
"Ogah" Ucap Putri dengan malas dan kesal.
"Yah kami maafin lo, tapi untuk berteman.., maaf kami kayak nya belom yakin" Ucap Risa yang ngambil keputusan dengan bijak.
Sedangkan Nia hanya diam keheranan. Gadis itu seperti di hipnotis oleh kata kata Lita yang tak pernah dibayangkan sama sekali atau sedikit pun itu.
"Gimana kalian berdua setuju nggak, sama ucapan gue?" Tanya Risa yang meminta persetujuan dari kedua sahabatnya itu.
"Gue sih kalau masalah maaf, bakalan gue maafin, tapi kalau masalah berteman gue ragu sama lo" Ucap Putri tanpa peduli rasa sakit hati yang ada di hati pendengar kata katanya (Lita).
Sedangkan Nia hanya diam melamun, Entah apa yang dilamunkan nya.
"Wee sadar juga kali, kami yang heran aja gak segitu nya kayak lo" Ucap Risa bawel.
"Ehh ngomong apa tadi?" Tanya Nia yang telah menutup lamunannya dari pikirannya..
"Lo setuju gak sama kami berdua?, keputusan yang kami buat" Ucap Risa pada Nia menjelaskan sepenggal sepenggal.
"Gue setuju aja sama kalian berdua, kalian kan sahabat ku" Ucap Nia senyum ramah pada kedua sahabatnya itu.
"Tuh lo dengarkan, yaudah sana" Ucap Putri mengusir Lita dengan kesal.
"Kalian seru banget yah persahabatannya" Ucap Lita sebelum dia kembali pada tempat duduknya itu.
"Ehh kalian jadi ikut kan soal kemping itu?" Ucap Nia membahas yang lain, karena membahas tentang Lita itu membosankan.
"Soal anak UKS sih gue ikut" Ucap Risa menjawab.
"Lo gak bisa yah Put?, gara gara nyokap lo sakit?" Ucap Nia bertanya dengan wajah sedih.
"Gue ikut kok, nyokap gue dah sehat, semalam dah pulang dari rumah sakit dan yang jaga dirumah Kakak gue" Ucap Putri tersenyum, senyumnya tak seindah senyumnya yang kemarin kemarin. Entah apa yang disembunyikan anak itu.
"Syukurlah kita bisa gabung semua" Ucap Nia yang merasakan hati lega. Kecemasan nya akan semua ini selesai.
"Nanti kita ketemuannya dimana?" Tanya Nia yang belum tau kepastiannya itu.
"Lo dijemput sama Vano dan gue sama Putri akan nunggu lo didepan pagar sekolah, kalau gak salah kita berangkat dari sekolah jam 5 sore" Ucap Risa menjelaskan.
"Kita kok selama itu sih disana?" Ucap Nia yang merasa kalau satu bulan itu baginya sanagat lama.
"Yah mungkin perjalanan kita paling lama kesana satu minggu, dan kita pulang pergi saja dua minggu makanya itu lama pulang" Ucap Risa lagi lagi menjelaskan.
Sedangkan Putri hanya memilih diam sedari tadi, entah kenapa sih anak itu.
Nia dan Risa yang sangat menyadari perbedaan sifat sahabatnya itu langsung menatap kearah nya heran.
"Apa liat liat, gue lagi bad mood aja" Ucap Putri yang mengerti tatapan mereka.
"Lo bad mood kenapa?, apa lo lagi dicuekin A----" Belum sempat mengucap nama seseorang itu Putri langsung mengalihkan pembicaraan.
"Gue lapar, kantin yuk, selagi ibu itu gak ada" Ucap Putri yang sengaja memotong kata kata Risa karena takut dengan ucapan Risa, entah kenapa dengan ucapan Risa yang terakhir.
"Gue juga lapar, makan siomay yuk" Nia yang sedari tadi gak ke kantin pun merasa lapar.
"Yaudah yuk kalau gitu" Ucapnya Risa lagi lagi lupa akan kata katanya. Sedangkan Putri merasa hatinya lega berkali kali, karena dia sudah berkali kali juga menyangkal nama seseorang atau dua orang yang tidak diinginkan untuk dibicarakan.
Mereka bertiga pun kekantin. Ini sudah biasa bagi murid 8'2 kalau gurunya buk Friska. Asal jangan ketauan sama guru BP.
"Gue kalau turun gampang banget rasanya dari tangga ini, tapi kalau naik rasanya badan gue encok semua, banyak banget anak tangganya, kita paling ujung pula lagi" Ujar Risa yang mengeluh tentang tangga sekolahnya.
"Masih mending kita di lantai dua, kalau kita di lantai tiga yaitu kelas 9'1, 9'2, 9'3 gimana lagi dong" Nia pun masih mensyukuri keberadaannya.
Putri yang tadinya ingin diam aja malah ikut ngobrol.
"Yaelah gitu aja lo pada dah protes, gimana kalau kita disuruh mendaki gunung" Ucap Putri yang membanding kan ke derajat lebih tingginya.
"Dari encok ke lumpuh, dari lumpuh ke patah kaki" Ucap Risa membayangkan, sedangkan Putri yang mendengarnya langsung ngomel.
"****** lo" Ucap Putri tertawa.
Sedangkan Nia hanya tersenyum.
Risa yang mendengar ucapan Putri barusan langsung bergidik ngeri.
Mereka bertiga pun telah selesai melewati anak tangga. Nia, Risa dan juga Putri pun masuk ke kantin. Nia Risa dan Putri pun langsung merasa risih karena saat masuk ke kantin tiga sahabat itu langsung saja berjumpa dengan setan yang berwujud manusia. Siapa lagi kalau buka Karina dan sahabatnya yang bernama Lira.
Tentu yang Nia rasakan kesal dan muak. Tapi selak perutnya sedang lapar gadis itu pun tidak peduli lagi dengan suasana nya disitu.
"Bang Chan, siomay nya lima ribu" Ucap Nia memesan, karena pada saat jam pelajaran jadi kantin pun masih sunyi, sedangkan Putri lebih memilih bakso kuah dan Risa memilih untuk membeli roti.
Mereka pun makan dengan satu meja yang sama, dan mereka memakan dengan sangat cepat karena takut ketauan guru yang sedang lewat.
Nia memakan siomay dan minumannya teh pucuk kotak. Sedangkan Putri Bakso kuah dan jus stroberi. Dan Risa roti dan air mineral.
Risa orangnya sangat menjaga kesehatannya.
Risa tidak terlalu suka mengonsumsi makanan bersaus. Berbeda dengan kedua sahabatnya Risa, yaitu Putri dan Nia, mereka berdua lebih menyukai makanan yang berkaitan dengan saos saosan.
"Kalian bandel banget sih" Ucap seorang laki laki dari belakang tiga sahabat itu (Nia, Risa, dan Putri). Mereka bertiga yang dari tadi makan dengan cepat cepat, tiba tiba saja langsung keselak barengan.
"Huk huk huk" Batuk Nia yang keselak. Nia pun mengambil teh kotaknya dan meneguknya.
__ADS_1
"Huk huk huk" Batuk Risa dan mengambil minumnya dan meneguknya hampir setengah nya habis.
"Huk huk huk" Begitu juga Putri.
Setelah tenggorokan mereka sudah merasa nyaman. Mereka bertiga langsung menghadap kebelakang, menghadap ke sumber suara yang bikin mereka keselak. Mereka bertiga melihat dengan takut.
Melihat yang terjadi mereka bertiga pun teriak kesal "Vano" Teriak Risa dan Putri.
"Bang Vano" Teriak Nia juga dengan kesal.
Sedangkan Vano mengeluarkan tawa nya yang sedari tadi sudah ditahan tahan anak laki laki itu.
"Kalian sih, bandel" Ucap Vano yang masih tertawa.
"Tertawa aja terus" Ucap mereka bertiga dengan kompak dan berwajah kesal.
"Idih sok kompak lagi bikin gemas aja" Vano pun merusak rambut Nia.
"Ooo, jadi gemasnya ke Nia aja nih?" Ucap Risa yang menanggapi elusan Vano.
"Ngapain gemas ke lo, lo kan kayak singa" Timpal Vano dengan muka menjengkelkan.
Sedangkan Putri melanjutkan makan. Gadis itu masih merasa lapar. Begitu juga Nia yang masih merasa bahwa perutnya itu belum kenyang. Sedangkan Risa malah menyimpan rotinya karena dia sudah kenyang.
"Bang Van" Teriak Nia pada Vano yang sedari tadi melihati gadis bernama Nia itu sedang makan.
"Ha?" Tanya Vano pada Nia.
"Gue jangan dilihatin kalau lagi makan, malu tau" Ucap Nia yang merasa malu.
"Iya deh" Vano pun menuruti permintaan Nia dan mengarhkan pandangan nya ke arah Risa
"Eh Van, emangnya persiapan nanti dah diurus?" Tanya Risa yang merasa hening aja suasana dari tadi.
"Buk Friska yang atur, tadinya gue disuruh ibu itu untuk jagain kelas kalian sampai pulang, soalnya ibu itu gak sempat lagi kekelas kalian" Jelas Vano pada Risa.
"Terus ngapain kesini" Tanya Risa lagi lagi.
"Nyariin kalian, soalnya cuman kalian yang gak ada disitu tadinya" Ucap Vano yang sabar banget menjawab dan menjelaskannya.
"Yaudah kita pergi aja ke dalam kelas kami dah siap makannya" Ucap Nia dan bergegas pergi.
"Tunggu" Namun Vano langsung mencegat Nia, Vano menarik tangan Nia dan menyuruh nya duduk.
"Duduk dulu" Pinta Vano pada Nia.
"Cuman Nia doang ni" Tanya Putri memastikan.
"Kalian juga" Ucap Vano menjawab.
"Dasar kampret lo emang ya" Kesal kedua sepupunya kompakan. Kompak berbicara ketiga sahabat itu memang lagi kumat kali ya.
Nia yang mendengarnya hanya ketawa manis.
Vano pun memesan siomay dan membawanya disamping Nia, Vano duduk tepat disamping Nia.
Pria itu pun makan siomay nya. Sedangkan Risa dan Putri yang mulai bosan pun mulai memainkan jari jarinya kemeja. Sedangkan Nia memonyong kan bibir mungilnya itu.
"Jangan digituin bibir nya nanti khilaf gue" Ucap Vano tertawa.
Sedangkan Nia mendengarnya langsung menutup bibir nya dan bergidik ngeri.
Risa dan Putri yang mendengarnya langsung memojokkan Vano.
"Dasar otak mesum lo" Timpal Risa pada Vano.
"Otak lo ngerih juga yah" Ucap Putri bergidik ngeri.
"Bercanda kali" Ucap Vano.
"Habisnya teman lo lucu, mau gue jadiin handuk" Ucap Vano entah apa maksudnya.
"Terserah lo dah" Ucap Putri pasrah.
Sedangkan Nia yang mulai merasa jenuh langsung angkat bicara.
"Yuk gue bosan" Ucap Nia yang mulai bosan.
Vano yang udah siap makan pun menyanggupi permintaan Nia. Mereka bertiga pun naik tangga.
"Betul gue bilangkan kalau turun rasanya gampang banget tapi kalau naik pegal semua kaki gue" Lagi lagi Risa mulai ngomel ngomel tentang jalan yang gadis itu sedang lewati.
"Yaelah Risa, bukan nya lo itu dah sering ngelewati beginian, kok ngeluh lagi, setiap hari kayaknya lo ngeluhnyaa itu aja" Kini bergantian, bukan Risa lagi yang ngomel tentang tangga melainkan kini Putri yang ngomel tentang omelan Risa yang hari hari nya tentang tangga itu aja yang sahabat sekaligus sepupunya bicarain.
"Gak usah debat kali" Ucap Nia yang berusaha melerai.
"Gue heran deh nengok kalian berdua, masih saudaraan tapi lagaknya berantem aja" Ucap Vano yang merasa kayak gak saudaraan sama Risa dan Putri.
"Kayak ke lo juga kampret" Ketus Risa yang merasa kesal dengan ucapan Vano.
"Macam gak saudara kita aja lagak lo ngomong bambang" Kesal Putri melihat dan mendengar Vano.
__ADS_1
"Kalian kalau lagi ngumpul kayak gini aslinya?, seru juga yah" Ucap Nia yang merasa belum pernah seramai ini.
"Lo muji atau ngeledek neng?" Ucap Risa dengan tawanya.
"Iya seru, kalian ramai gak kayak gue cuman anak tunggal dan punya sepupu tapi jauh banget" Ucap Nia menjelaskan kehidupannya.
"Anggap aja kita itu saudara lo Nia" Ucap Risa yang menanggapi ucapan Nia yang lumayan sedih.
"Tanpa kau bilang aku dah anggap kalau kalian itu saudara ku" Ucap Nia tersenyum manis.
Senyuman yang akan membuat orang orang akan jatuh cinta padanya.
Mereka bertiga pun telah sampai dikelas, mereka duduk sesuai bangku mereka.
"Saya harap kalian membaca buku kalian sesuai kisi kisi ujian yang diberi buk Friska pada kalian" Ucap Vano dengan tegas.
Vano sangat pandai mengatur sifat nya pada orang yang dia hadapi. Seperti keguru dia ramah dan sopan begitu juga keteman dan kesiapa pun jika berada diluar sekolah. Namun pada saat dia ditentukan sebagai kapten atau seperti saat ini, dia akan bersifat dan bersikap tegas pada orang orang. Dia memang laki laki yang menakjubkan, dia tidak hanya pintar melainkan cerdas.
Semua siswa/i pun mulai membuka bukunya dan menghafal gak jelas. Sedangkan Nia membuka buku dan mengambil kotak pensilnya. Gadis bernama Nia itu menggaris bawahi hal hal yang penting baginya menggunakan pensilnya.
Ini sudah biasa dilakukan Nia saat ingin menghadapi ujian setelah itu baru dia menghapal apa apa saja yang sudah digaris bawahhinya.
Vano berkeliling keliling melihat aktivitas yang lain. Terlihat dari wajah para kaum hawa yang tersenyum senyum sendiri kecuali Nia, Risa dan Putri.
Sedangkan Nia melihat mereka para kaum hawa yang lain memutar bola matanya dengan malas.
"Apaan sih mereka tertawa tawa dan tersenyum senyum sendiri, dah gila yah" Ucap Nia dalam hatinya dengan kesal sekesal kesal nya.
"Lo kenapa merengut mukanya" Tanya Vano yang menyadari raut wajah Nia dengan heran.
"Aku gak papa kok, siapa yang merengut?" Ucap Nia dengan nada kesal.
"Gak usah bohong" Paksa Vano menatap Nia untuk jujur.
"Siapa yang bohong" Ucap Nia lagi lagi mengelak.
"Lo disini sekolah untuk menuntut ilmu dan mengasah kedisiplinan dan kejujuran bukannya berbohong" Ucap Vano lagi lagi dengan tegas.
Risa dan Putri hanya menatap mereka karena merasa ini hanya bercanda.
"Siapa yang bohong si Van" Ucap Nia dengan nada tinggi. Dan baru kali ini dia memanggil nama Vano tanpa ada kata bang atau kakak.
"Gue itu senior lo, dan saat ini gue sebagai kakak pembimbing lo, dan gak sepantasnya lo manggil gue dengan nama gue" Ucap Vano dengan meninggi.
"Tapi aku gak bohong tapi kau selalu maksa aku untuk jujur" Ucap Nia kesal.
"Gue sebagai kakak pembimbing yang adil dan tegas akan memberi lo hukuman" Ucap Vano suaranya yang sedikit meninggi dan tegas.
"Kok aku di hukum bang?" Tanya Nia lagi lagi gak habis pikir.
"Lo maju kedepan angkat kaki lo satu dan tangan lo silangkan ke kuping lo" Ucapnya memerintahkan Nia.
Nia yang tanpa ucapan langsung bergegas dan tak habis pikir oleh semua ini. Iya dia lagi tegas, apa harus dengan Nia juga? Hadeh.
Nia pun melakukan nya. Terdengar banyak yang sedang berbisik bisik. Bisik bisik nya seperti biasa, dapat didengar oleh orang orang.
"Kak Vano tegas banget yah"
"Nia nya sih terlalu songong"
"Sok cantik sih"
Nia mendengar semuanya namun dia tetap bertahan, dia merasa hatinya tertusuk panah yang sangat tajam.
Dion memperhatikan Nia dengan wajah kasihan begitu juga dengan Risa dan Putri.
"Ada yang ingin berbaik hati untuk menggantikannya?" Tanya Vano dengan tegas.
"Saya mau menggantikan Nia" Ucap Dion menunjuk kan tangan nya.
Nia mengangkat kepalanya dan melihat kearah Dion. Nia agak heran dengan hari ini.
"Silahkan Maju, dan berderet disampingnya" Perintah Vano dengan sangat tegas.
Dion pun maju mereka berdua pun dihukum barengan hati Nia semakin terirs iris melihat nya.
Kini banyak murid yang memojokan mereka, mengata ngatai sepasang *****, bodoh, bloon dan semacamnya. Air mata Nia tak tertahan lagi. Untung saja bel pulang berbunyi. Air mata Nia yang yang terbendung pun akhirnya keluar tancap bebas, dengan cepat Nia mengambil tasnya dan berlari menuju pulang begitu juga Dion yang mengejarnya.
"Nia tunggu!" Panggil Dion berseru.
Nia pun berhenti dan menundukkan kepalanya.
Dion pun menghampiri Nia.
"Kita pulang bareng yah?" Tanya Dion pada Nia.
Dengan cepat Nia mengangguk angguk.
Mereka pun pergi, belum jauh, Nia mendengar jelas suara panggilan Vano, namun gadis itu tidak mempedulikannya karena dia masih kecewa.
Bagaimana mungkin dia bersikap seperti itu pada ku?. Itulah saat ini yang dipikirkan Nia. Nia pun menghapus air matanya dan menenangkan dirinya. Isakan tangisannya masih terdengar jelas.
__ADS_1
Dia tidak peduli lagi dengan Vano, dia sangat kecewa pada pria bernama Vano itu. Nia benci dengan Vano. Sangat benci pokoknya.
Nia tidak suka orang seperti Vano, dia udah buat Nia menangis dan dipojokkan oleh kaum hawa yang ada dikelasnya Nia.