
Risa dan Lita juga Risa yang mendengar adik kelas itu memberikan sesuatu fakta langsung bergegas mencari nya.
"Eh Risa kita cari Nia kemana dong" Ucap Putri yang bingung.
"Kita ke tempat bang Vano coba" Ucap Putri memberi ide.
"Gue ikut ya" Ucap Lita yang ikut khawatir.
"Terserah" Ucap kedua orang itu (Risa dan Putri) barengan. Dalam keadan genting pun mereka berdua masih bisa kompak. Salut gue.
Mereka pun bergegas kekamar para kaum hawa di nomor 3.
"Tok tok tok" Ketukan pintu yang Risa ketuk.
"Eh Risa ada apa?" Ucap Jeri pada Risa dengan senyum manis.
"Eh kak Jeri, tolong panggil kan Vano kak" Ucap Risa pada Jeri.
"Gue kira, cari gue, yaudah tunggu benar" Ucap Jeri yang sedikit kecewa.
Sedangkan Risa yang mendengar ocehan Jeri langsung salah tingkah, pipinya yang udah kaya stroberi. Sadar Risa, Nia lagi hilang, lo malah sempat sempat nya baper.
"Ada apa Ris?" Ucap Vano pada Risa yang heran.
"Gak biasanya cari gue, ini lo ada yang perlu atau ada biar ada alasan biar bisa dekat sama Jeri, kayak Putri sama Raka, dan Lita entah lah" Vano menebak nebak, sambil meledek kedua sepupunya, namun saat mengucapkan nama Lita, pria bernama Vano itu tiba tiba bad mood.
"Plak" Putri pun memukul kepala Vano.
"Aduh sakit tau" Ringis Vano.
"Li sih Van, ngeledek mereka aja" Ucap Jeri menyalahkan Vano.
"Kami kesini mau nanya keberadaan Nia, Nia gak ada dikamarnya dan selimut, bantal sama jaketnya juga gak ada" Ucap Putri menjelaskan pada Vano.
Vano mendengarnya terkejut, bukan hanya Vano, melainkan Jeri juga.
"Kok bisa" Ucap Vano dan Jeri yang kompakan.
"Alay amat sih" Ucap Putri berkomentar.
"Lo apa apaan dah ikut ikutan" Ucap Vano pada Jeri.
"Dih, dah jelas jelas lo yang ikuti gue" Ucap Jeri yang gak mau kalah.
"Udah gak usah ribut" Ucap Lita kesal pada mereka.
"Dan asal kalian tau, lebih parahnya lagi, Nia nangis katanya tadi pas keluar dari kamar" Ucap Lita dengan sedih. Sedangkan Vano dan Jeri langsung khawatir.
__ADS_1
"Dia kok bisa nangis?" Tanya Vano dan Jeri lagi lagi dengan serentak. Kini mereka tak menghiraukan atau memperdebatkan keserentakan itu.
"Kalian serius kan?" Tanya Vano lada Lita, Risa dan Putri.
"Iya" Ucap mereka bertiga dengan kompak.
"Kalian biasanya bersama, ini kok bisa beda gini?, gimana sih kalian jadi sahabat gak becus banget" Ucap Vano yang mulai marah.
Ini lah asli Vano kalau sudah marah sama orang. Pria itu terkadang emosional walau seringan bercanda.
"Kita sekarang nyari bareng bareng aja, jangan ada yang mencar" Ucap Vano yang mulai membimbing.
"Tunggu gue mau pipis" Ucap Risa pada Vano.
"Tahan aja dulu, kita nyari Nia kearah sebelah kanan, sekalian lo buang air kecil disana kami tungguin diluar.
"Oke yuk cepat, gue mau pipis dulu" Ucap Risa.
Mereka pun berjalan mengarah kearah taman belakang.
"Aduh kayak nya gak gue gak tahan lagi deh nahan pipis gue, gue pipis di ruang Dion semalam deh, disitu ada kamar mandinya" Ucap Risa yang kebelet banget.
"Yaudah gue temani" Ucap Putri pada Risa.
"Yuk" Mereka pun masuk.
"Aaaaaaaaaaaaaa" Teriak Risa, Putri yang agak kuat, Vano dan Jeri juga Lita langsung masuk dan melihat apa yang terjadi.
"Ada apa sih kalian?" Tanya Vano yang heran dengan tingkah laku sepupunya itu.
Sedangkan Risa dan Putri malah berpelukan karena ketakutan.
"Hm, ribut banget sih" Ucap Nia dengan sedikit suara parau.
Vano, Jeri, Lita, Risa dan Putri pun melihat kearah suara sumber.
"Eh, setan bisa ngomong yah?" Tanya Putri yng heran.
"Bukan setan ******" Ucap Risa pada Putri.
"Kalian kok ribut banget sih?" Kini Nia mulai memulihkan kesadarannya untuk bangun lagi.
"Nia" Ucap mereka semua yang ada disitu dengan kompak.
"Aduh gue pipis dulu dah gak tahan" Ucap Risa dan masuk kekamar mandi.
"Kalian ngapain kesini sih?" Tanya Nia pada mereka yang ada disitu.
__ADS_1
"Lo nanya kami ngapain?, kami khawatirkan lo Nia, kami cariin lo" Ucap Vano pada Nia.
"Gue mau sendiri bang Van" Ucap Nia pada Vano.
"Kenapa?, lo ada masalah?, kalau ada bicara dong, tadi katanya lo nangis" Ucap Vano yang mulai mengintegrasikan semua nya.
"Siapa yang bilang?, gue mau sendiri karena kemauan bukan karena apa apa" Ucap Nia yang enggak kayak biasanya.
"Lo bisa gak sih Nia jangan kayak gini, gue capek" Ucap Vano yang mulai gerah dengan tingkah Nia.
"Iya gue cerita nih, tapi jangan diketawain" Ucap Nia dengan berjanji pada Vano.
"Santai aja, gue kan pacar lo, gue akan bantu lo sayang" Ucap Vano pada Nia.
"Gue rindu sama ibu juga ayah" Ucap Nia berbohong. Sebenarnya Nia tidak mau berbohong tapi karena dia tidak mau dipertanyakan terus, akhirnya Nia pun memaksa dirinya untuk berbohong.
"Sabar yah Nia" Ucap Lita yang ikut berduka.
"Lo harus terbiasa Nia jauh dari orang tua yah" Ucap Putri meyakinkan dan menyemangati Nia.
"Iya" Ucap Nia. "Sebenarnya bukan itu masalah nya" Ucap Nia menyambungkan bicaranya didalam hati nya dengan dalam sedalam dalamnya.
"Aduh, baru legah, kalian bicarain apa tadi?, apa lagi pada bicarakan aku yah?" Tanya Risa dengan sotoi.
"Lo pede banget sih" Ucap Putri pada Risa.
"Pede pede gini, sahabat dan sepupu lo juga kale bambang" Ucap Risa kesal.
"Putri lo ngapain kesini?, lo gak takut sendiri, lo juga katanya tadi nangis" Ucap Risa bertanya tanya. Pertanyaan nya yang sangat bertubi tubi.
"Nanya nya satu satu Risa, kasihan Nia nya susah jawab nya" Ucap Jeri. Kini Jeri yang berbicara pada Risa. Risa pun malah mulai memerona.
"Itu pipi kok kayak merah merah gitu yah Risa" Kini giliran Putri meledak Risa.
"Yaudah Nia sekarang lo pulang kemamar lo yah, plis turuti gue" Ucap Vano memohon.
"Gue bakalan turuti kok bang Vano" Ucap Nia menjawab pada Vano. "Karena menolak kemauan mu pernah membuatku kehilangan akal budi" Ucap Nia menyambung dalam hati nya sendiri.
"Yaudah ayok kesana" Ucap Vano mengajak Nia.
"Kita sini aja pless" Ucap Nia menolaknya.
"Nia ayo dong, tadi kan dah janji sama gue bakalan nuruti perintah gue" Ucap Vano pada Nia dengan sedikit kecewa.
"Maaf deh, yaudah kita kesana deh, gue juga dah ngantuk banget nih, kalian ganggu gue tidur" Ucap Nia pasrah.
"Lo sih ganggu pake ilang ilang segala lagi, bikin semua jadi bingung, sampe sampe mau pipis aja susah gara gara nyariin lo, tau gak sih Nia" Ucap Putri melihat keadaan nya sekarang dan aga gemas melihat tingkah nya Nia.
__ADS_1