
Nia pun masuk keruangan tersendiri itu yaitu ruangan Dion dirawat oleh Lita.
"Eh Nia lo ngapain" Tanya Lita melihat Nia yang tiba tiba masuk tanpa permisi.
"Maaf kalau aku gak sopan, tapi aku panik, aku mau lihat Dion" Ucap Nia pada Lita dan langsung mewabah kening Dion.
"Lo khawatir banget sih" Ucap Lita tersenyum pada Nia.
"Dia dah gak demam lagi" Ucap Nia pada Lita.
"Ia demamnya dah redahan, tapi dia harus dirawat bangetvsekarang, dia kecapekan" Ucap Lita menjelaskan pada Nia.
"Gue yang jagain dia ya" Ucap Nia sedikit memaksa pada Lita.
"Kalau lo mau jaga dia silahkan, asal lo dah permisi sama Vano gue bakal jaga dia disini juga" Ucap Lita menjelaskan pada Nia.
"Oke, kita gantian, kau disofa, biar aku disini" Ucap Nia memohon pada Lita.
"Yaudah terserah" Ucap Lita pada Nia.
Nia pun duduk disamping Dion, sedangkan Dion masih tertidur pulas.
"Kau kok bisa demam sih Ion" Ucap Nia pelan pada Dion.
Nia pun mengompres pala Dion berkali kali.
"Aduh Ion aku ngantuk lagi" Ucap Nia mengeluh.
Nia pun tertidur, walau tertidur namun tangan kanan Nia selalu mengusap usap kepala Dion dengan lembut sedangkan tangan kirinya menjadi bantal kepala nya.
"Ya ampun Nia lo sampai kayak gini cuman gara gara Dion" Gumam Lita pelan melihat sifat mantan musuhnya itu.
"Nia mana?" Tanya Dion pada Lita dengan lembut.
"Eh kak Vano, Nia nya itu kak, jangan marahi dia yah kak, atau cemburu sama dia plis" Ucap Lita memohon dan merapatkan kedua tangan nya seperi minta maaf alias emang iya.
"Santai aja kali, gue gak bakalan marahin dia, dia kan pacar gue, dan untuk cemburu?, ngapain cemburu, gue kan dah dewasa" Ucap Vano diiringi tawa nya.
"Lo gak tidur" Ucap Vano bertanya pada Lita.
"Bentar lagi kak" Ucap Lita menjawab.
"Gue bisa tidur disini gak" Ucap Vano pada Lita bertanya sedangkan Lita hanya menaikkan bahu nya yang bertanda tidak tau.
"Yaudah gue tidur disini aja deh, sambil temani Nia" Ucap Vano memilih keputusan.
"Gue mau tidur di sofa terus kak Vano dimana?" Tanya Lita pada Vano.
"So sofa juga dong" Ucap Vano gampang saja
"Mana mungkin kita barengan kak" Ucap Lita menolak pada Vano.
"Yah tenang aja, bakalan ada jarak kok, dan tentang Nia lo santai aja. Dai orang nya gak cemburuan" Ucap Vano pada Lita. Vano mengerti sifat Nia.
"Lo paham banget sama Nia ya" Ucap Lita yang kagum pada Vano.
"Yaudah kita tidur aja yuk" Ucap Vano tersenyum pada Lita.
Mereka pun tidur berbarengan, Lita dengan Vano di sofa sedangkan Nia dan Dion berpasangan Dion tempat tidurnya dan Nia di bangku.
Hari sudah pagi, Nia pun bangun luan dari yang lain dikamar itu Niq langsung kekamar mandi untuk bergegas mandi, setelah itu dia membuat teh manis untuk mereka berempat, untung ada yang buat air panas dan ada gula juga di meja itu.
__ADS_1
Nia pun membuat teh manis panas. Setelah itu Nia memeriksa suhu tubuh Dion yang benar benar sudah pulih.
Nia pun ke kamar semuanya setelah membuat air teh hangat.
"Eh Risa, Putri kalian kenapa?" Tanya Nia yang heran melihat kedua sahabatnya seperti merengek.
"Gue laper Nia" Ucap Risa merengek.
"Sama juga" Ucap Putri.
"Kita ketempat Dion dirawat yuk, aku dah buat air teh hangat dan aku juga kemarin bawa roti" Ucap Nia pada kedua sahabatnya.
"Yuk Nia" Ucap kedua sahabat nya itu berbarengan dengan sangat kompak.
"Akhirnya ada makanan juga" Ucap Risa bergumam riang.
Mereka pun masuk keruangan itu, tanpa sengaja Nia melihat Vano dan Lita yang tidur sambil pegangan tangan. Begitu juga Risa dan Putri yang melihat arah sorot pandang Nia.
"Lo baik baik aja kan Nia" Ucap Risa memastikan hati Nia melihat semua itu.
"Iya kok" Ucap Nia tersenyum dan mulai menjalankan tugasnya lagi.
Nia pun membuat roti itu diatas meja dan mulai membangunkan Dion, Lita dan Vano.
"Ion, Ion, lo bangun yah biar sarapan, lalu kita makan obat" Ucap Nia membangunkan Dion.
"Aaahh, Nia?, Lo yang jagain gue?" Tanya Dion pada Nia dan Nia membalas jawabannya dengan anggukan.
"Tapi bukan cuman aku aja, kau harus makan yah biar sembuh"Ucap Nia pada Dion. Dion pun menegakkan badannya dan duduk, kepalanya yang disandarkan kedinding.
"Ni roti sama air teh hangat, makan sama diminum yah" Ucap Nia meminta pada Dion. Dan Dion pun hanya mengangguk angguk mengiyakan.
"Makasih ya Nia" Ucap Risa dan Putri kompakan.
"Lita, Vano bangun kita sarapan ni" Ucap Nia sambil menggoyang goyangkan tubuh mereka berdua.
"Hah, hadeh, 5 menit lagi Lit" Ucap Vano pada Nia. Lit?, apa dia mikir aku Lita?. Kini Nia bergumam.
Sedangkan Risa dan putri juga Dion yang menyadari hanya ikut prihatin pada Nia.
"Lita bangun, Vano bangun atau nggak aku siram pakai air panas?" Ucap Nia mengancam.
"Iya" Ucap Lita dan Vano bersamaan.
"Seram amat sih mbak" Ucap Vano tersenyum pada Nia. Tapi Nia nggak terusik pada itu. Nia malah terusik oleh tangan mereka yang masih tetap menempel.
Lita dan Vano yang mengetahui arah pandang Nia pun mengerti.
"Maaf, gak sengaja" Ucap Lita pada Nia dan begitu juga Vano.
"Yaudah kita sarapan aja" Ucap Nia yang gak mau memperdebat kan semua itu.
"Lo yang siapin semua ini?" Ucap Vano pada Nia bertanya.
"Iya" Ucap Nia menjawab dan sekalian menghidangkan makanan itu.
Nia pun tersadar bahwa Nia tidak makan.
"Loh Dion, kok cuman dipegang sih?, makan dong" Ucap Nia lembut pada Dion.
"Gue malas makan, lidah gue terasa pahit" Ucap Dion pada Nia.
__ADS_1
"Kalau nggak aku gak mau temanan sama mu lagi" Ancam Nia pada Dion.
Nia pun duduk disamping tempat tidur Dion.
"Ah kalau ancaman nya cuman gitu gue sih tetap gak mau makan" Ucap Dion pada Nia.
"Oke oke, kalau kau sembuh aku bakalan temani kau untuk berkeliling dikampung ini, kalau pun sempat" Ucap Nia pada Dion.
"Janji?" Dion pun mengacungkan Jempol nya pada Nia dan Nia pun menyanggupinya.
Tanpa disadari orang orang yang disitu muka Vano kesal dan marah pada mereka.
Mereka pun makan dan setelah itu mereka bergegas untuk segera berbaris sesuai tata acara.
Mereka pun baris sesuai pasangan mereka.
Nia dan Vano pun bersampingan.
Setel baris para kelompok bediskusi untuk mengambil alat alat mereka masing masing.
"Ambil tas samping gu yang kecil biar lkita pergi" Pinta Vano pada Nia.
Nia pun pergi bergegas ke kamar nya. Tas nya Vano itu ada dikamar Nia karena Vano menyuruh nya.
Nia pun menggantungkan tas nya itu keleher nya dan di silangkan ketangan nya.
"Kita dikelompok pak Haris yuk" Ucap Vano dan menarik tangan Nia untuk segera mengikuti pergerakan langkah pak Haris.
"Kalian tulis tentang tanggapan kalian tentang alam disini, apa apa aja tumbuhan yang dapat mekar dengan bagus disini dan apa apa aja yang tidak dapat mekar bahkan tidak dapat tumbuh disini" Ucap pak haris memerintahkan merela yang sedang memberi tanggapan disini.
Setelah itu mereka disuruh untuk meneliti hewan hewan apa saja yang dapat di dapati disini.
Setelah lama meneliti akhirnya semua selesai dan mereka istirahat kembali.
Mereka pun telah sampai di Vila itu.
"Oke anak anak setelah ini, kita istirahat dan kalian bisa kumpulkan dimeja ini" Ucap pak Haris pada murid murid yang dia tanganni.
"Gue aja yang ngumpul" Ucap Nia pada Vano dan Vano pun mengiyakannya.
Setelah Nia mengumpul Nia pun ingin bubar, namun dia malah terjatuh di lantai atas ulah seseorang yang sengaja menjegal kaki Nia, dan sialnya Nia tidak melihat orang yang sengaja melukainya, dan Nia yakin ini bukan ulah Karina dan Lira, karena mereka jauh dari keberadaan Nia.
Nia pun bangkit lagi walau banyak yang menertawakan nya terutama Karina dan Lira.
"Lo gak papa?" Tanya Vano cemas pada Nia dan seakan Karina dan Lira yang melihatnya langsung memutar bola matanya dengan malas dan pergi.
Sedangkan Nia pun hanya menggeleng.
"Aku gak papa Van" Ucap Nia pada Vano.
"Nia kita ketaman yuk" Ucap Risa mengajak Nia.
"Ngapain?" Tanya Nia pada Risa dan Putri.
"Main main aja, lo gak bosan" Ucap Risa merayu Nia.
"Yaudah deh" Ucap Nia pasrah dan keluar ketaman.
Risa dan Putri senyum senyum tak menentu saat melihat Jeri dan Raka lewat. Nia yang. memperhatikan nya sadar.
"Eh tunggu tunggu tunggu, kalau Putri senyum senyum wajar gara gara Raka lah kau kok, senyum juga?" Tanya Nia yang bingung melihat arti senyum Risa baru baru saja yang ia keluarkan.
__ADS_1