
Setelah lama berbincang, Nia pun berfikir, apa yang dikatakan Vano benar. Balas dendam itu tidak baik, tak sepantasnya Nia balas dendam, baru berniat balas dendam aja Nia udah kena masalah, gimana kalau dilanjutin, mungkin Nia -gak hidul lagi--.
"Iya sih kak, emang benar, berarti kita ber pura puranya udah dong kak" Nia mengucapkan kata kata dari bibir dan hasil pencernaan pikirannya dengan wajah sedih, lemas, ingin menangis, malu (campur aduk).
"Bukan aku tidak ingin membantu, tapi aku tidak ingin kamu berjalan di arah yang salah" Vano yang melihat wajah Nia mengerti, bahwa Nia sedang kecewa.
"Gak papa kok kak, kakak benar kok" Nia tersenyum, banyak kebohongan dalam senyum Nia, walau dia berusaha memasang topeng, tetap aja Vano tau kalau gadis yang ada didepannya sedang mengalami kekecewaan.
"Aku tau kamu kecewa dan malu kalau nanti teman teman mu akan bertanya padamu tentang hubungan ini" Vano tau bahwa itu hal yang sulit.
"Iya kak, tapi yaudah lah" Jawab Nia lagi lagi dengan senyuman kebohongan.
"Kamu bilang aja, kalau kita putus, karena kamu telah mutusin aku, bilang aja aku orang nya jahat" Vano tersenyum.
"Idih kakak, nggak ah, malas aku, bilang aja kita putus karena masih kecil gak boleh pacaran" Jawab Nia dengan senyuman.
Ini bukan senyum kebohongan, melainkan senyum karena menurut Nia, Vano sangat menggemaskan pada saat bilang jahat.
"Oke, berarti kamu mau dong menghapus dendam dari hati mu itu" Vano melihat kearah dada nya Nia.
__ADS_1
"Iya, tapi jangan dilihatin kali" Jawab Nia merasa geli.
"Yaudah kakak pigi kekelas yah, dadada" Vano pergi, namun dia tidak pernah lupa dengan kebiasaannya yang selalu mengelus kepala Nia.
"Hati hati, awas nginjak awan" Nia melambaikan tangan nya sambil ngelawak.
"Gak papa kalau nginjak awan, asalkan nggak hatimu, nanti malah sakit" Vano berjalan mundur badannya menghadap Nia sambil bibir manisnya menggombal gadis dihadapannya.
Kini Nia masuk kekelasnya, dan berjumpa dengan Lita didepan pintu.
Tatapannya yang sinis, alis yang menurun, mata yang melotot geram. Kesal. Kelihatan dari wajah Lita sedang kesal.
"Ganjen lo" Tiba tiba kata kata seperti itu terlontar dari iblis yang sedang menjelma wanita SMP.
"...." Nia hanya diam karena dia tidak tau kalau dia berucap pada siapa.
"Kok diam aja?, ternyata benar kan? lo memang ganjen" Lita menarik tangan Nia dan berkata ke depan wajahnya.
Geram. Yang Nia rasakan geram yang sangat dalam, ingin rasanya Nia memberi ajaran pada gadis yang gak sadar diri ini.
__ADS_1
"Bisa gak lo minggir, gue lagi malas berdebat sama perempuan pencemburu" Nia menahan emosinya, dia mengingat kata kata Vano, jika dia membalas berarti sama aja dia penjahat.
"Jelas gue cemburu, coba lo pikir dari SD gue ngejar dia hingga gue pindah kesini, dan tiba tiba saja dia udah pacaran sama cewe pendatang" Suara keras, Lita mengucapkan nya denga nada yang lumayan keras hingga kelas tetangga dapat mendengarnya.
Dion yang merasa tidak nyaman langsung menutup pintu kelas dan mengensel nya, agar kelas mereka tidak dimasuki orang orang, jendela ditutup rapat, gorden di tutup rapat.
"Sebelum gue sama Kak Vano pacaran, lo juga udah jahat sama gue, lo nuduh gue nyuri dompet lo, padahal lo sendiri yang buat ketas gue" Kini Nia tidak dapat menahan emosinya.
"Apaan sih Lo, dah jelas jelas lo yang nyuri masih aja lo gak mau ngaku" Lita tetap berbohong.
"Oh yah, jadi ini gelang yang lo pake kan, gak mungkin gue nyuri dari tangan lo juga" Nia semakin ganas.
"Iya gue yang buat, karena gue kesal sama lo, Cika bilang kalau lo dekat sama Vano" Jawab Lita.
"Gue ingin sebenarnya membantu lo dekat sama kak Vano, tapi gue malah sayang sama dia dan dia juga sayang sama gue" Nia berbohong. Padahal Nia tadinya ingin sekali menghapus dendam pada Lita, tapi dia sangat kesal hingga lupa janjinya tadi.
"Lo lihat aja pembalasan gue" Lita mengangkat tangannya ingin menampar Nia dengan sekuat tenaganya.
"Plaak" Salah sasaran, Lita salah sasaran, bukannya Nia malah Dion yang terkena, Dion yang tiba tiba melindungi Nia menjadi imbasnya.
__ADS_1