
Kehamilannya kali ini membuat Dita sering merasakan sakit. Mungkin itu karena dirinya yang masih muda dan belum siap untuk hamil.
Dita hanya pasrah dengan keadaan dan menjalankannya sebisa mungkin. Semuanya sudah terjadi, dan ia tak memiliki masa depan yang cerah.
Padahal Dita sangat ingin memiliki impian yang besar dan lalu sukses. Tidak memikirkan untuk memiliki anak dan juga menikah. Tapi, semua harapan yang ia impikan hancur dalam sekejap. Bisa dikatakan dia adalah salah satu orang yang malang.
Dita mengehela napas panjang dan menatap ke arah jendela. Pandangannya kosong pun begitu juga dengan pikirannya yang tidak tenang.
Ia selalu saja dibayang-bayangi oleh Abraham. Padahal hubungannya dengan Abraham sudah tidak ada dan telah berakhir.
Entah kenapa ia merasa jika pria itu akan menemukannya. Dita berharap jika hal tersebut tak akan terjadi.
Karena ia belum sanggup untuk bertemu dengan orang seperti Abraham. Di lain sisi ia sangat membenci Abraham tapi ada bagian hatinya yang lain yang menginginkan bertemu dengan Abraham dan mengatakan jika ia telah mengandung anak pria itu.
"Siapa sebenarnya dia? Kenapa aku tidak tahu wajahnya. Begitu mirisnya kah aku yang tak mengenal siapa ayah dari anak ku," ucap Dita dengan suara serak.
Ia tengah mengalami demam. Bahkan Dita saat ini harus dipasang infus di tangannya. Berat rasanya menjalin kehamilan tanpa orang tua. Karena orang tuanya juga memiliki masalah masing-masing dan kadang tak sempat untuk mengurus Dita.
Dita juga tak berani meminta hal itu. Hanya saja kadang Carissa yang berinisiatif sendiri untuk membantu Dita. Tapi, wanita itu ada usaha di Yunani hingga kadang ia tak berada di rumah.
Dita menghela napas panjang. Jadi sebenarnya apa yang ia inginkan? Dita sungguh tak mengerti dan pikirannya amat kacau.
"Dita. Ayah mu sudah datang."
Dita pun tersenyum lebar dan berjalan ke arah pintu. Sang ayah yang datang menjenguk dirinya pun sangat terkejut melihat kondisi sang anak yang sangat kritis.
"Dita. Apa yang sebenernya terjadi pada mu? Kamu sakit lagi?" tanya Simon sangat khawatir dan mengecek tubuh Dita.
Dita mengangguk lesu. Ya sejujurnya dia pun sidja sangat lelah sakit terus menerus.
"Iya Ayah. Aku kembali sakit, seperti biasa." Dita mengatakannya dengan sangat pasrah. Wanita itu menghela napas cukup panjang. Tampaknya ia sendiri juga lelah dengan keadaan.
__ADS_1
Sang ayah yang merasakan betapa sedihnya sang anak pun tak kuasa untuk menahan tangis. Ia pun memeluk tubuh Dita dengan penuh kasih sayang.
"Jangan berpikir seperti itu. Kau adalah anak yang kuat dan jhga hebat. Ayah sangat yakin kau hisa melewati semua ini. Lihat, kau sudah berada di fase ini."
Dita pun mengangguk. Ia sangat kasihan dengan ayahnya yang harus terus-terusan menyemangati dirinya padahal Dita sangat tahu jika sang ayah menahan tangis di dalam hati melihat anaknya yang seperti ini.
"Ayah. Dita tahu, makanya Dita selalu percaya dengan apa yang ayah katakan."
Ibunya juga turut terharu melihat betapa sang anak sangat optimis dengan keadaan yang tengah di alaminya.
"Dita kami semua sangat bangga kepada mu. Kau akan tetap menjadi anak kesayangan kami," ucap ibunya sangat terharu melihat betapa Dita begitu gigih.
"Terima kasih Bunda. Ah, apa yang kau bawa untuk oleh-oleh kepada ku?" tanya Dita kepada Simon.
Simon pun tersenyum lebar. Ia pun menenteng hadiah untuk Dita. Dita yang melihat itu lantas langsung tersenyum lebar.
"Yey!!"
_____________
Entah kenapa ia sangat membutuhkan Dita dan ingin wanita itu ada di sampingnya. Abraham sangat berharap jika dirinya bisa menemukan Dita dan tak akan mengembalikan kepada orang tuanya.
Ia benar-benar kesal dengan semua orang yang ada di rumah ini yang tak bisa membawa Dita kembali.
Pencariannya berbulan-bulan tak pernah membuahkan hasil. Abraham menghela napas panjang. Ia meremas rambutnya jengkel.
"Apa yang sebenarnya yang sudah kau lakukan kepadaku?" tanya Abraham kepada Dita. Ia benar-benar tak bisa menampik pesona yang ada pada diri Dita.
Abraham mengepakkan tangannya. Ia pun meninju dinding. Tapi semua itu tetap saja tak bisa meredam amarahnya.
Saking kesal kepada diri sendiri, Abraham lantas meninju kaca yang ada di depannya hingga kaca tersebut pun pecah berkeping-keping di depan Abraham.
__ADS_1
Tangan Abraham mengeluarkan darah yang sangat kental. Darah tersebut berasal dari tangannya yang terluka karena tusukan kaca.
Anehnya lagi pria itu sama sekali tak merasakan sakit dan tampak biasa saja dengan apa yang saat ini terjadi padanya.
Sementara itu Petrus yang sudah berada di depan pintu cukup lama dan melihat apa yang sedang dilakukan oleh tuannya itu membuat ia menunduk.
Ia melihat darah, dan nafsu Petrus untuk meminum darah pun kian meningkat.
Begitulah orang yang haus akan darah dan pantang melihat darah. Pria itu menghampiri Abraham dan lalu kemudian menghampiri Abraham.
"Tuan!" Abraham menoleh ke arah Petrus. Ia menatap dengan dingin bawahannya tersebut. Abraham sama sekali tak memberikan respon kepada Petrus hingga Petrus pun yang kemudian berinisiatif mengatakannya sendiri. "Rupanya Simon dan keluarganya tak lagi berada di New York."
Abraham tetap bungkam dan menatap tangannya yang terus mengeluarkan darah.
"Lalu di mana dia sekarang?"
"Kami tidak dapat menyelidikinya karena memang sangat ketat. Dan satu lagi, banyak anak buah kita yang tewas saat mencoba untuk mencari tahu. Apakah pencarian ini dihentikan karena banyak anak buah kita yang meninggal?"
Mata Abraham langsung memerah marah. Pria itu menarik kerah baju Petrus dan langsung memukul wajah pria itu.
"Apa yang kau bicarakan? Kau benar-benar sangat mengesalkan! Kau ingin aku membunuh mu? Bagaimana mungkin aku melakukan hal tersebut."
Abraham pun menarik napas panjang. Ia pun memejamkan matanya dan melepaskan kerah baju Petrus dan lalu mendorong tubuh Petrus.
Petrus pun memejamkan matanya. Ia sudah terbiasa diperlakukan seperti itu oleh Abraham.
"Maaf Tuan."
"Temukan dia bagaimana pun caranya."
__________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.