Obsesi Sang Pisikopat

Obsesi Sang Pisikopat
Part 31


__ADS_3

Mendengar panggilan dari ibunya lantas Naomi dan Alvarez langsung menghampiri sang ibu. Abraham pun menatap ke arah orang yang baru saja memanggil kedua anak itu.


Tapi sayangnya ia tak bisa menatap wajah dari wanita tersebut karena Ia hanya melihat punggungnya. Selain itu tiba-tiba terdengar suara handphone saya membuatnya harus mengangkat telepon tersebut.


Setelah berbincang dengan orang yang menelpon di seberang sana, Abraham memutuskan untuk kembali pulang.


"Aku ada pekerjaan, aku tidak sempat untuk meluangkan waktu di sini. Kau benar-benar konyol dan menganggap aku seperti anak kecil karena telah mengajak aku ke sini."


Petrus pun menghela nafas panjang. Iya tahu apa yang ia lakukan saat ini memanglah salah. Tapi ia pun tetap mengikuti Abraham dan untungnya Abraham juga tidak terlalu marah kepadanya.


"Kau tidak akan marah kepadaku, bukan?" tanya Petrus kepada Abraham.


Abraham menghela nafas panjang dan menatap ke arah pria itu sekilas. Sejujurnya ia sangat marah dengan semua ini. Untungnya Abraham bisa menguasai emosinya sekarang.


"Jika aku adalah yang dulu maka kepalamu sudah aku tebas. Kau yang biasanya memakan daging manusia maka aku yang akan memakan dagingmu," ucap Abraham yang lebih terdengar seperti mengancam Petrus.


Sehebat-hebatnya Petrus ia tak pernah mengabaikan ucapan Abraham. Laki-laki itu benar-benar setia kepada atasannya. Maka dari itu Abraham tidak pernah memecat Petrus selalu memaafkan kesalahan yang pria itu buat.


Amran termasuk ke dalam mobil dan lalu diiringi oleh Petrus. Sementara itu Dita sangat bangga kepada kedua anaknya yang ternyata masih bermain di area setempat.


"Di mana makanan yang suka aku suruh beli tadi?" tanya Dita kepada kedua anaknya.


Kedua anaknya itu diam tak berkutik. Mereka sama-sama menggaruk kepalanya karena lupa telah membeli makanan yang diberikan perintah oleh Dita.


Mereka pun cengengesan dan menggaruk kepala masing-masing untuk mengalihkan perhatian Dita. Untungnya Dita masih memiliki segenap kesabaran. Iya pun memaafkan kedua anaknya itu dan mengucap kepalanya.


"Ya sudah jika begitu kita akan pulang saja." Mereka pun mengangguk dan cepat pergi ke arah mobil.


Dita menghela nafas panjang. Merasa sangat tidak asing dengan pria yang bersama dengan Alvarez dan juga Naomi tadi.


Entah kenapa ada firasat buruk. Maka dari itu ia membalikkan tubuhnya. Meskipun belum pasti apakah pria tersebut adalah Abraham atau tidak tapi Dita benar-benar merasa sangat gugup.

__ADS_1


Bahkan wanita itu berkeringat dingin tapi untungnya tidak disadari oleh kedua anaknya. Iya tak bisa membayangkan anaknya akan tahu jika Ayahnya adalah seorang psikopat kejam.


"Kenapa wajahmu sangat dingin sekali? Apakah ada yang mengganggu Mama?" tanya Naomi kepada Dita yang baru saja masuk ke dalam mobil dan duduk di bagian kemudi.


Dita panggilan apa sepanjang dan meminjamkan matanya. Anaknya sama sekali tak mengetahui dengan masalah ini. Ia harap anak-anaknya tak akan pernah tahu siapa ayahnya.


"Tidak, aku tidak kenapa-kenapa. Hanya saja hari ini aku benar-benar sangat merasa pusing. Mungkin ini adalah akibat dari aku naik rollercoaster tadi. Aku tidak ingin lagi naik itu dan kalian jangan memaksa untuk pergi ke wahana bermain lagi," ucap Dita kepada kedua anaknya itu yang dengan sangat menggenaskan meraka pun mengangguk setuju.


_________


Sesampainya di rumah Dita langsung menceritakan kekhawatiran nya mengenai apa yang ia lihat tadi di wahana permainan.


Clarissa sayang senantiasa mendengarkan curhat dan Dita pun sangat terkejut. Iya bener-bener ketakutan sama seperti yang dirasakan oleh Dita. Bagaimana jika itu benar Abraham? Itu artinya pria itu ada di sini. Dan keselamatan mereka pun sudah terancam.


"Sepertinya aku harus menghubungi ayahmu. Ini benar-benar gawat jika itu benar dia. Aku tidak ingin terjadi sesuatu lagi kepadamu. Apalagi kepada kedua cucuku. Aku harap dia tidak akan pernah tahu jika ayah mereka adalah seorang psikopat. Aku tak bisa membayangkan jika anak-anakmu itu mengetahuinya dan kemudian membenci ayahnya."


Dita pun berpikir hal yang sama seperti ibunya. Itulah juga yang di tengah dikhawatirkan oleh wanita itu. Namun apa daya, tampaknya kembalinya Abraham ke sini mungkin aja mereka tahu jika Dita dan keluarganya sudah tinggal di sini.


Ucapan yang dilontarkan oleh Clarissa membuat Dita sadar dengan posisinya. Wanita itu menghilang apa juga panjang dan mendesah.


"Entahlah, aku juga berpikir hal yang sama. Semoga saja kedatangan kita di sini benar-benar aman," ucap Dita yang masih ngerasa yakin.


Clarissa pun tak bisa menanti keyakinan Dita. Dia juga berharap yang sama seperti anaknya itu.


"Dita, aku harap kau dapat menjaga diri. Kita tidak ada tak yang tahu masa depan. Aku sangat berharap jika tidak ada apapun yang terjadi pada diri kita."


Dita pun menginginkan hal yang sama. Ia tak ingin sesuatu terjadi pada keluarganya. "Lebih baik kita banyak-banyak berdoa saja."


Dita menganggukkan kepala. Wanita itu pun lantas kembali ke kamarnya. Sebelum masuk ke kamar seperti biasa ia akan mengecek keadaan kedua anaknya itu.


Dan benar saja seperti itu karena jika kedua anak tersebut tengah bertengkar lagi. Alvarez kembali lagi merebut mainan milik Naomi. Sebenarnya niat Alvarez adalah ingin melihat sang kakak itu menangis.

__ADS_1


Dita yang melihat hal itu dengan sikap masuk ke kamar Naomi. Iya langsung menjewer telinga Alvarez sehingga anak itu menggerang kesakitan.


"Apalagi yang kau lakukan kepada kakakmu itu? Apakah kau ingin tidur di luar malam ini? Kau sudah aku peringatkan masih saja tidak mengerti," ucap kita dengan perasaan cukup marah.


Alvarez pun melepaskan tangan ibunya yang menjewer telinganya.


"Mama maafkan aku. Aku hanya bercanda dan ingin membuatnya nangis. Habisnya dia terlalu cengeng."


Dita pun menatap ke arah Naomi yang mengusap air matanya. Ia pun membantu anak itu untuk menghapus air matanya.


"Kenapa Kau bukakan pintu untuk adikmu itu? Sudah kukatakan jangan membukakannya pintu jika dia ingin merebut mainanmu."


"Dia mendobrak pintu ku Mama."


"Alvarez!"


Anak yang disebut namanya itu mendengar amarah dari sang ibu. Ia berpose seolah-olah tidak terjadi apapun.


"Kau benar-benar menyebalkan. Jangan sampai aku akan memarahimu kembali."


Alvarez yang sudah tahu apa yang harus ia lakukan lantas mendekati Naomi. Ia pun memeluk tubuh Naomi dengan sangat erat.


"Maafkan aku kakak. Percayalah aku sangat sayang kepadamu. Hanya saja aku merasa ingin menjahilimu," ucap Alvarez dengan sangat tulus.


Dita yang mendengar hal tersebut pun lantas ikut tersenyum. Ia bangga kepada dua anaknya. Iya harap tak akan bertemu dengan pria itu yang akan menghancurkan kehidupannya.


_________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.

__ADS_1


__ADS_2