Nion

Nion
#62#


__ADS_3

Setelah beberapa jam akhirnya mereka sampai di pasir putih parbaba. Yah orang bilangnya pasir putih karena pantainya berpasir putih. Dan air yang dibuat begitu ombak nya juga. Sangat menyenangkan rasanya melihat semua ini. Namun gimana pun keindahan nya jika kita sedang sakit hati, semua akan terasa menyebalkan, kita hanya ingin menangis saja. Begitu jugalah dengan Nia.


"Nia, kita naik banana boot yuk" Ucap Risa mengajak Nia.


"Nggak, Nia akan naik bebek sama aku" Bukan Nia yang menjawab. Melainkan seseorang laki laki. Suara laki laki itu sangat familiar di telinga Nia. Nia pun membalik kan badannya dan menatap kearah suara sumber. Dan ternyata Dion. Entah kenapa saat ini Dion memilih dengan Nia.


"Aku lagi malas gerak" Ucap Nia menolak.


"Tapi kalau sama gue?" Tiba tiba Vano pun bersuara dibelakang Nia.


"Nggak, lebih baik gue sama Dion aja" Ucap Nia menolak permintaan Vano.


"Oh. Yasudah" Ucap Vano pasrah.


Sedangkan Dion tersenyum sinis melihat Vano. Terlihat dari senyuman Dion, bahwa Dion saat ini benar benar jijik melihat Vano. Apa Vano sangat menjijikan?.


"Yaudah yu Nia, gue dah pesan untuk kita disana. Biar kita bisa sambil ngbrol barengan" Ucap Dion tersenyum.


Nia dan Dion pun menggunakan bebek bebek itu dan pergi menggohetnya sambil bercerita.


"Gue tau kok, kalau lo lagi broken heart" Ucap Dion pada Nia.


"Broken heart?, aduh Dion, gue gak bawa kamus untuk nyari tau artinya" Ucap Nia pada Dion dengan nada kesal.


"Gue gak nyuruh lo ngartiin" Ucap Dion tersenyum manis ke Nia.


"Gue tau lo ngomong nya lo, gue itu karena Vano. Gue lihat lo dari luar tenda Vano menahan air mata lo. Lo apa sesuka itu ke Vano?" Tanya Dion pada Nia. Sedangkan Nia hanya diam tak berkutik sama sekali, dia sendiri masih bingung dengar kata kata Dion. Nia lagi malas berfikir. Dia hanya ingin mendapatkan ketenangan sesaat saja.


"Gue tau kalau lo itu pasti kecewa banget saat ini. Lo gak mau cerita ke siapa siapa. Gue juga pernah merasakan seperti yang lo rasakan. Gue ngajak lo sama gue, biar lo tenang aja. Gue akan diam kok" Ucap Dion pada Nia dengan lembut. Kini Dion mulai diam dan mengambil kamera di tasnya. Pria bernama Dion itu pun memoto moto pemandangan yang menakjubkan itu.


Sedangkan Nia yang melihat nya hanya memilih diam dan tanpa gadis itu sadari air matanya mengalir begitu saja. Dia kangen sama suasana di kampung nya dulu. Kampung Nia juga daerah medan. Tepatnya daerah tebing tinggi. Walaupun perkampungan dia lebih nyaman disana. Dimana kota kelahiran nya itu. Baginya itu suatu kota yang sangat istimewa dan sangat sederhana. Dia ingin kembali kesitu. Tapi apa mungkin dia bisa?.


Dion tanpa sengaja menyadari bahwa Nia sedang menangis. Dion paham keadaan nya saat ini. Dion memilih untuk diam.


"Ion" Panggil Nia ke Dion. Dion pun menghentikan aktivitasnya dan menatap kearah Nia.


"Ada apa?" Tanya Dion dengan lembut.


"Makasih ya pengertiannya" Ucap Nia pada Dion dengan suara parau.


"Sama sama" Jawab Dion.


"Gue boleh gak minta sesuatu?" Tanya Nia pada Dion.


"Apa?, pasti boleh kok" Ucap Dion lagi lagi dengan nada yang sangat lembut sekali.


"Gue mau minjam pundak lo sebentar saja" Ucap Nia ragu ragu pada Dion.


"Nah" Dengan cepat Dion memberi pundak dan bahu nya untuk Nia. Nia yang menatap nya tersenyum senang.


"Makasih" Ucap Nia tersenyum. Nia pun langsung meletakan kepala nya ke bahu Dion. Dion pun mengelus elus kepala Nia.


"Gue gak mau cerita saat ini Ion, jadi lo seperti tadi aja yah" Ucap Nia pada Dion yang berharap di mengerti.

__ADS_1


"Hmm" Ucap Dion pada Nia.


Yah mereka hanya begitu lah sampai Nia mulai merasa tenang.


"Entah kenapa kalau aku dekat Vano aku merasa aku akan banyak masalah yang harus dihadapi tapi kalau dekat Dion. Aku merasa nyaman dan senang" Ucap Nia dalam hatinya sambil tersenyum tersenyum.


"Nia kita kembali lagi ya, hampir setengah jam kita disini, gue lapar" Ucap Dion meminta ijin pada Nia.


"Yaudah ayok" Ucap Nia yang merasa tidak keberatan.


"Lo dah nyaman" Ucap Dion bertanya pada Nia.


"Dari dulu gue dah nyaman kok" Ucap Nia menjawab ke Dion.


"Maksud gue, hati lo dah tenang?" Ucap Dion bertanya kembali pada Nia.


"Kan gue dah bilang gue dah dari dulu selalu nyaman kalau dag dekat lo" Ucap Nia ceplos begitu saja. Kata kata yang mampu membuat Dion terhipnotis begitu saja.


"Maks--" Belom selesai Dion bertanya Nia langsung mengabaikan pembicaraan yang satu ini.


"Kita jadi kesana?, gue dah lapar nih" Ucap Nia melarikan pembicaraan.


"Oh jadi kok, gue juga dah lapar banget rasanya. Perut gue daj dikeroyoki sama cacing cacing yang ada didalam" Ucap Dion yang sangat lebay.


Mereka pun menggohet bebek bebek mereka sambil sibuk dengan pikiran mereka masing masing.


Rasanya senang melihat mereka berdua kompak lagi seperti dulu. Hati rasanya adem melihat mereka. Begitu juga pikiran yang langsung tenang tanpa pusing pusing melihat dan mendengar perdebatan mereka. Andai mereka selalu begini pasti seru dilihat ya.


Mereka berdua pun sampai di tepi. Mereka berdua memilih untuk ketempat jualan untuk mengisi perut mereka masing masing.


"Gue pesan mi goreng deh" Ucap Nia memilih.


"Gue disamaain aja yah pak" Ucap Dion pada pelayan disitu.


Tidak lama pesanan pun datang. Mereka pun makan dengan lahap selahap lahapnya.


"Gue rindu banget dengan makanan ginian" Setelah makan Nia pun berbicara.


"Oh iya yah, lo kan orang sini" Ucap Dion menyadari.


"Hmm" Ucap Nia menjawab dengan santai.


Setelah duduk beberapa saat mereka pun memilih untuk membayar makanannya lalu pergi cari hiburan yang lain yang ada disekitar situ. Yang lebih mengasyikan.


"Pak ini semua berapa?" Tanya Dion pada seseorang yang berprofesi sebagai pelayan disitu. Di tempat tersebut.


"Jus alpukat 2 tambah mi goreng 2 berarti jumlahnya seratus lima puluh ribu rupiah" Ucap pelayan itu pada Dion. Nia yang mendengarnya langsung melotot kan matanya. Awalnya Dion juga terkejut. Tapi baginya itu gak seberapa. Makanya pria bernama Dion itu gak mempersulit semuanya.


"Ini pak" Ucap Dion dengan ramah.


"Makasih yah nak" Ucap bapak pelayan rumah makan situ. Bapak itu pun melanjutkan aktivitas nya kembali.


"Lo kok diam aja sih?" Tanya Nia sangat heran pada Dion.

__ADS_1


"Lah. Kita kan dah enak makan maka kita harus bayar makanan kita tadi dong" Ucap Dion bercanda pada Nia.


"Entahlah, Dion, itu makanannya dinaik kan semua harganya. Mahal banget tau" Ucap Nia kesal pada Dion.


"Yah gak papa lah, itu biasa bagi parawisata" Ucap Dion pada Nia.


"Terserah deh gue malas berdebat" Ucap Nia mengalah.


"Lo sekarang makin biasa ngomong kayak orang jakarta yah" Ucap Dion pada Nia.


"Iya. Entah kenapa gue jadi biasa bilang seperti ini" Ucap Nia yang merasa heran juga.


"Lo udah mulai tenang kan Nia?" Ucap Dion bertanya lagi pada Nia.


"Lumayan kok, makasih yah, lo udah mau buat gue bahagia lagi" Ucap Nia tersenyum pada Dion.


"Gue senang kok Nia" Ucap Dion pada Nia.


"Nia. Lo udah siap ngobrol sama Dion nya?" Tiba tiba saja Vano datang di tempat Dion dan Nia ngobrol. Wajah Vano seperti kesal.


"Emangnya mau ngapain kak?" Tanya Nia heran pada Vano.


"Gue mau ngajak lo ngobrol juga" Ucap Vano kesal menatap Nia.


"Yaudah kita ngobrol disini aja" Ucap Nia gampang. Sedangkan Vano sudah terlihat sangat kesal pada Nia.


"Tapi aku mau bicara empat mata saja Dion tidak usah ikut" Ucapkan Vano kesal menatap Nia.


"Ya sudah Kalian pergi saja aku akan Bersama Lita" Ucap Dion pun mengalah pada Vano.


"Emang nya mau bicara apa sih Kak Vano harus berdua gini aku kan lagi malas berbicara dengan kakak Vano" Ucap Nia dengan kesal dalam hatinya.


"Ya udah kita ke tempat tadi kita pertama berdua Kakak ada yang mau bicara sama kamu kakak heran aja nengok kamu akhir-akhir ini" Ucap Vano kesal pada Nia.


Mereka pun pergi ketempat area pertama mereka berdua tadi. Mereka pun mencari tempat duduk yang tentram untuk berbicara berdua.


"Di sini Kakak mau bertanya pada kamu kamu kenapa berbeda sifatnya sekarang Padahal baru semalam kita ngobrol bareng kok sekarang udah gini aja" Ucap Vano heran melihat sifat Nia yang berubah drastis.


" enggak usah ngomong kamu kamu gitu deh kak mending ngomong gue lo aja biar nggak Canggung" Ucap Nia berkomentar pada ucapan Vano.


"Loh kan dulu lo nyayang gitu ngomong aku kok sekarang kalau mau ngomong lo gue bahkan sekarang ini nyuruh gue seperti bahasa Jakarta" Ucap Vano yang semakin heran melihat sifat Nia hari ini.


"Ya gue memperbaiki semua keburukan gue Karena kan kalau gue yang ngomong aku Kau itu Kasar banget jadi nanti gue di bully Terus lagi" Ucap Nia yang mengingat kata kata Vano tadi pagi. Nia sengaja mengatakannya biar Vano sadar kenapa Nia berubah drastis.


"Ya elah Nia dari dulu juga ngomong gitu. Lagi pula itu Nggak masalah. Nih ya kalau memang dia mau ingin berteman sama kamu ya berarti dia melihat dari semua kebaikan atau keburukan itu tidak dipermasalahkan masa gara-gara itu aja kamu jadiin insicure" Ucap Vano menceramahin Nia.


"Munafik banget sih lu kak lu bilang gitu di mulut aslinya di belakang gue amit-amit jabang baik lu gue gue lo apa gue benci sama betul betul" Batin Nia dengan kesal.


" Emangnya siapa sih yang buat jadi insicure? sampai lo jadi merubah kata kata lo cuman gara-gara kata-kata gitu malu" Ucap Vano yang sok baik.


"Yah jelas sih ada yang bully kata-kata gue kata-kata gue itu menyakitkan jadi gitu lah" Ucap Nia yang masih sengaja menutup nutupi siapa pelaku nya.


"Emangnya yang ngebully lo siapa kok enggak ngomong sama gue?, koke lo malah menjauhin gue?" Ucap Vano bertanya.

__ADS_1


"Nggak semua masalah harus diceritakan. Nggak semua orang harus dipercayai semuanya bisa berubah kapan saja namanya juga kehidupan. Ya harus begitulah" Ucap Nia pada Vano.


"Tenang aja kok gue nggak pernah berubah untuk loh kok Nia. Aku akan menjadi angin buat lo. Selerti yang lo katakan Jika ada kata-kata yang menyakitkan dari gue omongin aja Pasti gue akan jelasin" Ucap Vano pada Nia.


__ADS_2