
Nia menatapnya heran. Nia hanya diam menatap. Nia bingung harus apa yang dikatakannya pada Vano hingga akhirnya dia mendapatkan sebuah ide untuk apa yang harus dikatakannya.
"Aku kira saat ini aku enggak ingin berbicara Kak. Mungkin nanti saja waktu kita sudah masuk sekolah kembali" Ucap Nia pada Vano.
"Gue heran aja Kenapa lo seperti menjauh gitu pada gue. Dan sebaliknya malah dekatin Dion apa gue ada salah sama lo? tinggal ngomong aja nggak usah di pendam pendam kalau aku ada salah ngomong pasti aku jelasin please" Ucap Vano memohon pada Nia.
"Aku ngerti kok Kak nanti pasti aku jelasin, biar waktu yang berbicara. Aku capek untuk berbicara sendiri, aku mau ketenangan saja, aku malas berdebat, capek kak. Aku kira kita kan cuman pacar settingan untuk apa kita harus selalu mendekat?. Untuk apa kita saling curhat? mending kita urusi Jalan masing-masing deh" Ucap Nia pada Vano.
"Yaudah kalau itu kemauan mu. Kakak bakalan diam. Terserah Kalau kamu tidak ingin berbicara. Kakak akan tunggu waktu yang berbicara, aku memang hanya angin di hidupmu hanya datang mendinginkan suasana saat di terikk-teriknya matahari dan akan pergi begitu saja. Makasih" Ucap Vano dan pergi meninggal kan Nia disitu. Sedangkan Nia hanya diam terpaku melihat Dion berjalan meninggalkna nya ditempat itu sendirian, dia bingung apa yang harus dilakukannya saat ini.
"Apa aku sebodoh ini? apa aku yang salah apa? aku yang egois?. Apa aku yang bodoh?. Aku bingung, aku bingung sekali. Orang yang aku percaya dan aku pikir ada selalu tapi ternyata dia apa?, dia tidak pernah berfikir aku seperti ini kenapa?, dia tidak pernah berfikir kenapa aku berubah begini? apa dia berpikir aku yang salah? apa dia berpikir aku keras kepala? aku egois? ah aku bingung. Bingung sekali" Air matanya pun menetes. Nia tidak peduli apa kata orang orang melihat tetesan air matanya yang dipedulikan bagaimana dia untuk senang hari ini bagaimana dia untuk nyaman hari ini.
"Nia kamu jangan nangis, kamu kuat, aku yakin kamu bisa. Aku pikir kamu enggak selayaknya menangisi dia. Kamu dan dia lebih baik berbicara baik-baik dengan hati yang dingin aku juga pernah mengalaminya, karena emosiku dan amarahku aku kehilangan semuanya. Jadi kamu berbicara dengan Vano yang baik dan hati dingin dan kepala dingin. Supaya masalah semua selesai, aku yakin Vano orangnya baik kok, mungkin ada aja yang sedang dia sembunyikan darimu. Bukan artinya dia tidak percaya sama kamu tetapi seperti yang kamu katakan tunggu waktu yang berbicara" Ucap Vano dengan bijak oada Nia.
"Makasih Ion, lo baik banget ke gue, gue mau minta maaf ke lo, karena dulu kita bertengkar karena ke egoisan ku" Ucap Nia mengingat permasalahan mereka.
"Yah gue juga minta maaf, gue berharap kita bisa seperti dulu lagi yah" Ucap Vano tersenyum.
"Ion kamu mau nggak bantuin aku ngomong sama kakak Vano?, ngomong minta maaf saja tapi dulu. Soal tentang yang di tenda aku mau ngomongnya waktu masuk sekolah aja deh biar semuanya jelas terus. Bantu ya Ion. Please banget" ucap Nia pada Dion memohon.
"Sebenarnya gue seneng lo berantem sama Vano. Yah berarti gue masih ada harapan, tapi lebih Perih hatiku melihat lo seperti ini Nia" Ucap Dion berbisik pada hatinya.
"Gue bakal bantu in lo kok Nia. Apa sih yang nggak sama lo? semangat." Dion pun sedikit bercanda pada Nia.
"Hahahahah, makasih ya Ion" Ucap Nia tersenyum menatap Dion.
"Nia, pantainya lumayan bagus yah" Ucap Dion pada Nia.
"Iya, walau gue anak medan, gue gak pernah jalan jalan selain parapat, kalau nyebrang gue gak pernah" Ucap Nia memberi tahu tentangnya.
"Jadi lo baru kali ini kesini?" Tanya Dion gqk percaya.
"Iya nih" Ucap Nia menatapi indahnya pemandangan pantai.
"Habis ini kita mau kemana?" Tanya Nia pada Dion.
"Habis ini kita palingan ke tomok" Ucap Dion pada Nia.
"Wow, tomok itu dari dulu yang kutunggu tunggu" Ucap Nia bahagia.
"Oh ya?" Tanya Dion gak percaya.
"Ia ion, disitu banyak jualan dan juga ada patung sigale gale" Ucap Nia makin senang dan bahagia.
"Lo bahagia banget deh Nia" Ucap Dion tersenyum pada Nia.
"Jelas dong" Ucap Nia tersenyum.
"Untung lah" Ucap Dion lega. Pria bernama Dion itu lega melihat gadis yang ia sukai tersenyum kembali.
"Lo masih mau teman dekat samaku seperti dulu lagi gak Nia?" Ucap Dion ragu pada Nia. Kenapa ragu?. Tentu saja dia ragu, dia takut gadis bernama Nia itu jadi sedih kembali mengingat tentang hal dulu lagi.
"Sampai kapan pun Dion, lo itu akan tetap jadi yang terbaik untuk gue Ion" Ucap Nia tersenyum pada Dion.
"Makasih. Tapi ini bukan cuman ucapan kan?, karena lo lagi sedih?" Ucap Dion meyakinkan.
"Gue serius" Ucap Nia tersenyum pada Dion.
"Nia?" Panggil Dion sedikit ragu.
"Iya?" Ucap Nia pada Dion. Nia menatap indahnya langit dan pemandangan yang ada disitu. Entah kenapa jika sama Vano, Nia selalu merasa banyak masalah yang dia hadapi. Sedangkan sama Dion rasanya tenang. Banyak hal dari Dion berubah, kecuali kebaikannya yang selalu hadir saat saat Nia membutuhkan. Nia masih ingat awal Dion menolongnya, yaitu dimana saat Nia sedang tidak ada uang untuk membayar uang Prakarya disitu lah Dion memberi jasa pada Nia, bahkan Dion rela dipermalukan Jason saat istirahat. Itu suatu kenangan yang sangat mengharukan bagi Nia. Bagi Nia itu suatu ketulusan yang sangat berharga baginya.
"Nia" Panggil Dion lagi lagi ragu ragu.
"Ada apa sih Dion" Tanya Nia lada Dion dengan lembut dan suara parau.
Dion mengamati Nia. Dia melihat mata Nia yang berkaca kaca.
"Lo kok nangis lagi sih?, katanya senang" Ucap Dion bingung.
"Biarkan air mata bahagia ku keluar yah Dion" Ucap Nia lembut dan parau.
Sedangkan Dion hanya diam, dia bingung apa maksud Nia. Bagaimana mungkin orang bahagia mengeluarkan air mata?.
Sedangkan Nia menatap keindahan pantai sambil mengingat ingat kenangan dia dan Dion. Air mata Nia pun menetes semakin deras. Dion makin bingung. Dion pun dengan refleks langsung memeluk Nia dengan erat.
"Nia maaf yah, kalau gue ada salah gue minta maaf banget, gue gak maksud kok untuk nyakitin lo" Ucap Dion sambil memeluk Nia dan mengelus elus rambut hitam Nia.
"Gue senang Dion, bukan sedih kok" Ucap Nia tersenyum. Dion pun melepaskan pelukan nya.
"Maaf gue gak ada maksud modus" Ucap Dion malu.
"Iya" Ucap Nia tersenyum.
"Lo bahagia?, tapi kok nangis?" Tanya Dion heran.
"Gue terharu" Ucap Nia pada Dion.
"Terharu?, kenapa?" Tanya Nia yang masih heran.
"Gue terharu, ingat tentang lo yang nolongin gue" Ucap Nia tersenyum pada Dion.
"Ohh" Dion pun membalas senyuman hangat Nia. Yah mungkin bagi Nia, yang paling mengesankan yaitu disaat Nia ditolongi oleh Dion pada saat pakarnya. Tapi bagi Dion hal yang paling indah yaitu dimana Nia yang mau nolongin Dion saat dipermalukan Jason. Itu hal yang sangat Dion tidak bisa lupakan. Baginya itu adalah hal yang menyenangkan. Dan disaat dia berteman dengan Nia, dia menjadi berubah, dulu dia dipermalukan sekarang dibanggakan oleh orang orang.
"Dion" Kini Nia yang memanggil Dion dengan ragu ragu
"Yah" Ucap Dion dengan senyuman.
"Makasih ya" Ucap Nia tersenyum pada Dion.
"Makasih untuk apa?" Tanya Dion heran.
"Makasih untuk semuanya. Untuk kebaikan lo yang susah ditebak" Ucap Nia tersenyum kearah Dion.
"Yah sama sama" Ucap Dion.
"Gue boleh nanya sama lo nggak Nia?" Tanya Dion pada Nia dengan hati hati.
"Mau nanya apa?" Tanya Nia kembali pada Dion.
"Lo sebenarnya sama Vano pacaran?" Tanya Dion dengan ragu ragu.
"Menurut lo?" Lagi lagi Nia bukan menjawab malah bertanya kembali.
__ADS_1
"Yah gue gak tau, makanya gue nanyak" Ucap Dion pada Nia.
"Lo dengar di tenda tadi pagi?" Ucap Nia pada Dion dengan wajah mulai lesu.
"Gue dengarnya bulian tentang lo aja sih, makanya gue heran" Ucap Dion pada Nia. Dion melihat wajah Nia mulai takut. Takut kalau Nia bakalan menangis lagi, nangis karena kesedihan.
"Oh, gue kira lo dengarin semuanya" Ucap Nia sangat lega walau wajah kusut.
"Gue sama Vano benaran pacaran kok, gue sama dia memang benar benar jalin hubungan" Ucap Nia pada Dion berbohong. Gak seharusnya Nia berbohong tentang hal ini, awal Nia pura pura pacaran sama Vano kan cuman balas dendam ke Lita. Dan sekarang Lita sudah berubah, tapi kenapa Nia masih tetap mempertahankan kebodohan ini?.
"Oh, gue kira" Dion pun menghentikan kata katanya.
"Gue kira kenapa Ion?" Tanya Nia pada Dion.
"Nggak kok" Ucap Dion mengabaikan perkataannya tadi itu.
"Lo kenapa nanya gitu Ion?, lo pasti mikir masa seorang pacar buli cewek nya sendiri?, itu lah yang ku bingungkan" Ucap Nia sedih, sebenarnya Nia bingung bukan karena dia pacarnya, dia kan hanya pacar pura pura. Tapi yang dibingungkan Nia adalah kenapa Vano yang awalnya baik, kini jahat, apa saat awal dia cuman berpura pura?.
"Yah menurut gue sih yah Nia, namanya juga masih remaja, pastinya banyak hal yang membingungkan, lebih terbawa emosi lah" Ucap Dion menenangkan hati Nia.
"Lo itu kadang bijak yah" Ucap Nia meledek.
"Gue pintar dari sono nya kali" Ucap Dion tertawa.
"Eh kalian berdua malah enak enakan berdua duan disini lagi" Ucap Putri yang baru datang dengan sewot.
"Gak papa kali, kan gak sama Raka" Ucap Nia meledek Putri.
"Jelas gak boleh dong Nia, lo itu pacar sepupu gue, jadi kalau lo duain sepupu gue, gue juga bakalan tersakiti" Ucap Putri dengan alay. Bucin nya mulai kumat.
"Bucin banget sih lo" Ucap Nia sewot melihat tingkah sahabatnya yang bernama Putri itu.
"Lagi pula kan kita kita satu kelas doang" Ucap Dion pada Putri.
"Yaudah gue mau nyari orang yang gie cari cari, kalian berdua sini aja dulu, tapi cuman sebatas teman sekelas loh" Ucap Putri sewot pada Nia dan Dion. Putri pun pergi meninggalkan Nia dan Dion. Nia dan Dion yang melihat Putri jalan membelakangi mereka hanya menggeleng geleng dan tertawa.
"Kocak yah orangnya" Ucap Dion mengomentari ciri ciri Putri.
"Haha, itu yang buat persahabatan kami lengkap" Ucap Nia tersenyum. Nia bangga punya sahabat seperti Putri dan Risa. Mereka yang selalu kompak, dan ceriah. Saling berbagi cerita dan bahkan selalu ada disaat mereka bahagia dan senang.
"Nia dan Dion, kita segera kumpul, udah jam 1 siang, saatnya kita ke tempat wisata yang satu lagi" Raka tiba tiba hadir ditempat duduk Nia dan Dion.
"Oke" Ucap Nia dan Dion kompakan. Raka yang mendengarnya hanya tertawa dan pergi meninggalkan mereka.
"Yuk" Ajak Dion pada Nia, mereka pun pergi ke area diaman mereka akan baris. Mereka berjalan bergandengan tangan. Namun saat di area barisan ada seseorang yang langsung melepasnya, siapa?, siapa lagi kalau bukan Vano. Nia dan Dion hanya saling tatapan, mereka berdua juga baru sadar bahwa mereka sedari tadi gandengan.
"Gue gak ada Maksud kok Van" Ucap Dion yang merasa bersalah pada Vano.
Sedangkan Nia tidak mempedulikannya, jika Nia dan Dion pun ciuman apa hak Vano untuk cemburu?, Vano bukan lah siapa siapanya.
"Makasih dah jagain pacar gue yang super duper bandalnya" Ucap Vano tersenyum pada Dion. Sedangkan Dion hanya diam dan membalas senyuman Vano.
"Sekarang kita akan berangkat, sesuai barisan kemarin yah masuk ke bus nya" Ucap kepala sekolah memberikan arahan.
Semuanya pun masuk. Dengan hati yang berat Nia harus duduk dengan orang yang baru saja membuatnya kecewa.
"Gue disini aja ya" Ucap Nia memohon pada Vano.
"Gak, sesuai tempat duduk awal, lo samping jendela" Ucap Vano menolak permintaan Nia.
"Lo kena sih Nia?, lo kok diam aja?" Vano pun memulai pembicaraan.
"Gak papa kok kak Van" Ucap Nia tanpa menatap Vano. Gadis bernama Nia itu lebih memilih melihat jalan disitu dari pada menatap muka Vano dengan dalam.
"Lo lagi sakit yah" Ucap Vano memperhatikan keadaan Nia.
"Nggak kok" Ucap Nia menjawab.
"Yaudah gue ada vitamin buat lo, biar lo gak lemas" Ucap Vano pada Nia dengan senyum.
"Makasih kak" Ucap Nia pada Vano dan mengambil vitamin. Nia nggak langsung meminum vitamin cairan itu, Nia menyimpannya kedalam tasnya.
"Kak Vano aneh deh, kata kata nya saat di tenda jahat banget, tapi kenapa dia masih memperhatikan ku yah?" Ucap Nia dalam hatinya. Nia masih bingung. Kenapa saat dekat Vano, Nia selalu akan menghadapi masalah.
"Kok cuman di masukan?, ayo minum, lebih baik mencegah dari pada mengobati loh" Ucap Vano lembut pada Nia.
"Gue gak ada air teh? nanti disana aja sekalian beli air minum" Ucap Nia menjawab pertanyaan Vano.
"Bilang dong Nia, kakak ada air teh kok" Ucap Vano pada Nia.
"Taap-" Ucapan Nia pun langsung dipoting oleh Vano.
"Gak papa, minum aja, kalau lo sakit, gue bakalan sedih tau" Ucap Vano pada Nia.
Kata kata yang baru di ucapkan Vano itu mungkin dapat membuat hati para kaum hawa akan menjadi baper, tapi Nia berbeda, Nia hanya merasa biasa biasa saja, apa mungkin itu hanya karena dia lagi kesal sama Vano yah?. Entahlah.
"Yaudah deh" Ucap Nia menyanggupi kemauan Vano. Nia pun meminumnya, dan memberi kembali botol air minum milik Vano.
"Nih, makasih kak" Ucap Nia pada Vano.
"Sama sama" Ucap Vano tersenyum pada Nia.
•••••••
"Gue lihat Nia tadi kayak sedih deh, dia kenapa sih, kayak lagi ada masalah" Ucap Risa pada Putri.
Dion yang berada disebelah tempat duduk Risa dan Putri mendengar ucapan mereka.
"Entah lah, tadi gue lihat dianya sama Dion ngobrol. Apa dia lagi marahan sama Si Vano?" Tanya Putri pada Risa.
"Entahlah, tapi lo ingat kan waktu kita tadi pagi foto, dia bilang mau manggil Vano, lalu dia pulang sendiri dan bilang kalau Vano sedang sibuk" Ucap Risa mengingat tadi pagi.
"Iya, dan gue lihat mukanya sedih gitu" Ucap Putri menyambung.
"Dion" Panggil Risa pada Dion. Sedangkan Dion yang sedari tadi sudah antusias langsung pura pura tidur. Lita yang melihat nya malah heran. Lita nggak tau maksud Dion apa untuk pura pura tidur.
"Dia tidur?" Tanya Risa pada Lita. Lita yang masih bingung malah menjawab sejujurnya.
"Dia bangun kok, Dion, Dion, bangun dong, kalau gak?, ku gelitik!" Ucap Lita mengancam Dion. Sedangkan Dion hanya bisa pasrah.
__ADS_1
"Iya, iya, iya" Ucap Dion pada Lita. Lita sangat tau bagaimana caranya untuk membuat sepupunya itu bangun.
"Ada apa sih?" Ucap Dion bertanya, seakan akan dia gak tau dan gak dengar ucapan Risa dan Putri.
"Lo sama Nia tadi ngomongin apa sih, kok dia jadi ngomong dan dekat sama mu?, enggak sama Dion?" Ucap Risa bertanya heran pada Dion.
"Lah gue kan teman nya kan gak ada salah nya ngobrol bareng, gue sama dia cuman bicara tentang penelitian dan perjalan saat ini kok" Ucap Dion sedikit menyembunyikan sesuatu.
"Serius cuman gitu doang?" Tanya Risa menatap Dion. Tatapan Dion seperti tatapan detektif saja ah.
"Selow aja lihat nya mbak, gue serius kok" Ucap Dion meyakinkan Risa dan Putri juga Lita.
"Lo lihat Nia tadi sedih atau nggak?" Tanya Putri pada Dion.
"We, kalian tiga mau bertanya semua. Hah?, kesal ah" Ucap Dion kesal melihat ketiga gadis yang ada disitu.
"Habisnya muka lo gak bisa dipercayainya sih" Kini bukan Risa atau putri yang berucap, melainkan Lita.
"Ya ampun sepupu gue sendiri juga gak percaya" Ucap Dion yang sok jujur dan benar juga polos. Dasar.
"Hahaha, dah nasib lo tuh" Ucap Risa tertawa puas ke Dion.
"Yaudah ah, ngomong sama lo gak ada faedahnya juga" Ucap Putri menyambung dan tertawa di sela ucapan nya.
"Jahat banget yah kehidupan gue" Ucap Dion yang mulai alai.
"Alay banget sih pak" Ucap Lita berkomentar.
"Gak alay gak hidup buk" Ucap Dion membalas ucapan Lita sepupunya yang satu itu.
"Oh iya, Ion, lo SMA gak ada rencana satu SMA sama abang lo?" Entah kenapa Lita tiba tiba bertanya seperti itu pada Dion.
"Tumben nanya gitu?" Ucap Dion jutek lada Dion.
"Gak papa, cuman kepingin nanya gitu doang ke lo" Ucap Lita pada Dion menjawab tanpa ada alasan yang jelas.
"Kalau masalah itu gue lagi malas bahas nya Lit" Ucap Dion pada Lita dengan muka yang lemas dan kusut.
"Oke gue ngerti kok" Ucap Lita tersenyum pada Dion.
"Tumben lo ngerti, biasanya lo kan gak ada pengertian sedikit pun sama sepupu lo yang kece satu ini" Ucap Dion dengan sangat percaya dirinya.
"Percaya diri amat sih pak bos" Ucap Lita meledek Dion.
"Harus gitu dong" Ucap Dion asal asalan.
"Dion" Panggil Lita sedikit ragu. Gak kayak biasanya.
"Apa" Ucap Dion pada sepupunya bernama Lita itu.
"Gue boleh nanya gak?" Ucap Lita dengan ragu ragu ke Dion.
"Tumben lo mau nanya permisi, permisi dulu" Ucap Dion pada Lita. Dion bukan nya menjawab malah meledek sepupu nya yang satu satu itu.
"Gue serius Ion" Ucap Lita kesal pada Dion.
"Yaudah ngomong aja, tapi lo jangan manggil gue Ion" Ucap Dion melarang Lita.
"Emangnya kenapa gue panggil Ion?" Tanya Lita pada Dion heran.
"Karena Ion itu sebutan Nia ke gue" Ucap Dion begitu saja pada Lita.
"Gue mau nanyak, lo suka sama Nia?" Ucap Lita pada Dion.
"Gue jawab nya saat yang tepat aja Lit" Ucap Dion pada Lita. Kini muka Dion berubah menjadi serius amat.
"Oke" Ucap Lita pada Dion.
"Lo ngantuk yah?" Tanya Dion yang melihat gerak gerik sepupunya itu. Gerak gerik yang mulai ngantuk.
"Lumayan lah, capek banget lagi" Ucap Lita menceritakan kelelahannya pada Dion.
Dion pun merasa ibah pada Lita, Dion menarik kepala Lita dengan pelan dan menaruh nya ke lengannya
Sedangkan Lita yang melihat reaksi sepupunya itu lngsung tersenyum manis.
"makasih" Ucap Lita lada sepupunya yang bernama Dion.
"Sama sama" Ucap Dion dengan lembut dan mengelus kepala Lita dengan sangat lembut.
Seru yah mereka berdua. Sepupuan nya meyenangkan, kadang gak kompak kada kompak. Walau mereka sering gak akur tapi sebenarnya mereka berdua saling menyayangi.
••••••
Nia yang sedari tadi menahan ngantuk nya pun sudah tak tahan. Nia pun memilih tidur mengarahkan kepalanya ke jendela bus. Sedangkan Vano yang melihat nya langsung tidak ingin mengganggu nya seperti yang lalu Van pun memilih untuk tidur di sebelah nya Jeri.
"Jer gue duduk sini yah" Ucap Vano pada Jeri.
"Lo kenapa gak duduk situ aja?" Jeri bukan nya menjawab malah betanya.
"Gue takut ganggu dia, gue tidur nya lasak banget dah" Ucap Vano memberi alasan pada Jeri.
"Kemarin lo nya modus, sekarang lo malah milih untuk nggak dekat sama sekali, hadeh" Ucap Jeri yang ngomel ngomel kaya mak mak bunting. Malah gak jawab pertanyaan Vano lagi.
"Gue boleh duduk sini gak?" Ucap Vano kesal pada Jeri yang banyak cerita.
"Jangan marah dong, boleh kok" Ucap Jeri pada akhirnya.
"Gitu dong dari tadi" Ucap Vano lega. Sebenarnya Vano ingin sekali duduk dwkat Nia, tapi ada satu hal yang harus dilakukan Vano. Yaitu menjauh dari kehidupan Nia. Kalau nggak?, kalau nggak, gadis bernama Nia itu selalu diteror.
"Eh Van, gue pinjam dada bidang lo yah, untuk tempat bersandar gue" Ucap Jeri yang mengagetkan Vano.
"Idih, jijik, kayak cewek aja sih lo" Ucap Vano pada Jeri.
"Kalau Nia yang minta, tanpa dibilang langsung di buat, lah gue dah teman lama lo, dah gue bilang malah di tolak, sedih amat sih" Ucap Jeri dengan alay.
"Masa" Ucap Vano pada Jeri.
"Iy-" Ucapan Jeri terpotong oleh kata kata Vano.
__ADS_1
"Masa bodoh" Ucap Vano datar, memotong kata kata Jeri. Sedangkan Jeri hanya berdecak kesal. Mereka berdua yang sama sama lelah pun akhirnya memilih untuk diam senyap dan tidur. Dasar mereka berdua lucu amat dah, bikin gemes dah.
Tapi kira kira siapa yah yang buat Vano agak menjauh ke Nia dan kenapa Vano tadi pagi mengatakan seperti itu yah?. Hadeh jadi pusing dah, kasihan banget sih Vano sama Nia yah.