih mengarah ke pukul 04:00.


"Masih ada waktu untuk istirahat" Gumam Nia melihat jam itu.


Nia pun merebahkan badan nya, Nia merasa baru saja dia merebahkan badannya, namun tiba tiba saja tidurnya dah diusik oleh panggilan suara dari luar.


"Nia, Nia lo bangun dong, lihat dah jam tengah lima, lo gak berangkat?" Ucap Dion membangunkannya.


"Dion?, kau ngapain?, macam gak ada kerjaan aja datang kesini sebagai alaram ku" Ucap Nia yang berusaha menyadarkan dirinya sepenuhnya.


"Udah cepatan nanti lo telat" Ucap Dion tanpa basa basi.


"Iya iya, rese banget sih" Kesal Nia.


Nia pun mencuci mukanya dan menggendong tas nya dibelakang.


"Gue pigi yah, makasih alaramnya" Ucap Nia pada Dion sedangkan Dion hanya menggeleng heran.


"Gue juga ikut setan" Ucap Dion menyadarkan Nia tentang hal itu.


"Seriusan?, kalau gitu bareng dong" Ucap Nia tersenyum menatap Dion. Senyumnya yang masih sama dengan dulu.


"Makanya gue datang kesini" Ucap Dion dan menarik tangan Nia, akhirnya mereka pergi tanpa adu mulut.


Setelah selang berapa lama akhirnya mereka berdua sampai. Dan ternyata masih sepi, hanya para guru yang ada, Nia dan Dion pun akhirnya menunggu didepan pagar sesuai permintaan Nia.


"Kita kecepatan deh" Ucap Dion berkomentar.


"Dion sih tiba tiba bangunin aku cepat cepat" Ucap Nia menyalahkan Dion.


"Maaf deh" Ucap Dion merasa bersalah.


"Iya iya iya" Ucap Nia ketika sejenak melihat Dion mulai sedih karena merasa bersalah.


Akhirnya para anak UKS dan pasangan nya mulai berkumpul begitu juga Vano, Risa dan Putri.


"Nia lo kok sendiri kesini nya sih?" Tanya Vano kesal menatap Nia.


"Aku gak sendiri kok, aku sama Dion kok" Ucap Nia tanpa melihat Vano.


Mungkin gadis bernama Nia itu masih kesal menatap Vano.


"Lo masih marah ya?" Tanya Vano menatap kearah Nia.


"Ngapain marah" Ucap Nia tanpa melihat lagi.


"Jadi kenapa tadi gue manggi lo, lo gak nyahut dan saat pulang tadi lo gak tunggu gue pas tadi pulang sekolah" Tanya Vano pada Nia menyelidiki.


"Terserah ku dong" Ucap Nia tanpa melihat kearahnya. Sedangkan Vano hanya melihatnya kesal dan memukul dinding yang dekat sama mereka.


Nia hanya bodo amat, dia tidak peduli. Ngapai Nia peduli sama orang yang sama sekali tidak peduli pada dirinya.


Kini mereka pun masuk ke bus yang ada didepan. mereka hanya menggunakan dua bus.


"Dion aku pasangan mu duduk ya" Ucap Nia pada Dion berharap. Sedangkan Dion hanya diam melihat kearah Lita, Dion ikut karena Lita lah yang anak UKS.


"Yaudah gue sendiri aja" Ucap Lita yang mengerti keadaan nya.


"Apaan sih Nia, lo ikut karena gue jadi lo harus duduk sama gue dong" Ucap Vano membantah.

__ADS_1


Dion yang mendengarnya merasa bersalah.


"Iya Nia, lo sama Vano aja, biar gue sama Lita" Ucap Dion memberi ide.


Sedangkan Nia hanya menghembuskan nafasnya dengan berat dan dia pun mulai masuk ke bus dan mengambil tempat duduk yang kosong. Gadis itu pun meletakkan tasnya diatas, tempat barang barang. Gadis imut itu memilih duduk di dekat kaca dan Vano disamping nya.


Nia pun tidur dan meletakan kepalanya kekaca, dari tadi gadis itu merasa lelah dan ngantuk.


"Lo capek banget ya" Bisik Vano tepat dikuping Nia.


"Hm" Nia yang belum pulas tidur pun menjawabnya dengan setengah sadar.


"Maaf yah" Sambung Vano berbisik dikuping Nia.


Sedangkan Nia hanya diam tidak menjawabnya. Mungkin gadis itu sudah tertidur pulas.


Sedangkan Vano melihatnya tidur nyenyak langsung menarik kepalanya dan disandarkan di dadanya yang bidang. Lalu Vano mengelus elus kepalanya dengan lembut dan benar benar sangat lembut.


Sedangkan orang yang ada di bangku sebelah kiri Dion langsung ngomel ngomel melihat mereka yang sedang berasik asikan berdua.


"Gak muhrim Van, kesempatan aja lo" Ucap Jeri menatap Vano.


"Sstt, Lagi tidur dianya" Ucap Vano dengan cemas sedangkan Jeri tetap aja sewot.


"Ia dia tidur tapi lo nya keenakan" Ucap Jeri yang dari tadi sewot.


"Gue sumpal juga lo pake sepatu gue" Ucap Vano kesal dan sedikit bergerak.


Nia pun bangun karena gerakan Vano dan tersadar.


"Eh maaf aku gak sengaja, suer" Ucap Nia merasa bersalah.


"Emang Vano yang sengajakan" Ucap Jeri menjelaskan.


Seketika bibir Vano komat kamit kesal entah apa yang di ucapkan pria yang ada disamping Nia itu.


Nia melihatnya namun malah memilih untuk tidur karena dia lagi malas sama Vano.


 


••••


 


Sedangkan Dion sedang berada bus 02, begitu juga Risa dan Putri. Risa dan Putri ikut bersama dua pria yang akan mereka berudua untuk temani meneliti nanti.


"Dion, lo gak takut duduk sama ular berkepala dua, ular yang satu kepalanya saja kalau mematok akan sakit apalagi dua" Ucap Risa yang mencari sensasi pada Lita dan Dion.


"Hati hati yah Dion, walau dia sepupu lo, tapi harus hati hati hati juga" Ucap Putri yang ikut memanas manasi Dion dan Vano.


Lita berusaha tidak menyangkal kata kata mereka karena menurut nya itu memang pantas baginya, karena Lita juga sadar atas kejahatannya.


"Kalau dia ular kepala dua lantas kalian ular kepala lebih darinya, karena ular berkepala dua aja bisa menghentikan rancunnya agar tidak menyakiti yang lain sedangkan kalian tidak bisa kan?" Kini Vano mengatakan nya tidak menggunakan emosi, dia kelihatan santai.


Sedangkan Risa dan Putri hanya diam merasa kesal dengan kata kata Dion yang sok bijak bagi mereka padahal memang Dion tadi sangat bijak.


"Nia disana pasti sedang diam diam dengan Vano, sedangkan kita disini sangat menikmati perjalanan, kasihan mereka" Ucap Risa yang memikirkan mereka.


"Lo kenapa sih Putri, dari kemari kayaknya lo kesal sama gue dan Nia deh" Tebak Risa yang melihat sifat sifat nya yang sangat menjengkelkan. Sedangkan Putri hanya diam, gadis itu tidak menanggapi pertanyaan Nia.


 


••••••


 


"Lo masih kesal sama gue yah Nia" Ucap Vano menatap kearah Nia yang masih ingin membenarkan posisi tidurnya.


"Nggak urusan mu" Ucap Nia ketus.


"Plis jangan jutek gitu jadi nampak Cute banget tau" Ucap Vano pada Nia.


"Oh iya Risa dan Putri satu bus kita?" Tanya Nia yang mengalihkan pembicaraan tentang cute, karena kalau Vano terus menggoda nya, bisa bisa gadis itu akan salting (Salah tingkah) dan bahkan pipinya yang kaya bakpau akan berubah menjadi kayak udang rebus. Nia pun malah jadi gak bisa tidur karena Vano bertanya dan merayu nya.


"Nggak, mereka di bus satu lagi" Jawab Vano pada Nia.


"Jadi mereka disana?, mereka gak dekat sama ku dong" Ucap Nia kesal melihat kenyataan. Ternyata Nia baru sadar sekarang.


"Ih sabar kali, nikmati aja, atau nggak lo tidur dulu kantung mata lo dah hitam tuh" Ucap Vano.


"Gak mau, nanti kalau aku tidur, malah ada yang kesempatan dan modus" Ucap Nia menyindir.


"Nia mau kemana?" Vano langsung menanyakan Nia yang melihat gadis disamping nya itu ingin berdiri.


"Minggir bentar" Ucap Nia yang menepiskan kaki Vano yang menutupi jalan nya untuk lewat.


"Lo mau kemana?, jawab dulu" Vano bukannya mau menuruti malah bertanya.


Tanpa peduli Nia naik kepaha Vano dan melewatinya. Vano yang melihatnya langsung tercengang seperti tidak sadar alias terhipnotis. Jeri yang melihat ulah mereka semakin menjengkelkan.


"Baru SMP aja dah mesum" Ucap Jeri menjengkelkan.


"Siapa yang mesum?" Buk Friska yang mendengarnya langsung bersuara.


Sedangkan Jeri yang tersadar ada guru langsung sadar.


"Nyamuknya buk lagi mesum sama lalat kan gak mungkin bisa?" Ucap Jeri yang memberi alasan tidak masuk akal.


"Halah palingan Jeri yang mesum" Ucap Nia tersenyum menatap Jeri.


Jeri yang mendengarnya langsung melotot dan semua teman di bus menertawakan Jeri. Nia berjalan kebelakang untuk mengambil gitar dan membawanya ketempatnya.


"Kak, aku pinjam gitarnya yah kak" Ucap Nia permisi pada sang pemilik gitar tersebut.


"Iya gak papa kok" Jawab kakak kelas itu tersenyum manis.


Nia pun mengambil gitarnya dan membawanya ketempat duduknya, dan tanpa di sengaja Nia, Nia melihat bahwa cewek setan itu hadir, siapa lagi kalau bukan Karina dan sahabatnya.


"Sial kenapa dia ada disini?" Umpat Nia didalam hatinya.

__ADS_1


Karina menatap Nia dengan sangat tajam. Nia mengabaikannya dan terus berjalan membawa gitar itu hingga akhirnya dia sampai ditempat duduknya.


"Minggir" Ucap Nia dingin kembali.


Dengan cepat Vano langsung meminggirkan kakinya agar Nia dan gitar itu bisa masuk. Vano tidak mau jika Nia melakukan nya lagi, karena itu bisa membuat pipinya merah memanas belum lagi Jeri yang selalu menguntit.


Nia pun mulai memetik senar gitar itu dan bernyanyi "Kulepas semua yang ku inginkan, tak akan kuulangi, maaf kan jika kau kusayangi dan bila menanti" Nia menghayati lagu itu dan suara gitar itu yang sangat serasi ke suara Nia bernyanyi. Nia mengetahui bermain gitar karena Dion yang mengajarinya.


Bukan hanya Nia saja yang menghayati semuanya yang Nia hidangkan, semua di bus itu mungkin sedang menghayati nya. Apalagi Vano yang mulai memainkan jari dan kakinya bergerak gerak.


Nia pun selesai membawakan satu lagunya itu, sedangkan Vano langsung bertanya.


"Lo dah tau lama main gitar?" Tanya Vano yang menatap kearah Nia.


"Setengah tahun ini" Ucap Nia menjawab.


"Lo les musik dimana?" Tanya Vano pada Nia.


"Gue les musik di rumah Dion dan gurunya Dion" Ucap Nia yang memberi jeda oleh kata katanya.


"Di------" Nia yang ingin berbicara tentang Dion tiba tiba saja Vano langsung menghentikan kata kata Nia.


"Gak perlu dijelaskan gue juga dah tau kalau dia jago main piano dan bahkan dramben" Ucap Vano menjelaskan pada Nia. Sedangkan Nia hanya diam tanpa peduli yang penting hatinya senang.


 


•••••••


 


"Lo mau ngapain On" Tanya Lita pada Dion saat melihat Dion berdiri.


Dion pun mengambil gitarnya yang dari tadi dibawakan oleh nya, dia duduk kembali di tempat duduknya. Pria itu mulai memetik senar gitar dan bernyanyi kan lagu yang berjudul bentuk cinta "Aku tak tau apa yang lain dari mu saat ini, apa itu karena sepatu flat mu atau kuku mu yang baru kau warnai" Pria itu bernyayi dan mengingat dimana dia bernyanyi sendiri di rumah rumahan belakang nya.


 


FLASBACK ON


 


Saat Dion ingin bermaafan pada Nia, Dion berencana ingin minta maaf pada Nia, hingga Nia menghafal hafal lagu yang berjudul bentuk cinta.


"Gimana kalau besok gue suruh dia datang kerumah gue untuk ketaman, lalu gue nyanyi ini kedia, lalu gue minta maaf samanya" Ucap Dion sendiri didalam gubuk dibelakang rumahnya.


Dion pun mulai memetik senar gitar dan menyanyikan nya sendiri.


Namun pada saat Nia yang mendengar kabar Nia dan Vano pacaran akhirnya Dion pun menjauh dari Dion.


 


FLASHBACK OFF.


 


Semuanya merasa nyaman dengan suara gitar juga suara Dion yang serasi.


Setelah Dion selesai bernyanyi, banyak yang bertepuk tangan bahkan guru yang katanya guru kiler yaitu bu Rosana juga ikut menghayati lagu yang di buat Dion.


"Lo jago banget dah main gitarnya" Ucap Lita memuji sepupunya.


"Makasih" Balas Dion yang merasa di puji sama sepupunya bernama Lita itu.


"Lo yang ngajarin Nia main gitar yah?" Tanya Risa pada Dion.


"Hm" Jawab Dion singkat.


Mungkin bagi Dion melupakan Nia itu harus benar benar dilakukan karena semakin lama akan semakin dalam dan makin susah di obati karena sangat dalam.


"Selain jago main piano ternyata main gitar juga sudah hobby lo yah Dion" Ucap Risa yang menyadari bakat Dion.


Biasanya Putri yang sangat senang mengomentari kenapa dia masih diam?, fiks dia memang sedang membenci Nia dan Risa yang sedang berada sebelahnya.


"Kalian berdua kenapa tidak satu bus sama Nia aja tadinya" Tanya Dion heran.


"Vano yang meminta" Ucap Risa menjawab.


"Maksudnya?" Tanya Dion yang belum mengerti maksudnya.


 


Flashback on


 


"Van, Nia nya mana?" Tanya Risa yang heran sedangkan Vano pun menjawab.


"Dah ada disini kata ibunya sama Dion" Ucap Vano cemas dan memperhatikan satu persatu orang yang ada.


"Itu dia" Ucap Vano legah.


"Oh iya, aku harap kalian sama kami berdua berbeda ya" Ucap Vano pada Risa dan Putri mentita.


"Kenapa?" Tanya Risa heran.


"Kalau kalian ada, gue akan dicuekin" Ucapnya cemas.


"Anjay lo *******" Kesal Risa pada Vano


"Mulai bucin lo setan" Ucap Putri pada Vano.


Padahal dari tadi Putri hanya diam giliran seperti ini dia berbicara. Haduh.


 


Flashback off.


 


Dion yang mendengarnya langsung menyimpulkan Vano. "Dasar Vano egois, memikirkan dirinya akan dicuekin sama Nia tapi gak mikirin hati Nia yang ter iris iris pisau yang sangat dalam.

__ADS_1


Setelah lama berbincang bincang akhirnya mereka pun berhenti berbincang bincang dan memilih untuk tidur pulas karena perjalanan mereka sangat panjang, bagaimana mungkin Nia disana akan nyaman bersama Vano. Tapi entahlah siapa tau mereka serasi.


__ADS_2