
Nia pun bingung dengan senyuman Risa.
"Yaudah kita ke taman dulu yuk, nanti gue temani" Ucap Risa pada Nia dengan tersenyum senyum sendiri. Begitu juga dengan Putri.
Mereka bertiga pun langsung pergi ke taman. Tempat mereka semalam berbicara yaitu persis ditempat ayunan itu.
"Sekarang kau harus kasih tau alasan kau tersenyum sama orang itu berdua, apa kau suka sama Raka?, atau enggak Jeri?" Tanya Nia yang kepingin tau banget.
"Kalau sama Raka bakalan gue tampol mukanya Nia" Ucap Putri pada Nia protes.
"Terus gimana?, atau berarti kau suka sama Jeri?" Tanya Nia lagi lagi meramal karena ke kekepoan nya.
"Tebak kan lo benar banget" Ucap Risa tersenyum pada Nia.
Memang kalau orang lagi jatuh cinta susah ya, bawaan nya kayak orang gilak, senyum senyum sendiri. Hadeh.
"Kau suka sama Jeri?" Tanya Nia sedikit teriak dan tidak percaya.
"Santai aja kali bambang" Ucap Putri tertawa melihat muka Nia yang sangat menggemaskan. Matanya yang membulat suaranya teriak tak percaya.
"Aku terkejut banget. Suer" Ucap Nia lagi lagi tidak menyangka.
Sedangkan Putri tertawa pada Nia.
"Mau lo heran bahkan gak percaya tapi itu lah faktanya Clarinia firasta" Ucap Risa menegakkan fakta itu.
"Emangnya yang kau lihat dari Jeri apaan sih, Risa" Ucap Nia lagi lagi yang tak menyangka.
"Cinta itu datang sendirinya Nia, cinta kan datang dan pergi begitu aja" Ucap Risa yang mulai bucin.
"Oke kalau gitu aku mau tau apa yang terjadi antara kau dengan Jeri" Kini Nia pun ingin mengetahui sebenarnya dari inti nya.
FLASHBACK ON.
"Yaudah kalau lo mau sama dia sana aja, dia juga lagi jomblo tuh" Ucap Vano kepada Jeri.
"Lo serius?, padahal si Risa cantik loh, masa dia jomblo?" Ucap Jeri.
Sedangkan Risa dan Putri sengaja memelankan jalannya agar Jeri datang menghampiri nya. Dan yang di harapkan Risa benar. Jeri menghampiri Risa.
"Sa tunggu bentar" Teriak Jeri pada Risa.
"Ada apa ya kak?" Risa pura pura bertanya seakan akan tidak tau apa apa. Padahal dia sudah tau banget dan pura pura memasangkan wajah polos nya.
"Lo mau kemana?" Tanya Jeri pada Risa yang basa basi.
"Gue mau ke tempat Nia" Ucap Risa pada Jeri.
"Lo mau gak ngobrol sama gue?" Tanya Jeri yang to the point.
__ADS_1
"Ngobrol apa kak?" Tanya Risa yang sok berwajah biasa biasa saja, padahal mah kalau diperiksa, mungkin jantungnya sudah lari keperutnya karena berdetak kencang .
"Tentang apa aja, yang penting malam ini lo temani gue ya ditaman ini" Ucap Jeri meminta/memohon pada Risa.
"Yaudah kalian disini aja, gue mau kesana" Ucap Putri menunjuk kearah Raka.
"Yaudah sana" Ucap Jeri pada Risa.
Mereka pun berbincang bincang.
Falshback off.
"Jadi gitu Nia, makanya itu gue sama dia lagi PDKT" Ucap Risa lagi lagi tersenyum.
"Jatuh cinta sih, jatuh cinta Ris, tapi lo nya jangan sampai ketawa ketawa sendiri kayak orang gila kali" Ucap Putri yang melihat Risa sedari tadi tertawa tertawa dan tersenyum tersenyum sendiri.
"Lo sewot aja deh" Ucap Risa pada Putri.
"Yah sewot la, punya sepupu yang lagi jatuh cinta tapi gayanya kayak orang gilak" Ucap Putri pada Risa.
"Susah amat dah nengok orang senang neng" Ucap Risa pada Putri.
"Udah gak usah debat" Ucap Nia yang melerai mereka.
"Iya iya deh" Ucap mereka berdua yang saling mengalah.
"Lah kalau kami enak, terus lo apa dong?" Kini Putri yang menjawab.
"Iya Nia, malah lo uang paling enak tuh, didekati dua cowo tertampan di sekolah" Risa pun menjawab.
"Berapa kali sih harus ku bilang, cinta ku ini bagai kan digantung, sakit tau" Nia malah berdecak suara sedikit mentel.
"Digantung apaan, jelas jelas lo pacaran sama Vano kok" Ucap Risa yang lupa akan sesuatu.
"Lo lupa yah Ris, kalau Nia sama Vano hanya sebatas pura pura" Ucap Putri menjelaskan pada Risa.
"Hah?, pura pura?" Tiba tiba Lita yang sejak kapan berada disana ikut bicara.
"Eee aa" Putri pun mulai gugup.
"Maksudnya pura pura apa yah, maaf kalau gue tadi gak sengaja dengar" Ucap Lita pada ketiga orang yang ada disana.
"Untung aja cuman dengar pura pura nya doang" Batin ketiga sahabat itu secara bersamaan.
Mereka membatin aja bisa kompak. Hade.
"Maksud Putri itu, Nia sama Vano pura pura lagi musuhan biar orang yang suka sama Vano gak nyakitin Nia terus" Risa pun memutar balik fakta nya. Gak papa lah sekali sekali demi kebaikan.
"Ohh, yang sabar yah Nia, lo seharusnya bangga, karena lo dah dapatkan Vano, gue aja gak bisa dapatin dia" Ucap Lita tersenyum tulus.
__ADS_1
"Kala itu sih salah lo sendiri, kenapa coba dari dulu lo gak berubah?, kalau dari dulu lo berubah, gue yakin, kalau Vano pasti mau sama lo sejak dulu" Ucap Putri pada Lita.
"Iya, gue yang salah, gue terlalu bodoh, gue lebih mentingkan ego gue daripada hati gue.
Gue terlalu emosian hingga buat gue kehilangan segalanya. Ya kini gue akan belajar menahan emosi gue, karena emosi gue, gue pernah kehilangan segalanya" Ucap Lita yang menyesali semuanya tentang kebodohan dan keemosiannya.
"Hah, emang penyesalan selalu datang terlambat ya, dan saat kita kehilangan baru kita merasa berharga" Ucap Risa menyimpulkan.
Sedangkan Nia yang mendengar nya hanya merasa sesak dan sedih. Gadis itu sedari Lita hadir dia hanya diam.
"Apa aku egois banget ya?, apa aku jahat banget?, sampai sampai aku buat orang kehilangan karena dendam ku" Batin Nia yang sangat merasa bersalah kepada orang lain.
"Nia, gue minta maaf ya" Ucap Lita pada Nia.
Sedangkan Nia hanya diam tak berkutik sama sekali.
"Gue dah fitnah lo nyuri uang gue, gue bakalan akui itu kesemua orang, gue akan ambil akibat nya" Ucap Lita meminta maaf.
"Maaf Lit, untuk meminta maaf aku belum bisa Lit, dan aku juga butuh waktu sendiri" Ucap Nia dengan sedikit parai. Nia pun berlari pergi kekamar. Sedangkan Risa fan Putri juga Lita mengerti ucapan Nia yang ingin sendiri.
Nia pun masuk kekamarnya. Banyak orang yang ada dikamarnya itu, Nia memasang wajah yang biasa biasa aja walau matanya dah mulai sembab.
Melihat keadaanya, Nia pun memilih untuk pergi keruang Dion kemarin, Nia mengambil jaket dan selimutnya juga bantal.
Dan kamar nya pun benar benar kosong. Ini saat nya yang tepat untuk Nia menangis sendiri.
Nia merapikan semuanya sambil menghapus air matanya.
"Kenapa sih aku egois banget, kenapa aku gak pernah dengerin bang Vano" Ucap Nia dalam hatinya sambil menangis.
Setelah rapi, Nia pun memilih untuk tidur agar bebannya berkurang sedikit.
••••••••
Sedangkan Risa, Putri dan Lita yang merasa mulai ngantuk pun masuk kekamar, dan saat dikamar mereka sadar bahwa Nia tidak ada dikamar.
"Eh, Nia mana yah?, apa dia masih menenangkan dirinya?, atau gimana?" Ucap Risa yang menyadari keberadaannya tidak ada di kamar itu.
"Tapi selimut sama bantal nya gak ada" Ucap Putri menyambung.
"Ada apa?" Tanya Lita pada Putri dan Risa yang sedang kelihatan bingun.
"Nia gak ada disini" Ucap Putri berterus terang pada Lita.
"Tadi gue lihat kakak itu kayak habis nangis dan bawa selimut, jaket dan bantal nya entah kemana" Ucap seseorang cewek entah siapa namanya. Mungkin adik Lita makanya satu ranjang dengannya, tapi Risa dan Putri tidak pernah tau bahwa Lita punya saudara, yang setahu mereka dia anak tunggal CEO hotel di jakarta, makanya dia berlagak semaunya dan mementingkan ego nya. Orang anak konglomerat, kan susah di imbangi, apa pun yang ia mau pasti ia dapati kecuali hati Vano yang tidak pernah ada untuknya.
__ADS_1