
Keseharian Dita begitu sangat membosankan. Tak ada hal yang menarik dari hidupnya. Selain makan, tidur dan kemudian menjadi objek penyiksaan Abraham.
Hanya itu yang setiap harinya terjadi pada dirinya. Oleh sebab itu Dita merasa tak ada gairah hidup sama sekali. Ia begitu merindukan dunia luar dan berkumpul bersama teman-temannya.
Walau hanya ada Sonya di sini masih saja membuat ia bosan. Tapi Dita juga sangat bersyukur karena perempuan itu baik kepadanya.
Namun sayang, Dita merasa tak satu frekuensi dan sejalan dengan Sonya. Sonya juga merupakan orang yang memiliki pribadi tertutup dan tak mau disalahkan. Itu adalah sisi lain yang ditemukan Dita pada diri Sonya.
"Dita. Ada apa dengan mu? Kenapa kau dari tadi hanya melamun? Apakah kau sedang sakit?" tanya Sonya yang masuk ke dalam kamarnya.
Dita hanya menatap sekilas ke arah wanita itu. Ia pun menghela napas panjang dan memejamkan matanya.
Tak ada niatan bagi dirinya untuk menjawab pertanyaan Sonya tadi. Sonya juga tak terlalu tersinggung karena ia tahu jika Dita memiliki segudang masalah yang sukar untuk ditangani oleh wanita itu.
"Ku harap kau segera menyelesaikan persoalan mu itu. Aku sangat bosan melihat diri mu yang selalu melamun."
Dita pun terkekeh mendengar ucapan yang terlontar dari mulut Sonya. Ia pun menimang-nimang keadaan dirinya saat ini yang juga cenderung lebih baik berdiam diri.
"Aku sangat tidak yakin jika diri ku akan dapat melewatinya. Aku pun bertanya-tanya bagaimana caranya?"
"Hem, aku juga kurang mengetahuinya. Ku harap kau lebih bijak lagi dalam mengatasi masalah. Mungkin itu akan mengurangi sedikit masalah mu."
"Masalah itu adalah pria tersebut. Satu-satunya cara mengatasinya adalah dengan mengelabuhi laki-laki pisikopat itu. Aku sangat benci untuk sekedar menyebut namanya. Dia begitu misterius dan menyimpan segudang rahasia. Apakah kau pernah melihat wajahnya?" tanya Dita yang sangat penasaran bagaimana sebenarnya wujud dari pisikopat berdarah dingin tersebut.
Sonya menggeleng lemah. Ia rasa tak ada satu pun orang yang ada di dalam rumah ini yang tahu bagaimana rupa dari Abraham. Mungkin juga termasuk orang yang sangat dekat dengannya, contohnya asistennya yang selalu mengikuti pria itu seperti anak itik.
"Aku tak tahu wajahnya. Bukannya kau sering tidur dengannya, apakah kau tak pernah melihat wajah pria itu? Sama sekali tidak pernah. Jadi bagaimana jika kalian sedang ciuman?"
Mata Dita langsung terbuka mendengar pernyataan frontal yang keluar dari mulut Sonya. Ia benar-benar amat malu dengan dirinya sendiri setelah mendapatkan pertanyaan tersebut.
__ADS_1
Wajah Dita memerah hanya karena diberikan pertanyaan semacam itu.
"Kau sadar apa yang baru saja kau tanyakan? Kau benar-benar membuat ku malu," ucap Dita sambil menarik napas. "Aku benar-benar tidak tahu sedikitpun. Dia tidak membuka topengnya dan dia aku juga tak bisa melepaskan topengnya. Apakah sampai di sini kau belum paham juga?" tanya Dita sedikit kesal. Bahkan ia mempertegaskan kalimat tanya di akhir kalimatnya.
"Sudahlah. Aku benar-benar bingung. Hem tapi kau sangat beruntung bisa tidur dengannya."
"Apa maksud mu? Aku bahkan sangat jijik. Jika kau inginkan dia, ambil saja dan ajak dia bercinta agar aku tak menjadi korban lagi." Untuk kali pertamanya Dita benar-benar menunjukkan rasa jengkelnya kepada Sonya.
Sonya pun berpura-pura dengan menggaruk kepalanya. Sebenarnya ia juga heran dengan dirinya sendiri kenapa terlalu kepo dengan urusan orang lain.
"Maafkan aku. Sepertinya kau sangat kesal."
Dita hanya menatap muak dan memalingkan wajahnya. Ia pun benar-benar mendiamkan Sonya.
__________
Hari ini adalah hari tersial bagi seorang Abraham. Bagaimana tidak, ia mendapatkan bencana buruk yang membuat dirinya terluka parah.
Tapi sudahlah, saat ini ia tetap saja luka dan dirinya sangat menyesali semua itu. Bukan menyesal atas perbuatannya, tapi ia menyesal terhadap korbannya, kenapa tidak ia bunuh langsung saja sehingga dia tak bisa berteriak dan hingga terjadi hal ini kepadanya.
"Sialan. Aku akan membunuhnya jika bertemu dengannya," ucap Abraham sambil memegang tangannya yang beberapa kali terkena luka tembakan dari aparat kepolisian.
Itulah salah satu hal yang membuat Abraham membenci kepolisian. Bekerja sangat tidak becus, dan juga terlalu bodoh karena tak bisa menemukan penjahat berantai seperti dirinya. Jika pun menemukan dirinya tak pernah berhasil menangkap ia dan malah akan melukai dirinya.
"Kenapa masih saja orang-orang bodoh di dalam dunia ini," ucap Abraham terlihat sangat meremehkan.
Pria itu pun masuk ke dalam rumah. Tetesan darah akibat dari luka tembak di tubuhnya membasahi lantai rumah yang ia lintasi.
Ia menuju ke dalam kamarnya, namun di tengah jalan ia tak sengaja berpapasan dengan Dita.
__ADS_1
Dita yang semula mengacuhkan Abraham seketika terkejut melihat darah yang menetes di lantai.
Ia pun berbalik dan menatap lengan dan tubuh Abraham yang penuh akan warna merah.
Melihat hal tersebut sontak hati Dita merasa sangat kasihan dan ingin menghampiri pria itu.
Tapi di sisi lain ada bagian dirinya yang melarang untuk menemui Abraham. Seolah memaksa ia untuk tak peduli.
Tapi Dita yang selalu menolong orang dan memiliki hati selembut kapas membuatnya tak bisa mengikuti kata hatinya yang lain.
Wanita itu mengejar Abraham dan kemudian berdiri di depan laki-laki itu. Abraham menatap heran ke arah Dita.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanyanya dengan nada yang sangat kaku.
Tampaknya pria ini dalam kondisi tidak memiliki mood yang baik. Dita pun paham kenapa Abraham bisa seperti itu.
"Kau terluka." Dita meraih tangan Abraham dan ia begitu prihatin melihat darah yang terus menetes.
Abraham tak melepaskan pandangannya dari Dita yang begitu serius dan tampak kasihan pada lukanya.
"Aku benci dikasihani." Abraham pun berlalu.
Dita menghembuskan napas lelah. Wanita itu pantang menyerah dan mencoba untuk mengejar laki-laki tersebut.
"Aku akan mengobati diri mu. Jadi jangan banyak bicara."
___________
TBC
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.