
"Enak yah kayak lo, punya dua pilihan cowok, cowok ter ganteng pula tuh" Ucap Risa ke Nia.
Sedangkan Nia yang mendengar langsung menatap kearah Risa dan menghebuskan nafas nya dengan berat.
"Andai ada satu pasangan aja yang setia sifatnya pasti gue tenang, lebih baik dia biasa biasa aja yang penting gak ngecewain" Ucap Nia menatap kearah Risa dengan tatapan sayu.
"Maaf yah Nia" Ucap Risa merasa bersalah.
"Maaf kenapa?" Tanya Nia heran.
"Yah maaf, karena gue dah buat lo sedih" Ucap Risa lagi lagi merasa bersalah kepada sahabat nya perempuan bernama Nia itu.
Sedangkan Putri hanya diam menatap mereka berdua.
"Lo kok diam aja sih Put?" Tanya Risa yang heran melihat sifat sahabat bahkan sekaligus sepupunya itu.
"Lagi malas ngobrol aja" Ucapnya yang berbeda dari biasanya.
"Lo dah dengar kalau si Vano mau berangkat?" Tanya Putri ke Nia.
"Udah" Ucapnya dengan nada sedih.
"Lo sebenarnya suka sama siapa sih Nia?" Tanya Putri yang tiba tiba membuat kedua orang didekatnya menatap nya heran.
"Maksud nya gimana yah Putri?" Tanya Nia dengan heran ke sahabatnya bernama Putri itu.
"Enggak maksud apa apa sih, gue heran aja lihat lo, baru sekolah sini dah jadi permasalahan cowok cowok" Ucapnya tanpa menatap dan ekspresi wajah yang sangat datar.
"Gue dipermasalahkan cowok cowok?, emangnya siapa?" Nia bertanya dengan sangat sangat heran.
Yah setau kita cuman dua laki laki saja yang ada dikehidupan Nia yang baru ini, yaitu laki laki bernama Dion dan bernama Vano.
__ADS_1
"Maksud lo apaan sih Put, jelas jelas cuman dua, yaitu Dion sama Vano, kok lo jadi sewot gini?" Tanya Risa yang angkat bicara.
"Yah awalnya gue kira cuman mereka berdua, tapi nyatanya gue salah, ada empat cowok yang diam diam didekati Nia, dan Nia sama sekali tidak ingin berbicara dengan kita, apa dia selayaknya kita sebut teman?" Tanya Putri pada akhir kalimatnya.
Tentu saja kata kata Putri sangat menyakitkan bagi Nia, tapi jika pernyataan Putri itu fakta, sepantasnya dia berucap seperti itu. Bagaimana mungkin, seorang teman bahkan Nia itu sahabat, bagai mana mungkin sahabat memiliki rahasia?, apa dia tidak percaya pada sahabatnya hingga merahasiakan nya semua?.
Sedangkan Risa yang mendengarkan ucapan Putri langsung berekspresi terkejut, matanya melotot mulut nya ternganga.
"Maksudnya Nia diam diam berkomunikasi dengan empat pria? tanpa memberi tahu sahabatnya?" Ucap Risa heran dan memandang kearah Nia dengan kecewa tapi berusaha tenang.
"Apa itu benar Nia?" Tanya Risa untuk mendengarkan semua omongan itu dari bibir kecil Nia yang mungil.
"Gu-e cu-man berbi-ncang gitu doang kok" Ucap Nia dengan gugup.
"Gitu apa?" Ucap Putri sedikit membentak.
"Gue gak ada hubungan sama mereka berempat Put, gue juga gak suka mereka, lo tau kan bahwa gue itu pernah ngapain mereka?" Tanya Nia pada akhir kalimatnya ke Putri dan mengharap bahwa Putri akan memberi pengertiannya.
"Entah lah Nia, gue lagi susah percaya sama orang, apalagi orang kayak lo, maaf yah, setiap orang kan bisa berbuah rubah sifat" Ucap Putri yang membuat Nia menjadi semakin sakit hati.
"Putri, lo kok tiba tiba kayak gini sih, kan bukan pacar lo yang didekati" Ucap Risa kesal melihat keadaan kedua sahabatnya itu.
"Lagi pula gue gak mungkin ada rasa sama mereka" Ucap Nia lagi lagi untuk meyakin kan sahabatnya itu.
Sedangkan Putri hanya diam merasa bahwa dirinya itu sedang salah langkah, bahwa dirinya sedang terlalu terbawa emosinya.
"Emangnya pria itu siapa siapa saja sih sampai sampai Putri kelihatan sedang marah banget, sampai sampai berdampak buruk banget bagi persahabatan kita ini" Ucap Risa yang heran melihat suasana persahabatannya yang gak biasanya seperti ini.
"R---" Nia yang ingin mengucapkan sesuatu kata kata tiba tiba terpenggal karena diambil ahli langsung oleh Putri.
"Gue minta maaf dan masalah itu gak usah dibahas" Ucap Putri yang langsung memenggal kata kata nya Nia seakan mengisyaratkan agar Nia tidak berucap apa pun agar Risa tidak tau siapa orangnya.
__ADS_1
"Iya sebaiknya kita keluar aja nyari udara segar, aku pusing disini aja, entah kenapa pikiran ku kacau" Ucap Nia dengan gerakan orang gak waras. Sedangkan kedua sahabatnya itu melihat nya dengan ketawa aneh.
Dan Putri hanya merasa lega, karena Nia tidak memberi tau siapa orangnya, karena itu sangat berdampak buruk pada persahabatan mereka, gadis bernama Putri itu seakan berpikir bahwa Nia mengetahui isyaratnya.
"Pikiran lo emangnya kacau karena apa?" Tanya Risa yang heran melihat nya.
"Pikiran Nia kacau, jelas karena Vano mengatakan bahwa mereka akan pergi ke Sumatera utara untuk meneliti alam" Ucap Putri yang sok sok tau padahal emang iya.
"Apaan sih sotoi bat dah" Ucap Nia kesal ketemannya alias sahabatnya itu.
"Tapi kan lo bisa ikut Nia, soalnya setiap satu orang ikut harus ada pendamping untuk menjadi teman meneliti" Ucap Risa menjelaskan ke Nia, sedangkan Nia mendengarnya langsung menatap Risa dalam.
"Lo tau darimana?, apa bang Vano ngajak lo?" Tanya Nia kepingin tau darimana Risa tau dan harapan Nia jawaban Risa tidak Vano yang mengajaknya.
"Gue tau dari R------" Tiba tiba saja kata kata Risa terpotong oleh Putri, bukan tidak sengaja melainkan memang disengaja nya betul. Entah apa yang terjadi sama anak itu saat ini.
"Selama kita bersahabat kita bertiga belum pernah jalan jalan yah, gimana kita tiga berjalan jalan sama anak UKS aja" Ajak nya mengambil ahli pembicaraan Risa.
"Boleh juga tuh" Jawab Risa mengiyakan permintaan Putri.
"Kayak nya seru tuh" Begitu juga dengan ucapan Nia yang sama dengan Risa.
"Jawab dong Sa, lo tau dari mana" Tanya Nia lagi lagi yang mengingat Niat nya bertanya pada Risa.
Lagi lagi kata kata Risa itu terpotong, kini buka Putri yang memotongnya melainkan.
"R---------" Kata kata nya Risa terpotong saat lonceng berbunyi.
"Dringggg dringgggh" Suara lonceng berbunyi.
"Masuk yuk" Ajak Putri yang dari tadi berniat untuk tidak membahas nama pemberitahu informasi itu ke Risa.
__ADS_1
Mereka pun masuk, Putri pun merasa lega, karena kata kata itu tidak dilanjutkan.
Sebenarnya apa yang sedang di sembunyikan gadis bernama Putri itu dari kedua sahabat nya itu apa mungkin itu seseorang yang dibenci Risa ata Nia, atau sebaliknya, yang mereka dua sayang atau entah apa lah alasannya.