
Sedangkan di belahan New York yang lain seorang ibu tengah mengkhawatirkan anak dan cucunya yang tak kembali pulang.
Ini sudah hampir satu Minggu dan Dita juga belum ditemukan oleh mereka. Hati Clarissa sungguh sakit saat mengetahui hal tersebut. Ia tak bisa menangis karena memang semuanya sungguh menyakitkan hingga ia tak sanggup berbuat apapun.
Calrissa bahkan sampai harus dilarikan ke rumah sakit karena penyakit yang dideritanya kembali kambuh saat mendengar jika sang anak hilang.
Ini pasti berhubungan dengan Abraham. Clarissa akan membunuh Abraham dengan tangannya sendiri jika ia membuat anaknya kembali terluka.
"Aku sangat membenci pria itu. Kapan dia akan mati? Kenapa dia datang terus membawa masalah kepada keluarga kita? Dari dulu dia sama sekali tak bisa berubah dan aku juga sudah sangat muak kepadanya," ucap Calrissa kepada sang suami yang menungguinya di rumah sakit.
Simon juga sangat pusing memikirkan masalah ini. Ia belum hsoa sama sekali menemukan sang anak kandung yang hilang.
"Aku begitu menganggap remeh pria itu sna membiarkan Dita pergi tanpa pengawalan sama sekali. Akhirnya akan terjadi seperti ini, jika aku tahu aku akan memberikan Dita Bodyguard. Tapi sayang semuanya sudah terlambat. Maafkan aku," sesal Sinom yang berada di ujung.
Wanita itu pun mengehela napas mendengar maaf dari Abraham. Ia pun mengepalkan tangannya dan menangis keras. Entah kenapa rasanya sangat sesak mengetahui hal itu.
"Aku masih belum bisa memaafkan mu. Sungguh ini rasanya sangat sakit. Aku sudah pernah mengatakan jika mereka harus diberikan pengawalan. Jika seperti ini kita mau bagaimana?"
"Iya sayang aku tahu aku salah. Maka dari itu aku ingin meminta maaf kepada mu."
"Sudahlah. Semuanya juga sudah terlambat, bukan?"
Simon menundukkan kepala. Pria itu benar-benar diliputi oleh rasa bersalah yang sangat besar. Selain itu ia jjga turut merasa khawatir. Entah kenapa dirinya tak bisa berbuat apapun.
"Aku akam mencoba mencari Dita. Kau tenang saja, jangan menangis lagi."
Calrissa pun ketahuan sedang menangis dan wanita itu tak bisa lagi mengelak. Ia menghapus air matanya secara kasar lalu membuang wajahnya. Ia sangat marah kepada Simon.
"Pergilah, aku ingin kau mencarinya. Aku sudah sangat muak kepada mu yang tak mendengarkan ucapan ku dari awal."
"Baiklah," jawab Simon dan lalu kemudian pergi.
__ADS_1
Ia harus bisa menemukan Dita untuk mengobati rasa bersalahnya kepada anak itu dan juga kepada istrinya.
Sebelum itu, Simon pun terlebih dahulu pergi ke gereja terdekat untuk berdoa kepada Tuhan agar pencarinya dimudahkan oleh Tuhan.
Simon bisa dikatakan orang cukup taat beribadah. Pria itu benar-benar bertobat dengan masa lalunya dan berharap jika di masa depan ia akan lebih baik lagi.
Setelah selesai melakukan ritual berdoa, ia pun pergi menemui beberapa anak buahnya yang sudah berkumpul di suatu tempat.
"Bagaimana? Apakah sama sekali tak ada hasilnya?"
Mereka pun menggelengkan kepala lemah. Simon pun harus menelan kekecewaan untuk kesekian kali karena mendengar tak ada kabar dari Dita.
"Maaf Tuan. Tapi kali ini kami tak bisa melacak keberadaan Abraham."
"Ini sangat aneh, kenapa bisa begitu?" tanya Simon sambil menggigit bibirnya.
"Tampaknya, mereka sudah menyiapkan ini dengan matang."
Abraham pun memandang ke arah pria yang berbicara tersebut. Apa yang ia katakan tentu saja benar karena memang mereka sudah membuat rencana dari awal.
___________
Alvarez dan Naomi seolah lupa dengan kakek neneknya. Ia terlampau bahagia berada di tempat ini sampai lupa dengan mereka.
Dan untuk membuat mereka makin betah berada di sini, Abraham pun memanjakan mereka dengan beberapa permainan yang membuat mereka cukup senang dan tak ingin pulang karena hendak mendapatkan permainan yang lebih banyak lagi dari Abraham.
"Kau benar-benar sudah gila meracuni mereka dengan mainan itu. Aku tak ingin anak-anak ku kecanduan bermain."
"Ck, kau tenang saja, hal itu tidak akan terjadi. Aku akan menjaminnya dengan yakin."
Dita hanya mendecih seolah tak peduli dengan apa yang dikatakan oleh laki-laki itu, pasalnya ia sudah terlampau muak kepadanya.
__ADS_1
"Aku akan menyalahkan mu jika ia akan kecanduan bermain game dari pada belajar."
Dita mengomel sambil memasak. Mungkin itulah seorang ibu-ibu yang sudah menjadi ciri khasnya.
Sedangkan Abraham menunggu Dita memasak di meja makan. Melihat apa yang dilakukan Dita di dalam dapur membuat dirinya tak bisa berkata lebih banyak selain memuji jika wnaita itu luar biasa karena telah berhasil membuat dirinya terpesona setelah sekian lama.
"Apakah kau tak ingin makan daging manusia?" sindir Dita kepada Abraham yang mana hal itu adalah kebiasaan Abraham dulu.
Abraham pun mendengus. Ia dengan susah payah untuk melupakan hal tersebut tapi Dita dengan entengnya mengingatkannya. Jika sudah begitu nafsu membunuhnya akan muncul.
"Kau ingin aku membunuh seseorang? Apakah kau sudah yakin dengan hal tersebut? Aku yang merasa sangat tak yakin jika kau melakukan hal itu. Aku sungguh membencinya," ucap Abraham dan mengehela napas panjang.
Dita pun sadar dengan apa yang ia ucapkan dan bisa saja berakibat fatal bagi dirinya. Ia pun secara otomatis menutup mulutnya yang tampaknya sudah kurang ajar.
"Aku tak tahu jika akan seperti ini ujung-ujungnya. Maafkan aku," ucap Dita.
Abraham pun tersenyum miring dan menghampiri Dita. Ia memeluk pinggang Dita yang sangat pas berada di tubuhnya.
"Tentu saja aku akan memaafkan mu. Apapun akan aku lakukan untuk mu sayang," ucap Abraham yang membuat Dita ingin muntah.
"Apa yang kau katakan? Kenapa terdengar cukup menggelikan di telinga ku?" tanya Dita.
Abraham pun merasa gemas dengan wanita ini. Ia tak menyangka akam jatuh cinta kepada bocah ingusan seperti Dita.
"Kau benar-benar bisa membuat ku tak berdaya kepada mu. Aku akui kau sangat mempesona hingga membuat ku tertarik."
Abraham menyentuh pipi Dita dan dengan cepat wanita itu menepis tangan pria tersebut.
"Dasar baji...ngan!"
________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.