Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 47


__ADS_3

Dita menatap ke depan dengan pandangan yang sedikit melembut. Melihat Abraham di pagi hari dengan jarak yang sangat dekat dengannya adalah suatu anugerah yang tak pernah dapat Dita lewatkan.


Ia sudah sangat yakin dengan hatinya untuk menjatuhkannya kepada Abraham. Mencintai Abraham juga bukanlah sesuatu yang buruk jadi Dita merasa tak ada salahnya jika mencintai Abraham.


Abraham juga sudah berjanji kepadanya untuk tak melakukan hal-hal buruk yang ia lakukan di masa lalu. Dita harap pria itu bisa memenuhi janjinya kepada Dita.


"Kau terlihat tengah melamun dear, aku suka saat kau terus menatap diriku. Aku tak suka kau dengan banyak pikiran seperti ini. Kau bukanlah seperti Dita yang aku kenal."


Dita menatap ke arah yang rupanya sudah bangun. Wanita itu menarik nafasnya cukup panjang lalu meletakkan tangannya ke wajah Abraham. Kemudian Ia pun menyusuri wajah itu dengan tangan nya yang lembut.


"Kau sudah bangun rupanya. Walaupun sedikit mengejutkanku."


"Sebenarnya dari tadi aku pun sudah bangun. Jauh lebih dulu dari mu." Mata Dita yang mendengar hal itu pun langsung membelalak. Yang benar saja Abraham sudah bangun. Itu artinya pria tersebut mengetahui saat ia terus menatap dirinya.


"Kenapa kau tak mengatakan jika kau telah bangun?" tanya Dita dengan sedikit kesal. Sementara itu Abraham hanya terkekeh bak orang tak merasa bersalah sama sekali kepada Dita.


Dita merasa muak dengan wajah itu. Ia pun memasang wajah cemberut yang pada akhirnya Abraham lah yang balik membujuk dirinya.


"Kau terlihat seperti ini membuat ku merasa sangat bersalah. Jangan lah memasang wajah ini," pinta Abraham kepada Dita. Tapi, Dita sama sekali tak mempedulikannya dan malah memasang wajah kian cemberut. "Baiklah aku yang salah. Aku akan mengatakannya bahwa aku telah bangun kepada mu nanti. Jadi berhentilah memasang wajah seperti itu."


Merasa kasihan kepada Abraham yang ia kerjai, Dita pun mengehela napas dan tersenyum lebar seolah tengah menunjukkan kepada pria itu jika ia hanya bercanda.


"Kau terlalu lebay. Aku sama sekali tak membenci diri mu. Aku hanya bercanda, kenapa kau terlalu membawa perasaan?" tanya Dita kepada pria itu sambil mengehela napas yang cukup panjang.


"Entahlah. Dengan mu aku tak bisa diajak bercanda sama sekali."


Dita memeluk tubuh Abraham yang tak dilapisi oleh selimut. Ia pun merasakan perut Abraham yang kotak-kotak seperti roti sobek. Ia tak menyangka jika di umur pria itu yang sudah habis masa dewasanya itu masih saja terlihat sangat muda dan juga memiliki ABS.


"Hampir saja kau akan menjadi ayah ku," ucap Dita saat tiba-tiba di otaknya terlintas Abraham yang merupakan pacar dari ibunya dulu. Hal itu benar-benar membuat Dita merasakan hal yang berbeda pada Abraham.


"Ya. Jika aku bersama ibu mu maka kau yang tidak akan lahir. Tapi, entahlah hal itu terjadi aku harus bersyukur atau tidak," ucap Abraham yang dengan entengnya tanpa memikirkan bagaimana perasaan Dita saat mendengar hal tersebut.


Dita pun mengercutkan bibirnya dan menarik napas cukup panjang. Ia pun menatap ke depan dengan pandangan yang kosong.

__ADS_1


"Jangan katakan seperti itu, jujur saja aku merasa cemburu," ucap Dita yang berterus terang berharap jika Abraham mengerti dengan perasannya. "Walaupun dia adalah ibu ku, tapi aku juga perempuan yang bisa merasakan rasa cemburu."


"Sudah aku tebak," ucap Abraham sembari mengusap wajah Dita cukup keras. "Kau tak ingin mandi? Mandi bersama misalnya."


"Tidak sama sekali. Karena aku tahu apa yang akan terjadi."


_________


Dita tak bisa melunturkan senyum di wajahnya. Ia tengah menatap ke depan dengan pandangan yang sangat bahagia tatkala melihat anaknya tersebut tengah belajar.


Dita pikir pemandangan tersebut adalah sesuatu yang sangat membahagiakan bagi dirinya. Di mana anak yang dulu ia urus dari kecil akhirnya semakin besar dan kini sebentar lagi salah satu diantara mereka akan masuk sekolah dasar.


Alvarez begitu senang belajar dan begitu pula dengan Naomi. Walaupun Naomi sedikit pemalas tapi ia memiliki sisi aktifnya di bidang seni. Maka dari itu agar membuat Naomi senang Dita membuat metode belajar Naomi dipenuhi dengan seni.


Dita sama sekali tak memikirkan Apa yang harus dilakukan anaknya di masa depan. Ia pikir anaknya bisa memilih hal tersebut sendiri.


"Naomi Apakah kau kesusahan dalam belajar? Apakah kau perlu bantuan ku?" tanya Dita saat melihat Naomi yang berusaha untuk memainkan gitar kecil yang diberikan oleh Dita.


"Tidak Mama! Aku bisa melakukannya sendiri. Kau tetap saja di tempatmu."


Dita pun menganggukkan kepalanya. Ia terus mengawasi anaknya belajar. Dan akan membantu mereka jika mereka mendapatkan kesusahan.


"Tampaknya Kau sangat sibuk sekali menjadi orang tua."


Tanpa menoleh pun Dita tahu siapa orang tersebut. Dita mengulas senyum miring.


"Pekerjaanmu tampaknya sangat berat di kantor sehingga kau baru saja pulang."


"Kau menungguku?" tanya Abraham lalu mendekati Dita. Kemudian pria tersebut pun mengecup bibir Dita pelan.


"Aku rasa tidak."


"Baiklah. Tapi, tampaknya kau cemberut gara-gara itu."

__ADS_1


"Ya. Aku menunggu mu pulang." Dita pun menolehkan kepalanya ke arah Abraham.


Ia menarik napas panjang dan menatap Abraham dengan tatapan yang cukup dalam.


Abraham menaikkan satu aslinya menunggu Dita mengutarakan isi hatinya. Tampaknya wanita itu hendak berbicara sesuatu yang sangat serius kepadanya.


"Ada apa?"


"Aku ingin kau mengajak untuk ke rumah ku. Aku ingin kau berbaikan dengan ayah ku dan meminta maaf kepada mereka."


"Seharusnya ayah mu itu yang meminta maaf."


"Abraham!" peringat Dita kepada Abraham yang masih belum mau mengakui kesalahannya.


Abraham pun menarik napas cukup panjang lalu menatap ke arah dua anaknya.


"Aku tidak ingin bertemu dengan mereka."


"Sekali saja. Aku merindukan mereka. Aku ingin kalian damai."


"Tidak akan bisa."


"Kenapa? Kau sangat egois. Kau tak memikirkan bagaimana perasaan ku yang paling terluka di sini. Kau tak tahu jika ayah dan ibu ku sangat merindukan ku. Aku juga begitu, kau juga tak memikirkan bagaimana Mama di atas yang kecewa dengan keegoisan mu."


Abraham pun tak memiliki pilihan lain dan menyerah. Dan ia akan memenuhi keinginan Dita tersebut.


"Baiklah. Aku besok akan bertemu dengan mereka."


_______


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2