
Nyatanya pergi ke Yunani hanya menambah masalah Abraham semakin banyak. Ia tak percaya jika dirinya tak bisa melakukan apapun di sini dan bahkan orang yang dibunuh oleh Petrus beberapa Minggu yang lalu merupakan orang penting yang ada di Yunani.
Alhasil keberadaan mereka tengah diburu oleh tentara Yunani. Terpaksa Abraham harus memukul mundur orang-orangnya sebelum tertangkap oleh pemerintahan Yunani.
Abraham bisa saja melakukan apapun, tapi untuk menentang pemerintah di Yunani yang tanpa ada persiapan tak akan semudah itu.
Kedatangan ke Yuanani hanya membawa sial. Abraham sangat membenci fakta tersebut dan tak akan kembali lagi ke tempat ini karena dirinya sama sekali tak menemukan orang yang ia inginkan.
Mungkin itu hanyalah jebakan dari Simon yang memancing dirinya. Jika benar seperti itu ia akui Simon kali ini memang sangat hebat.
Abraham mendengus kesal. Pria itu sudah melakukan pendaratan untuk melarikan diri ke Ecuador. Ia harap kali ini kedatangannya ke Ekuador tak dicurigai.
"Apakah kau yakin untuk ke sana?"
Abraham menatap Petrus sang pembuat onar itu. Ia sangat membenci pria itu untuk saat ini yang menggagalkan rencana yang telah disusun dirinya.
"Kau benar-benar keterlaluan sudah menghancurkan segalanya. Pupus sudah harapan ku datang ke Yunani."
Petrus memandang ke arah Abraham dengan tatapan yang datar. Ia tahu jika semua ini adalah salah dirinya. Ia pun sudah mengakuinya dan beberapa kali meminta maaf kepada Abraham.
"Aku sudah mengatakan maaf kepadamu. Tapi kau mengabaikan maaf yang aku inginkan."
Abraham menatap ke arah Petrus yang kali ini lebih lancang lagi melawan ucapan dirinya. Ia menatap pria itu penuh dengan tatapan peringatan.
"Kau benar-benar keterlaluan. Memangnya apa yang sudah kau lakukan dapat dimaafkan? Kau menawarkan aku menyiksa dan menghukum mu, apakah itu akan membuat keadaan membaik. Kau menawarkan untuk aku membunuh mu. Apakah kau ingin melarikan diri dari dunia setelah apa yang kau buat?" Pertanyaan tersebut begitu melekat di telinga Petrus yang membuat pria itu tak berkutik dan berdaya.
Ia pun terpaksa diam dan mengehela napas panjang. "Baiklah, aku tahu apa sekarang kesalahan ku. Agar bisa semuanya membaik seperti semula. Aku akan melakukan apapun untuk membuat keadaan seperti awal," ucap Petrus yang sangat bersungguh-sungguh.
"Bahkan kau yang harus bertanggung jawab atas hilangnya Dita. Ku harus membawanya kemari. Aku tidak mau tahu," ucap Abraham yang kemudian memejamkan matanya. Ia begitu enteng mengatakannya tapi berbeda dengan Petrus yang lagi-lagi harus melakukan kerja keras untuk mendapatkan kepercayaan dari atasannya.
"Aku akan melakukan yang terbaik. Apapun itu resikonya," ucap Petrus sembari memejamkan matanya. Ia harap kangkahnya kali ini tidak salah lagi di mata Abraham.
Abraham hanya tersenyum simpul dan berharap jika Petrus benar-benar dapat melakukannya dengan baik.
__ADS_1
Tak terasa pesawat pun sudah hampir sampai di bandara. Rencana mereka akan pergi ke Ecuador menggunakan Kapal.
Mereka semua turun dari pesawat dan segera pergi ke pelabuhan yang di mana kapal yang mengangkut perdagangan gelap itu ke Ecuador.
Kebetulan Abraham mengenal pemilik pasar kapal yang berisi perdagangan tersebut.
Mereka memasuki kapal tersebut dan melihat ke dalam tang penuh dengan orang-orang berpengaruh yang menyimpan sejuta kegelapan dalam diri mereka. Sejatinya tidak ada yang benar-benar jujur.
_____________
Simon dan Clarissa sama-sama tidak bisa tenang usia mendapatkan kabar jika Abraham ada di Yunani. Berita mengenai keberadaan mereka yang didapatkan dari siaran televisi yang menayangkan cctv mengenai seseorang yang membunuh salah satu petinggi di Yunani.
Clarissa dan Simon langsung tahu jika orang itu adalah Abraham. Jadi mereka sangat khawatir. Mereka juga berusaha sebisa mungkin untuk merahasiakan semua ini dari Dita, agar wanita itu tak terus kepikiran mengenai keselamatannya dan anaknya.
"Dita tidak boleh tahu," ujar Clarissa dengan dada yang berdetak kencang. Ia terus mondar mandir di dalam kamar dengan sangat tidak jelas.
"Tentu saja dia tidak boleh tahu. Aku tidak ingin terjadi gangguan psikologis dari anak ku."
Simon dan Clarissa memiliki arah hati yang sama. Dita baru saja melahirkan bayinya dan ia ingin Dita diberikan kebahagiaan semasa menjadi ibu yang sangat muda.
"Kau cek Dita ke kamarnya, apakah dia sekarang baik-baik saja? Aku harap tidak ada apapun yang terjadi padanya."
Clarissa mengangguk menyetujui keinginan dari suaminya itu. Ia pun pergi ke kamar Dita dan melihat aktivitas yang tengah dilakukan oleh wanita itu.
Senyum di wajah Clarissa yang dari tadi terus khawatir pun timbul. Ia menghampiri Dita dan kemudian mengusap kepala anaknya.
"Apakah dia masih belum ingin tidur?" Dita menatap ke arah ibunya. Ia cukup kaget ketika mendapatkan usapan di kepalanya.
"Iya. Dia dari tadi sangat rewel dan selalu menangis. Aku tidak terlalu paham mengurus anak. Aku ingin memanggil mu, tapi aku merasa sangat tidak enak."
"Apakah kau memberikan dia Asi?" Dita menggeleng kepalanya. Bahkan asi pun dia tidak mau.
"Dia tidak ingin menyusu." Clarissa pun tampak sangat khawatir.
__ADS_1
Karena tidak seperti biasanya seorang bayi tak ingin menyusu. Clarissa menyentuh kening Naomi.
"Dia sedang sakit. Badannya sangat panas. Ini harus di bawa ke rumah sakit."
Wajah Dita berubah panik. Ia pun menatap ibunya penuh harap.
"Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya wanita itu dengan tatapan polosnya.
Clarissa pun menarik napas panjang dan kemudian menenangkan Dita.
"Kau tak perlu khawatir. Aku akan membantu mu pergi ke rumah sakit. Bentar aku akan memanggil ayah mu terlebih dahulu," ucap Clarissa yang kembali ke kamarnya.
Ia pun memanggil Simon untuk membantu Dita pergi ke rumah sakit.
"Ada apa sayang? Kenapa wajah mu sangat panik?" tanya Simon dengan sangat khawatir saat melihat wajah istrinya begitu diliputi oleh rasa panik.
"Cucu kita sedang demam. Kau harus membantu aku dan Dita pergi ke rumah sakit."
"Ya Tuhan," ucap Simon yang sangat terkejut mendengar pernyataan tersebut.
Mereka pun langsung ke kamar Dita dan melihat jika Dita tenang menangis. Melihat Dita yang begitu lelah dan capek membuat kedua orang tuanya merasa sangat tidak tega kepada wanita itu.
"Berhentilah menangis. Ayah akan langsung membawa dia ke rumah sakit."
Dita mengangguk dan mengikuti kedua orang tuanya dari belakang. Dita pun masuk ke dalam mobil bagian belakang sambil ditemani oleh Carissa.
Simon dengan cepat mengendari mobilnya agar cepat sampai ke rumah sakit yang tengah mereka tuju.
"Bunda, bagaimana jika terjadi sesuatu kepada Naomi. Aku sangat takut."
"Kau memikirkan apa? Tenanglah," ujar Carissa sembari mengusap kepala Naomi yang tak berhenti menangis. "Anak cantik, cup, cup, cup, jangan nangis lagi yah sayang."
___________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.